Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
185.


__ADS_3

Selesai makan dan bercengkrama dengan di lengkapi sedikit celotehan polos kedua jagoan mereka. Suasana hangat terasa di meja makan itu.


Hati damai, teduh dan nyaman yang tak terucap nampak dan nyata adanya. Rayina segera membereskan meja makan. Sementara suami dan anak - anaknya tengah duduk sembari menonton televisi.


" Apa yang ingin kamu lihat boy?" tanya Ayden.


" Ada pilihan?" tanya balik Ben.


" Maybe boy.. Baiklah kita cari" jawab Ayden.


" Ayah... adakah tobot di channel televisi ini? Maksudku... embbb... di sini. Maaf" ucap Ganesha yang bingung menjelaskan.


Ganesha merasa tidak enak hati dengan pertanyaannya. Seolah - olah daerah ini tidaklah maju seperti negara yang ditinggalinya saat ini.


" Tentu saja ada cucuku. Semua channel ada. Carilah !! Ayahmu sudah melengkapi fasilitas disini. Jadi jangan pernah takut akan hal itu. Hahaha" tawa kakung.


" Seriously Ayah?" tanya Ben kegirangan.


Ayden hanya menjawab dengan senyum ketulusannya. Akhirnya mereka mencari sebuah acara televisi kesukaan mereka berdua.


Sementara di dapur kedua wanita dewasa tengah berbincang - bincang sembari membereskan perkakas yang kotor.


" Nduk, cah ayu. Ibu sudah melihat sendiri kalian sangat bahagia. Sebentar lagi akan tambah kebahagiaan kalian. Semoga Allah senantiasa merahmati keluarga kalian dan semoga kalian di limpagi keberkahan dan kebahagiaan" ucap Ibu.


" Terimakasih doa tulus Ibu. Hanya itu yang Rayi harapkan dan selalu Rayi pinta kepada Ibu. Dan semoga Allah selalu memberikan kesehatan, keselamatan serta umur yang panjang. Amin" jawab Rayina tulus.


" Nduk, Ibu mau bicara serius tentang suatu hal. Bisakah kita berbicara hanya berdua saja?" ijin Ibu.


" Apakah ini serius Ibu?" tanya Rayina sedikit curiga.


" Embb... Bisa dikatakan serius jika menanggapinya dengan cara yang berbeda. Dan bisa dikatakan biasa zaja karena dilandasi rasa sabar dan ikhlas" jawab Ibu.


" Jadi penasaran. Baiklah, mari Bu. Kita bicara di kamar Ibu saja. Seperti biasa bukan Bu?" ucap Rayina semangat.


" Ya, tentu saja. Ayahmu akan menjaga privasi kita ketika kita diskusi" jawab Ibu.

__ADS_1


" Mbak.. tolong selesaikan ya. Nanti kalau sudah kembalilah ke kamar. Istriahatlah. Untuk anak - anak, biarkan mereka bersama Ayah dan kakungnya. Ayahnya juga lumayan lama tidak menemani mereka" ucap Rayina.


" Baiklah Bu" jawab Mbak.


Kedua wanita itu segera bergegas menuju ke kamar. Sesampainya di kamar, Rayina masih takjub dengan keadaan didalam kamar Ibunya.


" Kenapa Nduk?" tanya Ibu.


" Apa benar ini kamar Ibu?" tanya Rayina kaget.


" Ya, suamimu yang merombaknya sedemikian rupa. Katanya supaya Ibu dan Bapakmu yang sudah tua ini nyaman saat di dalam kamarnya sendiri" ucap Ibu.


" Hmmm... lelaki itu memang prnuh kejutan!!" ucap Rayina bangga dan terharu.


" Apa selama ini suamimu tidak pernah mengatakan apapun kepadamu?" tanya Ibu.


" Ucapan apa Bu?" tanya Rayina balik.


" Ya, ini. Segala fasilitas dan kemewahan yang menurut Ibu dan Bapakmu nikmati ini. Bahkan seluruh pekerja kebun dan pekerja yang membantu Ibi dan Bapakmu adalah rekomendasi suamimu" terang Ibu.


" Benar katamu. Dia memang begitu. Begitu baiknya suamimu. Jaga dia, jangan kecewakan hatinya jika kamu belum mampu membahagiakannya" Pesan Ibu.


" InsyaAllah Bu" jawab Rayina dengan diiringi senyumnya.


" Begini Nduk. Beberapa hari yang lalu, ada seseorang datang menemui salah satu pekerja kebun. Dia mengatakan ada orang asing yang menanyakan tentang Almarhum Ayahnya Ganesh" cerita Ibu.


" Orang asing? Siapa Bu?" tanya Rayina penasaran.


" Ibu tidak tahu. Kata Bapakmu logat bahasanya seperti suamimu. Memakai bahasa melayu. Sepertinya orang senegara dengan suamimu" terang Ibu.


" Embbb.. Apa yang mereka tanyakan Bu? Dan apa yang mereka cari? " tanya Rayina semakin penasaran.


" Hanya menanyakan almarhum saja. Dan mereka mencari alamat almarhum. Untung saja pekerja kebun tidak ada yang tahu dengan almarhum ayah Ganesh Nduk. Hanya Lek No yang tahu" terang Ibu.


" Lek No??? Lek No yang dulu kerja di rumah orang tua angkat Ayah Ganesh?" tanya Rayina penasaran.

__ADS_1


" Ya.. Benar. Dia memang bekerja disini. Rumahnya ada di ujung jalan. Dia sekarang menjadi orang kepercayaan Bapakmu" terang Ibu.


" Kenapa mereka mencari Ayah Ganesh ya? Setahuku Ayah Ganesh tidak ada sanak saudara. Orang tua angkatnya pun tidak mempunyai saudara Bu" gumam Rayina lirih.


" Apakah orang itu berpenampilan preman?" tanya Rayina kembali.


" Sepertinya tidak Nduk. Rapi, sangat rapi memakai jas. Dan bahkan mengendarai mobil mewah kata Lek No" terang Ibu.


" Embb.. Bu maaf. Sepertinya ini tidak bisa kita bicarakan hanya berdua saja. Suamiku berhak tahu. Karena kemungkinan menyangkut Ganesha. Saat ini kami sudah menjadi tanggung jawab dia bukan? Bagaimana menurut Ibu? " tanya Rayina


" Tentu saja... Ibu hanya menceritaka hal ini kepadamu. Jika kamu mau mendiskusikan dengan suamimu alangkah lebih baik Nduk. Ibu hanya menjaga perasaan suamimu jika membicarakan Almarhum Ayah Ganesh. Kan itu masa lalumu" terang Ibu.


" Iya Bu. Terimakasih. Semoga Bapak juga sudah bicara dengan Mas. Nanti aku akan mendiskusikan kembali. Karena setiap langkah kakiku semua ridho dari suamiku Bu" jawab Rayina.


" Ya sudah hanya itu yang mau Ibu bicarakan. Wes, sana istirahat. Besok mau muncak kan?" ucap Ibu.


" Iya Bu. Apakah sudah di bereskan Bu, Vila puncaknya?" tanya Rayina.


" Ya sudah to Nduk. Suamimu sudah siaga. Pasti sudah menempatkan beberapa orang yang membantu di sana juga. Wes ndak usah bingung" jawab Ibu.


" Nduk, tentang laporan kebun dan pabrik gula semua sudah ada yang menangani. Tapi kalau pabrik gula Bapak turun langsung. Karena tanah sebagian milik Ganesh dan sebagian milikmu" terang Ibu.


" Iya Bu, nanti Bapak pasti akan membicarakan ini. Ya sudah, Ibu istirahat saja. Rayi tak ke depan, sepertinya anak - anak juga sudah tidur. Sepi begini, ndak ada suaranya juga" ucap Rayina.


" Ya wes, sana istirahat. Selamat malam Nduk" ucap Ibu.


" Selamat malam Bu" jawab Rayina dengan mencium tangan Ibunya penuh hikmad.


Sementata diruang keluarga. Dua jagoan sudah tertidur pulas. Dengan beralaskan kasur yang entah dari mana diambilnya dan peralatan tempur mereka saat tidur.


Sementara dua lelaki dewasa yang entah kemana tak nampak batang hidungnya. Televisi menyala, bukan ditonton tapi televisi yang menonton anak - anaknya.


" Mas... Mas..." panggil Rayina.


" Ya sayang" jawab Ayden dari ruang dapur.

__ADS_1


Rayina segera mencari sumber suara. Ternyata dua lelaki itu masih bercengkrama sembari membuat wedang jahe hangat.


__ADS_2