Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
163.


__ADS_3

" Riana ahirnya melahirkan Liona. Dinamai Liona agar dia setangguh singa. Dan bisa menjadikan wanita yang kuat. Dan terlihat bukan? Hahaha"


" Tapi itu tidak berlangsung lama, karena usia Riana saat itu masih muda, dengan kehamilannya yang sangat rentan diusianya, dia mengalami pendarahan hebat saat setelah melahirkan Liona. Dan naas donor darah yang sesuai dengannya tidak ada. Bahkan Rony mengupayakan sampai keluar negeri. Hanya mendapatkan dua kantong. Dan itu tidak mencukupi. Dan Riana sudah pasrah jika Tuhan memanggilnya"


" Dia berpesan kepadaku untuk membesarkan Liona bersama Rony dan menjadi Ibu untuk Liona"


" Tapi aku tidak mengindahkan semua permintaannya. Aku hanya sedikit membatu Rony menjaga Liona. Karena Liona mendapatkan kasih sayang dari Mama dan Papa mertuamu. Liona dirawat dan dibesarkan di keluarga ini"


" Dan mendapatkan pendidikan yang baik. Karena Rony selalu bekerja keras untuk mengalihkan pikirannya agar tidak teringat oleh Riana" ucap Vero.


" Mami.. kenapa tidak menikah saja dengan Papa Rony?" tanya Rayina.


" Ah... baby... Itu tidaklah mungkin Rony sangat mencintai Riana. Mungkin dulu hanya rasa simpatinya terhadapku. Tetapi saat menikah dengan Riana aku melihat cinta itu sangat besar untuk Riana" jawab Vero.


" Dan Mami mencintainya?" tanya Rayina menelisik.


" Bahkan sampai saat ini aku hanya menganggapnya kakak, baby. Dan untuk cinta mungkin kita sudah tidak pantas. Karena sudah tua bukan? Hahaha" jawab Vero santai.


" Cinta tidak memandang usia Mi. Jika Mami bersedia dengan Papa, Liona juga tidak keberatan dengan hal ini. Aku pastikan itu" ucap Rayina.


" Sudahlah baby, biarkan saja waktu yang menjawab" ucap Vero.


" Ya, waktu sudah menjawabnya. Terlihat di mata Papa saat menatap Mami. Dan itu bukan tatapan benci terhadap Bos dengan karyawan. Melainkan tatapan penuh arti penyimpulkan rasa di hatinya" terang Rayina.


" Sudahlah... tidak perlu dibahas lagi. Jika kita berjodoh tidak akan kemana bukan?" sanggah Vero.


" Hmm.. benar juga Mi. Mi, sepertinya sarapanku sudah cukup. Aku merasa sedikit tidak nyaman di perutku. Jika aku paksakan menghabiskan semua ini, aku pastikan semua isi perutku akan keluar" ucap Rayina kemudian.


Rayina menggagahi ponselnya di nakas. Mbak yang melihat jika nyonyanya tidak sampai segera membantu meraih ponsel yang dicarinya itu. Jari - jemari lembut itu segera menelpon suaminya yang baru saja kembali bekerja.


Sementara di kantor seseorang yang tengah bekerja dengan serius menghentikan pekerjaannya. Ditengoknya dering ponselnya.


☎️ Wifey Call.


☎️ Hubby


" Assalamualaikum sayang. What happend? "


☎️ Wifey


" Mas, aku mau rujak"


☎️ Hubby

__ADS_1


" Rujak?? Embb Okey"


☎️ Wifey


" Jangan lupa mengadap Antony"


Tuuutttt


Ya begitulah mood ibu hamil. Terkadang membuat Ayden sangat sebal dan jengkel menghadapi tingkah istrinya.


" Belum juga menjawab, sudah dimatikan. Apa semua ibu hamil seperti dia? " gerutunya yang terdengar seisi ruangan.


" Dulu saja selalu memahamiku, kini giliran dia yang meminta seluruh perhatianku. Kalau saja tidak hamil anakku aku sudah pasti akan memarahinya!" gerutunya lagi.


Ayden segera mengotak - atik ponselnya. Kemudian mencari nomor kontak rumahnya. Dia kemudian menelpon mbak pekerja rumah membuatkan rujak sesuai pesanan istrinya.


" Selesai!!" ucapnya.


Dia tidak menyadari gerutuannya didengarkan seluruh staff yang lain. Membuat seluruh mata memandangnya.


Ketika mendongakkan kepalanya dilihatnya seluruh staff memandangnya dengan tatapan heran.


" Kenapa? Ada yang salah?" tanya Ayden.


" Ah..." Ucap Ayden terperanjat.


" Hahaa... kalian mendengakannya?" tanya Ayden terkikik.


" Ya, tentu saja. Bahkan gerutuanmu menyita perhatian kami" ucap Ryan.


" Benarkah?" tanya Ayden.


" Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Ryan.


" Bro, apa istrimu dulu saat hamil menjadi pemarah dan cerewet sekali?" tanya Ayden.


" Hey... apa istrimu dulu hamil tidak kamu perhatikan??" sindir Ryan.


" Jangan bercanda Ryan!! Kamu tahu dulu seperti apa?" ucap Ayden.


" Apakah dia rewel?" tanya Ryan.


" Ibunya Ben? Aku tidak tahu. Karen aku sibuk bekerja demi memenuhi keinginannya. Aku bahkan tidak pernah tahu berapa usia kandungannya. Dan tidak pernah ikut mengantarknya periksa kandungan" ucap Ayden kembali menerawang.

__ADS_1


" Bro... Ibu hamil itu berbeda - beda. Emosinya juga naik turun. Mereka juga tidak menyadari secara logika. Hanya menuruti kehendak hatinya saat itu. Menjadi sensitif itu pasti. Yang sabar menghadapi Ibu hamil. Salah langkah kita yang salah" terang Ryan.


" Walaupun benar, terkadang tetap salah dimata mereka. Buatlah suasana hatinya bahagia, maka kenyamanannya akan tercipta dan kondisi yang baik akan mempengaruhi perkembangan janin yang ada di dalam perutnya"


" Jangan berkata yang menyinggung hatinya walau sedikit. Itu akan berakibat fatal kedepannya. Turuti makanan yang secara logika bisa kamu dapatkan. Jangan menjajikan yang tidak mungkin kamu bisa dapatkan"


" Itu akan menyakitkan dan membekas dihatinya. Terkadang permintaannya aneh tapi itu kadang keinginan dari si bayi. Tapi masing - masing ibu hamil berbeda ngidamnya".


" Dulu istriku ngidamnya malah pingin ke korea ketemu artis korea, Song Hye Kyo. Kan pusing juga. Akhirnya kita hanya ke korea jalan- jalan lihat poster Artis itu dia sudah cukup lega"


" Waduhhhh!!!" keluh Ayden.


" Kenapa? Apa dia meminta hal yang sama?" tanya Ryan.


" Dia meminta pulang kenegaranya!!" jawab Ayden lemas.


" Why?? Itu hal yang bagus juga kan? Tidak susah" jawab Ryan.


" Ya, tapi apa kalian bisa menghandle pekerjaan ini sendirian? Dan aku juga tidak tahu Boss memberiku cuti atau tidak!" jawab Ayden.


" Heh.. kamu disini yang jarang cuti. Bahkan cuti nikah saja tidak kamu ambil bukan? Sudahlah, sana manghadap Boss. Dan minta pengajuan cuti. Jangan kecewakan istrimu" jawab Ryan


" Dia disini sendiri Ay, tidak ada sanak saudara yang menemaninya. Bahkan orang tuanya sudah pensiun bukan. Pasti merindukannya pula. Sekalian honeymoon yang tertunda. Sudah sana pergi!!" perintah Ryan.


" Ah.. baiklah. Aku akan membuat pengajuan cutiku" ucap Ayden.


Mereka segera kembali bekerja dan masing - masing nampak serius. Sedangkan Ayden yang sudah membuat surat pengajuan cuti segera menuju ruangan Bosnya.


Tok... tok.. tok..


" Ya masuk!!" ucap Antony.


" Boss" sapa Ayden.


" Eh.. Mr. Ayden. Silahkan masuk" ointa Antony.


" Bagaimana? Mana surat pengajuan cutinya?" tanya Antony.


" Maaf bos, jika istri saya lancang meminta cuti kepada bos" ucap Ayden.


" Oh.. tidak masalah Mr. jangan sungkan. Kita sudah seperti keluarga. Jangan terlalu formal. Itu sudah hak anda mendapatkan cuti. Dan anda juga salah satu karyawan dengan dedikasi tinggi. Karyawan terbaik. Aku akan memberikan cuti sesuai yang anda ajukan. Jika masih kurang anda bisa mengkonfirmasi kepada saya langsung" terang Antony panjang lebar.


" Terimakasih bos, sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan istri saya. Tapi saya akan menyelesaikan tugas saya disini beberapa hari kedepan. Karena saya harus melimpahkan kepada yang lain agar berjalan dengan sebagaimana mestinya tanpa gangguan" jawab Ayden menjelaskan.

__ADS_1


" Baiklah, tetapi untuk penjelasannya aku rasa tidak akan lama. Dua jam cukup. Anda orang yang berkompeten di bidang ini dan kelompok anda juga orang - orang pilihan yang sangat kompeten juga. Aku pikir tidak akan lama mereka menerima limpahan pekerjaan ini. Bahkan dengan sangat mudah" sanggah Antony.


__ADS_2