Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
116.


__ADS_3

Liona memang hanya ingin menegaskan, bahwa apa yang dia pikirkan akan sama dengan apa yang diucapkan Papanya. Liona tahu, dia rindu dengan kehadiran seorang adik atau kakak. Bahkan dia menginginkan jika Papanya menikah kembali dan mempunyai anak dari istri barunya.


Tetapi itu hanya angan - angan Liona saja. Yang hanya inginkan saat ini adalah kebahagiaan Papanya.


" Ya, kita akan rawat Aruni sampai sembuh. Papa akan mengusahakan untuk kesembuhannya. Jadi Farhan, kamu tetap bisa fokus bekerja tanpa adanya hambatan. Dan ingat Farhan, keselamatan keluarga ini adalah juga tanggung jawabmu. Kamu paham? Bagaimana Rayina? Bolehkah om membawa Aruni bersama dan tinggal bersama kami?" terang Rony.


" Emmm.. begitu ya om? Tapi, untuk saat ini Rayina tidak mengizinkan siapapun membawa Aruni. Bahkan untuk menemuninya harus seizin kami. Maaf om, ini semua juga untuk keselamatan Aruni sendiri. Om tahu sendiri bagaimana Xano bukan? Jadi Rayina harap om bisa memahaminya. Dan satu lagi om, untuk kesembuhan Aruni insyallah aku akan mengusahakan semaksimal mungkin. Tapi, jika aku butuh bantuan dengan alat medis, aku tidak akan segan - segan meminta om dab saya mau alat itu kualitas terbaik" tutur Rayina.


"Baiklah nak jika itu yang terbaik. Jagaka Aruni untuk Om dan Liona. Karena janji om mulai saat ini akan om tepati. Yaitu untuk merawat dengan baik anak sahabat om ini" ucap Rony dengan mata berkaca - kaca.


Baru kali ini Liona merasakan hal ternyuhnya yang terdalan kepada Papanya. Biasanya Papanya itu orang yang sangat untuknya. Tapi, sekarang sangat berbanding terbalik.


Rony sadar, segala bentuk rasanya akan menyakitin hati putri semata wayangnya itu. Dia kemudian menyadari dan segera mengedarkan pandangan ke arah singa kecilnya, Liona.


Terlihat dari wajahnya yang sendu, kelopak matanya yang sudah sembab karena sedari tadi menitikkan air mata laksana air terjun niagara.


" Sayang, maafkan Papa nak. Papa tidak bermaksud untuk..." ucap Papa menggantung.


" It's okay Pa, aku tidak sakit hati ataupun tersinggung. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti Papa" ucap Liona datar.


" Maaf, Papa hanya akan menjalankan janji Papa kepada Papanya Aruni. Papa berjanji akan merawat dan menjaga Aruni. Aruni akan menjadi keluarga kita " terang Rony.


" Ya, Pa.. jika itu memang keputusan Papa. Dan aku akan selalu mendukung Papa jika itu membuat Papa bahagia. Tapi tolong dukung aku melakukan semua yang aku mau Pa..Please" pinta Liona.


" Baiklah untuk putri kecil Papa. Papa akan selalu mendukung yang terbaik" ucap Rony ikhlas.

__ADS_1


" Okay Aruni, kamu sudah mendengar sendiri bukan? Banyak orang yang sayang denganmu. So, kamu harus berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan dieimu sendiri. Kita semua disini selalu mendukungmu dan memberikan yang terbaik. Kamu tahu apa yang aku maksud bukan? Itu artinya kamu harus membalas semua yang sudah kami berikan. " Hutang" ya itu yang aku maksud" Papar Rayina tegas.


Aruni tampak murung, dia tahu tidak akan mudah mendapatkan uang sebanyak itu. Untuk mengganti semua biaya pengobatannya. Pasti dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Mengingat semua fasilitas serta obat yang terbaik yang Rayina berikan.


Rayina tahu, Aruni memikirkan soal materi dan yang lainnya yang berhubungan dengan fasilitasnya yang selama ini dia rasakan.


" Bukan soal uang, tapi berjanjilah menjadi Aruni yang baru, Aruni yang kembali seperti bayi. Dan bayarlah hutangmu dengan pengabdianmu, menjadi bagian dsei keluarga ini dan tanpa adanya penghianatan. Kamu mengerti?" terang Rayina.


Aruni hanya menjawab dengan anggukan dan derai air mata yang menganak sungai. Bagai dahaga di tengah gurun sahara, adanya setetes embun yang menyejukkan jiwa.


Meneladani sikap yang Rayina berikan untukknya membuat hatinya semakin merasa kecil. Hati seluas samudra itu telah dimiliki pemilik hati nan cantik, Rayina.


Bukan tanpa eja tapi dengan nada dia memberikan seluruh kasih sayangnya secara merata. Kebaikannya bukan hanya keegoisan diri untuk keselamatannya melainkan totalitas yang dia lakukan untuk keselamatan seluruh orang disekitarnya.


Bukan hanya dua jempol untuknya, melainkan banyak jempol dari orang - orang yang sangat menyayanginya. Sehingga tidak ada alasan untuk selalu mengatakan dia bidadari yang dikirim tuhan untuk keluarga ini.


Ayden dengan hanya tersenyum dan bersender di kursi dengan memperhatikan setiap gerakan dan ucapannya yang tegas dan pasti. Melihat dari matanya uang tajam dan penuh keyakinan, Rayina memang wanita yang tepat untukknya. Untuk keluarga kecilnya.


" Ron, kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Irfan yang sudah berada di ambang pintu tanpa ada seseorang yang tahu dengan kehadirannya.


" Ya, tentu Bang.." jawab Rony yakin.


" Jagalah dia seperti anakmu sendiri. Dia abak yatim piatu, tidak ada sesiapapun yang diridhoi untuk menyakitinya. Kamu tahu itu kan Ron?" tanya Irfan menegaskab.


" Ya, bang.. Aku pun mempunyai anak piatu yang selalu aku dekap erat dalam pelukku. Tetapi dia selalu ingin menjauh dari pelukanku bang" curhat Rony.

__ADS_1


" Liona, dengarkan Papamu. Dia sudah tua. Saatnya kamu memimpin. Kamu paham apa yang Om maksud bukan?" ucap Irfan.


" Maaf Om, untuk saat ini Liona masih ingin kenuntaskan misi bersama kakak. Setelah misi ini deal Liona janji akan memenuhinya" ucap Liona janji.


" Baiklah, singa kecilku... Papa tunggu janjimu" jawab Rony.


Semua sudah terbuka lebar jalan yang sebenarnya. Aruni sudah terbuka matanya untuk yakin menatap jauh kedepan dengan misi yang sama dengan keluarga ini. Ya, tentu saja tujuannya adalah bersama menghancurkan Xano.


" Mas, Devran bagaimana?" tanya Rayina terhenyak.


" Tenang kakak, aku sudah menerima signal dari suruhan Papa. Kita bisa menyaksikannya dari proyektor ini" ucap Liona.


Segera Liona menyalakan semua penghubung dan rekaman yang sudah dia dapatkan secara langsung dari anak buah Papanya.


Semua mata tertuju kepada proyektor yang sudah menyala. Denga sangat teliti mereka tanpa melewatkannya barang sedetik. Rayina yang santai melihat adegan itu sudah pasti mengira bahwa Xano akan melakukan kecurangan kepada Devran.


" Rayina memang sangat tepat !!" ucap Rony.


" Ya, itu pasti sudah diperhitungkan dalam setiap pikirannya. Menantuku bisa berpikir dua langkah kedepan lebih jauh" ucap Irfan.


Tiba - tiba Aruni terlihat melemparkan barang. Sebagian memperhatikan Aruni, sebagian memperhatikan layar proyektor.


Mata memerah dan segera menitikkan air matanya saat melihat adegan itu. Rayina dengan cepat menanggapinya. Apakah ada sesuatu yang akan dia katakan.


" Ada apa Aruni? Kamu mengenalnya?" Apakah dia berbahaya?" tanya Rayina memberondong.

__ADS_1


Aruni menitikkan air matanya disorot matanya tersimpan dendam yang termaat dalam bahkan rahasia kesakitannya tertumpah ruah di sana.


__ADS_2