Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
83.


__ADS_3

" Dimana aku sebenarnya? Apa mau mereka? apakaha mereka suruhan Aleena? Ya Allah... aku sudah lengah dalam kondisi seperti ini. Pasti Mama dan Papa mencariku" batin Rayina.


Suara pintu terbuka, ada secercah cahaya masuk. Sedikit, hanya sedikit sekali menerangi. Terlihat bayangan dengan tubuh tinggi dan atletis. Tetapi tidak dengan wajahnya. Sangat sulit mengenalinya.


" Suntikkan!!!" perintah lelaki itu.


" Suntikkan??? Apa yang akan mereka suntikkan? Apakah untukku? Ya Allah... Suntikan apa itu??" batin Rayina.


Rayina meronta menolak yang akan terjadi. ketakutan semakin mengelabuinya. Sementara preman suruhan itu dengan sangat sigap memegangi badan kecil si empunya.


" emmmmmm" teriak Rayina ketika jarum suntik sudah menghujam dikulitnya.


Suntikan telah menancap dan sudah masuk semua obat yang disuntikkannya. Lambat laun mata Rayina tak tertahan. Kantuk mulai menderanya. Semakin bertahan untuk membuka matanya semakin lama dia tidak menahannya.


Mata indah itu tertutup sudah. Ketiga preman itu memerikasa kembali apakah kesadarannya sudah hilang sepenuhnya.


" Bos, sudah bos. Sepertinya sudah tidak sadar" terang preman A.


" Hmm bagus. Berapa lama obat itu bekerja?" tanya Bosnya.


" Hanya 3 jam Bos" terang preman B.


" Passss.. Lakukan rencana selanjutnya!!"


Mereka semua kemudian keluar dari ruangan itu. Ruangan sudah menyala terang benderang. Rencana yang Bos perintahkan sudah terlaksana.


Kembali ke mansion...


" Pa, bagaimana si brengsek itu? kemana dia? kenapa tidak ada kabarmya sama sekali?" tanya Mama dengan sangat jengkel.


" Dari tadi sudah Papa hubungi tetapi ponselnya selalu sibuk dan dialihkan. Brengsek memang itu bocah. Disaat begini ikut membuat cemas!" jengkel Papa.


Semua orang yang berada di mansion dalam mode kecemasan dan semua terasa tegang.


Ganesha yang biasanya sangat pintar dan mandiri, entah kenapa dia rewel sekali. Seperti merasakan apa yang ditakutkan semua orang.


Ben yang sedari tadi membuka laptop mencari keberadaan Ayahnya belum menyadari kalau Rayina tidak ada. Semua orang cukup diam atas perintah Irfan agar Ben tidak terguncang.


Irfan tahu kecelakaan yang menimpa Ayahnya sangat membuatnya terguncang. Apalagi jika dia tahu kalau Bunda yang selama ini dia harapkan juga menghilang entah kemana.


Kembali ke Rayina.


Rayina mulai membuka matanya, perlahan - lahan dia bangkit. Mulut, tangan dan kakinya masih dalam keadaan terikat.


Dia baru menyadari setelah rasa pakaian yang di pakainya terasa berbeda. Dia tadi memakai hijab lengkap dan rapih. Kenapa sekarang berbeda.


" Bukannya tadi aku pakai celana jeans dan tunik serta hijab instan? kenapa sekarang aku memakai seperti gaun?" batin Rayina.

__ADS_1


" Brengsek... siapa yang mengganti bajuku. Ya Allah.. aku telah hina.. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" batin Rayina.


Dua orang bertubuh besar segera datang menghampirinya. Tetapi ada seseorang Bosnya datang dan segera menggendongnya bak karung beras.


Dibawanya Rayina keluar ruangan. Dia juga tidak tahu dimana saat ini dia berada. Gedung apa yang saat ini di jejakkannya juga tidak tahu. Rayina tidak mampu meronta. Dia kemudian di turunkan di sebuah lantai terakhir yang sepertinya dirasa cukup.


Salah satu preman segera menutup matanya kembali. Kemudian tangan Rayina diikat kebelakang. Ikatan kakinya dilepas. Kemudian terasa angin snagat kencang menerpa kulitnya.


"Dimana aku?? Kenapa anginnya sangat kencang? " batin Rayina.


" Buka mulutnya !!!" teriak seseorang dengan menggelegar.


Penutup mulut Rayina dibuka. Lakban yang membukamnya sudah tidak ada. Ketika akan teriak mengatakan sesuatu...


"Di.....aaa..." Rayina terbungkam sudah.


Sesuatu benda yang kenyal dan sangat lembut yang telah menyumpal mulutnya.


" Rasa ini... sepertinya..... sialan.... "batin Rayina.


Senyum manis menghiasi wajah orang itu. Terasa manis dibibirnya. Berbeda dengan Rayina yang menahan amarah sedemikian rupa.


" Brengsek !!! " umpat Rayina.


" Semakin kamu marah semakin menggemaskan sayang. Hahaha" goda orang itu.


"Suara itu... suara itu... aku seperti mengenalnya.. tidak asing buatku" batin Rayina.


" Hahaha... kamu pikir aku suamimu?? " suara itu semakin menggelegar.


" Hiks.. Hiks" hanya suara isakan yang keluar dari mulut Rayina.


Ingatannya kembali kepada berita yang sudah dia dengar sebelumnya. Dan sampai saat ini kabar tentang suaminya juga belum dia dapatkan. Sekarang malah dia juga dalam kondisi di culik.


Siapa yang menculiknya pun dia tidak nengetahui. Tujuan penculikanpun juga belum dia dengarkan sedari tadi.


" Apa maumu sebenarnya?" tanya Rayina lantang.


" Hahaha... wanita yang cerdas" jawab si empunya.


" Ha ha ha...." tawa orang banyak yang semuanya adalah lelaki.


Hati Rayina semakin menciut. Tidak pernah dia sekecil ini mempunyai nyali. Terlebih dia masih dalam keadaan berduka.


Tangis isakan yang keluar dari mata indah itu kian menjadi. Tidak terdengar raungan hebat dari mulut mungil nan mempesona itu. Hanya isakan dan deraian air mata yang menganak sungai.


Siapa yang tidak tersentuh melihat seorang wanita yang biasanya sangat riang dan tegar, kini terlihat hancur dan rapuh. Bahkan kuatnya suara pun tak mampu memecah keheningan yang terjadi

__ADS_1


" Lepaskan !!! dan jangan pernah lakukan apapun!!" perintah orang itu.


Semua anak buahnya melepas ikatan yang sudah menjerat tangan dan matanya.


Air mata yang sudah deras menganak sungai kini makin membasahi pipinya. Tak henti - hentinya dia menangis sesenggukan.


Durengkuhnya bahu ternyaman itu. Dengan isakan dan deraian air mata dia menumpahkannya.


" Selamat Ulang tahun sayangku... semoga apa yang kamu semogakan segera terlaksana. Amin" ucapan dari orang yang sangat dirindukan Rayina.


" Mas... jangan pernah tinggalkan aku walau dalam sekejap" ucap Rayina dalam sesenggukan.


Ya, Ayden sudah merencanakan semua ini. Kini Rayina berada diatas gedung perusahaan miliknya. Dan sudah dilengkapi dengan berbagai kue dan makanan lezat lainnya.


Dan tak lupa sudah ada Mama, Papa, Ben, Ganesha dan yang lainnya...


Semua sudah berkumpul dan tersenyum bahagia...


Dan mereka serempak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Rayina. Tak lupa bucket bunga sudah tersusun indah untuknya.


" Terimakasih sayang untuk semua ini. Tapi mas hutang penjelasan kepada aku" terang Rayina dengan menyeka air matanya.


" Iya sayang. Jangan menangis lagi ya.. Jelek tahu.. Maaf juga ciuman ganasku . hihi" ledek Ayden.


" Ah.. pantas saja. Rasanya seperti punya mas. Dan rasa itu tidak akan pernah aku lupakan" terang Rayina.


" Mas, siapkan semua ini? Sendiri?" tanya Rayina.


" Tentu tidak... lihatlah dalangnya" ucap Ayden.


Seseorang muncul dibalik jaket hitam dan memakai kaca mata hitam.


" Heheee. Kakak ipar. Sorry lah. Abang yang bujuk lah" terang Devran.


" Dev, thank you so much.." ucap Rayina.


" Youre welcome" jawab Devran.


" Oh.. ya.. Selamat ulang tahun kakak ipar" ucap Devran.


" Sayang, happy birthday to you" ucap Mama dan Papa.


" Terima kasih semuanya atas ucapannya" Jawab Rayina.


" Bunda.. Happy birthday ya" ucap Ben dengan mencium pipi Rayina.


" Thank you sayang" balas ciuman Rayina.

__ADS_1


" Okay.. hari ini kalian bebas makan apa saja. No diet hari ini. Silahkan dinikmati. Band... mainkan!!" perintah Ayden.


Semua kembali meriah setelah perintah Ayden terucap. Hanya senyuman yang ada di bibir masing - masing orang yang ada di sana.


__ADS_2