
" Masss!! Apa yang Mas sembunyikan dariku?" tanya Rayina menyelidik.
" Tidakkk... Tidak ada sayang? Hey... what happend with you sayang?" jawab Ayden mengalihkan pembicaraan.
" Mas, jangan mengalihkan pembicaraan ya!!" ucap Rayina tegas.
" Hmm... memang apa yang harus aku sembunyikan sayang?" jawab Ayden lembut.
" Ini??? Apa ini??" tanya Rayina menggebu - gebu.
" Mas mentransfer sejumlah uang. Ini tidak kecil mas... apa yang mas beli?" tanya Rayina.
" Tiket " jawab Ayden singkat.
" Tiket??? kemana??" tanya Rayina kemudian.
" Bali, Indonesia" jawabnya santai.
" Bukan ke Jakarta?" tanya Rayina lemah.
" Bukan!!" jawab Ayden tegas.
" Kenapa? Kamu berharap kita akan ke Jakarta kemudian ke kampung halamanmu? Apa yang kamu katakan dulu?? Emmm Mudik???" tanya Ayden serentetan.
" Mas tidak bisa cuti ya? Ya sudah lah..." jawab Rayina lirih.
Seketika kelopak mata indah itu menjadi mendung pekat bak awan menunpahkan hujan deras. Ya, Rayina menangis. Isakan tangisnya membuat hati Ayden teriris. Seperti seorang yang sudah sangat tersakiti.
" Maafkan aku sayang, tujuanku hanya memberikan sedikit kejutan untukmu. Maaf ya, jangan bersedih" batin Ayden.
" Sorry sayang. Tapi, memang belum bisa. Karena pekerjaanku belum ada yang bisa menggantikan. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan ke Antony. Dan memang belum bisa mengajukan cuti tersebut" terang Ayden panjang lebar.
Ayden kemudian mendekat ke istri kesayangannya itu. Direngkuh dan dipeluknya tubuh mungil pelukable itu. Dengan mengecup pucuk kepala istrinya agar sedikit nyaman.
" Mas usahakan ya... agar cepat mendapat cuti. Okay? Jangan bersedih lagi. Kasihan twins, mereka ikut merasakan kesedihan bundanya" ucap Ayden kemudian.
" Bagaimana kalau kita lihat tamanmu sayang? Sudah lama kita tidak minum teh disana. Emmm??" tawar Ayden.
" Bolehkah mas?" tanya Rayina berbinar.
" Sebentar " jawab Ayden.
__ADS_1
Ayden mendekat ke arah dokter Vero. Dia menanyakan bagaimana kondisi istrinya saat ini. Apakah memungkinkan jika berada di luar rumah. Sedangkan masih terpasang selang infus sebagai penopangnya.
" Dokter, bolehkah kami keluar sebentar?" tanya Ayden kepada Vero.
" Kemana Tuan?" tanya Vero sopan.
Ya, walaupun usia Vero jauh diatas Ayden, dia menghormati Ayden. Karena Vero bekerja kepada Ayden. Karena profesional dalam bekerja saja.
" Come on dokter. Jangan panggil saya tuan. Sebut namanya saja. Dan, istriku mengatakan dokter akan menjadi mama Liona. So, kami sepakat memanggil dokter Mami. Okay?" pinta Ayden panjang lebar.
" Hmmm terserah kalian saja. Tapi... aku belum akan menjadi istri Rony dan belum akan menjadi Mami Liona. Dan aku sudah menganggap istrimu sebagai anakku sendiri. Jadi anggaplah demikian sama seperti istrimu menganggapku!" jawab Vero tegas.
" Baiklah... baiklah. Bagaimana? bolehkah? Jika Mami meragukan tempatnya, kita bisa kesana bersama. Dan duduk untuk bersantai menikmati taman istriku" jawab Ayden.
" Menarik juga. Baiklah, aku ijinkan. Tapi tidak lama. Okay?" jawab Vero mengijinkan.
" Siap Mi" jawabnya.
Mereka segera membereskan apa yang perlu dibereskan, agar cepat menuju tempat yang dituju. Ketika akan keluar kamar Papa dan Mama mengetuk pintu akan masuk.
" Hey.. sudah bersiap?? Mau kemana? Apakah ada yang serius?" tanya Irfan penasaran.
" No, Papa. Kita akan ketaman. Rayina suntuk. Dan aku mengajaknya ketaman. Dia juga sudah lama bukan tidak ke tamannya?" jawab Ayden.
" Mbak, siapkan teh hangat dan beberapa camilan. Dan spesial untuk Ibu hamil jangan lupa bubur yang sudah dibuat istriku" perintah Irfan dalam panggilannya.
" Ayo" ajak Irfan.
Mereka segera bergegas dan berbondong - bondong untuk menuju taman. Rayina juga sudah lama tidak merawat bahkan melirik taman yang dia punya.
Karena kesibukannya mengurus anak, suami dan pekerjaan. Saat suntuk dan bosan memang pelarian Rayina menuju taman itu. Berkeluh kesah dan bercerita bak orang gila, memang benar dia lakukan.
Tapi mungkin hanya itu yang dapat membuat beban di hatinya lega. Setelah mereka sampai. Rayina dibawa ke beranda gasebo yang berada di dekat taman. Gasebo yang awalnya tidak terlalu besar kini dibuat lebih simpel dan sederhana.
Ada beberapa gasebo yang mengelilingi kolam renang. Dan Ayden memilih gasebo yang paling dekat dengan taman. Dan dilengkapi dengan ayunan dan sofa nyaman di sampingnya.
" Mas... kapan ini semua dirubah? Kenapa aku tidak mengetahuinya?" tanya Rayina.
" Maaf sayang, Mama yang merenovasi seluruh area ini. Maaf jika Mama lancang merubah tatanan rumah kalian" jawab Mama sendu.
" Oh.. Mama... ini sangat cantik. Aku sangat menyukainya. Aku sangat bahagia Mama. Thank you so much Ma" jawab Rayina berbinar - binar.
__ADS_1
" Tentu sayang. Terimakasih atas pujiannya" jawab Mama bahagia.
Dan mereka telah duduk di sofa empuk. Sedangkan Rayina ingin berada di ayunan rotan cukup hanya dua orang saja yang bisa mendudukinya.
" Ma, ohhh... Ya Allah... Tamanku m3njadi sangat cantik. Terimakasih Ma... aku sangat takjub" ucap Rayina heboh.
Taman yang awalnya hanya berisi beberapa koleksi bunga mawarnya. Kini sudah sangat berveriasi isinya. Dan ditata dengan sangat epik. Dan membuat semua mata terlena akan pemandangan indah ini.
" Mas.. " panggil Rayina.
" Aku sangat bahagia, setidaknya ini adalah obat sedikit kecewaku" ucap Rayina.
" Sudahlah sayang..." ucap Ayden menenangkan.
" Boy, kalian membeli tiket?" tanya Irfan.
" Ya, untuk sepasang kekasih. Sebagai hadiah Pa" jawab Ayden.
" Hmm... ke Bali?" tanya Irfan kembali.
" Yes Papa. Why? Ada yang salah?" tanya Ayden.
" No, But.. Mama ingin ke Indonesia. Dia ingin ke Bali juga. Kita pernah ke sana juga" terang Irfan.
" Lalu??" tanya Ayden menelisik.
" Jangan bilang, kalian meminta tiket itu kepadaku?" tanya Ayden dengan menyipitkan matanya.
" Pa, Papa kan uangnya banyak. Tinggal petik jari sudah bisa Papa dapatkan tiket itu. Kenapa harus meminta padaku?" ucap Ayden sebal.
" Huhh.. aku kemari untuk mengalihkan kesedihan istriku tentang Indonesia. Malah mereka membahasnya. Sebenarnya apa tujuan Papa?" batin Ayden.
Rayina yang menyimak perdebatan kecik itu merasa sedih. Diapun ingin protes rapi tidak bisa. Seketika raut wajahnya sedih. Ayden yang melihat perubahan wajah istrinya menjadi serba salah.
" Papa, lihatlah menantu kesayanganmu sedih mendengar negaranya!!" ucap Ayden jengkel.
" Oh.. sayang, kamu ingin ke Indonesia?" tanya Mama.
Rayina hanya mengangguk. Dan terlihat sekali wajah muram itu.
" Jika suamimu tidak dapat memberikan itu padamu. Setidaknya Papa akan mengusahakannya untukmu. Kita akan ke Indonesia. Okay? Jangan bersedih. Nanti Papa akan pesan tiket untuk kita semua Jika suamimu tidak bisa ikut. Biarkan saja. Kita akan berlibur di sana. Okay?" terang Irfan.
__ADS_1
Vero yang menyaksikan itu hanya tersenyum. Bagaimana tidak, seorang mertua memperlakukan menantunya bak anak kandung sendiri. Kasih sayang yang diberikannya pun tulus.
Terlihat bagaimana cara Irfan dan istrinya memanjakannya dan bahkan mengusahakan apa yang diinginkan menantunya.