Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
114.


__ADS_3

Senja kini telah melukis keindahannya di alam raya. Menatap keindahan dari sudut pandang mata memuji keindahan sang pencipta. Kini sepasang mata tengah disibukkan dengan kegiatannya.


Setelah menyelesaikan aktifitasnya mereka segera berkumpul dimusholla. Berkumpul untuk segera menjalankan perintahNya. Kewajiban sebagai umat muslim pada umumnya.


Setelah semua selesai menjalankan ibadahnya. Seperti biasa keluarga ini selalu makan malam bersama. Tak terkecuali seluruh pekerjanya.


Rayina yang tak henti - hentinya mengunyah, membuat semua mata keheranan dibuatnya. Sebenarnya apa yang dimakan oleh ibu hamil ini. Terasa renyah tapi tak nampak membawa apapun.


Rayina kini memakai daster kebesarannya. Daster yang sangat nyaman yang dia gunakan saat ini. Dan terdapat kantong ajaib yang dapat menyimpan apa yang dimakannya dari tadi.


Beras, ya... dia makan beras. Sedikit demi sedikit. Entah kenapa beras terasa sangat enak dilidahnya. Semakin makan semakin penasaran dibuatnya.


" Sayang, apa yang kamu makan? Kenapa tidak terlihat? Kamu menyimpannya dimana?" tanya Ayden penasaran.


Semua mata memandang ke arahnya. Dan dia mengeluarkan beras dari kantong ajaibnya itu. Dan.. semua orang terkejut dengan apa yang dia makan.


" Jangan makan itu sayang. Itu mentah belum di masak. Takutnya banyak bakteri atau virus didalam beras mentah itu" khawatir Ayden.


" Tak apa boy. Dulu Mamamu juga makan beras saat hamil kamu" ucap Papa.


" Really? Are you seriously Papa?" tanya Ayden heran.


" Ya... of course" jelas Mama.


" Hahaha.. tak apa mas, ini wajar dalam kehamilan. Dulu kata Ibu di kampung, kalau ada orang hamil makan beras konon katanya anaknya putih. Tapi itu hanya mitos sih. Dan kebanyakan karena dikampung, orang percaya saja dengan hal itu" ucap Rayina.


" Tapi kalau dilihat dari gen nya kulit coklat atau hitam ya sama saja keturunannya akan menjadi kulit coklat atau hitam" papar Rayina.


" Ya, itu hanya mitos saja bukan?" tanya Ayden lagi.


" Ya sudah sayang, sesudah habis beras itu. Jangan diulangi lagi atau ditambah lagi. Makan buah atau makan sayuran yang banyak gizinya" pinta Ayden.


" Aku berasa tidak mampu membelikan kamu makanan apapun. Hufts" keluh Ayden.


" Hahaha... boy, apakah dulu saat Ben dikandungan Ibunya kamu tidak mengetahui apapun yang Aleesha makan saat hamil?" tanya Mama penasaran.


" No, Ma.... setiap hari aku bekerja terus. Dia dijaga oleh suster. Karena rasa percayaku terhadapnya. Tetapi.. ya.. sudahlah.. sudah terjadi juga bukan? Sekarang aku menikmati peranku sesungguhnya" ucap Ayden.


" Selama tadi dikantor aku merasa mabuk berat dan itu membuatku sangat tidak nyaman dan lemas. Perut seperti diaduk - aduk tidak karuan. Membuatku memuntahkan segala yang telah aku makan. Bahlan yang paling membuatkutak berdaya saat perutku sudah kosong tetapi rasanya ingin memuntahkan sesuatu. Ternyata sangat berat menjadi wanita hamil" terang Ayden.


" Haha, aku sudah diwakilkan olehmu. Alhamdulillah bebanku sedikit berkurang" canda Rayina.


" Iya sayang, untuk itu jagalah anak kita. Makan yang bergizi. Jangan seperti itu!" ucap Ayden dengan menunjuk beras yang digenggam Rayina.

__ADS_1


Ayden kemudian meminta beras itu. Dan dia membuangnya ke sampah. Bukan berarti dia membuang sia - sia, karena itu sudah dipegang dan sudah kotor. Jika disatukan dengan beras yang lain maka bakteri yang didalamnya juga akan mengkontaminasi yang lainnya. Untuk itu dia membuangnya.


Setelah membuang itu, Ayden kembali membawa buah - buahan yang sudah dipotong. Diberikanlah buah - buahan itu kepada istrinya untuk dinikmati.


Selama di ruang keluarga mereka berbincang - bincang santai. Liona yang sedari diam dan menyimak, sesekali mengecek semua pekerjaannya.


" Aunty, Aruni sudah diberi obat?" ingat Liona.


" Ah.. lupa sayang. Tolong berikan obat itu. Aunty sudah meletakkan di tempat obat" Pinta Mama.


" Okay onty. Aku akan memberikan obatnya" ucap Liona.


" Tunggu Liona !" sergah Rayina.


" Lihatlah perkembangannya secara teliti. Apa saja yang sudah dia bisa. Bagaimana kerja obat itu" pinta Rayina.


" Okay boss" jawab Liona girang.


Rayina hanya tersenyum dan menggelengkan kepala pelan. Liona memang seperti dia saat remaja. Anak yang ceria dan sangat humble.


" Mas, Xano sudah menghubungi Devran" ucap Rayina.


" Benarkah?" tanya Ayden.


" Jangan terlalu dipikirkan. Dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Kamu hanya perlu mendapat laporan darinya bukan? Jadi tunggulah kabar darinya. Okay?" ucap Ayden.


Saat membahas itu Liona sudah kembali kr ruang keluarga. Dia seperti ada yang ingin disampaikan tetapi mungkin sangat sensitif. Jadi dia seperti kikuk dibuatnya.


" Kenapa kelinci kecil?" tanya Rayina lembut.


" Kakak sudah dapat info dari Devran?" tanya Liona ragu - ragu.


" Sudah" jawab Rayina singkat.


" Xano kemungkinan akan menyerang Devran kak. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Liona khawatir.


" Jika dia memang gentle man pasti akan dihadapi dengan sangat epik bukan?" jawab Ayden santai.


" Semoga Xano tidak melakukan tindakan yang diluar nalar kak" ucap Liona.


" Pa..." panggil Rayina.


" Ya baby... Papa sudah melakukannya. Tenanglah.. Papa sudah tahu apa yang kamu mau" ucap Papa.

__ADS_1


" Thank you Pa..." ucap Rayina.


" Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Kakak? Dan kenapa om sudah tahu keinginan kakak? Sungguh aku tidak mengetahuinya. Tapi aku yakin, kakak melakukan yang terbaik" batin Liona.


Rayina masih memikirkn Devran. Akan tetapi, suaminya yang selalu menenangkan. Karena Papa juga sudah turun tangan dalam penanganan ini. Sata mereka bercengkrama lagi tiba - tiba mbak datang. Dan mengatakan ada tamu.


" Papa..." pekik Liona senang.


Dia kemudian berhambur ke peluk Papanya, Rony. Rony sudah sangat kangen dengan anak semata wayangnya.


" Rumah sangat sepi kak, tidak asa singa kecilku ini. Jadi aku menyusul kemari" ucap Rony.


" Ya, kemarilah selama kamu mau. Jangan sibuk dengan pekerjaan terus Ron. Jaga kesehatannmu. Carilah istri. Hahaha" goda Papa.


" Papa..." tegur Mama.


" Om, Liona tidak mau punya Mama baru. Liona tidak suka Papa dikuasai Mama baru" tegas Liona.


" Haha, singa kecilku sudah protes kak. Lihatlah... dia merajuk" ucap Rony.


" Hahaha... gadis nakal" ucap Papa.


" Ah.. kebetulan ada om disini. Rayina minta bantuan om boleh?" pinta Rayina.


" Katakanlah nak.. " jawab Rony.


" Om, seberapa besar kekuasaan om di Malaysia?" tanya Rayina.


" Yang pasti lebih besar dari Papamu" ucap Rony bangga.


" Ahh.. baguslah. Kalau dengan perusahaan Exel besar mana om?" tanya Rayina lagi.


" Tentu punya Om kamu sayang" jawab Papa.


" Embb.. baiklah. Karena dua perusahaan di Malaysia adalah dua perusaahaan yang besar. Maka aku minta bantuan kepada kalian suhu..." ucap Rayina dengan menangkupkan dua tangannya.


" Apa itu.. katakanlah" ucap Rony.


" Devran dalam bahaya Om. Aku mau Papa dan Om mengerahkan semua orang untuk mengawasi Devran dan menjaganya. Bukan berarti aku menyepelekan kemampuan Devran. Tapi yang dihadapi Devran adalah Mafia kelas kakap. So, aku mau tidak ada terjadi sesuatu apapun terhadap Devran" terang Rayina.


Rony segera membuka ponsel canggihnya. Dia kemudian mendial nomor seseorang.


" Ya, hallo.. bereskan!!" perintah Rony.

__ADS_1


__ADS_2