
Xano kembali ke perusahaannya dengan menahan amarah yang membara. Berusaha untuk menekannya dengan sangat dalam amarah itu. Tak mudah untuknya melupakan apa yang terjadi pagi ini.
" Wanita itu membuatku gila!!! Baru sekarang aku menemui wanita yang seperti itu. Membuatku penasaran!" gumam lirih Xano.
" Hugo, kembali ke perusahaan. Aku akan membuat rencana baru!" perintah Xano.
" Baik tuan.." jawab Hugo patuh.
" Hugo... Bagaimana menurutmu tentang wanita itu?" tanya Xano tiba - tiba.
" Ah... tumben sekali tuan menanyakan soal wanita. Biasanya dia sangat dingin dengan wanita. Dan biasanya pula wanita yang merangkak di kakinya hanya untuk di jamahnya. Tapi.... ada apa dengan..." batin Hugo menggantung.
" Bagaimana menurutmu Hugo ?? Kau tuli?? Dari tadi aku tanyakan hal ini??" teriak Xano.
" Emmbb... maa.. af tuan.. Sebenarnya ..." jawab Hugo menggantung.
" Cepat katakan !!" hardik Xano.
" Maaf sebelumnya tuan. Apakah wanita itu sangat istimewa?" tanya Hugo.
" Cihhh..." decih Xano.
" Istimewa apaan... Dia membuatku gila !! baru kali ini aku menerima penolakan dengan tegas !! She's like my mom, Hugo " terang Xano.
" Hmm.. pantas saja, anda sangat penasaran dengan wanita itu. Ada salah satu sifat nyonya besar yang melekat pada wanita itu. Dan.. sepertinya anda rindu dengan nyonya besar, tuan" ucap Hugo.
Xano nampak berpikir, pernyataan Hugo ada benarnya. Dia memang akhir - akhir ini terlalu sibuk mencari tahu tentang Rayina. Rayina memang wanita yang mirip dengan Ibunya. Dan sorot mata tajamnya bisa menyiratkan banyak sekali keyakinan dalam dirinya.
" Nanti setelah pulang kantor, carikan tiket ke Malaysia. Aku mau menikmati perjalananku tanpa jet pribadi !" perintah Xano kepada Hugo.
" Baik tuan" jawab Hugo yang sudah tahu tujuan tuannya.
Sementara di perusahaan Rayiden. Seorang lelaki gagah nan perkasa datang dengan menggunakan mobil sport yang sudah terpakir di pintu loby masuk kantor telah bertengger dengan gagahnya.
Tak...Tak.. Tak... suara sepatu mahalnya berbunyi.
Semua mata memandang kearahnya. Dengan wajah dingin yang terpasang dimukanya. Tanpa ada perkataan apapun dia langsung menuju ke ruangan CEO.
Sang resepsionis kantor terpana melihat mantan bosnya datang ke perusahaan dengan memasang wajah tegangnya.
Resepsionis tanpa sadar hanya memperhatikan sosok lelaki nan gagah tersebut. Tidak menghalau ataupun bertanya keperluannya.
" Rita... kau melamun. Melewatkan masalah !!" hardik resepsionis satunya.
" Haduh... mati aku.. tapi tuan sudah masuk..." jawab resepsionis.
" Tunggu saja hukuman kita nanti " gerutu resepsionis satunya.
" Selamat siang tuan.." ucap Pak Jo.
__ADS_1
" Ah... selamat siang Pak Jo.. Dimana kakak?" tanya Devran.
" Ada di dalam, mungkim sedang makan tuan. Apakah tuan memerlukan sesuatu?" tanya Pak Jo.
" Seperti biasa Pak Jo. Aku butuh infus water... lemon mint ditambah madu" pesan Devran.
Devran langsung mendorong pintu CEO tanpa mengetuk pintu atau permisi. Dua orang yang masih bercerita tiba - tiba diam seribu bahasa. Melihat sosok lelaki yang membuka pintu tanpa permisi.
" Tidak bisakah kau mengetuk pintu Dev?" ucap Rayina.
" Maaf kakak. Aku butuh penjelasan kalian" ucao Devran dengan memandang Rayina dan Liona bergantian.
" Why Dev?" tanya Rayina dengan santainya.
Masih dengan memeriksa beberapa laporan yang diterimanya. Dan beberapa hal yang memerlukan tanda tangannya.
" Kak... please... " keluh Devran.
Sedangkan Liona hanya menatap Rayina dengan santai dan kembali memeriksa pekerjaannya. Dia juga mengirimkan chat kepada Rayina.
📨 Liona
*Devran kasihan kak 🤣...
📩 Rayina
Biarkan saja... Rasakan akibatnya jika sok jadi pahlawan. Dia tidak tahu bahayanya Xano. Lelaki ceroboh*!!
📨 Liona
📩 Rayina
Jelas*.. !!
" Ah.. please... beri aku penjelasan" teriak Devran.
Pak Jo yang masuk ke dalam ruangan tergelak kaget dengan teriakan Devran. Pak Jo hanya mengelus dadanya dengan pelan. Sudah tidak aneh lagi jika Devran berperilaku demikian jika dia merasa diacuhkan.
" Tuan.. minumnlah dulu. Infus water seperti pesanan tuan akan meredakan kekepoan anda tuan" ucap Pak Jo meledek.
" Pak Jo !!" hardik Devran.
" Devran!! Yang sopan!!" hardik Rayina.
" Wah.. sekarang kau ada yang membela Pak Jo.." ucap Devran.
" Tentu saja... Nyonya memamg sangat baik terhadapku" jawab Pak Jo besar kepala.
Devrab segera meminum infus water pesanannya. Dia merasakan lebih segar setelah menahan emosinya yang dia bawa dan dia tekan sepulang dari Malaysia dengan cara penculikan. Lebih tepatnya begitu, karena Devran dengan keadaan tidak sadar saat perjalanan itu.
__ADS_1
" Kak, kau menculikku dari Malaysia. Dan kau juga bukan yang memerintahkan banyak orang. Pasti ada yang membantu. Dan aku yakin orang itu juga berpengaruh. Aku tadi sudah menanyakan kepada Papa, beliau tidak membantu kakak" cerocos Devran.
" Liona... bisakah kau sumpal mulut casanova gadungan ini?" ucap Rayina menanggapi.
" Hihi... bukan aku yang meminta Dev" Liona segera membawa lakban mendekati Devran.
" Hei.. kau singa kecil.. kau juga ada dibalik permainan ini bukan. Ah.. kalian sama- sama kompak. Rubah dan singa..." ucap Devran.
" Kaaakakkk.. " rengek Liona.
" Aku ijinkan Liona.. habisi kalau perlu mutilasi saja. Mulutnya jangan lupa kau sobek sampik dia tidak bisa berkata lagi" canda Rayina.
" Kakak kau jahat sekali. Abang maunya menikah dengan wanita sadis sepertimu" ucap Devran.
" Ah... baiklah, kau mengingatkan suamiku. Aku bisa ceritakan kau disini dengan memaksa meminta penjelasan yang tidak perlu dijelaskan lagi... Apa reaksi abangmu ya??" ucap Rayina yang berlagak berpikir.
" Ishhh... kakak... kau... benar - benar" desis Devran.
" Baiklah... Veneno Roadster untukmu!!" tawar Devran.
" Cih.. murah... Sweptailku lebih keren dan lebih mahal dari pada Venenomu !!" ejek Rayina.
" Haa?? Darimana kakak punya? Sepertinya abang tidak punya mobil itu " terka Devran.
" Kepo !!" jawab Liona.
" Liona.. kau mau Veneno Devran?" tanya Rayina.
" Ogah... aku bisa membeli jet pribadi dan pulau pribadi sendiri. Bukankah itu lebih mahal dari harga mobilnya kak?" ejek Liona.
Devran merasa terhina dengan dua wanita yang memang tak diragukan kekayaannya itu. Liona anak tunggal pewarus perusahaan ternama di dunia. Dengan banyak anak cabang di berbagai negara.
Sedangkan Rayina, dia memang mempunyai perusahaan yang memang didedikasikan untuknya dari suaminya, Ayden.
Ayden juga tak diragukan kekayaannya. Bahkan kekayaan yang dimilik Devran jauh dibawah Ayden. Dan Devran merasa kecil diantara mereka.
" Oh... kasiann... bos kecilku nyonya..." ucap Pak Jo.
Pak Jo melihat raut wajah Devran yang melemah dan sedikit kecewa karena kakak iparnya meledeknya sedari tadi.
" Kau tau Devran, apa hukumnnya bagi anak ceroboh? Kamu tahu bukan Papa akan melakukan apa?" peringatan Rayina.
" Apakah aku seceroboh itu kak? Apakah kesalahanku hanya kecerobohanku?" tanya Devran melemah.
" Karena kecerobohanmu, hampir saja nyawamu melayang. Kamu tahu apa yang akan terjadi jika itu terjadi?" tanya Rayina tegas.
" Mati lah... kalian bisa mengelola perusahanku. Aku lihat juga perusahaan ini maju ditangan kalian" jawab Devran enteng.
Rayina segera melemparkan pulpen ke arah Devran.
__ADS_1
Pletakkkkkk
" Auchhh... sakit kak !" teriak Devran.