Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
193.


__ADS_3

" Stoppp!!" teriak Ayden.


" You!!! Come here!!!" teriak Devran.


Akhirnya mereka berlari kejar - kejaran. Saling tangkap dan saling hindar. Lelaki dengan dua wajah yang sama mempesonanya sedang meributkan sesuatu yang bisa dibilang konyol. Ya, masih ada sisi kekakanak - kanakan mereka jika sudah sangat lama tidak bertemu.


" Hahaha" tawa itu masih terdengar mengejek.


" Siniiii !!!" teriak sang pesakit.


Ya, Devran merasa tersakiti. Merasa ditipu, dianiayaya, dan tentu jelasnya dikerjai oleh kakaknya sendiri. Bahkan kakaknya tahu jika dia trauma dengan "kuda".


" Haaapppp" tertangkap sudah sang biang kerok.


" Hahaha, sorry... stop it !!" Ayden menahan gelitikan dari adiknya.


" Terus sayang, jangan berhenti" teriak wanita yang sudah menjadi istrinya.


Dan, Devran semakin bersemangat untuk balas dendam dengan kakaknya itu. Sementara...


" Miss you so much Bun" ucap Liona dengan memeluk erat Rayina.


" Miss you too baby" jawab Rayina dengan senang hati.


" Sorry, kotor" jawab Liona memang sengaja menempelkan kotoran itu kepada Rayina.


" Hmmm nakal ya... Hahaha" jawab Rayina lembut.


" Are you happy? Bagaimana perjalanannya?" tanya Rayina kemudian.


" Saaangat. Thank you so much Bun" jawab Liona berbinar.


" Bun?" tanya Rayina dengan menaikkan alis sebelahnya.


" Are you pregnant?" tanya Rayina curiga.


" Belum. Tapi bolehlah I call you Bunda??" tanya Liona.


" Ahhh... terserah kamu saja. Tapi, aku merasa punya anak gadis sebesar ini" kelakar Rayina.


" Liona, Ini Bapak dan Ibuku. Yang itu simbok paling setia disini. Senior lah lebih tepatnya. Dan... lainnya semua pekerja Bapak" terang Rayina.


Liona segera menyambar tangan kedua orang tua Rayina. Dengan penuh takdzim menyalami dan mencium tangan nan renta itu. Sementara kedua lelaki itu kini sudah berbincang dan berpelukan mesra penuh kasih.

__ADS_1


" Selamat datang Dev. Datanglah ke kakakmu dan mertuaku. Lihatlah, istrimu sudah dapat muka duluan dari pada kau!!" ledek Ayden.


" Ishh kau ini. Kau yang buat aku begini Bang. Enak saja!!" gerutu Devran.


" Hahaha" kelakar Ayden.


" Dev... kemarilah" ucap Rayina.


" Ah... my love sudah memanggil. Bye Bang...!!" ejek Devran.


" Hissss!!" desis Ayden memberengut.


" How are you lady??" tanya Devran.


" Hahaha.. kebiasaan ini bocah. Lady.. lady.. ni disini ladymu!!" ucap Rayina.


" Kakak kebiasaan deh! Gak bisa mesra dikit sama aku" ucap Devran.


" Hehh.. bocah... Kamu sudah punya istri. Masih saja manja !! Bermanja dengan istrimu!!" ucap Ayden tak kalah sengit.


" Bang... lihatlah. Istriku saja lengket sekali dengan kakak. Bagaimana aku bisa manja dengannya. Dia kalau sudah ketemu kakak ipar, aku dilupakan!!" gerutu Devran.


" Hahahah" semua tertaw serempak.


" Apa kabar Pak? Perkenalkan saya Devran. Adik abang Ayden" ucap Devran.


Sementara semua pekerja yang melihatnya terpana. Orang asing yang tinggal dan besar di luar negeri masih mempunya adap dan sopan santun seperti orang timur kebanyakan. Mereka bahkan heran, bagaimana orang tuanya mendidik kedua anak lelaki ini hingga sukses.


" Hai... bibi... simbok... dan lainnya. Perkenalakan aku adik Bang Ayden, dan ini istri saya. Maaf jika kami akan banyak merepotkan kalian semua" ucap Devran ramah seperti biasanya.


" Hehe... iya den" jawab Simbok mewakili yang lainnya.


" Terimakasih" jawab Devran.


" Wes... kalian bersih - bersih badan dulu. Terus itu siapin piringnya. Suruh makan. Pasti capek, laper juga. Ya to??" tanya Bapak.


" Hehe.. Bapak tau saja" jawab Devran cengengesan.


Mereka semua berlalu. Dua sejoli diantarkan oleh aalah satu pekerja ke kamar yang sudah ada. Kamar yang dipersiapkan jika memang kalau ada keluarga dan atau tamu lain yang menginap.


" Bagaimana orang tua kalian mendidik kalian?" tanya Ibu heran.


" Bagaimana cara mendidik Ibu kepada aku, anakmu ini Bu?" tanya Rayina kembali.

__ADS_1


" Yo mestine penuh kasih sayang. Adab dan ilmu dasare kehidupan yo tak tularke. Hal sik positif mesti tak ajarkan ke kamu to nduk?" jawab Ibu.


" Sama halnya dengan Mama dan Papanya Abang. Mereka sama seperti cara Ibu mendidikku. Jadi ada pertanyaan lagi?" tanya Rayina kembali.


" Wes, nek debat sama kamu itu pasti Ibumu kalah nduk. Hahaha. Yo, nggak gitu. Walaupun mereka tinggal dan besar di Luar negeri. Tapi mereka tetap orang melayu yang beradab" ucap Ibu.


" Awalnya kami tidak pernah bersalaman dan cium tangan dengan kedua orang tua kami. Bahkan ke orang lain yang lebih tua. Tapi... Anak perempuan Ibu ini yang banyak sekali mengajarkan adab kesopanan kepada kami. Dan tanpa kami protes atau bertanya sedikitpun kami dengan sadar diri dan iklhas mengikuti itu" jelas Ayden menyambung.


" Ahh... begitu. Alhamdulillah jika ilmu adab itu terus di tularkan. Semoga anak ' anak kaloan menjadi anak sholeh dan sholihah. Aaminn" ucap Ibu.


" Aamiin" jawab mereka serempak.


" Mas, jangan lupa. Dua sejoli kita cepat suruh turun dan makan. Kalau tidak diingatkan bisa lupa daratan mereka" ucap Rayina.


Ayden tanpa menjawab hanya mengeluarkan ponselnya dan segera mengotak atik seperti mencari sesuatu. Digulir kesana kemari di scrool keatas dan kebawah. Dan sang istri hanya diam mengamati apa yang dilakukan.


" Apa yang kamu cari Mas?" tanya Rayina heran.


Ayden hanya diam dan dengan memperlihatkan ponsel canggihnya ke hadapan sang istri. Terlihat user name dengan nama " Si tengil" dan terpampang foto seorang lelaki dengan seorang wanita yang sedang berpelukan mesra.


Rayina hanya menggeleng melihat kelakuan suaminya itu. Ya, nomor adiknya. Devran. Dinamainya dengan sebutan " Si tengil" sungguh Indonesia sekali menurut Rayina.


" Cepat turun !!! Atau aku usir dengan tanpa ampun !!!" ucap Ayden menggema.


Bapak dan Ibu Rayina nampak sedikit kaget dengan cara ucapan Ayden. Mingkin tereengar sedikit berteriak dan marah. Seperti nyata bahwa akan melakukan hal tersebut. Rasa takut, khawatir di wajah tua itu sungguh kentara.


" Jangan khawatir, mereka memang sebercanda itu Pak, Bu" ucap Rayina menjelaskan.


" Begitu??" tanya Bapak heran.


" Ya, begitu. Bapak bisa lihat bukan bagaimana Abang mengerjai adiknya tadi. Setelah bertemu Bapak juga bisa lihat bukan bagaimana akrab dan sayangnya mereka? Di sana hal itu sungguh wajar Pak. Jangan khawatir" ucap Rayina menjelaskan.


" Betul mertua. So, tenang saja. Hihi. Kami suka bercanda kok" ucap Ayden santai.


" Kamu itu... bikin takut orang tua saja Mas !!" ucap Ibu.


" Hihihi" kikik kedua pasang sejoli itu.


Dan tak lama dua insan dimabuk caintq sudah turun dari kahyangan. Eh, singgasana ding. Eh, bukan ding. Tapi dari peradabannya. Hahahaha.


" Abang!! Ishhh menyebalkan. Membuat pekerjaanku tertunda!!" gerutu Devran.


" Hmmm... Mana Singa kecilmu itu??" tanya Ayden tanpa memperdulikan gerutuan Devran.

__ADS_1


" Masih mengeringkan rambut" jawab Devran santai.


Semua biji mata memandang lelaki yang dengan santai menjawab. Sementara lelaki itu hanya cuek saja dan itu jawaban wajar.


__ADS_2