
Ayden hanya diam dan mencerna ucapan Bosnya itu. Apakah waktu dua jam itu cukup untuk mereka memahami?
" Pasti bisa Mr. Jangan pesimis dulu. Cobalah dulu" ucap Antony kemudian.
" Baiklah bos, akan ku coba. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan kepada pak bos. Saya permisi" pamit Ayden.
" Ya, silahkan. Mr. Ayden..." ucap Antony menggantung.
" Hati - hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan. Dan, salam untuk Rayina" pesan Antony.
Ayden hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum. Kemudian dia kembali menganggukkan dan pamit keluar dari ruangan Antony.
Sesampai di ruangan, Ayden segera memberitahukan perihal cutinya. Dan dia segera menyiapkan timnya. Memberi wewenang mengambil alih tugasnya kepada Ryan, sahabat sekaligus wakil didalam timnya.
Kini Ayden menjelaskan semua pekerjaan dan jadwal keberangkatannya. Untuk di ambil tugas dan dijadwal ulang kembali agar semua berjalan dengan lancar. Kendala yang sering terjadi di maskapai penerbangan ini pun dia sampaikan dan ilmunya segera di salurkan agar menjadi berkah.
Waktu bekerja telah usai, Ayden segera kembali ke rumahnya. Ada banyak nyawa yang menantinya di rumah. Rasa penat dalam bekerjapun tak di rasa. Menggenggam surat ijin cuti yang di acc oleh bosnya, membuatnya menjadi semakin bersemangat. Dia tidak akan memberitahukan kepada Rayina.
Flash Back On
" Pasti bisa Mr. Jangan pesimis dulu. Cobalah dulu" ucap Antony kemudian.
" Baiklah bos, akan ku coba. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan kepada pak bos. Saya permisi" pamit Ayden.
" Ya, silahkan. Mr. Ayden..." ucap Antony menggantung.
" Hati - hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan. Dan, salam untuk Rayina" pesan Antony.
" Maaf Bos, saya meminta bantuan bos lagi boleh? Saya mohon rahasiakan acc cuti saya ini kepada Rayina. Karena saya akan memberitahukan ini sebagai surprise untuknya. Jika dia menanyakan atas perihal ijin cuti. Terimakasih bos"
" Ya, sama - sama Mr. Ayden" jawab Antony tulus.
Flash Back Off
Setibanya di mansion
" Assalamualaikum " salam Ayden menggema di mansion itu.
" Waalaikumsalam " jawab orang - orang yang mendengar salam tersebut.
Ayden segera menuju kamar utama. Dia tahu istrinya sudah menanti kepulangannya. Dia sempatkan dahulu ke dalam kamar dua jagoannya.
" Assalamualaikum boys" sapa Ayden kepada Ben dan Ganesha.
__ADS_1
" Waalaikumsalam Ayah" jawab mereka berdua serentak.
" Sudah makan? Sudah mandi? Sudah sholat?" tanya Ayden beruntun.
"Sudah semua Ayah" jawab Ben.
" Ganesh?" tanya Ayden.
" Yes... uda Yah.. tadi cama Abang " jawab Ganesh yang semakin pintar.
" Good!! Ya sudah lanjutkan belajarnya. Ayah yakin dua jagoan Ayah pintar, bahkan sangat pintar dan mandiri. Oh.. ya, jangan lupa jenguk Bunda di kamar ya?" pesan Ayden.
" Iya Yah" jawab Ben.
" Yah, benarkah kita akan ke rumah Eyang uti?" tanya Ben penasaran.
" Ayah... Ayah belum tahu nak. Lihat nanti ya, Ayah masih mengajukan cuti Ayah. Why?" tanya Ayden kembali.
" Tidak Yah, jika memang demikian itu akan sangat mengasyikkan buat kita. Benarkan Ganesh?" tanya Ben kepada Ganesha.
" Iya Bang, bica main di kebun Eyang Uti" jawab Ganesha polos.
" See... Itu bahkan belum pernah aku lakukan selama hidupku bukan?" ucap Ben kepada Ayden.
" Ternyata tidak hanya istriku yang rindu negaranya. Bahkan Ben yang bukan dari sana pun ikut rindu. Apakah karena Eyang uti dan Eyang kakungnya yang selalu memanjakannya?" gumam Ayden.
" Baiklah sayang, selamat belajar ya.. jika butuh apapun kalian tahu bukan bagaimana bertindak dan bersikap?" tanya Ayden.
" Ayah akan kembali ke kamar. Bunda kalian sudah menunggu" ucapnya lagi.
" Oke ayah" jawab kedua jagoan itu kompak.
Ayden hanya tertawa sembari mengusap pucuk kepala dua jagoannya itu. Dia kemudian melayangkan kecupan dipucuk kepala kedua bocah itu. Kemudian meninggalkan nereka berdua dalam kesibukan belajarnya.
Ayden segera menuju kamar dimana dia dan istrinya selalu bercengkrama. Memadu kasih dan berkeluh kesah. Bidadarinya pasti sudah menunggunya.
" Ah... pasti dia sudah menungguku sejak tadi. Betapa bahagianya pernikahan yang sebenarnya. Seperti inikan menjadi irang yang dibutuhkan? Lelah, tapi merasa bahagia. Thank's God" batinnya.
Dibukanya handle pintu dan segera mengucapkan salam ketika masuk. Si empunya kamar segera menjawab dengan cepat. Dilihatnya lelaki yang dirindukannya sepanjang hari.
" Mas... " sapa Rayina.
Rayinya celingukan kesana kemari memperhatikan genggaman tangan suaminya. Dia mencari keberadaan apa yang dibawa suaminya itu. Ayden merasa heran dengan tingkah istrinya.
__ADS_1
" Kenapa sayang?" tanya Ayden.
" Mana rujak yang aku pesan?" tanya Rayina.
" Astaghfirullahhaladzim, jadi kamu celingukan begitu cuma nyari rujak? Bukannya aku sudah meminta tolong sama mbak untuk membuatkan rujak untukmu sayang? Apakah kurang?"
" Lagian, suami pulang bukannya disambut dengan pelukan, ciuman atau mana cium tangan yang biasa kamu lakukan itu?" tanya Ayden berentetan.
Rayina gelagapan menjawabnya. Memang benar dia melupakan ciuman tangan untuk suaminya itu. Dan dia memang salah.
" Hehe... maaf mas" jawabnya kikuk.
Diraihnya tangan suaminya dan dicium punggung tangan itu dengan penuh hikmad.
" Begitu kan manis sayang" ucap Ayden seraya mencium kening istrinya.
" Mas, mandilah dulu. Nanti aku minta tolong sama mbak buat siapkan makan malamnya. Mas mau minum apa?" tanya Rayina.
" Baiklah, mas akan mandi dulu. Mas tadi juga sudah sholat. Mas mau jus jeruk. Sama potongin buah ya sayang. Bolehkah?" pinta Ayden.
" Okey mas. Ya sudah bersih - bersih dulu sana. Banyak kuman tauk!!" usir Rayina manja.
" Maaaasss tunggu !!" teriak Rayina.
" Ya, kenapa?" tanya Ayden.
" Bolehkah aku meminta kemeja Mas? Jangan masukkan ke tempat cucian dulu ya?" pinta Rayina.
" Tapi ini banyak kuman sayang. Kamu sedang hamil. Mas takut banyak bakteri atau virus yang menempel akan menular ke kamu sayang. Memangnya untuk apa?" tanya Ayden penasaran.
" Ah... sudahlah... sana mandi... Sini kemejanya!!" pinta Rayina merajuk.
" Ah... baiklah" jawab Ayden mengalah.
Dilepasnya kemeja yang sudah dia pakai seharian. Lebih tepatnya kemeja putih dengan berbagai atribut menempel di baju itu. Rayina dengan telaten melepas semua atribut itu dan menaruhnya di nakas meja samping ranjangnya.
Diciumnya baju itu. Aroma maskulin parfumnya sangat terasa. Membuat tenang dihatinya. Bahkan perut yang tadinya mulai bergejolak kini mereda. Kemudian dipakainya kemeja itu.
Sedikit kebesaran, tapi membuat ibu hamil itu menjadi nyaman. Kemudian Rayina meraih ponsel dan segera mendial telepon rumah yang berada di dapur. Segera dia meminta pesanan yang diinginkqn suaminya kepada Mbak yang biasa memasak.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Mbak segera membawakan sampai kamar atas. Mbak terlihat kaget saat melihat nyonyanya memakai kemeja sang tuan.
Tapi mereka tidak mengindahkannya. Memang banyak ibu hamil yang mempunyai kebiasaan aneh. Dan bahkan ngidamnya aneh. Termasuk nyonyanya saat ini.
__ADS_1