
Semua yang menyaksikan tak kalah terkejutnya. Ayden apa lagi, dia sangat terkejut. Rayina semakin bingung dengan keadaan itu. Dia kemudian mereplay rekaman tersebut.
" Whattt??" pekik Papa.
" Pa, siapa?" tanya Rayina penasaran.
" Apakah wanita itu Aleena?" terka Rayina.
" Ya, sayang" jawab Mama lembut.
" Cantik!! jadi kiranya begitu wajah Ibunya Ben. Ternyata memang benar adanya. Mas dulu sampai berkorban sedemikian rupa. Mempertahankan apa yang dia inginkan. Ternyata karena wajah cantik ini" batin Rayina.
" Cantik !" celetuk Rayina.
Semua mata menengok ke arah Rayina. Sedangkan Rayina masih sibuk mengunyah makanan. Tidak ada perasaan bersalah atau apapun yang datang melanda. Masih dalam sikap cuek.
" Kamu kenapa sayang? Apakah ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Ayden lembut.
" Tidak ada mas, nothing. Lihatlah, mantan kekasihmu berhubungan dengan Xano" ucap Rayina.
" Ya, apa tujuannya bergabung dengan Xano. Apakah ada sesuatu dibalik itu?" terka Ayden.
" Kak, menurut Pak Jo, Xano seorang cassanova. Dia tidak menikmati semua wanita yang tidak lolos seleksi" ucap Liona.
" Maksudnya?" tanya Rayina.
" Ya, dia harus diuji dulu. Diuji tubuhnya, kesehatannya, apakah dia bersih dari penyakit atau tidak. Dan yang terlebih aneh lagi, patokan dada wanita itu yang menjadi sensasinya" ucap Liona.
" Kelainan atau bagaimana orang itu?" ucap Ayden.
" Mas, fantasi orang berbeda - beda Untuk mendapatkan puncaknya itu mereka mempunyai fantasi tersendiri. Begitupun dengan mas. Right?" tegas Rayina.
" Wait... mas, itu nomor Devran bukan? Kenapa dia mendial nomor Devran?" ucap Rayina.
" Okay, tunggu saja dia melakukan tindakan apa. Selanjutnya kita menyusun rencana penyerangan" ucap Ayden.
" Liona, setelah makan segeralah mandi beristirahat. Akupun akan beristirahat. Mbak, nanti setelah selesai panggil Farhan dan nanti biar Aruni dengan Farhan" perintah Rayina.
__ADS_1
" Aruni, nanti kamu dengan Farhan. Nikmatilah kemanapun dia mengajakmu. Dia tidak akan mencelakaimu atau membahayakanmu. Berbahagialah" ucap Rayina.
Rayina kemudian memutus saluran video. Selanjutnya dia mengambil ponsel yang tertancap di USB layar televisinya itu.
Mama dan Papa juga segera menuju ke samping rumah, karena disana ada tanaman yang sengaja Mama tanam untuk hiburannya sehari - hari. Rayina dan Ayden segera kembali ke kamar.
Didalam kamar mereka merebahkan badan. Walaupun jam sudah menuju ke senja setidaknya badan diistirahatkan sejenak. Tidak tidur, hanya bercengkrama di atas ranjang. Berkeluh kesah, bercerita panjang lebar itulah kebiasaan Rayina.
Membiasakan diri bercerita dan menceritakan apapun kejadian, apapun yang terjadi dan yang sudah terlewati dibicarakan. Walaupun mereka seharian bersama. Itu kunci rumah tangga yang baik menurut Rayina.
Komunikasi, ya.. memang itu sangat dibutuhkan. Bukan sekedar kepuasan hasrat semata. Tetapi seluruh kehidupan dan prosesnya adalah keterbukaan.
" Mas, bekerja di sebuah perusahaan itu banyak sekali yang harus di tanggung bukan?" tanya Rayina.
" Ya, of course. Untuk itu, mas lebih memilih bekerja sesuai keinginan mas. Dan itu adalah cita - cita mas dari dulu" ucap Ayden.
" Tapi kenapa mas membuat sebuah perusahaan? Sedangkan Papa memiliki perusahaan yang akhirnya juga di serahkan kepada mas. Dan tanggung jawab besar yang mas pikul" ucap Rayina.
" Sebenarnya perusahaan Papa akan aku wariskan untuk Ben. Pasti Papa akan memberikan itu kepadaku dan Ben yang akan meneruskannya. Sedangkan Rayiden itu perusahaan baru. Perusahaan yang akan menjadi milik anak - anak kita kelak" ucap Ayden.
" Why?" tanya Ayden penasaran.
" Aku mau semua harta yang mas dapat sebelum bersamaku adalah milik Ben. Sedangkan setelah menikah denganku bisa dibagi rata kepada anak - anak. Atau kalau tidak dibagi rata keseluh anak - anak. Kecuali Ganesha" ucap tegas Rayina.
" Why? Ganesha my son. Tidak ada bedanya sayang" ucap Ayden.
" Tidak mas, Ganesha sudah mempunyai tugas dipundaknya" ucap Rayina.
" Maksud kamu?" tanya Ayden.
" Maaf mas, aku belum cerita sama mas. Jadi sebelum almarhum ayahnya Ganesha meninggal. Beliau sudah menyiapkan perkebunan teh dan perkebunan sayuran di negaraku. Dan saat ini dikelola oleh orang kepercayaanku dibawah pengawasan Bapak. Dan mereka yang juga bertanggung jawab atas itu" ucap Rayina.
" Whatt??" Ayden kaget.
" Ya, itu benar adanya. Ada pabrik teh dan kebun sayuran dimana itu adalah sumber pencaharian warga sekitar. Jadi pendapatan mereka bergantung dari situ. Untuk itu, Ganesha sudah mempunyai tanggung jawab besar di negaraku. So, biarkan dia mengelola tanggung jawabnya sendiri" ucap Rayina.
" Ah.. baiklah. Tetapi jika aku masih mempunyai sedikit harta untuknya. Aku tetap akan memberikannya. Karena dia juga anakku" terang Ayden.
__ADS_1
" Itu terserah mas. Dannn... aku tidak akan memaksa anak - anak untul belerja di perusahaannya kelak. Biarkan mereka tumbuh sesuai dengan cita - cita yang mereka harapkan" terang Rayina.
" I agree with you sayang" ucap Ayden mengiyakan.
" Sayang, apakah Xano terpikat denganmu?" tanya Ayden tiba - tiba.
" Why mas?" tanya Rayina.
" Dari tatapannya saat melihatmu, sepertinya dia tertarik denganmu. Dia memandangmu seperti tersihir. Dan dia terkenal arogan bukan? Tetapi berbicara denganmu seperti kucing kebasahan" uvap Ayden.
" Mungkin memang karena dia salah menerka sebuah proyek yang dikiranya menguntungkan sangat besar. Tetapi tidaj memperhitungkan kerugian setempat. Itu kesalahan bukan?" tanya Rayina.
" Hmmm aku yakin Xano mengincarmu" ucap Ayden.
" Ih.. aku takut..hihi" kikik Rayina.
" Kamu selalu begitu sayang. Bagaimana kinerja Pak Jo dan Liona?" tanya Ayden.
" Pak Jo bekerja sesuai jalurnya. Pantas saja beliau menjadi orang kepercayaan keluarga ini. Liona itu sama sepertiku waktu muda mas. Dia enerjik dan cerdas. I like girl" terang Rayina.
" Ya, Pak Jo. Lelaki tua itu. Yang menempaku menjadi seperti saat ini sayang. Menjadikanku lelaki mandiri tanpa tergantung Papa. Menjadikan aku hidup sederhana dengan penghasilan sebagai fight engineer. Pak Jo, apa bisa kita mendapat penggantinya kelak?" tanya Ayden.
" Ada.. Farhan" celetuk Rayina.
" Farhan bisa mas, menjadi tangan kanan mas kelak. Tinggal pendidikannya ditempa kembali. Kuliahkan dia mas" usul Rayina.
" Akan aku pertimbangkan sayang. Karena yang menjaga rumah dia. Aku percaya kepadanya" ucap Ayden.
" Itu urusan gampang. Diluar rumah sudah banyak ajudan dan pengawalan ketat. Di dalam bisa kita serahkan ke mbak dan Siti. Mereka bekerja sangat cekatan. Mbak juga sudah tahu kinerjaku. Selama bersamaku dia sudah tahu apapun yang harus dia lakukan. Tingg aku latih bela diri saja sudah jadi" papar Rayina.
"Ah.. istriku banyak ide.. " ucap ayden dengn mencolek hidung istrinya.
Mereka selalu bercerita dan berdiskusi santai. Terkadang pembicaraannya hanya sekedar basa - basi tetapi bisa terjadi. Hanya sekedar bercanda tetapi bisa terlaksana.
Ayden sangat menikmati menjadi suami Rayina. Istri uniknya itu membuat hidupnya lebih berwarna. Banyak sekali kejutan yang dia lakukan. Dan rencana gilanya membuat jantung berdebar kencang.
Terkadang dia membandingkan rumah tangganya dulu dengan sekarang. Pilihan Papanya sangat tepat. Semua yang ada pada istrinya sangat menarik.
__ADS_1