
" Kakak terima kasih banyak untuk semuanya, Abang... Liona minta maaf juga" ucap Liona tulus.
" Ya, singa kecil. Sudahlah.. sana kembali ke bawah. Tamu - tamu yang lain menunggu kalian. Dan... untuk kamu ba*****n kecil, tunggu pembalasanku selanjutnya !!" ancam Ayden kepada Devran dengan diiringi senyum smirknya.
" Oh.. Abang.. please. Maaf kan aku. Aku benar - benar serius ini. Jangan bermain - main lagi bang. Ampunn!!" ucap Devran mengiba.
" Hahaha.. tiada ampunan untukmu Dev!!" ejek Ayden kembali.
" Mas.. stop please !! sudah kembalilah kebawah. Kakak sudah ada mami Vero yang menjaga, dan Papamu sudah menyiapkan beberapa dokter dan suster yang membantu. Padahal Mami Vero cukup buat membantu kakak" ucap Rayina.
" Mami Vero?" tanya Liona bingung.
" Apakah kamu tidak mau mempunyai seorang Ibu yang akan menemani Papamu di hari tua Liona? Sedangkan kamu menghabiskan waktumu dengan suamimu besok. Dan Papamu akan kesepian bukan?" jelas Rayina kembali.
" Ohh.. I see kak. Aku serahkan semuanya ke kakak dan Abang. Right??" jawab Liona girang.
" Papa.. apakah Papa akan disini saja? tidak menemani anakmu di bawah menemui sanak saudara yang sudah diundang?" ucap liona ketus.
Nada yang seolah dibuat ketus oleh Liona kepada Papanya. Agar dia tahu bagaimana respon terhadap Papanya ketika meninggalkan dokter Veronica.
" Ya.. ya.. Baiklah. Sayang, beristirahatlah dengan baik. Semua akan baik - baik saja. Jika menginginkan sesuatu ataupun terjadi sesuatu segeralah minta tolong Vero. Karena dia sudah aku tugaskan untuk menjagamu. Dan, boy.. jaga istrimu dengan baik. Kalian beristirahatlah" ucap Rony.
" Baiklah Om Rony..." jawab Rayina dengan memberikan senyum tulusnya.
" Wait !!!" teriak Liona.
Semua orang yang berada di ruangan itu seketika terhenti dengan kegiatan dan gerakan masing- masing. Seraya menoleh ke arah sumber suara. Karena suara Liona yang cempreng dan sedikit berteriak.
" Why Liona?" tanya Rayina lembut.
" Kenapa kakak masih memanggil Papa dengan sebutan Om? Bukankah kakak sekarang menjadi kakaku? Dan aku mau kakak juga memanggil Papa sama denganku. Okay??" pinta Liona.
" Bagaimana menurut Papa??" tanya Liona ke Rony.
" Kalau Papa sangat senang mempunyai dua putri yang sangat cantik - cantik dan juga pintar. Apalagi Papa jadi punya cucu banyak. Hahaha.. alangkah bahagianya" ucap Rony bahagia.
__ADS_1
" Noo!!" teriak seseorang dari ambang pintu.
Seseorang yang sudah mendengar percakapan itu dan kini mulai mendominasi percakapan tersebut.
" Aku tidak membolehkan Rayina memanggilmu Papa!!" ucap Irfan.
" Karena dia anakku!! Tidak ada yang menggantikannya. Kamu paham??" ucap Irfan serius.
" Lihatlah sayang, Papa mertuamu cemburu kepadaku. Hahaha" ledek Rony.
" Pa.. apa kami bukan akan Papa?" rengek Ayden dan Devran saling berangkulan.
" Ah.. kalian.. tentu saja anakku. Tapi sekarang Rony, lihatlah.. dua anak perempuan ini jelas anakku bukan??" Kamu tidak memilikinya. Hahaha " ledek Irfan kembali.
" Ishhh kauuu!!" teriak Rony.
Rayina tersenyum bahagia, mereka bukan lagi adalah mertua dan paman bagi Rayina. Rayina sangat bahagia mendapatkan kebahagiaan di keluarga ini.
" Pa.." ucap Rayina lembut.
Semua orang yang berada di dalam ruangan tertawa bersama. Memperlihatkan betapa inginnya dipanggil Papa oleh Rayina.
" Papa Irfan adalah Papa mertuaku. Tentu saja sama dengan orang tuaku. Dan.. Papa Rony pun sama. Aku sangat bahagia mempunyai dua Papa yang hebat. Aku sangat menyayangi kalian" ucap Rayina tulus.
Kedua Papa kemudian mendekat dan mengecup kening Rayina dnegan tulus. Menandakan mereka sangat menyayangi Rayina walaupun hanya seorang menantu. Mereka mau menganggapnya sama dengan anak kandung sendiri.
Tak terasa semua orang menitikkan air mata haru. Mereka menjadi terharu melihat pemandangan yang ada di depan mata.
" Baiklah, sekarang kalian bisa ke bawah menemui sanak saudara yang sudah hadir. Dan aku akan berjaga disini. Nanti aku akan meminta orang untuk membawa beberapa makanan ke sini" ucap Ayden.
Devran yang biasanya banyak sekali berbicara kini diam seribu bahasa. Rasa bersalahnya sangat besar kepada abang dan kakak iparnya. Dia merasa malu, apalagi melihat kondisi kakak iparnya yang begitu mengkhawatirkan.
Rayina yang melihat raut wajah Devran sangat kasihan. Diliriknya suami siaga yang berada tidak jauh dari pandangan matanya. Seolah meminta persetujuan darinya.
Entah kenapa hanya dengan mata mereka dapat berbicara. Seolah semua terkoneksi dengan sangat baik tanpa gangguan jaringan yang menghalanginya.
__ADS_1
Papa Irfan, Om Rony, Liona dan Devran beranjak keluar. Mereka memberikan senyum termanisnya untuk Rayina.
" Dev..." ucap Rayina memanggil lirih tetapi masih didengar oleh semua orang.
Si empunya nama langsung reflek menoleh kearah sumber suara. Mendekatlah kepada wanita yang tengah lemah itu.
" Ya kakak, ada yang bisa aku bantu?" ucapnya lembut.
" Dev, terimakasih sudah bersedia menjadi suami Liona. Jagalah Liona dengan sangat baik. Karena dia seperti cerminan kakak saat muda dulu. Dan ingat Dev, masih ada lelaki lain yang mengaharapkannya jika kamu menyia- nyiakannya. Paham??" pinta Rayina berbisik.
" Pasti kak. Aku sangat paham. Terimakasih banyak untuk semua yang kakak berikan untuk kita. Aku berjanji akan menjaganya. Seperti aku menjaga keluarga kita kak" ucap Devran.
" Terima kasih hadiah terindah ini. I Love you kakak" ucap Devran lirih yang tidak didengar abangnya.
Rayina lalu pelan dan meraih telinga Devran. Tidak terasa sakit, namun cukup membuat pemilik telinga kaget dan terperanjat.
" Nakal !!" ucap Rayina lirih dan tersenyum.
Ayden yang melihat itu memicingkan matanya, tanda kewaspadaannya terhadap mantan cassanova itu. Dia kemudian mendekat dan bertanya perihal yang mencurigakan tersebut.
" Apa yang terjadi sayang? Apakah Devran mengganggumu? Atau dia membuatmu marah?" tanya Ayden menyelidik.
" Tidak ada mas. Dev, pergilah.. Ingat pesan kakak. Dan satu lagi, kami sudah memafkanmu. Sungguh" ucap Rayina dengan bersungguh - sungguh.
Devran kemudian menatap mata indah wanita itu. Tidak ada kebohongan didalamnya dan beralih menatap wajah Abangnya. Disanapun tidak menemukan kebohongan yang sama.
" Benarkah bang?" tanya Devran memastikan.
" Ya, tentu saja. Kembalilah kebawah. Buat semua ini menjadi indah. Saat ini mungkin kami hanya memberikan sedikit hadiah kecil untuk kalian karena telah bekerja untuk kami dengan sangat baik. Pergilah.." ucap Ayden menjelaskan.
" Thank you so much kak, bang. Aku sangat - sangat mencintai kalian. Aku akan kebawah. Aku sangat bahagia bang" ucapnya sembari mendekat ke arah Ayden dan memeluk abangnya.
Devran segera bergabung dengan Papa Irfan, Om Rony dan Liona yang juga menyaksikan keharuan yang terjadi. Mereka tersenyum bahagia dengan semua ini. Dan segera diraihnya tangan mungil sang istri.
" Sayang, ayo kita menemui family di bawah. Mereka pasti juga sudah menunggu. Papa, Mama dimana?" tanya Devran yang juga mencari keberadaan Mamanya.
__ADS_1
" Ada di bawah, Mamamu aku tahan untuk ikut. Agar dapat menemani tamu yang sudah menunggu pengantin yang tidak tahu diri" ucap Irfan seraya melirik.