
Mereka segera berjalan dan menyaksikan semua pegawai. Memperhatikan kelayakan mesin dan pendukung lainnya agar tidak terjadi resiko yang tidak diinginkan. Bapak pun mengelola pabriknya dengan sangat baik dan teliti. Sampai kesejahteraan semua karyawannya tak luput dari jangkauan mata tuanya itu.
" Nduk, kembali ke Villa. Mobil sudah berada di depan. Supir sudah siap. Bukan begitu mantu?" tanya Bapak ke pada Ayden.
" Ahhh... betul sekali Bapak mertua" jawab Ayden spontan.
" Hahahaha" semua tertawa bersamaan.
Hati gembira menyusuri setiap relung jiwa. Kehidupan yang di damba bak oase yang begitu sempurna. Tanpa hadirnya belenggu kalbu yang merusak tatanan jiwa.
Kembali langkah mereka menuju kereta mesin yang sudah siap melaju dengan gagahnya. Semua mata tak lepas dari pandangan mata yang tersebar di sana. Tidak ada lagi keraguan yang bersemayan dalam setiap hati.
Perjalanan, sepoi angin, cicit burung pun kian meronta. Menggambarkan hati tiap jiwa yang berada di kereta bermesin ini. Semua menikmati dengan sungguh damai.
" Ingatkah kamu dengan dia Nduk?" tanya Bapak membuyarkan pandangan Rayina.
" Nduk !!" tepuk Bapak.
" Ahhhh Iya Pak? Apa?" jawab Rayina terperanjat.
Ayden sedikit mengernyit dan mengerjap. Mata indah itu kini menatap sang pujangga cinta. Ada apa gerangan yang tengah membuatnya terpana. Sehingga tak mampu menorehkan perhatian kepada sesamanya.
" Ada apa hm?? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ayden lembut.
" Tidak ada sayang. Hanya saja, kenapa desa ini begitu sangat indah dan nyaman. Sehingga aku merasa ingin tidur. Tapi..." jawab Rayina menggantung.
" Tapi???" tanya Bapak dan Ayden bersamaan.
" Hehe.. saat aku ingin terpejam. Tiba - tiba Bapak menepuk bahuku. Aku jadi kaget sayang" terang Rayina malu.
" Hahaha... " tawa Ayden renyah.
" Ahh iya Pak. Pertanyaan Bapak. Dia siapa? Bahkan aku lupa dengan wajahnya" jawab Rayina.
" Karunia.... " jawab Bapak singkat.
" Ka... karunia?? Karunia ... Karunia yang .. Astaghfirullahhaladzim " jawab Rayina terpekik.
" Apa yang terjadi dengannya? Kenapa bisa begitu?" tanya Rayina penasaran.
" Sayang... Amit- amit jabang baby" ucap Ayden mengingatkan.
" Bayi !!!" jawab seluruh orang yang berada di mobil tersebut.
__ADS_1
" Singkat cerita, setelah kejadian dulu itu... Dia kemudian diperistri juragan tembakau desa sebelah. Namun dia menjadi istri yang ke empat. Entah apa sebabnya, awal mula dia dipasung. Menurut kabar burung yang beredar, katanya dia gila. Karena melihat peliharaan juragan tembakau tersebut" terang bapak.
" Peliharaan? Maksud Bapak?? Apakah dia memakai ..." jawab Rayina menggantung.
" Hmmm" jawab Bapak sembari mengangguk.
" Semua orang kampung juga sudah tahu tentang hal itu Juragan" jawab Pak Sopir menyeletuk.
" Eh... Astaghfirullahhaladzim " jawab Rayina tidak percaya.
" Semoga Karunia diberikan kesehata seperti sedia kala" jawab Rayina tulus.
" Memang peliharaan apa? Lalu kejadian dulu apa? Kalian gibahin orang dan aku tidak tahu gibahan apa. Tidak tau rentetan cerita. Misterius. Like you sayang" oceh Ayden jengkel.
" Hahaha... sabar. Berarti kamu tidak mendapatkan dosa. Karena tidak ikut gibah. Yang dapat dosa Bapak.Karena Bapak yang cerita. Hahaha" tawa Rayina renyah.
" Hahaha... dasar kamu Nduk. Nanti setelah sampai. Ceritakan semuanya kepada suamimu jangan pernah ada yang ditutupi lagi" pinta Bapak.
" Iya Pak. Dan bagaimana dengan anda Pak? Apakah anda bersedia mendengarkan semua tentangku?" tanya Rayina dengan mengerjapkan mata.
" Of course sayang..." jawab Ayden antusias.
" Baiklah.. tunggu kita sampai Villa saja. Nanti aku siapkan cemilan beserta printilannya juga" jawab Rayina santai.
Tak lama sudah sampai di Villa. Villa yang sangat terawat, itulah yang ada di pandangan mereka. Bangunan yang sangat bagus, taman yang tertata rapi dan bersih, serta suasana yang sangat sejuk.
" Berapa budget perawatannya Pak?" celetuk Rayina.
" Hahaha... kamu masih nanya berapa budgetnya. Lah wong semua wes di handle suamimu ini!" terang Bapak.
" Sayang???" tanya Rayina mengernyit.
" Ya, semua perawatan rumah dan sebagainya memang sudah menjadi anggarannya. Tapi dia tidak tahu Bapak juga menggunakan untuk perawatan Villa ini. Maaf ya Nak mantu. Bapak ndak ijin dulu sama kamu" ucap Bapak sedikit menyesal.
" It's okay Pak. Bapak gunakan saja sebagaimana yang terbaik menurut Bapak. Itu memang sudah menjadi kewajiban saya. Terimakasih juga untuk semua yang sudah Bapak lakukan untuk keluarga kecil kami. Tak ada yang dapat kami balas semuanya ini" ucap Ayden tulus.
" Sama - sama nak bagus..." jawab Bapak.
" Bagus??" tanya Ayden mengernyit.
" Handsome sayang... itu artinya" jawab Rayina.
" Baiklah semua bisa masuk. Lek Gino sama Mbok Sum sudah menunggu kita di dalam" ucap Bapak.
__ADS_1
" Mereka masih setia sama kita Pak?" tanya Rayina
Mereka berjalan menyisiri jalan rumah. Jarak carport dengan pintu lumayan sedikit jauh. Sembari berjalan, mereka bercertia panjang lebar tenyang Villa tersebut.
" Ya, masih. Saat ini Bapak minta disini dulu sambil bantu - bantu. Ibumu juga ndak masalah ditinggal Mbok Sum sebentar. Toh masih ada pekerja yang lainnya yang mbantu" terang Bapak.
Akhirnya mereka sampai di depan pintu. Tak lama sosok wanita yang sudah berumur dengan rambut putihnya yang nampak sedikit banyak tersenyum lebar.
" Assalamualaikum... Mbok Sum" sapa Rayina.
" Waalaikumsalam cah ayu... " jawab Mbok Sum dengan memeluk Rayina.
" Sehat Mbok? " tanya Rayina.
" Alhamdulillah cah ayu. Bagaimana kabar mu?Lohh... ini??" tanya Mbok Sum dengan binar bahagianya.
" Iya Mbok... Ini twins. Alias kembar. Dan perkenalkan ini suamiku. Mereka jagoanku" Rayina berucap memperkenalkan.
" Assalamualaikum Mbok. Saya Danish dan saya Ganesha" ucap dua jagoan dengan menyalami wanita setengah baya itu.
" Assalamualaikum Mbok.. Saya Ayden" ucap Ayden menyalami wanita itu juga.
" Waalaikumsalam... Ya Allah... Bule guantenge kok ngene cah ayu ( ganteng banget begini cah ayu). Ya Allah ini jagoan pinter banget. Wong luar negri tinggal di negara barat tapi nggak ngilangno adat timurnya" ucap Mbok Sum terharu.
" Alhamdulillah Mbok... semua berkat wanita satu ini" ucap Ayden dengan memeluk lengan istrinya.
" Wes... jangan lama - lama. Kalau ngobrol sama si mbok ndak bakal selesai- selesai" lerai Ibu.
" Hehehe.. maklum Ndoro, sudah lama ndak ketemu sama cah ayu " ucap Mbok Sum.
" Wes... kamu tu mbok, itu ibu hamil pasti sudah capek. Dia gak bawa hanya dua nyawa loh. Bawa tiga !!" ucap Ibu dengan mengacungkan ke tiga jarinya.
" Iya.. Iya ndoro.. maaf ya cah ayu. Wes pokok e langsung masuk saja. Semua sudah beres. Cah ayu masih di kamar atas atau mau dibawah saja?" tanya Mbok Sum.
" Bagaimana Mas?" tawar Rayina.
" Dibawah saja bagaimana sayang? Takutnya kamu kecapekan jika naik turun tangga" saran Ayden.
" Eitss... jangan salah... walaupun disini gunung jauh dari peradaban manusia modern. Tapi rumah ini dilengkapi denga fasilitas modern" terang Ibu semangat.
" Hmmm" angguk Rayina membenarkan.
" Really??" tanya Ayden penasaran.
__ADS_1
" Mbok kami di atas saja. Karena pemandangan dari atas sangatlah indah. Dan kamar anak - anak sudah siap diatas juga bukan?" tanya Rayina.