
Ayden dan Irfan kini sudah berada di kamar. Kamar yang tadinya menjadi privasi mereka berdua, kini layaknya kamar VVIP di rumah sakit.
" Mas... sudah?" tanya Rayina.
" Ya, begitulah.. Mana pesananku sayang?" tanya Ayden.
" Mas.. bagai...." ucap Rayina.
" Nanti aku ceritakan dan aku jelaskan. Sekarang mari kita nikmati bakso ini sebelum dingin. Okay?" jawab Ayden cepat.
"Hm.. baiklah.. baiklah.." jawab Rayina.
Mereka segera menikmati bakso yang sudah disediakan. Dengan berbagai lauk pauknya. Ayden yang merasa kurang segera mendial nomor telepon mbak yang berada di dapur untuk segera mengantarkannya ke kamar.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu kamar terdengar diketuk seseorang dari luar. Nampaklah satu mangkuk besar bakso pesanan Ayden. Semua orang menatap heran Tetapi tidak dengan Rayina.
Ya, karena memang bakso adalah makanan favorit suaminya. So, pasti dia akan kurang jika makan hanya satu mangok saja.
Mbak yang sudah tahu kebiasaan majikannya tidak serta merta memasak hanya beberapa porsi saja. Karena sebelumnya sudah di beritahukan oleh nyonyanya. Makanan favorit jangan hanya masak sedikit. Tetapi memasak lebih banyak.
" Hmmm masih panas. Ini sangat lezat!!" ucap Ayden.
" Mas... pelan... tidak ada yang meminta bakso mas. Dan, kenapa makan banyak? tumben?" ucap Rayina.
" Apa tidak boleh jika aku makan banyak, sayang? Bukankah sudah lama pula tidak makan bakso?" ucap Ayden.
" Ya.. baiklah. Maafkan istrimu ini yang tidak paham. Kalau suaminya sedang dalam mode lapar. Hihihi" ucap Rayina terkikik.
Semua yang berada di ruangan itu juga ikut tertawa mendengarkan sepasang suami istri yang sedang bercengkrama.
" Oh.. bagaimana dengan Rony, Vero? Apakah kamu bersedia menikah dengannya?" tanya Irfan ditengah - tengah percakapan.
" Upsss!!" celetuk Rayina.
" Apaan si Bang, tidak mungkin lah. Rony sudah seperti Abangku sendiri. Dan sepertinya kami pun sudah tua untuk membicarakan atau bahkan menjalani seperti yang abang katakan" terang Vero.
" Mi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dan jika Allah berkehendak, maka semua akan berjalan dengan sendirinya. Ikuti kata hati Mami saja lah Mi. Jangan dibesarkan gengsi diri. Nanti gengsi itu yang akan menyingkirkan diri sendiri" terang Rayina berceloteh ria.
Ayden yang mendengar ocehan istrinya merasa gemas. Di usapnya pucuk kepalanya dengan lembut. Dan membuat sedikit berantakan rambut istrinya.
" Ah. ... mass.." ucap Rayina jengkel.
__ADS_1
Rayina jengkel dan memonyongkan bibirnya. Ayden merasa gemas melihat wajah istrinya. Tanpa ada kata apapun, Ayden segera mengecup mesra bibir istrinya itu.
" Ahhh... kita disini jadi obat nyamuk !!" ucap Irfan.
" Ya sudah, kalian keluar saja. Aku ingin bermesraan bersama istriku" ucap Ayden cuek.
" Dan aku tidak mau Mas!!" ucap Rayina tegas.
" Hahaha.... dengar tu istri kamu tidak sudi!!" ejek Irfan.
" Vero, jika Rony memintamu untuk mendampinginya di sisa hidupnya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Mama.
" Entahlah kakak ipar. Akupun tidak tahu" jawab Vero datar.
" Ma, bahkan Liona sudah menyetujui akan hal ini" celetuk Rayina.
" Kalian, kenapa seneng banget ngeledek ?? Ah.. keluarga ini benar- benar" jawab Vero sedikit gemas.
" Mi, sebenarnya memang Om Rony sudah menyampaikan hal ini denganku. Sudah sangat lama bahkan" ucap Ayden kemudian.
Semua mata melirik ke arah Ayden. Ternyata Ayden menyembunyikan sesuatu yang belum mereka ketahui.
" Kenapa?? Ada yang salah?" tanya Ayden heran.
" Emmbb" jawab Ayden mencebik.
" Apa yang Rony ceritakan kepadamu Boy?" tanya Irfan penasaran.
" Sayang, Papa ... embb... apa sebutan di negaramu? Ke..po?? Kepo.. Ya... itu!" jawab Ayden cuek.
" Kepo??" ucap Irfan memgernyit.
" Kepo artinya ingin tahu urusan orang lain Pa" jawab Rayina menerangkan.
" Iiiidiiiiggghhhh" seloroh Irfan.
" Ya, begitulah Pa. Tak perlu lah Papa marah begitu" jawab Ayden menggoda.
Seakan tahu semua yang akan dia ucapkan sudah ditunggu, karena seluruh pasang mata orang sudah memandanginya seperti akan menelan dengan habisnya.
" Baiklah... Baiklah"...
" Om Rony pernah mengatakan ingin menikah. Dan dia ingin ada yang menemaninya di masa tuanya. Karena tidak mungkin memaksa Liona untuk tetap tinggal bersamanya setelah menikah"
__ADS_1
" Dan apalagi jika suaminya Liona mempunya pekerjaan dan bisa menjamin hidup Liona. Pastilah itu sangat kecil terjadi. Bukan begitu Pa? Apalagi anak wanita, itu sudah menjadi tanggung jawab suaminya jika sudah menikah" terang Ayden.
" Lalu???" tanya Rayina penasaran dengan kelanjutannya.
" Om Rony pernah mengatakan akan menikah dengan seorang wanita yang sudah sangat lama berada di hidupnya. Dan entah mengapa wanita itu tidak mau menerimanya. Padahal sampai detik ini juga belum menikah" terang Ayden.
" Aku juga mengatakan, mungkin karena trauma mendalam masa lalu yang sudah dilewatinya. Tapi Om Rony mengatakan bahwa hal itu adalah alasan klasik sebagai penolakannya" ucap Ayden.
" Ya dengan kata lain menolak secara halus, bukan begitu Mi?" celetuk Ayden kepada Vero.
Vero yang mendapatkan pertanyaan menohok tiba - tiba terbatuk - batuk. Rayina yang menyadari itu langsung reflek memberikan minum dan segera mengusap punggung Vero.
" Pelan - pelan Mi" ucap Rayina lembut.
" Thank you baby" jawab Vero.
" Sampai tersedak Pa, berati benar bukan tebakanku siapa wanita itu?" tanya Ayden kepapa Irfan.
" Ya, sudah terlihat dari sorot mata Rony. Kalau Papa sebenarnya setuju dengan pendapat dan keinginan Rony. Tapi bagaimana dengan si wanita itu. Dia kan yang akan memutuskan. Kenyamanan adalah nomor satu Boy" jawab Irfan membenarkan.
" Hmm benar Pa. Aku rasa banyak pertimbangan juga wanita ini. Sebenarnya di balik cuek dan dinginnya Om Rony, menyimpan cint yang besar di baliknya" ucap Rayina.
" Terlihat di matanya ketika bertemu si wanita. Ya, walaupun selalu sedikit berisik karena cek cok" terang Rayina kembali.
" Abang, kakak ipar, baby and Ayden... Sudahlah... jangan menggodaku terus" jawab Vero dengan pioi yang sudah memerah seperti memakai blush.
Mereka semua tertawa dan bercanda di meja makan. Tak terasa semua makanan sudah tandas tak bersisa. Rayina sudah merasa sangat pegal pinggang belakangnya.
Dia kemudian kembali ke ranjang kebesarannya dan segera merebahkan badannya. Ayden memapahnya dengan penuh kasih sayang. Rayina juga menyimak semua obrolan itu kembali.
" Sakit sayang?" tanya Ayden lembut.
" Tidak mas, hanya sedikit pegal di punggung dan pinggang" jawab Rayina lembut.
" Mas, bagaimana kelanjutan tadi?" tanya Rayina mengingatkan.
" Ya, tadi kami sudah mengorek beberapa informasi. Intina penguntit itu orang suruhan Xano yang seperti biasa, tubuhnya di tanam penyadap. Dan dia menyusup untuk mengetahui apakah wanita itu ada!" terang Ayden.
" Wanita?" tanya Rayina mengernyit.
" Aleena?" tanya Rayina kembali.
Ayden hanya menjawab dengan anggukan. Ayden seperti memikirkan sesuatu. Sedangkan Rayina juga tenggelam bersama lamunannya.
__ADS_1
" Mas, sepertinya aku tahu maksud dari Xano mengirim penguntit itu" ucap Rayina kemudian.