
" Terima kasih nona muda, tolong pantau terus perusahaan ini" ucap Ahmed.
" Ya, baiklah. Jika Papaku tersayang mengijinkannya" ucap Rayina.
" Pa..." ucap Ayden dengan memberikan tatapan tajam.
Irfan sudah paham dengan maksud anak kesayangannya itu. Menyangkut kesehatan dan keselamatan anak keturunannya.
" Ahmed, saya yang akan memantaunya. Biarkan menantuku menikmati masa kehamilannya. Karena disini dia akan berlibur. Jangan bebankan kepadanya" ucap Irfan.
" Oh.. Papa, bagaimana mungkin aku membiarkan ini semua" ucap Rayina dramatis.
" Hiss... bersenang - senanglah" ucap Irfan kemudian.
" Thank you Pa" jawab Rayina dengan sangat gembira.
Ya, memang itu tujuan Rayina. Ingin di negaranya tanpa ada beban dan pikiran yang mengganggunya. Ya, walaupun tidak akan lepas dari kedua hal itu. Setidaknya bisa sedikit berkurang.
Seusai dari perusahaan, mereka kembali ke mansion. Dilihatnya dia jagoan yang tengah duduk bersama sembari melihat film kartun kesukaannya.
Ben, masih saja berkutat dengan buku gambar dan krayon yang selalu menemaninya. Sedangkan Ganesha masih duduk santai dengan buku dalam genggamannya.
Sementara Mbak yang menemaninya masih berada di meja makan menata makanan yang sudah siap di hidangkan.
" Assalamualaikum " salam Ayden menggema.
" Waalaikumsalam " jawab seluruh anggota.
" Ayah... Bunda" Ganesha segera berlari ke pelukan Ayden.
Sedangkan Ben, masih asik dengan kegiatannya. Rayina mendekati jagoannya itu dan melihat apa yang sedang di kerjakannya.
" Oh.. waow..." teriak Rayina girang.
" Kenapa sayang?" tanya Ayden penasaran.
" Abang gambar kita" jawab Ganesha.
" Kita?" Jawab Ayden dengan mengerutkan dahinya.
" Hmm" jawab Ganesha cepat.
Ayden melangkahkan kakinya mendekati anak tertuanya. Sementara Ganesh masih dalam gendongannya.
Ayden tersenyum melihay gambar anaknya. Rayina tersenyum dengan mengangkat alisnya seperti kode untuk Ayden.
" Mungkin akan sama sayang" ucap Ayden.
__ADS_1
" Ya.. mas, baiklah kita bahas di kamar. Sayang, Bunda dan Ayah akan ke kamar dulu ganti pakaian. Makanan sudah siap kan mbak? Kita makan siang bersama" ucap Rayina bak perintah yang tak bisa di ganggu gugat.
Dan semua menjawab serentak " Ok" .
Kini Rayina dan Ayden tengah membahas apa yang sudah dilihatnya baru saja.
" Mas, apakah ini dependapat atau tidak tentang ideku" ucap Rayina.
" Belikan alat lukis untuk anak kita. Dan kita berikan saat di puncak. Supaya dia dapat menyalurkan bakatnya yang sudah mulai nampak" ucap Rayina meneruskan.
" Sependapat sayang. Ya, aku akan melakukannya" jawab Ayden dengan senang.
" Terbaik !!" seru Rayina.
" Tapi bagaimana dengan bakat jagoan kecil kita? Bahkan hanya membaca saja. Dia tidak pernah melakukan apapun yang terlihat!" ucap Rayina.
" Sayang, masing - masing anak mempunyai kemampuan yang berbeda. Jangan dibanding - bandingkan. Dan ingat, dia memang suka membaca. Dan dia akan menjadikan ensiklopedia untuk dirinya. Bahkan jika dibutuhkan orang lain. Dari membaca, dia akan mendapatkan wawasan yang luas. Melebihi bakat yang kau katakan itu!" terang Ayden.
" Hmm.. semoga saja mas" jawab Rayina.
Rayina segera masuk ke kamar mandi untuk membasuh dirinya. Maklum saja ibu hamil akan merasa cepat gerah. Apalagi di Jakarta, suasana panas akan segera menyentuh kulitnya.
" Sayang, kamu mandi?" tanya Ayden.
Ya, terdengar suara gemericik qir dari dalam kamar mandinya. Rayina tidak menjawab. Dia segera menyelesaikan mandinya dengan cepat. Agar suaminya tidak cepat menyusulnya.
Akan lama acara mandinya jika sudah disusul suaminya itu. Rayina segera keluar dengan di balut handuk yang sudah melingkar di tubuhnya.
Dipeluk tubuh wanita kesayangannyq itu dalam dekapan. Di kecupnya bahu yang terekspos seksi itu. Di rabanya perut yang dulunya ramping kini sudah mulai membuncit.
" Mas... orang sudah menunggu kita. Jangan diteruskan!" ucap Rayina sebal.
" Sayang... sekali boleh??" ijin Ayden.
" Mas... please. Kasihan anak - anak" ucap Rayina memohon.
" Haahhh baiklah" jawab Ayden menyerah.
Segera Ayden pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Agar hasratnya teredam oleh guyuran air. Rayina yang sudah paham hanya diam dan terus melanjutkan berpakaian.
Setelah selesai, Ayden keluar dan segera berganti pakaian. Rayina tengah memakai gamis rumahan dan dipadukan hijan instan yang tidak membuatnya menjadi jelek.
Hanya terlihat sederhana, namun tetap cantik di lihatnya. Rayina sudah menyiapkan pakaian rumahan juga untuk suaminya. Setelah selesai mereka segera keluar.
" Bunda lamaa!! Laper" gerutu Ganesha yang sudah pintar protes.
" Ah.. baiklah... maafkan Ayah dan Bunda. Mari sekarang makan" ucap Ayden.
__ADS_1
Mereka segera makan, menikmati nasi uduk dengan ayam goreng serta sambal. Tak lupa sayur bayam kesukaan Rayina dengan tempe dan tahu bacem.
" Hmmm siapa yang masak Mbak?" tanya Rayina.
" Bude Darso ?" ucap Rayina menebak.
" Ya, Bu. Bude Darso" jawab Mbak.
" Bude?" tanya Ayden kemudian.
" Biar lebih akrab mas. Kalau Bu Darso kesannya kita seperti jauh. Dan Bude juga tidak keberatan di panggil Bude. Ya kan Bude?" tanya Rayina.
" Ndak apa Nyonya, Tuan" jawab Bude Darso.
" Hissss" ucap Rayina dan Ayden.
" Bude, panggil Bu sama Bapak saja" ucap Mbak.
" Ooo begitu, baiklah" jawab Bude Darso.
Suasana riuh di meja makan. Tanpa ada jeda semua yang ada di mansion makan bersama. Tidak ada pembatas antara majikan dan pelayan. Semua sama.
Setelah semua selesai Mbak dan Bude segera membereskan meja makan. Rayina dan Ayden menuju ruang keluarga dengan kedua jagoannya.
" Bunda... Bunda lupa ya katanya akan menghukum kita?" ucap Ben.
Mereka memang diajarkan bertanggung jawab oleh Rayina. Jika menerima hukuman harus di jalankan. Bahkan jika hukuman belum di dapatkannya mereka harus bertanya dan segera mungkin menyelesaikan hukuman itu. Seperti saat ini.
" Sabarlah, Bunda masih memikirkan hukuman untuk kalian" jawab Rayina dengan tersenyum.
Menurut mereka senyuman itu adalah senyuman maut yang di keluarkan Bundanya. Pasti akan ada sesuatu yang sangat membuat mereka jera.
Sementara di dapur belakang, para pekerja berbisik - bisik membicarakan majikannya.
" Mbak, apakah Ibu dan Bapak memang begitu?" tanya Bude kepada Mbak.
" Ya begitu Bude. Memangnya kenapa?" tanya Mbak.
" Baik banget. Mereka makan saja, semua harus berhenti bekerja dan makan bareng - bareng. Dan tidak ada jarak diantara kita. Ya kan?" terang Bude.
Mbak hanya tersenyum mendengar cerita Bude.
" Masih banyak kejutan lainnya Bude. Tunggu saja jika waktunya tiba. Akan ada sesuatu yang Bude belum ketahui" ucap Mbak.
" Apa itu Mbak, kalau boleh tahu" tanya Bude.
" Nanti akan tahu sendiri. Bukan kejelekan dari majikan kita loh Bude. Tapi hal lain" jawab Mbak.
__ADS_1
" Terus, apakah mereka memang sehari - hari makannya hanya menu masakan kampung begitu?" tanya Bude.
" Ya Bude, majikan kita memang suka menu rumahan. Semua yang dimakan majikan kita, kita juga akan makan dan merasakan tanpa terkecuali. Terkadang akan mendatangkan chef untuk memasak di rumah. Dan kita akan kebagian ikut mencicipi" terang Mbak.