Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
181.


__ADS_3

" Mas, rapatkan dengan pemegang saham yang lainnya. Aku rasa ada permainan didalamnya" ucap Rayina kembali.


" Sudah aku pikirkan. Aku akan mengajukan Farhan sebagai ganti ke perusahaan. Mereka tidak tahu aku yang sebenarnya" ucap Ayden.


" Farhan as asisten kamu Mas?" tanya Rayina.


" Yap!! tentu saja. Dia bisa diandalkan bukan?" ucap Ayden.


" Ya benar. Tapi mas harus tetap memantaunya. Itu hanya kesalqhan satu nol. Jika terjadi berulang - ulang. Akan memperkaya orang yang merekayasa semua itu!" ucap Rayina kembali.


" Tentu saja sayang.Tenanglah, Farhan akan mengatasinya. Kamu belum tahu seperti apa sepak terjan Farhan jima sudah di kantor" ucap Ayden.


" Tapi kenapa saat itu, Antony tidak mengenali Farhan? Bukankah dulu dia bertemu saat mengantar kita bukan?" tanya Rayina menyelidik.


" Hahaha... Farhan akan menyamar saat menjadi asistenku sayang. Lihatlah penampilannya" ucap Ayden dengan menunjukkan foto Farhan.


" OMG... really Mas? " ucap Rayina yang kaget bukan kepalang.


" Ya, of course. Bagaimana? Apa kamu mengenali jika itu adalah Farhan?" tanya Ayden.


" Sekilas tidak. Tapi jika diamati dengan teliti masih sedikit mirip" jawab Rayina.


" Hahaha, suamiku ternyata bukan hanya seorang pilot and flight engineering tapi juga seorang pengusaha yang keren" ucap Rayina.


" Semua untuk masa depan anak - anak kita kelak sayang" jawab Ayden membenarkan.


" Ya Mas.. semoga semua berjalan dengan lancar. Anak- anak bisa menerima dengan adil" jawab Rayina.


Tak lama obrolan itu menjadi obrolan ringan yang dipenuhi canda dan taw. Mereka kemudian terlelap dalam tidur siang yang selama ini jarang di dapatkannya.


Sementara anak - anak masih dengan kesibukannya. Ya, dirumah ini mereka bebas berekspresi sesuai dengan keinginan mereka. Tidak ada yang tahu anak siapa. Dan tidak ada pengintai yang memata-matai mereka seperti di London.


Pak Darso, membawa mereka ke kebun belakang rumah. Banyak sekali Pak Darso menanam berbagai sayuran dan buah - buahan. Ben merasa takjub akan hal itu.


" Pak, are you kidding?" tanya Ben.


" Haduhh... bos cilik ngomong apa? Bapak ndak tahu bahasa begituan" ucap Pak Darso.


" Tidak perlu dipikirkan Pak. Abang memang aneh. Tapi sebenarnya dia keget melihat kebun ini. Dia bertanya, Bapak, apa bercanda?" terang Ganesha.


" Ooo.. yo ndak bercanda bos cilik.Ini semua bapak yang nanem. Itu taman bunganya nyonya. Bapak juga yang rawat" terang Pak Darso.


Ben dan Ganesha nengok ke arah uang ditunjuk Pak Darso.


" Ohh.. waow.. it's beautifull" ucap Ben.

__ADS_1


" Iya Bang, lebih cantik dari taman Bunda yang di mansion" celetuk Ganesha.


" Sini bos cilik, ada beberapa buah yang sudah matang. Bisa dijadikan rujak. Itu juga Bapak mau metik sayuran. Biar Bude masak buat makan malam. Sayuran dari kebun sendiri lebih bagus bos cilik" terang Pak Darso.


" Boleh kami ikut metik Pak?" ucap Ben.


" Ayo.. ayo.. mari.. sebelah sini" ucap Pak Darso.


" Sebelumnya pakai sepatu boots sama pakai sarung tangan ya" pinta Pak Darso.


" Untuk berjaga- jaga" ucap Pak Darso kemudian.


" Berjaga - jaga?" tanya Ben.


" Safety bang.. sudahlah ayo!!" ucap Ganesha.


Ganesha yang emang dasar anak Indo dia cepat tanggap dan cepat memahami semua kebiasaan orang indonesia jika berkebun.


" Ini sangat menyenangkan" ucap Ben.


" Di sana tidak ada kebun kan bos cilik?" tanya Pak Darso.


" Sebenarnya ada sih Pak, saat Bunda suka menanam. Tapi semenjak ada baby di perutnya Bunda jarang ke kebun. Bunda juga kerja di kantor. Sesekali Opah yang merawat. Dan terakhir kami lihat kebun diisi bunga - bungaan saja" terang Ganesha.


" Ya sudah, ini ada jambu, mangga, pepaya, pisang. Kalau mentimunnya nanti sebelah sana" ucap Pak Darso.


" Bang, ini benar - benar berbeda. Liburan kita sangat menyenagkan bukan?" tanya Ganesha.


" Ya, of course. Di malay juga tidak pernah abang berkebun. Di sana Opah melarang apapun yang aku lakukan jika menyangkut dengan yang namanya kotor. Tapi disini... kita bebas.. yeahhhh" ucap Ben dengan bertos ria dengan Ganesha.


Kini mereka memetik satu persatu buah yang dibutuhkan. Tak perlu waktu lama, karena buah memang sangat banyak berbuah jadi mereka memetik seperlunya saja.


" Pak.. jika buah ini sisa, sebaiknya dibagikan ke tetangga. Ataupun orang yang lewat. Nanti bisa di tanam lagi. Nanti kami akan meminta uang sama ayah untuk ini" ucap Ben.


" Siap bos kecil" ucap Pak Darso dengan memberi hormat.


" Hahaha..." tawa Ben dan Ganesha pecah melihat tingkat Pak Darso.


Bude yang berada di dapur segera menyusul mereka yang sedang ada di kebun. Bude segera menuju kebun sayur yang dibutuhkan untuk dimasak.


Disana Bude memetik kol, pakcoy, labu siam, mentimun, wortel, cabai, selada dan masih banyak yang lainnya.


Suara riuh rendah, canda tawa terdengar hingga ke dalam rumah. Ayden yang mendengar tawa seorang anak kecil menajamkan telinganya.


Dibukanya mata itu untuk dikerjapkan. Dan dia juga penasaran, suara itu adalah suara jagoannya yang tertawa bahagia.

__ADS_1


" Mas... apa itu anak - anak" tany Rayina yang masih memejamkan matanya.


" Sepertinya sayang... sebentar" ucap Ayden dengan membuka mata perlahan.


Ayden bangun dan menuju ke balkon kamarnya yang menghadap langsung ke halaman belakang rumah.


" Hmmm...."


" Jagoan kita bukan? " ucap Rayina yang berdiri di belakang Ayden.


Dipeluknya tubuh kekar nan menawan itu dengan dagu yang menempel di bahu kiri sang pemilik tubuh. Sesekali dikecup bahu itu.


" Mereka sangat bahagia sayang. Tidak ada wajah kecemasan dan kewaspadaan" ucap Ayden.


" So, kita menetap di Indonesia??" ucap Rayina spontan.


" Hmmm, akan aku pikirkan" jawab Ayden singkat.


" Tidak perlu Mas, kita disini hanya liburan. Liburan musim panas di sana. Dan disini musimnya sangat bersahabat dengan kita bukan? Sudahlah, di sana kita masih banyak tanggungan bukan. Tak perlu difikirkan. Aku juga tidak menuntut akan tinggal di sini. Tapi hanya meminta sedikit waktu untuk mengunjungi orang tuaku. Itu saja, tidak lebih" terang Rayina menenangkan.


" Embb... sayang. Tapi jika aku mau kita menetap disini bagaimana?" tanya Ayden.


" Kita lihat kedepannya bagaimana" jawab Rayina yang sembari mengecup pipi suaminya dan berlalu.


" Mau kemana sayang" tanya Ayden.


" Keluar" jawab Rayina cepat.


" Hmmm pasti bumil marah. Bagai naik rollcoaster jika menghadapi orang hamil. Moodnya tidak tentu. Dia pasti tersinggung" gumam Ayden dalam hati.


Tak lama nampaklah wanita yang kini masih di batinnya. Dia sudah berada di halaman belakang.


" Sayang..." teriak Rayina yang terdengar hingga balkon Ayden berdiri.


" Bunda..." jawab anak - anak serentak.


" Kenapa bunda tidak diajak?" ucap Rayina dengan berpura - pura memasang wajah sedihnya.


" Maafkan kami Bunda. Tapi.. kemarilah, kami sudah memetik buah dan sayuran banyak sekali. Lihatlah, keranjangnya sampai penuh" ucap Ben.


" Oh.. waow... amazing. Pak, ini semua bapak yang nanam?" tanya Rayina.


" Ya nyah" jawab Pak Darso.


" Bude, bisa nih kita bikin asinan" ucap Rayina memberi ide.

__ADS_1


" Siap nyah" jawab Bude senang.


__ADS_2