
Esok harinya, mereka semua segera berkemas menuju villa puncak. Tak terkecuali, semua berbondong - bondong dengan senang hati.
Selama perjalanan, semua riuh rendah berceletoh ria. Tiba - tiba, Bapak mengatakan sesuatu bahwa beliau ingin mobilnya dihentikan.
" Stop !! Berhenti!!" ucap Bapak.
" Loh.. ada apa pak?" tanya Ayden penasaran.
" Kita turun" pintanya singkat.
Rayina hanya diam dan mengikuti Bapaknya. Sedangkan ayden dibuat kebingungan. Mobil dia tepikan di sebuah pelataran yang sepertinya memang disiapkan untuk parkir.
Semua mengikuti kedua insan beda usia itu. Bapak terlihat romantis menggandeng putrinya itu. Terlihat sesekali bercanda bahagia. Entah apa yang sedang di ceritakan wanita hamil tersebut.
" Masih jauh sayang?" teriak Ayden.
" Hmmm... tetap diam dan ikuti saja. No debat, no protes. Okay?" ucap Rayina.
Mbak dan Ibu terlihat berjalan mengekori dua cucunya yang cukup antusias.
" Uti, ini kebun siapa?" tanya Ganesh.
" Nanti Bunda yang ceritakan saja. Uti tidak berhak menceritakannya" jawab Uti.
" Bunnn" teriak Ganesha.
" Jangan teriak sayang, Bunda mendengarnya!!" pinta Rayina tegas.
" Okay sekarang kita duduk di sana saja. Pak duduk di gasebo saja" pinta Rayina kembali.
Semua mengikuti sang kuasa wilayah. Peluh nampak menetes di dahi ayunya. Kini nafasnya memburu bak sudah melakukan joging satu jam.
" Duduklah semua. Tunggu sebentar. Bunda sangat capek nak. Sebentar lagi kita sampai tujuan. Tidaklah lama dan jauh" ucapnya.
Ayden segera menyeka keringat dan peluh wanita kesayangannya itu. Disodorkannya air mineral ke depan ibu hamil. Dan sesekali mengusap wajah ayunya.
" Bismillah dulu " perintah Ayden.
" Are you okay boys? Capek?" tanya Ayden menunduk di depan kedua jagoannya.
" Hmm" jawab mereka kompak dengan mengangguk.
" Okay. Istirahat sebentar. Bunda juga lelah berjalan. Karena bunda kalian membawa adik kalian di dalam perutnya" terang Ayden.
Semua beristirahat sejenak. Tak lama ada seseorang dengan mengendarai sebuah mobil bak terbuka berhenti tepat di depan mereka.
" Assalamualaikum juragan. Loh kok ndak naik saja?" sapanya.
" Waalaikumsalam, iya ini kami mau ke sana" jawab Bapak singkat.
" Loh.. ini ada bule - bule juga to? Juragan mbawa rombongan?" tanyanya.
" Ora ( tidak) Ini anak, menantu dan cucu - cucuku" jawab Bapak singkat.
" Ooww.. begitu. Lah ini juragan ndak bawa mobil to? " tanyanya kemudian.
__ADS_1
" Bawa, tak parkir di bawah" jawab Bapak singkat.
" Ya sudah, kalau begitu bareng saya saja juragan. Ini kalau jalan kaki mqsih lumayan. Kasian juga ada ibu hamil dan anak - anak" tawarnya.
" Ndak perlu. Ngrepotin kamu" jawab Bapak.
" Ndak juragan. Sekalian mau ke atas juga. Monggo juragan. Monggo semuanya. Tapi yang di depan hanya tiga orang saja ini" ucapnya.
" Bagaimana nduk?" tanya Bapak ke Rayina.
" Ndak perlu Pak. Kita jalan kaki saja. Mas, kalau kita jalan kaki okey kan? Dua jagoan bunda siap jalan kaki?" tanya Rayina semangat.
" Okay sayang!! Okay bunda" jawab mereka kompak.
" Bapak sudah tahu jawabannya. Jadi Pak... " ucap Rayina menggantung.
" Saya Parjo ndoro" jawabnya.
" Pak Parjo terimakasih tawarannya. Kami jalan kaki saja. Toh, kita juga jarang olah raga. Sekalian olah raga" jawab Rayina lembut.
" Baiklah ndoro, saya pamit. Takut banyak yang menunggu" ucapnya.
"Ya.. silahkan" jawab Rayina.
" Ayo kita jalan" ajak Rayina semangat.
" Pak, ayo kita lanjutkan. Lewat jalan tikus saja. Masih bisa kan?" tanya Rayina.
" Tentu saja nduk" jawab Bapak.
" Sayang, kapan lagi kita bisa dapat udara sesegar ini ya? Tuhan memang Maha Baik" ucap Ayden dengan tersenyum.
" Tentu saja Mas. Bahkan damai bukan jika tinggal disini?" ucap Rayina kemudian.
" Kalau tinggal disini bagaimana dengan pekerjaanku?" jawab Ayden serius.
" Heleh... Ndak perlu di tanggepin istrimu. Suka berhayal, dia mana mau hidup di gunung. Dia suka keramaian. Kalau di sini dia kalau pengin liburan saja!" jawab Bapak.
" Haha.. Bapak tahu saja" jawab Rayina cekikikan.
" Pak.. " panggil Rayina.
" Sebentar" jawab Bapak dengan menengok ke kanan dan ke kiri.
" Apa yang sebenarnya Bapak lakukan? Seperti takut diketahui orang lain. Lalu kenapa bapak menghadap tembok itu ya?" batin Ayden.
Sebuah tembok besar berlumut dan di sebelahnya ada sebuah pohon besar yang bertengger. Memang sedikit meneyeramkan.
Bapak kemudian mengangkat sebuah batu sedikit besar dan kemudian Bapak seperti mengotak - atik sesuatu dibawah batu tersebut.
Dan...
Tiba - tiba pohon sedikit bergetar, dan terbukalah pintu. Seperti lorong gua, tapi sepertinya memang sudah disiapkan.
" Sayang, pintu rahasia?" tanya Ayden tepat.
__ADS_1
" Yes.. !!" jawabnya cepat.
" Cepatlah semua masuk. Keburu ada orang lewat" perintah Rayina.
Semua bergegas segera masuk pintu rahasia itu. Tanpa terkecuali. Terkahir yang masuk adalah bapak. Bapak segera menutup kembali pintu tahasia itu.
Rayina kemudian menyalakan lampu. Dan, seluruh lorong jalan terlihat terang dan sangat bersih.
" Bapak masih mengurusnya? Siapa yang mengurusnya pak?" tanya Rayina.
" Bapak sendiri nduk. Ini amanatmu. Jadi bapak ndak mau ngambil resiko" jawab Bapak.
" Terimakasih banyak pak" ucap Rayina haru.
" Ayo segera jalan. Sebentar lagi ada lift" ucap Bapak.
" Lift?" tanya Rayina heran.
" Liftnya ala bapak. Hehe" jawab Bapak terkekeh.
Dan benar saja, sebuah tempat layaknya lift sederhana. Hanya terbuat dari kotakan besi yang kemudian keatasnya masih dengan manual. Yaitu di kerek bak timba sumur, ya dengan tuas tentunya.
" Waoww... bapak memang keren" puji Rayina.
" Lebih keren kamu nduk. Bisa buat beginian. Bapak kan melanjutkan saja" jawab Bapak.
" Ini muat berapa orang pak? " tanya Rayina.
" Sepuluh orang muat ndug" jawab Bapak yakin.
" Okay. cukup sekali kerek" jawab Rayina.
Mereka segera menaiki lift buatan Bapak agar cepat sampai. Dua jagoan kecil hanya diam menikmati perjalanan mereka tanpa bertanya apapun.
Ya, dua jagoan itu sudah paham betul dengan apa yang sudah dirancangkan oleh Bundanya. Apapun buatan Bundanya pasti mereka sangat mengaguminya.
Akhirnya mereka sampai. Tepat seperti di sebuah rumah. Bapak kemudian membuka pintu lift buantanya itu.
" Ohh waow.. ini rumah buatan Pak?" tanya rayina.
" Ya, kita bisa lewat sini" jawab Bapak.
" Bukalah nduk!!" perintah Bapak.
Rayina segera berlalu menuju pintu rumah tersebut. Dibukalah pintu itu dengan perlahan.
Dan...
Nampaklah tempat yang mereka tuju. Rayina sangat takjub dengan ide Bapak. Jika tadi melewati pintu lama pasti akan lebih jauh dan memakan waktu lebih lama, karena rutenya sedikit berputar.
" What this is sayang??" tanya Ayden takjub.
Bapak segera berjalan di depan dengan menggandeng kedua cucunya. Yang lainnya mengikuti dibelakang bapak.
" Kakung... ini sebuah pabrik. Right?" tanya Ganesha.
__ADS_1
" Ya.. benar.. ini adalah Pabrik milik Ganesha" terang Bapak.