
" Apakah mas yakin jika itu adalah anak Xano? Mas tahu sendiri bukan, jika Aleena juga dengan Thomas? Dan apakah ini salah satu dari dendam kalian atau hanya kebenciannya terhadapku?" terang Rayina.
" Aku tidak tahu sayang, itu anak siapa. Setahuku Aleena menjalin hubungan dengan Xano. Bahkan saat masih bersama Thomas. Dan anak dari Thomas masih bersama dengan Aleena" terang Ayden.
" Rumitt!!" gerutu Rayina.
" Itu hanya sujung kuku kerumitan yang kamu ketahui dari Aleena. Masih banyak lagi kerumitan hidupnya yang lain. Jika aku ceritakan akan menyita banyak waktu malam kita" ucap Ayden.
" Mas, apakah kita perlu menyelidiki lebih dalam lagi?" tanya Rayina.
" Sudahlah jangan kamu pikirkan. Aku sudah menghandle semuanya. Yang terpenting kesehatan kalian" ucap Ayden dengan mengelus perut Rayina.
Direngkuhnya bahu ringkih yang merasa kokoh itu. Didekapnya kedekapan terhangatnya. Di usapnya rambut nan indah dan halus itu. Dikecupnya pucuk kepala sang istri yang nyaman dalam dekapannya.
" Sayang..." ucap Ayden lirih.
" Iya mas..." jawab Rayina.
" Bagaimana dengan Devran? Apakah segala sesuatunya sudah kamu bereskan?" tanya Ayden.
" Mas??? Mas tahu aku menyiapkan acara itu?" tanya Rayina penasaran.
" Of course sayang... hehehe" kekeh Ayden.
" Hmm dari mana mas tahu semua itu? Rencanaku tidak lagi surprise dong mas?" tanya Rayina.
" Sayang, kamu lupa? Kamu sendiri yang memberitahu mas bukan? Setelah mas pulang dari perjalanan ke Dubai. Kamu akan menyiapkan acara itu kan?" ingat Ayden.
" Ohhh.. iya... lupaa... Hehe maaf mas. Faktor ibu hamil yang banyak sekali pikiran. Jadi lupa semua" kekeh Rayina.
" Mas, bagaimana jika menyewa WO saja? Akan lebih mudah bukan untuk mengaturnya. Dan aku bisa lebih lega untuk mengurusnya?" tawar Rayina.
" Baiklah tuan putri. Terserah tuan putri saja. Hamba menurut kepadamy tuan putri" ledek Ayden.
" Isshhh mass.." rengek Rayina.
Tiba- tiba suara ponsel berdering. Rayina segera meraih ponselnya di nakas dekat tempat tidurnya. Dilihatnya dengan penuh tanda tanya. Hanya bisa mengernyitkan dahinya seraya berpikir.
" Sayang... siapa? Kenapa tidak kamu angkat?" tanya Ayden mengagetkan pikirannya.
__ADS_1
" Ah.. aku tidak tahu nomor siapa ini mas. Tetapi sepertinya nomor Indonesia. Dan... siapa yang menelponku di tengah malam seperti ini? Kalau Ibu dan Bapak kan pasti sudah ada di ponselku nomornya mas. Dan itu langsung akan terlihat bukan?" terang Rayina.
" Sudahlah diangkat saja dulu. Siapa tahu penting sayang. Jangan lupa kamu loud speaker" perintah sang suami.
Rayina segera menggeser tombol hijau pada ponselnya. Ketika akan berbicara ternyata sudah dimatikan oleh penelpon.
Rayina kemudian meneliti nomor tersebut. Belum juga ingat nomor siapa itu. Tiba - tiba ponselnya berdering kembali. Segera dia memgangkat telepon itu dan segera meloud speaker.
" Assalamualaikum. Hallo... siapa ini ?" Rayina.
" Waalaikumsalam, Ya Hallo.. Rayi..."
Degg !!!
Entah perasaan apa yang ada dihati dan pikiran Rayina saat ini. Dia langsung teringat sesuatu.
" Nomor Indonesia? Rayi??" batin Rayina.
Kemudian...
..." *Hallo... hallo... Rayi, masihkah kamu disana?" tanya seseorang di seberang...
telepon*.
Lelaki yang sudah menjadi suamiablenya itu hanya mengibas- ngibaskan tangannya. agar Rayina meneruskan percakapannya. Karena posisi di loudspeaker jadi dia bisa mendengar sendiri apa yang dibicarakannya.
" Iyy.. ya.. Maaf ini siapa ya?" tanya Rayina.
" Ah.. alhamdulillah kamu masih bersedia mendengarkanku. Maaf sebelumnya Rayi, aku meminta nomormu dari Ibumu. Maaf jika aku sudah lancang. Begini Rayi, langsung saja. Aku tahu kamu menikah dengan sepupunya Liona bukan?" tanya seseorang itu.
" Maaf, saya bicara dengan siapa ini?" tanya Rayina memastikan kembali.
" Aku Rizky, Rayi. Apakah kamu lupa dengan suaraku?" jawab rizky.
" Oh.. Okey. Apa yang kamu mau?" tanya Rayina ketus.
" Rayi, aku mau kamu membantuku untuk mendekatkanku dengan Liona?" pinta Rizky langsung.
" Untuk hal itu maaf saya tidak bisa membantu. Dan lagi itu urusan pribadi anda. Saya tidak mau ikut campur masalah itu. Dan satu hal lagi,jika anda akan berbicara dengan saya jangan melalui nomor saya. Langsung telepon ke nomor suami saya. Karena saya mau suami saya memberikan ijin secara langsung. Saya tidak mau suami saya merasa dihianati atau apapun itu. Terimakasih. Assalamualaikum" tutup Rayina.
__ADS_1
Dibantingnya ponsel mahal itu ke atas kasurnya. Dia sangat kesal dengan kelakuan Rizky. Tiba - tiba menelponnya dan hanya meminta bantuan kepadanya. Tidak ada basa - basinya sedikitpun. Merasa tidak ada kesopanan aka hal ini Rayina segera menggerutu.
" Tidak sopan !!" kesal Rayina.
" Hmmm Makasih sayang... Kamu sudah tegas akan hal ini. Aku sangat menghargai semua itu. Dan satu hal lagi cintaku makin bertambah kepadamu" rayu Ayden.
" Ishhh gombal!! Tapi ada yang cemburu sih tadi kayanya" ejek Rayina.
" Kamu nachkal sayang... menggodaku" ucap Ayden.
Segera menggelitik telapak kaki istrinya yang lembut itu. Rayina tidak tahan dan dia hanya tertawa menahan gelitikan tangan jahil suaminya. Untung saja kamarnya kedap suara, mau teriak sekeras apapun tidakakan terdengar kemana- mana.
" Aaaaaa.... masss.... geliii" teriak Rayina.
Tak terasa gelitikannya membuat Rayina merasa kesakitan.
" Aaaargghhh... Aduhhh" teriak Rayina dengan memegang perutnya.
Semakin lama semakin sakit. Keringat dingin mengucur di dahinya. Hanya bisa memejamkan mata dan beristighfar. Berkali- kali Rayina hanya memejamkan mata dan terus berdoa.
" Ya Allah... Astaghfirullahhaladzim... " ucapnya terus menerus.
Ayden yang melihat istrinya merasa kesakitan dengan spontan dia merasa bersalah. Di sentuhnya perut istrinya.
" Are you okay sayang?" tanya Ayden dengan lembut.
Tetapi pertanyaannya tidak dijawab sama sekali oleh istrinya. Sang istri hanya terus bisa bermunajat kepada sang Khaliq. Seketika Ayden segera menggendong istrinya. Dengan sigap bak suami siaga dia terus membawanya dalam gendongan.
Ayden kemudian menuju basement bawah. Tanpa di sadari Farhan sudah muncul dari belakang sedang mengikuti tuannya. Tanpa pikit panjang Farhan tahu apa yang telah terjadi. Melihat wajah kesakitan nyonyanya.
Farhan segera membuka tutup mobil sport milik tuannya itu. Mobil dengan kecepatan maksimal dan bisa mengendarai sendiri tanpa perlu sang sopir mengendarainya.
Mobil itu memang dirancang ketika sang sopir mengalami rasa kantuk yang sangat parah, maka mobil bisa di stel otomatis berjalan dengan sendirinya. Bak robot yang terus bergerak.
Sensor sensitifitasnyapun juga sangat tinggi. Bahkan bisa menghindari berbagai macam bahaya yang akan menghampirinya.
" Farhan, jangan bilang kesiapapun dirumah ini. Dan kamu perketat penjagaan. Mengerti??" perintah Ayden.
" Siap tuan. Laksanakan. Hati - hati " ucap Farhan.
__ADS_1
Ayden hanya menjawab dengan anggukannya. Dia langsung menancapkan gas kecepatan penuh agar sampai ke rumah sakit. Dilihatnya sang istri masih dalam kesakitannya.
Ayden merasa sangat bersalah. Bahkan dia tak sadar menitikkan air matanya. Sedangkan Rayina terus memejamkan mata dan berdoa sembari mengatur nafasnya.