
" Embbb mungkin saja Pak" jawab satpam.
" Ohh begitu ya Pak. Baiklah. Terima kasih " ucap penguntit itu.
Di dalam rumah, dua orang juragan masih dalam mode mengawasi " penguntit". Ya, penguntit di awasi dengan begitu ketatnya. Sampai tidak ada celah sedikitpun.
" Embb.. Pak maaf, anda kenal dengan orang ini?" tanya penguntit.
" Eeee... Bapaknya balik lagi. Masih ada yang perlu lagi rupanya. Coba saya lihat Pak" pinta satpam.
Satpam meminta foto dari tangan penguntit dan kemudian berpura - pura mengamati dan seperti nampak berpikir.
" Emmbbb... sepertinya saya belum pernah melihat dan mengenalnya Pak. Dan selama saya bekerja di sini belum pernah melihat wanita ini" ucap satpam.
" Ohh begitu. Tapi informasi yang saya dapat dia tinggal di komplek mansion sini. Dan mungkin aku rasa informanku salah. Atau mungkin sudah pindah" terang penguntit.
" Ohh.. kemungkinan begitu Pak. Ada lagi yang ditanyakan Pak? kalau tidak saya harus kembali bersiap menjalankan tugas" ucap satpam.
" Oh... tidak terimakasih" jawab penguntit.
Ketika penguntit akan pergi beranjak dari rumah itu dia melihat seonggok barang yang dirasa cukup kenal.
" Ini... ??" gumamnya dengan berpikir.
Dia kemudian segera masuk ke dalam mobilnya seraya menyahut benda kecil hitam tersebut.
Diotak - atiknya ponsel canggih itu. Dilacaknya kode yang tertera pada alat kecil itu. Ya, betul alat penyadap yang sengaja di berikan untuk setiap anak buah, karyawan, dan orang - orang suruhannya.
Alat itu digunakan untuk menyadap saat bekerja. Tentu saja 'bekerja' dalam perintah tuannya itu. Dia membelalakkan mata.
" Ahhh sialll !!! " umpatnya.
" Kenapa dia bodoh dan ceroboh !! Wanita bodoh !! kenapa aku memelihara dia. Bahkan bekerja dengan mudah saja tidak mampu !!" umpatnya terus menerus.
" Tunggu. Dia sengaja membuang alat ini atau..." nampak dia berpikir keras.
" Sepertinya dia dalam bahaya. Coba aku lacak keberadaannya " ucapnya lagi.
__ADS_1
Dilacaknya seluruh alat sebagai akses untuk dapat mengidentifikasi keberadaan Aleena. Terus dicarinya, tetapi nihil yang dia dapatkan.
"Tidak ada jejak sedikitpun !!! Ah... aku lupa, aku tidak memasang radar tanam kepadanya !! Kenapa dia melakukannya tanpa perintah dan aba - aba dariku??" garamnya lagi dan lagi.
" Aaaaarrggghhhh !!! Pengacau !! Lihay saja jika aku temukan kamu akan aku habisi kamu !!" racaunya semakin menjadi.
Supir dan asisten yang sedari tadi setia mendampingipun hanya diam seribu bahasa tanpa berani menjawab. Mereka akan mengeluarkan suara jika memang dibutuhkan. Jika tidak mereka bak robot berjalan.
Ya, lelaki arogan itu memang Xano. Dia sangat terobsesi mendapatkan Rayina. Sebenarnya apa yang dia inginkan?
" Ahhh Rayina... gara - gara kamu semua jadi kacau. Kami selalu muncul di dalam ingatanku. Tidak bisakah kau tidak hadir ??" gumam lirih Xano.
" Tuan, apakah tuan kini benar - benar jatuh cinta dengan wanita itu? Wanita lembut nan ayu tetapi tegas dan snagat mandiri? Tuan, jika memang benar aku sangat bersyukur atas itu. Semoga apa yang tuan harapkan terkabul. Memiliki istri seperti Mama tuan" batin sekretaris.
" Pulang !! aku ingin istirahat. Besok bersiap kembali!" perintah Xano seperti biasa.
Di sebuah mansion yang megah, dua orang manusia masih dalam mode waspada. Dia mengamati apa yang tadi diambil oleh Xano.
Rayina segera mengamankan mode kedap pada ruangan yang ditempati oleh Aleena. Dan untuk itu dia tidak dapat menjangkau dengan akses apapun.
" Sayang, jika Aruni saja memakai penyadap tanam. Apakah Aleena juga memakainya?" selidik Ayden.
" Coba cek ruangan Aleena, sayang" pinta Ayden.
" Dia masih dalam kondisi yang baik. Dan dia masih mencari cara untuk keluar dari ruangan itu. Lihatlah yang dia lakukan !!" ucap Rayina keheranan.
" Heehhh... sudah malam begini dia tidak tidur. Sampai kapanpun tidak akan bisa keluar, ruangan sudah aku rancang sedemikian rupa. Berapa lapis kamu bisa menembus ruangan itu !!" remeh Ayden dengan tersenyum kecut.
" Ya sudah lah mas, biarkan saja. Ganbatee !!" ledek Rayina.
" Mas, tapi kalau alat penyadap tadi di temukan Xano, berarti dengan mudah juga bukan Xano akan menemukan Aleena?" ucap Rayina.
" Pastinya dia akn kembali lagi kesini. Dan pasti dia akan mencari tahu sendiri!" jelas Ayden.
" Daannnn sekarang giliranku bekerja" ucap Ayden dengan menggendong istrinya.
Digendongnya tubuh kecil nan ringkih itu. Dibawanya ke dalam kamar mereka. Di rebahkannya dengan sangat hati - hati.
__ADS_1
" Sayang... bolehkah??" ucap Ayden.
Ucapan yang mengandung banyak pemahaman bukan? Rayina hanya menyipitkan matanya seraya berpikir.
" Bolehkah??" ucap Rayina ingin mendengar kelanjutannya.
" Bolehkah Ayah menjengukmu twins?" ucapnya di depan perut Rayina.
" Hahaha.... tidurlah mas, sekarang hampir subuh. Apakah tidak capek kamu mas?" ucap Rayina membenarkan.
" Hmmm setelah olah raga malam pasti capek bukan? Jadi setelah itu bisa istirahat lama. Dan aku mau itu" ucap Ayden dengan menunjuk sumber penghidupannya saat ini.
Rayina hanya tersenyum tidak menjawab. Dia kemudian bangkit dan masuk ke kamar mandi.
" Cuci muka, gosok gigi dan basuh seluruh tubuhmu mas... sudah malam. Come on !" pinta Rayina.
Rayina segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual tiap malam jika akan tidur. Dan dia juga berganti pakaian, karena tadi habis pergi keluar. Ya, walaupun tidak keluar dan beranjak dari mobil sportnya itu.
Setelah selesai semua aktifitasnya, Rayina segera masuk kedalam selimutnya. Ayden belum selesai beritual ria. Dia masih akan memulai ritual yang ditutorkan oleh istrinya.
Setelah selesai dia melihat sang candu sudah teronggok manja di atas bed berukuran king sizenya.
" Hmmm bumil, cepat sekali kamu terlelap. Tadi kamu tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Sekarang aku ulangi kembali. Bolehkan aku sedikit nakal meminta penghidupanku barang sejenak?" bisiknya lirih.
" Iya mas... boleh" jawab Ayden sembati berbisik sendiri.
Diraihnya tubuh mungil yang sudah menjadi candunya itu kedalam dekapannya. Dimatikannya lampu kamar itu dan menyisakan hanya lampu malam dan dengan penerangan yang sangat minim.
Sehingga, sang pemilik netra hanya mampu meraba - raba jika akan berjalan. Dan kini dua tangan jahil siap berjalan ke tubuh yang teronggok manja itu.
Dirabanya dengan penuh perasaan, agar sang pemilik tubuh itu tidak merasa terganggu.
" Oh... waow, semenjak hamil sepertinya ukuran penghidupanku semakin membesar nih. Dan kamu selalu tidak memakai kaca mata pelindung sayang" gumamnya lirih hingga hanya Ayden yang mendengar gumamamnya itu.
Ditariknya seutas tali sebagai pengait baju tidur itu. Lebih tepatnya kimono. Kimonk warna merah maroon yang sangat kontras dengan kulit Rayina.
Di tariknya dengan lembut dan disibakkan kimono itu, terlihatlah lingerie yang dipakai Rayina. Senada dengan warna kimono yang Rayina pakai. Dan itu membuat Ayden menelan ludahnya.
__ADS_1
" Sayang, kenapa semakin lama kamu semakin mempesona saja? Pantas saja ada bandot itu yang menginginkanmu" gumamnya lagi.