Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
96.


__ADS_3

" Benarkah begitu nyonya?" tanya Farhan.


Rayina hanya tersenyum tidak menjawabnya. Dia hanya diam tidak menjawab sepatah katapun.


" Tentu saja mahal. Aku membawanya dari Indonesia. Membeli juga dari online. Setelah itu aku bawa ke sini. Tentu saja memakan banyak biaya bukan? hihihi" batin Rayina terkekeh.


" Pantas saja kamu selalu membanggakan kotak obatmu ini. Bahkan aku tidak percaya dengan semua yang kamu katakan, jika kotak obat ini berharga. Tetapi setelah melihat semua obat yang kamu berikan kepada Papa kemarin, aku percaya obat itu sangat manjur khasiatanya" terang Ayden.


Farhan sedikit lega, karena Bos besarnya juga sudah mendapat obat dan tindakan yang sama dari nyonya bosnya itu.


" Kakak, bagaimana kakak bisa melakukan semua ini?" tanya Kevin penasaran.


" Hehe" kekeh Rayina.


Ayden mengernyit dengan jawaban istrinya. Dia hanya terkekeh geli. Ataukan dia hanya asal saja.


" Aku belajar dari yout*be" jawab Rayina santai.


" Are you seriously?" tanya Ayden dengan rasa tak percaya.


" So, kamu melakukan tindakan dengan Papa juga melihat dari channel itu?" tanya Ayden kembali.


" Hahaha, kenapa sayang?" tanya Rayina geli.


" Please, explain to me sayang !" pinta Ayden.


" Embbb..." jawab Rayina.


Rayina bingung untuk menjelaskannya. Dimulai dari mana harusnya.


" Bagaimana aku menjelaskannya? Sangat panjang ceritanya mas" terang Rayina.

__ADS_1


" Secara garis besar saja sayang" ucap Ayden.


Pandangan semua orang sudah tertuju padanya. Meminta penjelasan? tentu saja. Bukan berarti mengintimidasi Rayinam. Tetapi lebih tepatnya ingin mengetahui ilmu dari mana yang dia dapatkan.


" Emb, saat aku menjadi seorang guru di negaraku dulu. Kami, selaku guru dituntut untuk serba bisa. Dan keselamatan setiap murid yang kami bimbing itu adalah tanggung jawab semua guru. Di sana guru di bekali denga tindakan medis. Tetapi hanya dasarnya saja" cerita Rayina.


" Hingga suatu hari, mendiang suamiku terkena tembak oleh seseorang yang tidak di kenalnya. Saat itu suamiku masih sadarkan diri. Dan dia juga yang memintaku untuk melakukan pengambilan peluru yang bersarang di dadanya" cerita Rayina yang menerawang jauh.


" Dia memintaku dengan paksa. Dia menahan sakit saat proses pengambilan itu. Walaupun dia sudah setengah mati menahan rasa itu dia kemudian memintaku untu mengambil obat bius lokal yang kita punya. Biasa obat itu hanya digunakan saat genting. Misalnya kita benar - benar tidak bisa tidur" terang Rayina.


" Dia kemudian menyuntikkan sendiri di dadanya. Mulailah pembedahan itu dengan alat seadanya. Dia juga mengarahkan cara pembedahannya. Suamiku sudah pernah melakukan tindakan demikian terhadap temannya saat menjadi seorang prajurit negara" terang Rayina.


" Wait, prajurit?" tanya Ayden.


" Bukankah dia seorang pengusaha?" tanya Ayden kembali.


" Dia mengundurkan diri dari prajurit itu karena orang tuanya tidak mengijinkannya. Karena taruhannya adalah nyawanya. Sudah beberapa kali dia mengalami hal tersebut. Jadi orang tuanya meminta resign. Dan itu keputusan terberatnya. Berbekal dari itu semua, dia mempunyai bekal apapun yang sangat banyak. Karena untuk menjadi prajurit, semuanya bisa dia kerjakan" terang Rayina.


" Saat menjadi pebisnis dia juga banyak sekali saingannya. Karena dia cukup mahir dalam bidang itu dan dia tidak pernah bermain kotor. Dia selalu mendpatkan teror dan tekanan. Puncaknya adalah tembakan itu dan saham yang dia punya di rebut karena ditipu" cerita Rayina.


" Kakak, tetapi kamu lebih dari apapun itu. Bahkan seorang ahli bedahpun melakukan tindakan operasi paling tidak dua jam. Kakak melakukan itu hanya empat puluh menit, kurang dari satu jam" terang Kevin.


" Kevin, aku melakukan itu sudah aku pikirkan. Melihat monitor pacu jantungnya melemah. Maka aku harus berpikir cepat. Untuk itu keberanian datang seiring berjalannya waktu untuk menyelamatkan seseorang. Jika saja aku tidak cepat, racun itu sudah entah kemana menyebarnya" terang Rayina.


Liona bergerak ke arah box untuk memastikan chips yang sudah diambil. Dan ternyata benar kata Rayina.


" Kakak, lihatlah! chips itu meleleh bak tinta hitam" teriak Liona.


" Ya, itulah sebabnya aku mempercepat tindakan operasi itu. Untuk pengobatan pasca operasi aku serahkan sepenuhnya kepadamu Kevin. Dan pengobatan herbal aku serahkan kepada Liona" perintah Rayina.


" Farhan, kamu boleh menjenguknya kapanpun. Dia akan dirawat disini. Ruangan ini tidak seburuk yang kalian kira" terang Rayina.

__ADS_1


Ayden kemudian menyalakan lampu yang ada. Ternyata memang ruangan itu seperti kamar biasa yang hanya dilengkapi beberapa alat. Dan ruangan itu tidak lembab seperti yang saat ini di rasakan.


" Sudah terang, kalian bis alihat sekitar kalian. Tidaklah buruk. Disini bahkan sterilisasi terjaga. Liona bagaimana dengan lock chipsnya?" tanya Rayina.


" Sudah mati kak, mereka pasti akan mencari Aruni. Karena dengan sengaja menghilangkan jejaknya. Tetapi jika Aruni mati, chips itu akan tetap nyala tapi berwarna merah" terang Liona.


" Hmm bagus, baiklah semua sudah aku bagi tugasnya. Farhan jika kamu masih mau menunggu silahkan atur tugasmu. Jangan sampai lengah. Kevin kamu bisa memeriksanya kapan saja. Tapi aku minta kamu periksa secara intensif. Mas, aku lelah. Mari kita kembali ke kamar. ouchh... tunggu.. cassanova kita apa tugasnya mas?" tanya Rayina mengejek.


" Papa dan Mama sudah menunggumu di ruang keluarga" terang Ayden.


" Mas, hubungi Papa. Kita keruang kerja mas saja. Jadi kita bisa melihat dari kamar" terang Rayina lirih.


" Ah.. baiklah sayang..." ucap Ayden.


" Liona, pencet tombol itu. Jika kamu ingin istirahat. Atau bisa ke kamar tamu. Kevin juga bisa. Silahkan tidur. Istirahatlah. Aruni akan baik - baik saja" terang Ayden.


" Ayo sayang " ajak Ayden.


Rayina hanya mengangguk dan meraih uluran tangan suaminya itu. Mereka menggunakan lift untuk kembali ke kamarnya. Sementara Devran mengikuti dua insan itu dengan wajahnya yang pucat.


" Bang, tolong aku bang?" pinta Devran memelas.


" Devran... apapun tindakan yang kamu lakukan. Kamu harus berani mempertanggung jawabkannya. Jangan pernah berlindung dari siapapun dan apapun. Buktikan kamu gentle, hei.. cassanova gadungan" ejek Ayden.


Rayina hanya tersenyum dan mencubit kecil pinggang suaminya karena meledek adiknya yang sedang ketakutan dibuatnya.


" Devran, keruangan abang. Mama dan Papa disana. Kalau diruang tamu, takut anak - anak bangun" ucap Rayina lembut.


" Baiklah kakak ipar" jawab Devran.


Ayden dan Rayina sudah berada di kamar mereka. Rayina segera mandi dan ganti baju dengan yang bersih. Begitupun Ayden, kegiatan itu rutin mereka lakukan.

__ADS_1


Karena peraturan dari Rayina, jika badan mau menempel di kasur harus dalam keadaan bersih tanpa keringat. Berbeda saat mencari keringat di kasur ya..


" Sayang, apakah kamu yakin Aruni baik - baik saja pasca tindakan operasi tadi?" tanya Ayden sangat penasaran.


__ADS_2