
Berjalan mengekori sang pujaan hati dengan memindai mata ke seluruh sudut ruangan kini menjadi kegiatan Ayden. Entah kenapa hatinya merasa nyaman berada di villa pribadi milik istrinya itu. Walaupun memang terlalu digunung, tapi suasananya membuat hati merasa nyaman.
" Bagaimana?" tanya Rayina.
Ayden tersentak kaget ketika suara mengagetkan kegiatannya itu.
" Maksudnya?" tanya Ayden kembali.
" Sudah selesai memindai seluruh ruangannya?" tanya Rayina yang sudah mengetahui tingkah suaminya itu.
" Ishhh, kamu sayang!!" ucap Ayden malu.
" Mas, bahkan kamu mempunya semua yang lebih bukan? Kenapa masih terpesona dengan yang aku miliki?" tanya Rayina dengan menaikkan alisnya, menggoda suaminya.
" Hehe.. maaf" jawab Ayden kikuk.
" Okelah, ayo!!" ajak Rayina cepat.
Tangan mungil itu membuka sebuah lemari. Dan tampaklah sebuah pintu baja yang berada di balik lemari itu. Ayden terkesiap melihat itu. Bagaimana bisa istrinya mendesign itu dengan sangat unik.
" Sayang... wait!! Ini?? Apakah kamu???" tanya Ayden penasaran.
" Ya, of course. Mas, bukankah sudah tahu apa yang ada di otakku?" jawab Rayina dengan mengembalikan pertanyaan.
" Ya, menakjubkan. Semua yang ada pada dirimu" jawab Vendra dengan memeluk istrinya dari belakang.
Dua sejoli yang selalu diliputi cinta dan kasih sayang dengan disiram kebahagiaan kini telah berada di dalam lift. Ya, tentu saja Rayina sudah merancangnya Otaknya memang sudah dilatih dengan sangat baik untuk bekerja oleh mantan suaminya.
Triiingg...
Suara lift berdenting. Tanda sudah berada di lantai sesuai yang diinginkan si empunya. Kini Rayina melangkah terlebih dulu untuk menunjukkan dimana kamarnya itu.
Rayina segera membuka handel pintu yang dirasanya sangat dirindukannya. Entah seperti apa keadaan di dalam ruangan itu.
" Assalamualaikum " ucap Ayden dan Rayina bebarengan.
Dua manusia kini masuk menapaki sebuah ruangan. Ruangan yang dirasa cukup luas dengan dilengkapi segala fasilitas yang ada. Bersih, Rapi, dan dengan disuguhi pemandangan yang indah.
" Beautifull sayang" ucap Ayden sembari berjalan menuju balkon kamarnya.
" Of course, kamar ini punya view yang sangat indah" jawab Rayina membanggakan kamar ini.
" Embb... apakah kamar ini.... embbb... maksud Mas..." tanya Ayden yang bingung menjelaskannya.
__ADS_1
" Bukan, kamar kami dulu di lantai satu, karena kamar ini belum jadi sebelum Almarhum meninggal. Jadi Almarhum belum menikmati kamar ini" terang Rayina.
" Dan, Mas yang menikmatinya. Sungguh lelaki apa Mas ini. Menikmati harta benda milik mendiang suami pertama istrinya" ucap Ayden melemah.
" Eiits !!! Salah. Ini semua hasil jerih payahku Mas. Ayahnya Ganesha tidak ikut serta membeli. Bahkan dia tidak tahu saat aku membelinya. Awalnya rumah ini hanya rumah kecil sederhana. Tidak seperti ini" terang Rayina.
" Awalnya aku pikir akan menghabiskan waktu liburan di sini saat kegiatan di kota libur. Dan mungkin hanya tempat singgah semalam. Karena masih ada rumah Bapak dan Ibu di bawah" terang Rayina kembali.
" Berapa kamu membelinya sayang?" tanya Ayden.
" Isshhh .... kenapa?" tanya Rayina sebal.
Rayina mengetahui isi otak suaminya itu. Jika tidak ingin membeli kembali, pasti akan mengganti uang dan mentransferkan denga sejumlah uang yang di sebutkan.
" Tidaaaakkk... Mas hanya bertanya" jawab Ayden yang berkata dengan tersenyum tipis.
" Kemarilah!!" ucap Ayden.
Kini Rayina berada di depannya, sedangkan Ayden berada di belakang Rayina dengan posisi memeluk dari belakang dan mengusap - usap perut buncit istrinya.
" Aku tahu akal bulusmu Mas" ucap Rayina dengan terkikik.
" Hmmm... ketebak lagi..." jawab Ayden dengan hembusan nafas kasar.
" Hahaha... " kelakar Rayina.
" Milikku" jawab Rayina singkat.
" Hmmm Bundanya anak - anak ternyata tuan tanah!" ucap Ayden dengan menghembus.
" Hahaha... nggak juga Mas. Semua ini untuk anak - anak. Dan, aku hanya membantu sedikit perekonomian warga sekitar. Tanpa mereka harus ke kota Mas" ucap Rayina.
" Begitu rupanya... Bolehkah Mas meminta sedikit space diantara samping halaman rumah ini?" ijin Ayden.
" Untuk?" tanya Rayina heran.
" Boleh tidak?" tanya balik Ayden.
" Boleh saja, asalkan bermanfaat" jawab Rayina santai.
" Untuk lapangan heli" jawab Ayden kemudian.
" Dimana? Maksudku sebelah mana?" tanya Rayina.
__ADS_1
" Bagusnya dimana sayang?" tanya balik Ayden.
" Diskusikanlah dulu dengan Bapak. Beliau yang tau struktur dan keadaan cuaca di sini. Baik buruknya beliau tahu mana yang tepat" ucap Rayina menjelaskan.
" Okey. Thank you Bundaaaa" ucap Ayden dengan mengerlingkan matanya.
" Sama - sama Mas. Baiklah, sekarang bersih - bersih dulu. Hari menjelang siang. Semua pasti sudah menunggu" ucap Rayina.
" Sebentar, pakaian kita masih di mobil" ucap Ayden terhenyak.
" Sudah di kamar wardrop sayang. Dan, sebenarnya tidak membawa gantipun juga sudah di sediakan semuanya sama bapak" terang Rayina.
" Memang pakaian untuk Mas ada? Jangan bilang ada punya mendiang suami kamu sayang" ucap Ayden menelisik.
" Semua kenangan Ayahnya Ganesh sudah tidak di sini Mas. Jawab Rayina menunduk. Semua sudah aku hibahkan. Pakaian - pakaiannya semua. Karena saat itu aku sempat sedikit terguncang jika mengingat milik mendiang suami" ucap Rayina sedih.
" Hei... hei... kenapa sedih?? Oh.. maaf jika membuatmu sedih sayang. Mas hanya bertanya. Maafkan Mas ya?" ucap Ayden menyesal.
" Tak mengapa Mas. Semua sudah berlalu. Semoga almarhum ditempat terbaik disisiNya. Aamiin" ucap Rayina.
" Ya sudah, ayo mandi. Bersama ya? Boleh?" ucap Ayden dengan menaikkan alis.
" Hilih... itu Mas aja yang modus. Yang ada malah lama di kamar mandi" ucap Rayina.
" Sebentar saja sayang . Please..." memelas Ayden.
" Haahhh.. baiklah, twins juga merindukan Ayahnya" Alasan Rayina.
" Hilih... kamu apa twins?" ledek Ayden.
Mereka kemudian tertawa terbahak - bahak. Dan segera masuk kekamar mandi. Rayina segera mengisi bak mandi dengan air hangat untuk berendam. Tak lupa dia memberikan sedikit minyak aromaterapi untuk merelaksasi badannya.
Dan berendamlah mereka berdua dalam dekapan dan ******* yang menggema seisi ruangan. Permainan dipimpin sang lelaki yang telah merindu. Rasa berbeda dengan perut yang sedikit membuncit membuat menggelayar dalam jiwa.
Terdengar suara denting ponsel menggema di sudut kamar. Ayden segera mengambil bathtrobe untuk meraih benda pipih itu. Wanitanya masih setia daln bejana. Ayden segera kembali masuk kedalan bathtub dan mendengar suara seseorang di benda pipihnya.
" Hmmm.. ya.. lakukan!!" sedikit tapi menajam ucapan Ayden.
" Kenapa Mas?" tanya Rayina mengernyit.
" Ada masalah?" tanya kembali.
" Sedikit. Tak perlu kamu pikirkan. Kita masih liburan. Aku tak mau ada yang mengganggu" jawab Qyden menenangkan.
__ADS_1
" Ada permainan yang sedikit menghentak. Siapa sebenarnya? Aku harus memperketat penjagaan. Bagaimana dengn keadaan di Malay? Nanti qkan aku tanyakan kepadanya saja !!" batin Ayden bergejolak .
Rayina mengetahui gelagat suaminya. Ada yang tidak beres pasti terjadi. Sebenarnya apa yang sedang ditutupi oleh suaminya itu? Pertanyaan semakin banyak di kepalanya. Dia butuh jawaban atas semua pikirannya.