
" Setiap mas sudah usai dari bekerja jsarak jauh, aku selalu menyiapkan kembali. Dan jangan tanyakan kenapa? Karena aku mau jika saat aku sedang sibuk bekerja atau di kanto, semua sudah aku siapkan. Mas tinggal memeriksa dan menambahkan jika ada kekurangan" terang Rayina.
" Thank you sayang" ucap Ayden.
" Bagaimana dengan Xano sayang? Apakah kamu sudah ada rencana baru?" tanya Ayden kemudian.
" Sepertinya aku lebih tertarik dengan wanita yang akan menembak Devran saat di Malaysia mas. Dia Aleena bukan?" sergah Rayina.
" Ya, eummm.. maksud mas... apakah Xano bisa kamu kendalikan?" tanya Ayden.
" Sejauh ini istrimu hanya bisa jadi penguntitnya saja. Hihihi" jawab Rayina cekikian.
" Penguntit??" tanya Ayden penasaran.
" Ya, aku dan Liona sudah membobol semua akses dan fasilitas yang dia punya untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan" terang Rayina.
" Terus. Apakah hanya sebagai penguntit? Bagaimana kalau mas ikut masuk dalam permainan?" tawar Ayden.
" Belum saatnya mas... Ada waktu untuk mas masuk. Okay? Oh ya.. mas kembali kapan?" tanya Rayina.
" Kenapa emangnya?" tanya balik Ayden.
" Sebenarnya, aku sudah menyiapkan acara ini besok. Tapi jika mas kembali mungkin dua hari kedepan, maka aku akan mengundurnya dan menjadwal ulang" papar Rayina.
" Apa yang kamu rencanakan wahai istriku?" tanya Ayden dengan bercanda.
" Tunangan" jawab Rayina singkat.
" Whatt??" pekik Ayden.
" Kita sudah menikah sayang... kenapa harus tunangan?" ucap Ayden.
" Mas tidak menanyakan siapa? Malah bertanya kenapa? Tentu saja kita sudah menikah dan tidak butuh bertunangan. Sudah berlalu. So, jangan berpikiran aneh deh!" gerutu Rayina.
" Hm... Devran?" terka Ayden.
" Good !! " jawab Rayina.
" Baiklah sayang, aku percaya padamu. Semuanya kamu atur sedemikian rupa. Tapi jangan lupa untuk memberitahukan om Rony. Dan... ingat jaga kesehatanmu, jangan terlalu capek" pinta Ayden.
" Siap komandan!!" jawab Rayina bercanda.
__ADS_1
Seraya bercanda dan bercengkrama, sang istri masih terus merapikan keperluan yang akan dibawa suaminya. Sedangkan sang suami masih mengecek semua pekerjaan yang akan dia lakukan esok hari. Untuk urusan perusahaan memang sang suami itu tidak pernah memikirkan kembali.
Pernah suatu ketika Ayden mengecek semua saham perusahaan dan perkembangan yang terjadi setelah dipegang kendalinya oleh istrinya. Hasil trafic pun menunjukkan peningkatan yang sangat tajam terjadi. Kerja sama yang dibuatnya banyak sekali menghasilkan keuntungan.
Istrinya sangat pandai dalam pengolahan bisnis dan sosialisasi dengan sangat baik. Bahkan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan asing yang notabennya adalah perusahaan besar. Rayina dapat menaklukkannya.
Untuk itu dia tidak pernah lagi mengecek apapun tentang perusahaannya.Dia yakin jika istrinya melakukan yang terbaik. Dan dia juga mengetahui perkembangan apapun dari istrinya. Istrinya tidak segan untuk bertanya dan menanyakan sesuatu yang jika dia tidak paham akan hal itu.
Di lain sisi ada sosok wanita yang masoh dalam kecanggungan menerpanya. Pulang larut malam dan berakhir dengan drama romantis bak film indiahe aca - aca.
Hujan deras tiba - tiba mengguyur seluruh daerah. Sang cassanova yang saat itu akan membukakan pintu mobil tiba-tiba kehujanan. Akhirnya dibukalah jas yang dia pakai untuk memayungi gadis kecilnya itu. Alhasil gadia kecil itu merona merah.
" Terimakasih Dev" ucap Liona.
" Sama - sama, masuklah kekamarmu dan bersihkan badanmu" perintah Dev yang begitu perhatian.
" You too Devran" ucap Liona kembali.
Mereka kemudian masuk rumah dan menuju kamar masing - masing. Disepanjang jalan senyum merekah di kedua wajah nan merona itu. Sang gadis sudah sangat tersipu dengan perlakuan jejaka tua. Ups... cassanova yang sudah tidak hits lebih tepatnya.
" Ah... ciuman pertamaku " desis Liona dikamar.
Sedangkan di kamar sang cassanova, masih dengan senyumnya yang tersipu. Meraba bibirnya yang begitu sensual dan mengingat kejadian itu.
" Siapa yang membuatmu gila Dev?" tiba - tiba suara baroton muncul dari balik pintu, suara Ayden.
" Ah...!!!" pekik Devran.
" Ketuk pintu dulu bisa kan bang?" sungut Devran.
" Okey" jawab Ayden dengan menutup pintu.
Tok...
Tok...
Tok....
Ayden menutup pintu dan kembali mengetuk secara ulang, seperti arahan adiknya itu.
" Ouch" keluh Devran dengan menepuk jidatnya.
__ADS_1
" Kau kenapa? Pusing? Kenapa dengan jidatmu?" tanya Ayden menggoda.
" Ada apa bang? Apakah ada sesuatu yang sangat mendesak, hingga abang harus kekamarku? Biasanya saja selalu hanya melalui pesan atau telepon" dengus Devran.
"Issshh.. kalau bukan karena kakak iparmu aku tidak sudi kemari. Dasar, adik kurang ajar!" batin Ayden.
" Apa yang kau bicarakan dalam hati? Kesal denganku?" terka Devran tepat.
" Ishh.. kau..." desis Ayden.
" Dev, besok abang ada jadwal penerbangan. Pagi esok abang harus ke dubai. Abang titip kakak dan anak - anak. Awasi mereka, terutama dengan Xano. Abang khawatir dengan Xano kepada kakak iparmu. Sepertinya dia mempunyai maksud dan tujuan yang lain. Kamu paham?" pinta Ayden serius.
" Hmmm.. ada lagi bang?" tanya Devran santai.
" Kamu tidak mengomentari perintahku? Biasanya kamu sangat berisik jika aku perintahkan" ucap Ayden.
" Kali ini aku sependapat denganmu bang. Jadi tidak perlu aku mengomentarinya. Dan untuk penjagaan sepertinya kakak ipar sudah menaruh orang - orang kepercayaannya di sekelilingnya. Dan untuk rumah beserta isinya juga sudah dia proteksi sendiri. Aku hanya mengawasinya saja. Mudah bukan pekerjaanku?" terang Devran benar adanya.
" Memang benar, tapi setidaknya ada oranf yang aku percaya untuk menjaga kakakmu. Aku tau kamu sedang jatuh cinta, tapi abang mohon prioritaskan keselamatan kakak iparmu dulu" pinta Ayden.
" Ish.. abang.. dari mana kau tahu? Ah.. kakak ipar bocor nih!" gerutu Devran.
" Untuk penjagaan InsyaAllah bang, tanpa abang meminta semua sudah siap melindungi kakak. Tidak hanya aku tapi seluruh orang yang sayang dengannya. Abang juga jaga diri dengan baik. Jangan sampai lengah" pinta Devran.
" By the way... Liona ... ehemm" ucap Ayden menggoda.
" Ya... begitulah.." jawab Devran dengan tersenyum.
" Seriuslah.. jangan kau permainkan. Kau tau sendiri bukan?" ucap Ayden dengan pernyataan menekan.
" Sure bang. Insyaallah... aku akan menghadap om Rony untuk itu. Sepulang abang dari Dubai, aku akan melamar Liona" ucap Devran yakin.
" Yakinkan hatimu dulu bro... abang tahu, sang cassanova ini... " ucap Ayden menelisik.
" Bang... itu dulu. Aku merasa ingin mempunyai seorang istri seperti kakak ipar saat pertama kali bertemu dengannya. Tapi kakak ipar pernah berkata kepadaku" terang Devran.
" Berkata apa?" tanya Ayden.
" Jika kamu ingin mendapatkan jodoh yang baik dan seperti yang kamu inginkan. Mala perbaikilah dirimu dulu. Karena jodoh otu cerminan dirimu sendiri. Begitu kata kakak ipar" terang Devran.
" Jadi... selama ini kamu.." ucap Ayden menerka.
__ADS_1
" Ya.. bang... selama ini, selama yang aku lakukan dan selama menjalaninya.." papar Devran menggantung.