Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
154.


__ADS_3

Rony yang mendengarkan semua bentakan dan teriakan Ayden hanya diam mendengarkan dan menikmati riasan yang MUAnya lakukan.


" Tuan... Sepertinya ada keributan di luar. Apakah ini baik - baik saja atau..." ucap salah satu MUA.


" Lanjutkan kerjamu " perintah Rony.


" Baik Tuan" jawab MUA dengan mengangguk.


" Hmmm... bagaimana ini? Diluar sepertinya sudah sangat gaduh. Apakah akan baik - baik saja? Sedangkan Tuan ini nampak santai. Semoga saja akan baik - baik dan berjalan dengan lancar" batin MUA.


MUA segera melanjutkan kerjanya. Sedangkan Rony hanya memejamkan mata dan menajamkan pendengarannya. Sementara orang kepercayaannya segera memberikan layar ponselnya untuk di berikan dan di amati.


" Tuan" panggil asistennya.


Rony membuka matanya dan segera melihat apa yang terjadi di bawah sana.


" Luapkan semua yang ada di hatimu boy. Om akan selalu mendukungmu. Semua yang kamu lakukan dari dulu tidak sekalipun tanpa perhitungan. Biarkan Devran dan Liona berpikir untuk mendewasakannya dengan kejadian ini semua" gumam Rony dalam hati.


Sementara di ruang bawah. Semua tamu hanya diam menikmati pemandangan yang di sediakan. Ya, semua itu bak drama dalam dunia nyata.


Semua sanak saudara sudah tahu sepak terjang Devran yang selalu membuat ulah Berbeda dengan Ayden jika berbuat ulah dia selalu bisa membereskan semuanya tanpa sisa.


Semua orang berbisik - bisik dan ada seseorang yang berkata agak sedikit keras dan terdengar hingga telinga Devran.


" Ishh Devran, kenapa dia berbuat konyol. Kenapa juga harus marah. Ini juga untuknya. Yang di lakukan abang dan Papanya kan juga untuk kepentingannya. Dia tidak berpikir sampai sejauh itu. Apakah Rony akan menerimanya jika dia tidak melamar Liona dulu sebelumnya?? anak bodoh !!" ucap salah satu saudara.


Devran dan Liona hanya menundukkan mata. Sedangkan Rayina mulai merasakan kencang di bawah perutnya. Mendengar lengkingan teriakan suminya emmbuat kepalanya berputar- putar. Perutnya pun ikut mengencang. Seperti akan kram di perutnya.


" Mas... isshhhh" ucap Rayina Lirih dan memegang perutnya.


" Ya sayang. Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ayden lembut.


" Mas, perutku..." ucap Rayina lirih.


Terlihat muka pucat dan banyak sekali keluar keringat sebesar peluh. Rayina sudah mulai merasakan kram yang lumayan membuatnya meringis menahannya.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Rayina lirih.


Semua orang terperanjat. Dan banyak yang menyarankan untuk merebahkan diri sejenak.

__ADS_1


Dogendongnya tubuh Rayina dan segera dibaringkan di sofa panjang. Ayden mencari tempat terdekat dan sedikit empuk untuk sekedar merebahkan badan wanita kesayangannya itu.


" Mbaaakk!!!" teriak Ayden.


Tergopoh - gopoh lari mendekati kerumunan yang terjadi.


" Ya tuan, sudah saya bawakan" jawab Mbak dengan cekatan.


Sebuah nampan berisi botol minyak angin, pengompres perut dan beberapa obat yang dianjurkan dokter. Rasanya baru semalam mengalami keram perut seperti itu. Dan kini terjadi lagi.


Ayden tidak sepanik saat pertama kali terjadi kram perut pada istrinya itu. Dia sudah mendapatkan ilmu dari dokter jika terjadi kram perut.


Rayina kini tengag berbaring di sofa dengan menahan rasa sakit kram perutnya. Sedangkan Ayden mengolesi minyak angin agar perutnya terasa hangat. Sedangkan Mbak mengompres perut denga kompresan yang tentunya suhu sudah di sesuaikan.


Mama yang melihat itu tak kuasa menahan tangisnya dan memijat kaki menantu kesayangannya itu.


Sedangkan Om Rony baru saja keluar dari kamar seusau ganti pakaian. Om Rony kaget bukan kepalang. Terlihat wanita yang sangat kuat kini meringis menahan sakitnya.


Matanya nyalang menatap dua orang yang sedan menahan tangis dan rasa bersalah. Kilat amarahnya kian membuncah menghadapi kelakuan anak dan menantunya itu.


" Bang, bagaiman kondisi Rayina?" tanya Rony kepada Irfan, Papa Ayden.


Rony segera menelpon dokter kandungan terhebat yang dia kenal di negara ini. Dia merasa bersalah dengan kejadian ini. Dia tidak mau mengambil resiko. Karena Rayina juga sudah dianggapnya anak sendiri.


" Hallo dokter, segera kemari. Saya butuh bantuan anda. Saya tunggu lima menit dari sekarang. Saya kirim lokasinya" perintah Rony.


" Telpon siapa?" tanya Irfan.


" Nanti juga abang tahu" jawab Rony.


Di sebuah rumah sakit megah di kota itu.


" Kebiasaan !! kalau perintah pasti begitu. Tua bangka yang tidak tahu aturan!!" gerutu dokter yang sudah tidak lagi muda tapi nampak cantik dan berkelas.


" Siapkan helinya!! tua bangka itu menyusahkanku! Kalau bukan karena uang yang diberikannya sangat fantastis aku tidak akan pergi dari tempat dudukku" memerintah dan masih menggerutu.


Dia segera menuju atap gedung untuk segera berangkat ke lokasi yang sudah di share sebelumnya oleh Rony.


" Sebenarnya siapa yang sakit? Apakah singa kecilnya yang cantik itu? dalam waktu lima menit. Yang benar saja!! Pasti keadaan darurat" gumam dokter cantik.

__ADS_1


Terdengar suara helikopter yang berada pada acuannya. Ya, heli mendarat ditempat tumpuan yang semestinya. Ayden mempunyai landasan pesawat dan helinya sendiri di belakang mansionnya.


" Meewwwfaaaahhhh!!!" sang dokter terpesona.


Nampak dua orang berjas hitam segera menghampiri.


" Mari dokter!!" ajak orang itu.


Dokter cantik itu tidak menjawab dan segera mengikutinya. Dibukanya pintu mobil mewah sebagai sarana penjemputannya.


" Rony sekaya ini ternyata??? " batin dokter itu.


Sesampainya di mansion


" Hmm, kau sudah sampai? Periksalah!!" perintah Rony singkat.


" Permisi" ucap dokter.


" Hai, nyonya?" sapa dokter sembari bertanya nama.


" Rayina" jawab Ayden cepat.


" Anda suaminya? Hmm beautifull and handsome. Apa yang anda keluhkan nyonya? Sudah berapa lama? Sudahkah sering terjadi sebelumnya?" tanya dokter cantik.


" Baru tujuh menit yang lalu dokter?" jawab Rayina menggantung sembari bertanya nama.


" Veronica" jawabnya singkat.


" Mas, bantu aku" lirih Rayina karena masih menahan kram diperutnya.


" Dokter veronica, istri saya semalam juga sudah mengalami kram perut hebat. Itu terjadi karena saat bercanda dengan saya, saya menggelitikinya hingga terjadilah kram di perutnya. Dan saat ini kram ini kemungkinan karena kelelahan dan mungkin istri saya kaget mendengar kemarahan saya. Karena selama kami berumah tangga saya belum pernah berkata sangat keras kepadanya" beber Ayden.


" Benar begitu nyonya?" tanya Veronica.


Rayina hanya mengangguk tanpa menjawab. Bulir keringatnya sudah menetes dari tadi.


" Langkah inis udah cukup baik untuk meredakan kram diperut. Dan adakah anjuran obat yang diminum jika terjadi kram? dan bolehkah saya melihatnya?" pinta Veronica.


Ayden segera memberikan obat yang diresepkan dokter sebelumnya. Veronica nampak sibuk dengan obat dan ponselnya.

__ADS_1


" Ron, aku butuh bantuanmu. Sediakan peralatan komplit untuk pemeriksaan kandungan dan peralatan pendukung lainnya. Serta vitamin di bagian obat terbaik yang kamu tahu. Bisakah?" pinta Veronica.


__ADS_2