
Sesampai Rayina di rumah. Mbak sudah menunggu Rayina di depan rumah. Menanti sang majikan pulang dengan selamat.
Mbak :" Ibu, mari bu saya bantu".
Rayina :" Makasih Mbak. Ayo masuk. Saya akan bersiap kesekolah. Hari sudah mulai siang".
Mbak :" Iya bu, Ibu bersiap saja. Sarapan sudah daya bikin bu, Ibu tidak perlu khawatir. Ibu bisa berangkat dengan tepat waktu".
Rayina :" Ah.. baiklah Mbak. Terima kasih banyak".
Mbak :" Sama - sama bu".
Rayina segera berjalan menuju kamar mandi. Dia menyelesaikan ritual pagi seperti biasanya tetapi kali ini dengan sedikit cepat. Karena dia takut terlambat. Setelah selesai dan rapi dia segera mengeluarkan motor kesayangannya dan segera bergegas ke sekolah tempat dia mengajar. Tak lupa sepertu biasa dia berpamitan kepada anak kesayangannya itu. Walaupun Ganesha belum bangun dari tidurnya.
Rauina segera melesat berangkat. Sesampainya di sekolah, Rayina terperanjat melihat sebuah mobil yang dia sangay kenali. Rayina merasa kikuk dan sangat tidak enak hati.
Tekatnya jika memang bertemu dia akan minta maaf. Dan memberikan alasan yang tepat kepada Rizky. ' Semoga saja tidak bertemu dengannya ' gumam Rayina dalam hati.
Rayina segera masuk ke kantor ruang guru dan segera mengedarkan pandangan. Ternyata sudah banyak teman - teman yang lain datang. Tak lupa seperti biasa Rayina menyalami dan menyapa mereka yang sudah hadir.
Kemudian Rayina bisa duduk di meja kerja. Belum sempat duduk Bu Wati memanggil Rayina. Rayina yang sudah paham maksud pemanggilan itu merasa agak risih. Karena itu termasuk masalah pribadi dan sepertinya terbawa di tempat kerja. Hal itu tentu sudah Rayina pikirkan matang - matang langkah selanjutnya.
Rayina hanya harus bisa bersikap tegas terhadap semuanya. Kali ini dia harus bersikap lebih bijak.
Rayina :" Permisi Bu Wati".
Bu Wati: " Silahkan masuk Bu Rayina. Bu Rayina tentu sudah tahu masalah kenapa saya memanggil Ibu. Lihatlah dia, yang sedari tadi manyun untuk menemui Ibu. Bagaimana? Kalau begitu Ibu tinggal kalian bisa diskusi". Sembari akan meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Rayina :" Maaf Bu, saya mohon Ibu bersedia menjadi saksi kami disini. Saya tidak mau ada gunjingan dari teman - teman perihal kami. Begini Bu Wati, seertinya Mas Rizky tidak bisa membedakan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Saya harap Mas Rizky paham apa yang saya bicarakan. Maaf Bu sepertinya Ibu juga sudah paham maksud saya. Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan saya permisi. Saya kembali bekerja sebentar lagi jam pelajaran dimulai".
Bu Wati:" Baiklah Bu Rayina, Saya sudah paham maksud Ibu. Maaf jika saya menggunakan kekuasaan saya untuk hal ini. Maafkan kami".
Rayina :" Baiklah Bu, selamat pagi".
Bu Wati :" Selamat pagi".
Rayina segera kembali ke meja kerjanya. Segera dia menyiapkan materi yang akan dia ajarkan kepada muridnya Sementara Rizky terlihat semakin jengkel dan marah dengan pernyataan Rayina. Rizky segera bergegas pulang dengan menekuk wajahnya.
Dia sengaja ke rumah mama nya agar bisa mengantarkan dan sekalian bisa bertemu dengan Rayina untuk meminta penjelasannya tadi pagi. Rayina merasa lega bisa lebih bersikap.
Selanjutnya Rayina akan memberi penegasan kedepannya. Rayina segera masuk kelas dan segera memulai pelajarannya. Pesan baru masuk ke ponselnya. Dia masih mengabaikan. Karena Rayina masih memberikan penjelasan. Walau hanya dengan getaran, ponsel terasa bergetar karena di dalam saku Rayina. Beberapa pesan mungkin sudah masuk.
Rayina menjalankan tugasnya dengan baik. Waktu terus berlanjut. Sebentar lagi jam istirahat. Rayina segera memberikan tugas selanjutnya untuk anak muridnya. Supaya merka dapat belajar dan kemudian di sekolah bisa dibahas bersama.
Jam istirahat berbunyi. Anak - anak riuh rendah sangat senang. Rayina mengakhiri jam mengajarnya. Anak - anak pun berhamburan keluar kelas. Ada yang ke kantin jajan, atau hanya diluar ruang kelas, untuk sekedar bertukar suasana.
Ayden :" Good morning my sunshine. Happy your day, Happy working. I love you so much honey ".
Ayden :" I love you unconditional sayang".
Rayina menyadari di London masih dini hari. Tumben Ayden mengirimkan chat ke Rayina jam segitu. Rayina mulai mengetikkan jawaban chat.
Rayina :" Good night for you Ay, Why you chat me? You no sleep now?"
Ayden :" No sayang, I go to urgent flight. I go to New zeland now ".
__ADS_1
Rayina :" Okay Ay, Take care ya. Take your health also".
Ayden :" 🖤"
Rayina :" 😊 "
Ayden yang mendapat pesan dari Rayina, merasa kurnag puas. Setiap dia menyatakan cinta kepada Rayina. Rayina tidak pernah membalas. Sepertinya perkataan Ryan benar adanya. Rayina seperti kurang yakin. Ayden merasa ingin waktu cepat bergulir. Agar dia segera bisa menemui Rayina secara nyata.
Ayden begitu yakin dengan Rayina. Bahkan Ayden tidak tahu tentang fisik dan wajah Rayina. Apakah sosmed itu benar. Karena di sosmed jaman sekaran banyak fake.
Rayina menutup ponselnya dan tersenyum. Saat ini dia belum bisa membalas ungkapan Ayden. Entah kapan bisa membalas. Rayina hanya bisa menyimpannya sendiri.
Teman di kantornya memperhatikan Rayina dengan ikut bahagia. Kebahagiaan sudah terpancar di wajahnya ketika membuka ponsel dan memandangnya. Mereka berpikir bahwa Rizky anak Bu Wati yang mengirim pesan.
Rani :" Ayden, Ray?".
Rayina :" Iya. hehe".
Rani yang sudah mengetahui cerita Rayina sudah mengira. Bukan Rizky tetapi Ayden. Rani juga tidak bercerita apapun kepada teman - teman kantornya. Karena itu merupakan amanah agar bisa menjaganya tidak bocor. Rani snagat memegang teguh pendiriannya itu.
Di tempat lain Rizky masih uring- uringan dengan sikap Rayina kepadanya pagi ini. Mau bertanya lewat telepon dia tidak mempunyai nomor Rayina. Dasar nasib, kasihan bukan Rizky. Masih bucin- bucinnnya malah...
Rayina merasa agak kesal dengan sikap Rizky, Kali ini dia sangat kekak- kanakan. Rayina menyayangkan semua itu. Dia memanfaatkan keududukan orang tuanya. Rayina tidak suka dengan sikap Rizky yang seperti itu.
Rayina mulai membandingkan antara Ayden dan Rizky. Ayden seorang single father yang bekerja keras mencari nafkah untuk anak semata wayangnya. Dia bekerja sendiri dengan pijakan kaki sendiri di negeri orang. Tidak pernah menyangkutkan orang tuanya ke dalam hubungannya.
Orang tuanya yang mau mendekatkan sendiri dan mengenal sendiri bagaimana pilihan anaknya. Ayden juga selalu bersikap tegas dan spontan. Mungkin karena Rizky belum pernah merasakan sebuah ikatan dalam rumah tangga. Jadi mungkin berpikir hanya sebagai pasangan itu hanya sekedar bisa bersama saja.
__ADS_1
Rani : " Ray, sepertinya mas Rizky terlalu jatuh hati kepadamu. Sehingga dia berbuat seperti itu. Dan dia juga belum punya nomor kamu bukan?".
Rayina : " Haruskah begitu Ran? Aku memang sengaja tidak memberikan nomor teleponku kepadanya. Mungkin saat ini aku harus bersikap tegas".