
" Assalamualaikum " salam Rayina dengan mengembang di wajahnya.
" Waalaikumsalam" jawab Mbak.
" Mbak, anak - anak dikamar?" tanya Rayina.
" Tidak bu, sama tuan besar berenang. Ini saya mau buatkan minuman untuk mereka" terang mbak.
" Ah.. baiklah... Mas Ayden ada?" tanya Rayina.
" Sepertinya di kamar bu. Tadi Mr. pulang lebih awal" ucap Mbak.
" Ah.. okey.. makasih mbak" jawab Rayina lembut.
Rayina segera melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya. Kamar dimana menyimpan banyak privasi dan berbagai macam cerita. Rayina mengetuk dan mengucapkan salam. Ya, walaupun itu kamar pribadinya tetap saja dia selalu bersikap sopan.
" Assalamualaikum " ucap salam Rayina.
Tidak ada jawaban dari penghuni kamarnya. Rayina segera membuka handel pintu dengan perlahan. Dia melihat suaminya meringkuk diatas ranjang kebesarannya. Rayina hanya tersenyum simpul, dan segera masuk ke kamar mandi.
Segera dia membersihkan diri. Kemudian berganti pakaian, tak lupa dia memakai parfum aroma vanilanya. Hidung nan mancung itu mulai mengendus - endus aroma parfum yang sangat dirindukannya.
Menantikan aroma yang sangat lembut, aroma khas dari istri kesayangannya. Menbuat tenang dan serasa ingin tidur di sampingnya.
Rayina segera naik ke ranjang dan menempelkan tangganya. Memeriksa apakah ada demam pada suaminya itu. Diusapnya lembut pipi yang sudah muali ditumbuhi rambut halus itu.
" Emmmhhh... sudah pulang?" tanya Ayden.
" Maaf, mas.. mengganggu ya? Ya sudah istirahatlah. Biar badan mas lebih segar lagi" ucap Rayina.
Tanpa menjawab pinggul yang kini masih ramping itu segera direngkuhnya dalam dekapan. Hidungnya mulai menyusuri ceruk leher Rayina. Menyibakkan rambut lurus istirinya.
cuppp...
Satu kecupan lembut mendarat di leher mulus Rayina. Seolah menikmati aroma tubuh istrinya dia berulang kali menempelkan hidungnya ke leher itu.
" Sayang... parfum apa yang kamu pakai?Ini enak sekali. Mas suka. Membuat perutku tenang" ucap Ayden dengan terus menyusuri leher yang beraroma itu.
" Masih sama mas parfum yang aku pakai. Mas sudah makan? Mau aku masakin sesuatu?" tawar Rayina.
" Aku mau makan kamu sayang..." ucap Ayden.
" Embbb.. itu nanti saja mas. Sekarang twins kelaparan ini" ucap Rayina.
" Kamu belum makan?" tanya Ayden terhenyak.
" Belum" jawab Rayina dengan menggelengkan kepala lemah.
__ADS_1
" Baiklah, ayo turun. Aku sudah mulai baikan. Aroma tubuhmu sudah membuatku lebih enakan" jawab Ayden frontal.
" Ayo mas, mas mau makan apa?" tanya Rayina.
" Sayang... kalian mau makan apa?" tanya Ayden dengan menempelkan telinganya diperut Rayina.
" Mau makan ayam pop sama sambal mentah aja yah" jawab Rayina dengan suara seperti anak kecil.
Ayden mengernyit dengan makanan yang disebutkan istrinya itu. Sebab, dia belum pernah sepertinya makan itu. Istrinya juga belum membuatkan untuknya.
" Iya, mas belum pernah. Ayo kita coba" ucap Rayina.
" Lama tidak masaknya?" tanya Ayden.
" Tidak. Nanti aku pakai presto biar cepat" ucap Rayina.
" Baiklah. Ayo.." ucap Ayden.
Mereka segera turun. Rayina segera menuju dapur dan mencari keperluan masak. Kemudian dia mencari bahan masakan yang ada di kulkas.
Setelah semua didapatnya, dia kemudian memasaknya. Ayden menunggunya di ruang keluarga dengan melihat televisi. Aroma dari ungkepan ayam sudah menyelimuti seluruh ruangan.
" Sayang... baunya enak... perutku sudah tidak sabar" ucap Ayden.
Rayina juga tak lupa membuat nasi uduk kesukaan suaminya. Kalau di negara suaminya adalah nasi lemang. Ayden sangat suka dengan nasi lemang dutemani ayam dan sambal.
" Kamu masih masak sayang. Bagaimana nanti kalau gosong?" ucap Ayden.
" Tidak mas, tenang saja. semua sudah menggunakan timer. Jadi akan matang dan mati dengan sendirinya. Sambal juga sudah aku chopper. Tinggal menumis dan memberi rasa. Kita sekalian nunggu mateng ayamnya" terang Rayina.
" Ayo. baiklah aku ikut" jawab Ayden.
Mereka kemudian menuju lift agar Rayina tidak terlalu capek untuk naik turun tangga ruangan. Ayden dengan setia menggandeng tangan istrinya.
" Mas, anak - anak sama papa berenang. Apakah sudah selesai atau belum ya? Sudah makan belum ya?" tanya Rayina.
" Kalau sama Papa dan ada mbak pasrinya mereka sudah melakukan iru semua. Tapi kamu masak banyak kan?" tanya Ayden.
" Ya, of course " jawab Rayina.
Tringg
Suara pintu lift terbuka, Rayina segera mendekat ke arah Aruni. Ternyata Mama ada di sini menemani Aruni.
" Ma..." sapa Rayina.
" Ya sayang" jawab Mama lembut.
__ADS_1
Rayina kemudian mendekat ke Mama mertuanya. Memeluk dan mencium pipi mertuanya adalah hal yang sudah sering dia lakukan. Mertuanya merasa sangat senang akan hal itu. Jarak antara mertua dan menantu sepertinya tidak ada.
" Hai Aruni.. bagaimana kabarmu? Sudah makan hari ini?" tanya Rayina.
Aruni hanya menjawab dengan senyuman dan mengangguk.
" Alhamdulillah... Apa yang kamu rasakan? Apakah ada yang masih sakit? Lukamu masih sakit?" tanya Rayina.
Aruni menjawab dengan menggelengan kepalanya.
" Boleh aku lihat lukanya?" tanya Rayina.
Aruni menjawab dengan anggukan. Rayina kemudian menyibakkan bajunya dan melihat luka itu.
" Aruni, lukamu sudah mulai mengering. Perlahan kami nanti akan merasakan sesuatu ditubuhmu. Jangan pernah melawan rasa itu. Tetapu nikmatilah rasa itu. Sakit itu pasti. Tapi itulah reaksi obat yang aku berikan. Kamu jangan lupa meminum vitamin yang sudah Kevin berikan" terang Rayina.
" Mama akan memberikan obat yang sudah aku kasih untukmu. Itu adalah obat rangsang syaraf" terang Rayina kembali.
Aruni hanya menjawab dengan anggukan dan kedipan mata. Rayina paham dengan jawaban Aruni.
" Apakah kamu mau keluar ruangan?" tanya Rayina.
Aruni hanya menjawab dengan gelengan.
" Sayang, mungkin dia masih takut dengan ancaman orang. Pasti akan ada yang mencarinya bukan?" tanya Ayden.
" Benarkah Aruni?" tanya Rayina.
Aruni hanya mengangguk dan meneteskan air mata.
" Jangan pernah takut. Ada kami disini. Dan rumah ini sudah di proteksi dengan lebih baik lagi. Ayo, keluar. Kita makan bersama. Aku masak ayam pop. Cobalah.. Ayo Ma, bawa dengan kursi roda itu" ucap Rayina.
" Mas, tolong ambilkan kursi rodanya" pinta Rayina.
Mereka kemudian memapah Aruni dan membawa keruang makan. Rayina segera bergegas melihat masakannya. Tepat sesuai perhitungannya. Semua akan matang denga waktu yang sempurna.
Rayina kemudian membuat sambal mentahnya. Dia kemudian membakar terasi dan menambahkannya pada sambal buatannnya. Dia membuat dua sambal, sambal dengan terasi dan tanpa terasi.
Rayina segera menghidangkan makanan di meja makan. Mama membatu dengan menata makanan di meja. Makan siang kali ini tidak seperti biasa. Lebih lambat, karena sibuk dengan masing - masing tugas.
Ayden segera menelpon ke ponsel Papa.
" Pa, masuklah.. Bunda nya anak - anak sudah masak. Pasti kalian lapar bukan? Mari makan bersama" ucap Ayden.
Tanpa hitungan menit. Riuh rendah suara bocah kecil terasa ramai. Membuat kemeriahan isi rumah.
" Basuhlah badan, ganti pakaian dan segera bergabung ke sini sayang" perintah Rayina.
__ADS_1
Papa yang datang belakangan sangat terkejut melihat Aruni sudah lebih baik. Papa segera membasuh badannya, dan akan segera bergabung.