
Semua mata memandang ke arahnya. Masing - masing mata penuh dengan cecaran pertanyaan. Sungguh sangat bahagia jika itu memang terjadi.
Selama hidupnya Devran terkenal dingin dengan wanita. Bahkan dia selalu memilih jika berdekatan dengan wanita. Entah kenapa Rayina wanita yang berbeda.
Bersikap dingin bukanlah dirinya yang sebenarnya. Entah hormon apa yang ada ditubuhnya sehingga jika dekat denga wanita ada rasa gatal dan alergi jika wanita itu tidak baik. Semacam sirine pertanda.
" Are you seriously bro?" tanya Ayden tidak percaya.
" Hmm" jawab Devran malas.
" Tidak ada rasa gatal dengan wanita itu?" tanya Ayden masih penasaran.
" No, abang.. kenapa tidak percaya sih? Akupun dengan kakak ipar tidak merasa gatal dan alergi" jawab polos Devran.
" Ah.. tentu saja. Itu pertanda kakak iparmu memang orang yang baik bukan? wanita yang baik. hehe" kekeh Ayden.
" Ya ya ya... baiklah. Mau dengar kelanjutannya tidak?" ucap Devran.
" Kakak ipar, bisakah layarnya dihadapkan kemari? Kakak ipar bisa duduk di sebelah abang. Dan lihatlah sensor itu bekerja. Sebaiknya kita bisa menggunakan alat itu lebih baik lagi. Jika kita menambah fitur khusus yang dapat melihat bagian dalam pakainnya. Apakah dia membawa senjata tajam atau tidak. So, kita bisa bersiap" terang Devran.
" Okay. Tugas kamu Dev. Alat itu sudah aku pasang. Kamu bisa menyempurnakannya" jawab Rayina cepat.
" Dan untuk jam tangan ini? aku butuh kamu bisa melacak daerah sekitar dan keadaan sekitar. Kamera juga harus diganti dengan kamera resolusi tinggi tetapi tidak terlihat oleh musuh. Penyadap yang di gunakan juga kurang maksimal. Bagaimana?" papar Rayina dengan menyodorkan alat sadap berupa jam tangan anak - anak.
" Okey juga. Menurutku kakak ipar, ini design bisa diganti kan? This is like a child" terang Devran.
" Okay. Deal. Bagaimana bos?" tanya Rayina kepada suaminya.
" Okay deal. Aku memfasilitasi semuanya. Tapi kalian jangan lupa donatur keuangan siapa ???" ucap Ayden.
Irfan merasa tersindir dengan pernyataan Ayden.
" Baiklah, semua aliran dana dari Papa. Selanjutnya Ayden pemenuhan kebutuhannya" jelas Papa.
" Baiklah, setuju. Tapi Pa, sepertinya besok aku harus mengikuti penerbangan ke UEA, karena mereka membutuhkanku. Papa tolong bantu hendle semuanya ya?" pinta Ayden.
" Abang, dont worry. Lakukan pekerjaanmu. Pekerjaan ini bukan yang kau mau? Menurutku saatnya kamu berpikir mulai sekarang bang. Papa juga sudah tua. Aku sudah punya perusahaan dari orang tuaku. Dan bahkan aku sudah banyak cabang perusahaan. Pertimbangkan lah bang" pinta Devran.
" Jangan pernah memberatkan abangmu Dev. Biarkan dia memilih jalan hidupmya sendiri. Papa merasa akan bahagia jika anak - anak Papa semua bahagia. Papa hanya bisa mendukung dan mensuport kalian" kata Papa.
__ADS_1
Semua hanya bisa tersenyum menganggapi masalah itu. Rayina yang syarat akan keteduhannya kini hanya bisa diam mengamati seluruh wajah orang diruangannya.
" Mas, lakukan dengan ikhlas apapun yang mas jalani. Insyaallah barokah" Rayina tiba - tiba berbicara.
Hanya sedikit kalimat yang mampu Rayina ucapkan. Tetapi pernyataannya begitu masuk ke dalam relung hatinya. Dia begitu memperhatikan suaminya.
" Kakak ipar, you are the best" seloroh Devran dengan mengacungkan ibu jarinya.
" Ya, benar. Rayina memang melakukan hal yang paling benar. Lakukanlah sesuai kata hatimu. Jika kamu menjalani dengan ikhlas Insyaallah semua akan berjalan dengan baik dan penuh keberkahan" papar Mama.
" Iya Ma" jawab Ayden yang terasa berat.
" Why my son? Kenapa?" tanya Mama mendekat.
" Terasa berat Ma, setalah menikah dengannya pergi bekerja terasa berat. Rasanya tidak ingin berjauhan dengannya" tutur Ayden.
" Hei.. ada Mama ada Papa ada Dev juga Apa yang kamu pikirkan?" tanya Mama meyakinkan.
" Takut... takut.. " jawab Ayden menggantung.
" Takut apa?" tanya Irfan.
" Takut kangen Pa" jawab Ayden dengan malu.
" Papa tanya boleh son? Apa perbedaan pernikahanmu yang dulu dan sekarang?" tanya Papa serius.
" Dulu Papa tidak merestui tetapi sekerang merestui penuh pernikahanku" jelas Ayden.
" Hanya itu?" tegas Papa.
" Ya, karena dengan restumu semua akan berjalan dengan sangat lancar dan baik. Bahkan suasana seperti ini sudah sangat lama bukan yang Papa inginkan?" jelas Ayden.
" Stupid !! Bedanya kamu lebih sangat mencintai kakak ipar Rayina dari pada Aleesha dulu bang. Begitu saja tidak bisa menjawab!" cerocos Devran.
Irfan dan Ayden saling menoleh ke arah beo nakal yang mengoceh dengan sangat lantangnya itu.
" Dari mana kamu belajar hati Beo kecil?" tanya Irfan.
" Dari wanita kecilku. Upss..." ceplos Devran.
__ADS_1
" Besok kau bawa wanita kecilmu kemari. Papa tidak mau ada bantahan sekalipun" perintah Papa.
" Ah.. Papa pasti sudah tahu tentang wanita kecilku ini. Papa kan penguntit" jelas Devran.
" Ya, sama seperti yang Papa lakukan kepadaku dulu Dev " ledek Rayina denga tersenyum.
" Sayang, ohh.. Papa jadi malu. Jangan kamu ungkit kembali. Please" jawab Papa malu.
" Okay Papa" ucap Rayina dengan mengacungkan ibu jarinya.
" Itulah perbedaannya. Cintamu lebih besar kepada Rayina dari pada Aleesha dulu. Dulu kamu hanya simpati kepadanya. Rasa itu bukan cinta tapi rasa simpatimu yang begitu besar kepada Aleesha. Dan rasa ingin melindungi. Karena saat itu kamu masih terbayang dengan Aleena" terang Papa panjang lebar.
" Hmm sepertinya Papa akan belajar percintaan anaknya bro" kekeh Ayden.
Semua tertawa dengan jawaban dan kekehan Ayden. Mereka kemudian sibuk dengan candaan dan tawaan yang sudah lama tidak ada di dalam keluarga ini.
" Oh ya Pa, Aku titip istri dan anak - ankku. Tolong Pa, perketat penjagaan dan safety diri untuk keluarga ini. Dev, aku percaya denganmu. Jaga semuanya selama aku pergi bertugas" pinta Ayden.
" Don't worry bang.. " jawab Devran.
" Dev, bagaimana dengan jaringan yang akan kita pakai sebagai penyadap? itu diperlukan sekali dalam alat ini" papar Rayina.
" Soal itu serahkan kepadaku kak, aku akan meretas data dan sistem di negara ini tanpa menggangu aktifitas yang ada. Itu sudah menjadi pekerjaan sampinganku. Hehe. Oh ya.. sebenarnya kakak iparku ini dulu bekerja sebagai apa? Kenapa kakak iparku jauh lebih cerdas dari abangku?" tanya Devran.
" Dev.... " lirik tajam Ayden.
" Aku hanua bertanya bang, bukan menyelidik" sergah Devran.
" Kakak iparmu dulu seorang Teacher di Elementary shcool. Tetapi dia banyak keahliaan yang tidak terduga sebelumnya. Nanti kamu akan tahu jika sudah waktunya dia mengeluarkan itu semua. Tinggal tunggu waktunya saja" terang Ayden.
Devran semakin penasaran dengan apa yang di katakan Ayden. Karena sejauh pandangannya, Kakak iparnya hanya seorang wanita yang cantik, anggun, humble, ceria, baik hati, santai.
Apakah ada hal istimewa lainnya yang ada pada kakak iparnya ini? Tentu saja pertanyaan itu ada di benaknya. Seolah meronta ingin tahu banyak tentang kebenarannya itu.
Jangan lupa Vote, like dan komen ya...
Karena itu sangat author butuhkan..
Terimakasih ...
__ADS_1
Happy reading now ya...
💕💕💕💕💕💕💕💕💕