
Pagipun menjelang, setelah perjalanan panjang hari itu kini rasa lelah telah melanda seluruh penghuni rumah tanpa terkecuali. Rencana dadakan yang dibuat dengan berbagai adegan sudah berjalan dengan lancar.
Kini sepasang suami istri yang tengah dimabuk asmara sedang dalam masa pendekatan kembali. Karena sebelumnya hubungan mereka sedikit renggang karena kecanggungan sebelumnya.
Dan, sang tuan rumah sudah akan kembali bekerja di maskapai penerbangannya. Dia sudah bersiap dengan seragam putihnya dengan lengkap. Terlihat sangat tampan dan mempesona.
Si pemilik tubuh atletis itu kini masih digelayuti wanita manja yang tengah mengandung buah hatinya. Seolah tidak rela untuk melepaskan pelukannya.
" Sayang, mas akan berangkat kerja. Mohon kerja samanya okay?" ucap Ayden.
" Mas, cepat kembalilah. Aku disini sendiri" jawabnya dengan nada manjanya.
Entah kenapa Rayina yang mandiri kini menjadi Rayina yang manja. Mungkin karena efek kehamilannya yang membuat perubahan yang drastis.
Padahal sebelum ini dia masih dengan status wanita yang mandiri. Tetapi Ayden sangat senang jika Rayina manja dengannya. Karena dia merasa sangat dibutuhkan istrinya saat ini.
" Iya sayang.. kamu tidak sendiri, ada dokter Vero bukan? Kan katanya sebentar lagi akan jadi Mama Liona?" ucap Ayden dengan melirik dokter Vero.
" Ishhh.. pagi - pagi sudah bikin mood saya berubah saja. Anak muda jaman sekarang!!" ucap dokter Vero jengkel.
" Sudahlah Mas.." ucap Rayina dengan memukul lembut lengan suaminya.
" Sayang, Mas berangkat. Nanti mbak akan membantumu bersih - bersih badan. Dan keperluan lainnya. Nanti anak - anak akan bersama dengan Farhan" ucap Ayden menjelaskan.
" Mas, tolong. Perhatikan anak - anak. Saat ini aku belum bisa. Tolong siapkan segala keperluan mereka. Dan aku minta jaga keamanan dengan ketat Mas" ucap Rayina memelas.
" Of course sayang. Jangan khawatir. Semua akan baik - baik saja. Tidak perlu memikirkan apapun. Cepatlah sehat dan pulih. Kita akan liburan" ucap Ayden memberi semangat.
" Hmm" jawab Rayina dengan memberikan senyum termanisnya.
" Ohhh sayang... jangan begitu. Mas tidak rela berangkat kerja jika senyummu begitu menggoda" ucap Ayden merayu.
" Mas..." rengek Rayina.
" Morning kiss sayang.." pinta Ayden.
Rayina segera memberikan kecupan di bibir suaminya itu dan Ayden memberikan kecupan di kening dan pipi istrinya yang mulai tembem. Diraihnya tangan suaminya dan diciumnya punggung tangan itu dengan penuh hikmad.
" Hati- hati mas. Jangan lupa makan. I Love you mas" ucap Rayina.
" Iya sayang. Kamu juga ya, jaga diri baik - baik. Makan yang banyak. I Love you more honey" jawab Ayden lembut.
" Assalamualaikum " ucap Ayden.
__ADS_1
" Waalaikumsalam " jawab Rayina dengan senyuman.
Dokter Vero yang melihat interaksi kedua insan yang sudah tidak muda dan tidak tua itu, emmm lebih tepatnya matang lah kini nampak tersenyum.
" Begitu bahagianya keluarga ini. Satu sama lain saling support. Kehangatan keluarga yang selalu aku rindukan!!" batin dokter Vero.
Rayina yang melihat dokter Vero melamum segera menugurnya.
" Dokter... Dokter" panggil Rayina.
" Eh...iya.. Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya dokter Vero.
" Dokter, bisakah tidak seformal itu kepada saya? Panggil Rayina saja dokter. Dokter juga pantas menjadi Mama saya bukan?" ucap Rayina.
" Hmm baiklah, Rayina" jawab dokter Vero.
" Bolehkah saya memanggil dokter dengan sebutan Mami saja? Biar lebih akrab" pinta Rayina nyleneh.
" Hmmm.... boleh. Kenapa tidak, Rayina. Akan sangat menyenangkan mempunyai anak gadis. Ups... sudah tidak gadis lagi ya? Anak perempuan berarti. Haha" ucap dokter Vero diikuti tawanya.
" Hehehe. Mami Vero bisa saja. Oh ya, Mami kenal dengan Papa Rony dimana? apakah di Rumah sakit?" tanya Rayina menelisik.
" Ya, begitulah. Mami bekerja di Rumah sakit miliknya" jawab Vero singkat.
" Hmmm.. ceritanya panjang. Alangkah lebih baik kamu mandi dan segera sarapan. Nanti kita sambung kembali obrolannya" jawab Vero.
" Emmbb baiklah" jawab Rayina singkat.
" Mami bantu??" tawar Vero.
" Ah.. tidak perlu Mi. Nikmati saja sarapannya. Aku akan menelpon Mbak untuk membantuku" jawab Rayina.
Ya, Rayina merasa lebih nyaman jika Mbak yang membantunya. Karena Mbak sudah lama bekerja dengannya. Dan luar dalam Rayina selain suaminya, Mbak lah yang tahu persis.
" Mbak, tolong segera ke kamar ya, jangan lupa pesananku" pinta Rayina di telpon.
Rayina kini mulai duduk perlahan menegakkan badannya yang terasa sedikit ringan. Seperti melayang tapi layaknya akan tumbang.
Tak lama Mbak mengetuk pintu dan masuk membawa beberapa pesanan Rayina. Mbak dengan wajah ceria masuk menyapa semua orang yang ada di kamar. Termasuk dokter Vero dan suster piket.
" Selamat pagi Bu, selamat pagi dokter, selamat pagi suster" sapa Mbak ramah.
" Ya, selamat pagi" jawab Rayina diikuti dokter dan suster.
__ADS_1
" Mbak, bawa pesananku?" tanya Rayina langsung.
" Mandi dulu Bu, apakah tidak lengket sehari semalam tanpa mandi? Heheh" goda Mbak.
" Ah.. baiklah. Tolong siapkan semuanya Mbak. Masuklah ke kamar ganti. Ada pintu kecil dengan handle emas. Tekan dan dorong, tolong ambilkan piyama saja yang mudah masuk di infus ini" pintanya dengan rentetan.
" Oke" jawab Mbak singkat.
Tak menunggu lama, Mbak sudah membawakan keperluan yang dimaksud oleh Rayina.
Kemudian dipapahnya tubuh mungil itu ke kamar mandi. Dan Rayina memeluk bahu Mbak yang siap sedia menopangnya.
Badan mungil itu kini seperti tak bertenaga. Lemas, letih dan lesu menjadi satu. Keringat dingin mulai membasahi dahi Rayina.
" Pelan - pelan saja bu, jangan dipaksakan. Bersabarlah" saran Mbak.
" Hm" jawab Rayina singkat dan hampir tak terdengar.
Seperti menahan sesuatu yang aneh. Perutnya mulai bergejolak. Sangat tidak nyaman. Dan membuatnya lari terhuyung- huyung agar cepat sampai. Mbak yang kelabakan mengimbangi nyonyanya sangat panik.
Tiba - tiba seisi perut yang kosong itu dimuntahkannya. Hanya cairan yang keluar tanpa ada sisa makanan sedikitpun. Ya, karena Rayina belum mau mengisi perutnya untuk sarapan.
" Ah... Mbak.. saat itu tiba" ucapnya lemas dengan menyeka keringat yang bercucuran.
" Hal yang wajar bukan bu?" ucap Mbak menimpali.
Dokter Vero yang sedang sarapan mengetahui hal itu ikut panik dibuatnya. Dia juga ikut beranjak menuju kamar mandi diikuti suster yang jaga.
" Bagaimana Rayina? " tanyanya penasaran.
" Sudah tidak apa - apa dokter. Ibu sudah lebih baik setelah memuntahkan isi perutnya" jawab Mbak santai.
" Ah.. morning sickness !!" ucap dokter Vero kemudian.
Mbak tidak menjawab hanya anggukan yang sudah mewakili jawaban yang diperlukan.
" Ya sudah, jika butuh apapun jangan sungkan. Panggil kami Mbak. Karena kami yang bertanggung jawab sepenuhnya" ucap dokter Vero.
" Baiklah dokter" jawab Mbak.
Dokter segera kembali ke meja sarapannya dan Mbak segera membantu membersihkan badan nyonyanya. Dengan telaten dan sabar Mbak membantunya teringat saat awal kehamilan Ganesha dulu.
" Bu, saya jadi ingat dulu waktu hamil Ganesh" ucapnya memecah keheningan.
__ADS_1