Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
25. Pandangan Pertama


__ADS_3

Rayina menuju keruang tamu. Saat itu Ayden masih memeperhatikan seluruh isi rumah Rayina. Memandangi setiap sudut rumahnya.


'Sederhana tapi sangat rapi, nyaman dan tentu saja cerminan dari Rayina' gumam Ayden.


Rayina keluar dengan hanya menggunakan baju sederhana. Dengan pakaian casual dan hanya menggunakan pashminanya. Tanpa ada make up. Terlihat simple tapi tetap cantik, bahkan sangat cantik natural.


Seketika sampai di ruang tamu pandangan mereka bertemu. Jantung mereka semakin berdebar - debar. Tidak ada kata yang terucap. Hanya saling pandang tidak ada pergerakan sedikitpun.


"Masyaallah,,, " gumam Rayina.


" Subhanallah Beautiful women" gumam Ayden.


Tiba - tiba tangan kecil menyapanya.


" Assalamualaikum Bunda. How are you?" ucap Ben.


" Waalaikumsalam, sayang.. Are you Ben? My boy?" tanya Rayina dengan tanpa aba - aba menitikkan air matanya.


Tanpa disadari ada seseorang yang memfoto pertemuan mereka.


" Yes bunda, of course. Why you silent? He is my Ayah. AYDEN DANISH" ucap Ben.


Ben tahu Ayahnya saat ini hanya bengong karena terpana melihat kecantikan Rayina. Kelembutan saat menyapa ben. Sikap keibuan yang memberikan kenyamananan kepada anak lelakinya itu.


" Assalamualaikum Ay, How are you? " tanya Rayina.


" Waalaikumsalam Sayang, Fine too. And you? May I sit down? " tanya Ayden.


" Ah.. sorry.. okay.. let's do it" ucap Rayina.


Pake Bahasa Indonesia aja ya..


"Sayang, ini ada sedikit oleh - oleh. Surprise yaa? Kamu senang?" tanya Ayden.


" Ya Ay, sangat... terima kasih. Sayang kemarilah. Duduk disini samping bunda " ucap Rayina kepada ben dengan menepuk - nepuk tempat duduk disampingnya.


" Dimana anakku yang satunya? " tanya Ayden.


" Ganesha? dia tidur siang Ay" jawab Rayina.

__ADS_1


Kemudian terdiam sangat lama. Karena mereka masih canggung untuk saling bertanya kembali. Ben kemudian memecahkan suasana itu.


" Apakah kalian ABG? yang harus malu - malu sepeti itu? Dua orang dewasa yang aneh. Ayah.. kemarilah dekati bunda tanya apapun. Jangan sampai menyesal kalau tidak bertanya apapun" cerocos Ben.


Rayina yang mendengarkan ocehan Ben tanpa sengaja tersenyum sangat manis. Membuat Ayden semakin meleleh dan salah tingkah dibuatnya.


' Ah... begitu sempurnanya ciptaanMu Ya Allah'batin Ayden.


Masih tidak ada suara sama sekali.


" Bunda bolehkah aku minta minum? " ucap Ben.


" Ah.. sorry sayang.. okay.. tunggu ya.. " ucap Rayina.


Rayina kemudian masuk kedalam menyiapkan makanan dan minuman. Dia juga mengatur detak jantungnya yang seakan mau keluar. Lelaki yang bisa menggetarkan hatinya saat bertemu pertama kali.


Ternyata Mbak sudah menyiapkan semuanya. Makanan juga sudah disiapkan. Mereka kemudian keluar untuk menyajikannya.


" Ini sayang, minumlah. Pasti capek ya perjalanan jauh? Apa Ayah bisa menjagamu dengan baik sayang? Dimana kalian menginap? Kalian sampai Indonesia kapan? Dan kamu Ay, kamu tidak membalas pesanku karena ini semua?" Ucap Rayina memberondong pertanyaan.


" Iya sayang, maaf ya. Kamu bahagia?" tanya Ayden.


Ayden kemudian duduk di samping Ben. Ben menjadi penengah antara mereka berdua. Ayden merasa sangat cocok saat melihat Rayina pertama kali.


Ayden yang melihatnya merasa nyaman dan teduh. Tidak perlu susah payah mendekatkan mereka berdua. Rayina memang seorang yang menyukai anak - anak. Sifat keibuannya yang sangat natural tanpa dibuat - buat.


Ayden menceritakan dimana dia sekarang menginap. Dan dia bisa sampai ke rumah Rayina juga diceritakan secara detil.


" Sayang, nanti malam bisakah kita pergi makan malam?" ucap Ayden.


" Boleh Ay, sama anak - anak kan?" tanya Rayina.


" Tentu saja sayang. Ajak Mbak juga. Kita ke cafe dekat danau. Tadi aku lihat sangat cantik. Aku ingin kesana bersama kalian. Keluarga kecil kita. Pakailah apapun yang sudah aku berikan. Aku ingin melihatnya" ucap Ayden.


" Baiklah Ay" jawab Rayina.


Mereka kemudian bercengkrama. Ganesha pun sudah bangun dari tidurnya. Dia menangis mencari Bundanya.


" Nda.. Nda.. hu hu hu... Nda.. mana?" rengek Ganesha.

__ADS_1


" Oh.. cup sayang, bunda disini. Ayo kemari. Ini ada abang. Abang Ben. Hay abang... Kiss abang nak" perintah Rayina.


" Abang.. muah.. yeee yee" celoteh Ganesha dengan bertepuk tangan.


Tanpa diminta dan disuruh Ganesha kemudian mendekati Ayden. Semua mata menyaksikan tingkah Ganesha.


" Yayah.. Yayah Anesh" ucapnya cadel.


Kemudian Ganesha minta digendong dan memeluk Ayden. Ayden yang juga sangat menyukai anak kecil langsung segera berhambur dan menggendong Ganesha. Mengecup pipi gembulnya dan memeluk erat.


Tampak bulir air mata menetes diujung mata Rayina. Ayden yang melihatnya segera menghapus air mata Rayina dan memberikan senyuman keteduhannya. Kemudian memegang tangan Rayina agar menguatkan hatinya.


Saat itu Ayden tahu perasaan Rayina. Ganesha yang ditinggal Ayahnya saat itu belum bisa bicara dan belum paham. Dan saat dia sudah paham dan sudah bicara Ayden hadir. Dia sangat merindukan sosok Ayah dalam hidupnya.


Sebaliknya Ben juga merasakan hal yang sama saat Ben memeluk dan menghambur kepelukan Rayina tadi. Hatinya sangat sedih. Tetapi dia berharap Rayina bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk Ben. Dan Ayden juga akan berusaha sebaliknya. Berusaha menjadi ayah sambung yang baik.


Waktu sudah menunjukkan ashar. Mereka segera mengambil wudhlu dan melakukan sholat jamaah bersama. Ayden sudah sangat yakin dengan keputusannya. Semakin mantap saat bertemu dengan Rayina.


Dia kemudian bersujud syukur kepada Sang Pencipta. Semoga di mudahkan dan dilancarkan untuk segera menjalankan Ibadah secepatnya.


Disuatu tempat...


Seorang mata - mata suruhan Irfan sudah mengirim data yang Irfan butuhkan. Irfan tersenyum senang. Kali ini pilihan anaknya tidak salah. Tinggal menguji kesiapannya menjadi seorang Ibu sambung untuk cucu kesayangannya.


"Ternyata pilihanmu tepat nak, tapi berusahalah lebih keras lagi. Ada penghalang yang akan menghalangi kalian" gumam Irfan.


Irfan segera memerintahkan mata - matanya untuk mengetahui lelaki yang berambisi dengan Rayina.


Disebuah rumah yang sederhana, ada beberapa orang didalamnya yang sangat bahagia dengan canda dan tawanya. Menampilkan bak sebuah keluarga kecil yang sangat harmonis.


Irfan melihat foto kiriman orang suruhannya itu tanpa sadar memunculkan bibir sabitnya. Entah berapa tahun lamanya Irfan menunggu kebahagiaan Ayden, anaknya itu. Terasa sejuk saat melihat kebersamaan mereka.


' Semoga Papa bisa menerima Rayina sebagai pilihan hidupku. Semoga Papa tidak akan memberikan torehan luka lagi dihati wanitaku' batin Ayden.


" Siapkan segalanya. Aku mau tidak ada kesalahan sekecil pun dan rahasiakan semuanya jangan sampai bocor, apalagi dengan istriku" perintah Irfan kepada orang suruhannya.


Di negeri jiran...


" Why didn't they give me news?"gumam Rossaline, Mama Ayden.

__ADS_1


Ayden memang sengaja tidak memberikan kabar apapun kepada Mamanya. Dia nanti akan memberikan sebuah foto atau video yang akan dia kirim. Dia tahu kalau Mbak mengabadikan moment mereka. Jadi dia nanti akan memintanya.


Ayden kemudian pamit kembali ke hotel tempat menginap. Dia kemudian akan check out dan pindah hotel yang dekat dengan rumah Rayina.


__ADS_2