
" Emhh.. Emhhh.. cup..cup.." Ayden mulai dengan aksinya.
Aksi Ayden hingga pagi menjelang. Rayina juga tidak merasa risih. Karena dia sudah pernah memberikan ASI kepada Ganesha.
Dan sekarang bedanya, bayi besaemya yang menyusu. Rayina kemudian menarik dan segera mandi. Kemudian menjalankan kewajibannya. Sebelum dia bangkit dari tempat tidur, dilihatnya kasurnya basah.
" Mas... mas.. bangun... Mas ngompol??" tanya Rayina dengan cemas.
" Haa? Masak??" Ayden buru- buru bangun.
Dia memeriksa celananya yang basah dan kasurnya yang basah. Kenapa bisa terjadi seperti ini. Jatuhlah harga diri didepan istrinya itu.
Rayina masih memeriksa apakah itu ompol atau air minum yang tumpah. Karena memang semalam Rayina mengambil botol air mineral untuk dia minum. Dan benar saja, itu adalah air mineral yang terbuka tutupnya.
Sedangkan Ayden sudah lari terbirit - birit masuk ke kamar mandi untuk mandi. Rayina hanya bisa terkekeh geli melihay suaminya yang lari tunggang langgang.
" Hahahaha " tawa Rayina penuh kemenangan.
Ayden menyadari istrinya menertawakan dirinya. Ayden mempunyai rencana licik untuk istrinya.
" Tunggu pembalasanku sayang" teriak Ayden dari kamar mandi.
Rayina segera masuk ke dalam ruang bajunya, dia segera mandi dan membersihkan dirinya untuk segera melaksanakan sholat subuh.
Setelah Ayden selesai, dia keluar sudah tidak mendapati istrinya. Ternyata ruangan baju istrinya terbuka. Dan dia juga menengok ternyata Sholat di sana.
Ayden segera melaksanakan kewajibannya dengan khusyuk. Tak lupa untuk bersyukur atas hadiah yang sangat indah untuknya. Sebuah amanah yang harus diembannya hingga akhir hayatnya.
Setelah selesai Rayina mendapatkan morning kiss dari suami tercintanya. Dan Rayina menyalaminya dengan penub takdzim. Dibacakan doa selamat dan sholawat untuk janin di perut istrinya yang masih rata itu.
Bagai bunga bertaburan di hati Rayina. Kebahagiaan yang bertubi - tubi telah didapatkannya. Seorang suami yang siaga untuk dirinya dan anaknya.
" Mas, aku mau kebawah. Coba cek, mabak sudah siap untuk masak sarapan belum. Dan aku harus membangunkan anak - anak untul beribadah" ijin Rayina.
" Baiklah sayang, boleh aku minta segelas susu coklat dan sepotong pastry?" pinta Ayden.
" Baik mas, tunggu sebentar" jawab Rayina dengan lembut.
" Emb.. mas di samping rumah dekat kolam renang ya" ucap Ayden.
__ADS_1
" Oke mas" jawab Rayina segera berlalu.
Rayina segera menuju ke kamar anak lelakinya. Dilihatnya Ben sudah siap untuk sholat dan Ganesha sudah siap menyusul abangnya.
Rayina kemudian ke dapur untuk memeriksa mbak yang sudah siap masak. Ketika sudah berada di dapur. Rayina merasakan perutnya seperti kembung. Rasa mual yang begitu hebat datang. Dia kemudian lari ke kamar mandi dan memuntahkan apapun yang ada didalam perutnya.
Tetapi karena tidak ada yang keluar dari dalam perutnya dia merasa sangat lemas. Untuk berjalan saja tidak mampu. Mbak yang mengetahui segera memberi tahu Pak bosnya.
" Pak Bos, nyonya muntah - muntah di kamar mandi dapur. Takut terjadi apa - apa. Tadi nyonya tidak mau diantar dan ditemani" lapor mbak.
Ayden segera lari menuju kamar mandi dapur. Takut terjadi apa - apa dengan istrinya. Karena sedang hamil dia juga ekstra khawatirnya.
" Mbak kembali masak saja. Biar saya ngurus istri saya. Thank you mbak" perintah Ayden.
" Sama - sama Pak Bos" jawab mbak.
Ayden kemudian mengetuk pintu kamar mandi. Dan berinisiatif untuk membuka, karena pintu dalam kondisi sedikit terbuka. Ayden sangat kaget melihat istrinya.
" Sayang, Are you okay?" tanya Ayden.
Rayina tidak bisa menjawab karena merasa sangat lemas. Keringat dingin keluar di seluruh tubuhnya. Wajah pucat pasi menyelimuti wajah ayunya.
Perasaan cemas menyelimuti hati Ayden. Dulu selama kehamilan Aleesha dia tidak pernah tahu, karena saat itu dia masih meiniti karirnya. Dan dia membayar mahal suster untuk menjaga dan menemani Aleesha. Apapun yang Aleesha butuhkan selalu terpenuhi.
Kini sekarang dia merasa cemas, apakah ini karena kehamilannya atau karena dia terlalu lelah.
Mama yang mengetahui ada kegaduhan diluar kamar segera keluar. Dan menghampiri salah satu pelayan.
" What happend mbak?" tanya Mama.
" Nyonya muntah - muntah dan lemas di kamar mandi nyonya besar. Sekarang sudah dibawa ke kamar sama Pak Bos" jawab salah satu maid.
Tanpa menjawab Mama mempercepat langkah kakinya dan menuju ke dalam kamar anak tersayangnya itu. Tanpa mengetuk pintu karena khawatir kepada menantunya yang sedang hamil muda.
" Are you okay sayang? Boy, apakah sudah menelpon Kevin? Wajahmu pucat sekali" khawatir Mama.
Papa keluar dari kamar mendengar mama sangat khawatir langsung masuk ke dalam kamar. Melihat menantu kesayangannya terbaring lemah membuat hatinya sakit.
" Ayden Danish!!! Lakukan yang terbaik!!" teriak Papa.
__ADS_1
Semua orang mencemaskan Rayina. Sedangkan Ayden tahu, jika Paa sudah menyebut nama lengkapnya dia pasti sangat marah.
" Ma, Pa, Mas... tidak perlu khawatir. Aku tidak apa - apa. Ini morning sickness biasa yang dialami Ibu hamil muda. Bukan begitu Ma? Dan tadi aku merasa sangat lemas setelah memuntahkannseluruh isi perutku yang kosong. Tidak perlu khawatir, I'm Okay" jelas Rayina menenangkan.
" No, sayang. Wajahmu sangat pucat. Boy, segera telpon Kevin" perintah Mama.
Ketika akan mendial nomor Kevin tiba - tiba ada yang mengetuk pintu.
" Ah.. itu dia.. Kenapa kamu lama sekali??" teriak Ayden.
" Mas... sudahlah. Tidak perlu berteriak" ucap Rayina lembut.
" See, kaka ipar memang sangat baik. Coba bayangkan kakak ipar. Dia chat aku suruh ke sini memeriksa kakak ipar dalam waktu lima menit harus sampai. Mana ada coba?" lapor Kevin kepada Rayina.
" Tunggu, jangan sentuh istriku" hardik Ayden.
" Tenang saja, aku tidak akan menyentuh kakak ipar. Aku membawa dokter Lily, dia pacarku. Dia dokter kandungan. Kakak ipar, besok bisa konsultasi kandungan dengannya" terang Kevin.
" Cerdas!!" ucap Ayden dengan menjentik dahi Kevin.
pletakkkk
" Ouuuchhh shiitt" keluh Kevin.
" Perkenalkan saya de. Lily, saya dokter kandungan. Dan saya direkomendasikan oleh dr. Kevin untuk menangani kandungan nyonya" terang Lily.
" Tidak perlu formal Lily. Tadi si brengsek itu sudah mengatakannya kalau kamu pacarnya. Panggil tante saja. Dan dia Rayina, kakak ipar sepupumu. Sama saja" ucap Mama.
" Tapi memang dalam pekerjaan harus bersikap formal kan tante. Hihi. Baiklah kita mulai periksanya" ucap Lily.
" Kakak ipar, kita mulai okay?" ijin Lily.
" Okay Lily" jawab Rayina lemas.
Lily memeriksa denyut jantungnya, mata, mulut dan semuanya diperiksa dnegan sangat teliti. Lily juga memeriksa Rayina dengan sangat hati - hati dan sangat lembut.
" Kakak ipar, sudahkah melakukan USG?" tanya Lily.
" USG? Apa itu? Apakah berbahaya ? tanya Ayden penasaran.
__ADS_1
Semua mata berputar jengah mendengar pertanyaan Ayden.