Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
81.


__ADS_3

Semua orang dirumah ini terasa sangat bingung. Kalut dan sebagainya yang meliputi pikiran masing - masing.


" Uncle, aunty, Dev. Ada yang bisa dijelaskan?" tanya Kevin penasaran.


" Vin, Ayden siang tadi melakukan penerbangan ke UEA. Dia tugas saat ini. Dan baru saja ada berita tentang kecelakaan pesawat itu. Istrinya mendengar berita itu tiba - tiba pingsan dan jadilah seperti ini. Dan bandara tempat Ay bekerja belum bisa dihubungi saat ini karena sangat sibuk" terang Irfan.


" Oh.. God.. Dev lakukan sesuatu. Pergilah ke bandara" pinta Kevin.


" Ah.. iya.. benar kata Kevin. Pastikan semua itu" pinta Mama.


Tak lama Rayina sadar dari pingsannya. Rasa pening dan berputar masih ada du kepalanya. Dia mengingat - ingat apa yang terjadi. Tak terasa air mata menetes di pelupuk matanya.


" Ma.." ucap serak Rayina.


" Oh.. sayang... Are you okay?" tanya Mama khawatir.


Rayina mengernyitkan dahinya melihat sosok Kevin. Selama ini belum pernah Rayina lihat orang tersebut.


"Dia memakai baju putih seperti dokter. Apakah dia dokter keluarga ini? Siapa dia?" batin Rayina.


Mata yang tertuju ke arah Kevin membuat semua orang tahu apa yang dipikirkan Rayina. Secepat mungkin Kevin mengulurkan tangannya.


" Hai, kakak ipar. Aku Kevin. Dokter keluarga ini sekaligus keponakan uncle" Kevin mengenalkan diri.


" Oh.. Hai.. Aku Rayina. Istri Mas Ayden" jawab Rayina.


Seketika Rayina teringat kembali dengan berita yang tadi sudah ditayangkan di televisi.


" Ma.. ma... Pa.. Pa... bagaimana dengan mas. Apakah kalian sudah menghubungi. Tolong aku Ma Pa" rengek Rayina mengiba.


" Tenanglah dulu sayang. Dengarkan Mama. Mama tahu ini sangat berat buat kamu. Tapi, Mama yakin kamu wanita yang kuat. Sayang.. saat ini kamu sedang mengandung anak kalian. Anakmu dengan Ayden. Jadi, kamu tenanglah. Kasihan yang ada di dalam perutmu jika kamu stress" terang Mama.


" Anak?? Ma... benarkah?" hiks ... hiks..." ucap Rayina.


Dia tidak tahu bagaimana menyikapi ini semua. Haruskah bahagia atau sedih. Rayina hanya bida menangis sesenggukan. Dia tidak menyangka kebahagiaan yang dia rengkuh ternyata mendapatkan cobaan yang begitu menyakitkan.


" Pa, bantu Rayina..." pinta Rayina dengan menangis sesenggukan.


Ketakutannya kehilangan suaminya kini menggelayuti kembali. Dulu dia sudah pernah kehilangan suaminya, Ayah Ganesha. Dan sekarang???

__ADS_1


" Bunda, jangan menangis. Aku akan selalu menjagamu apapun yang terjadi" ucap Ben menenangkan.


" Sayang, don't cry again ya.. Devran saat ini masih ke bandara untuk mencari info tentang suamimu" terang Papa.


" Kita disini berdoa bersama supaya Ayden tidak apa - apa dan dalam kondisi yang baik. Amin" tenang Mama.


Rayina hanya diam mengangguk dan menunduk. Hanya doa yang selalu dia panjatkan. Dia harus bertahan dan.kuat untuk anak - anaknya.


Masih banyak tanggung jawab yang ada di bahunya. Semua yang ada dirumah ini adalah tanggung jawabnya. Dia merasa harus kuat dan harus bertahan.


Sementara di heathrow ..


" Selamat sore, saya mau menanyakan informasi mengenai berita tentang jatuhnya pesawat di laut merah yang rencananya akan mendarat di UEA. Bagaimana perkembangannya? tanya Devran cemas ( tentu saja dalam bahasa Inggris saat bertanya. Tetapi karena banyak readers yang mengusulkan Bahasa Indonesia, untuk itu langsung author translate ke Indo aja ya).


" Apakah anda salah satu dari korban yang ada di peswat itu?" tanya petugas bandara.


" Saya adik dari Mr. Ayden. Flight Engineer" terang Devran.


" Dev, kenapa kamu kesini?" tanya seseorang dengan menepuk pundaknya.


Devran hanya melongo tak mampu menjawab taupun berkata apapun. Matanya kini hanya mengembun. Pelupuk matanya tak mampu menahan embun yang sudah menjadi buliran yang siap jatuh ke pipinya.


Dia tidak mengucapkan atau menjawab seseorang itu, dan hanya bisa memeluk erat.


" Alhamdulillah....Ya Rabb" ucap Devran.


" Bang, are you okay?" tanya Devran.


" Fine.. see? Lihatlah !" ucap Ayden.


" Bang... tapi... tadi... berita itu..." tanya Devran terbata.


" Ayo kemarilah duduk dulu. Dan jelaskan dengan baik" ucap Ayden.


" Kamu dengar berita di televisi ya?" tanya Ayden kembali.


" Iya bang, semua orang dirumah sangat khawatir. Apalagi nomor abang tidak aktif. Tambah semakin khawatir" terang Devran.


" Maaf ya, tadi lowbat. Sekarang masih abang cahrger. Ya sudah pulanglah. Abang baik - baik saja. Eh.... jangan katakan apapun ya" pinta Ayden.

__ADS_1


" Maksud abang?" Devran bertanya dengan penasaran.


" Pulang lah. Dan katakan belum ada berita lagi. Aku sebentar lagi akan pulang. Dan akan membeli beberapa hadiah untuk Istriku karena besok adalah ulang tahunnya. Nanti malam aku akan membuat surprise untuknya" terang Ayden.


" Baiklah bang. Perlu bantuan?" tanya Devran.


" Embbb sepertinya ..." Ayden kemudian membisiki sesuatu kepada Devran untuk menjalankan suprisenya.


Devran kemudian pamit pulang, sedangkan Ayden masih ada satu pekerjaan yang harus dia selesaikan. Selanjutnya Devran tidak pulang. Dia harus berkeliling dulu. Semua sudah dia rencanakan untuk kakak iparnya.


Orang suruhannya sudah menyiapkan apa yang dia minta. Untuk selanjutnya dia akan menjalankan aksinya.


Kembali ke mansion...


Rayina masih gelisah dengan bagaimana kabar suaminya saat ini. Devran pun juga belum kembali. Ganesha yang sudah mulai rewel tambah membuatnya semakin bingung.


" Mbak.. please.. help me" pinta Rayina agar Ganesha bisa tenang.


Ben yang masih mencari di sosial media dan lain sebagainya untuk menemukan Ayahnya. Dia merasa tanggung jawab dengan perkataan akan menjaga bundanya saat Ayahnya tidak ada.


Untuk fokus di cctv dan pengaman lainnya itu tidaklah mungkin. Semua orang sibuk dengan pikirannya masing - masing.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Rayina.


📩 " Keluarlah! Ambil Box didepab rumah! jangan ada yang mengetahui atau bahkan mengikutimu"


Rayina hanya berpikir orang iseng. Tetapi pesan itu dikirim lagi oleh orang yang tidak dikenal. Karena nomor ponsel tersebut juga tidak mengenal.


Rayina hanya mengikuti permintaan pesan tersebut. Dia berpikir penjagaan diluar sudah sangat ketat dan aman. Dia hanya ngeloyor keluar tanpa pamit dengan mertuanya. Sedangkan mertuanya masih sibuk dengan pikirannya masing - masing dan ponselnya.


Rayina keluar dengan perasaan yang sangay hampa. Sebenarnya pesan apa lagi yang sedang dia terima. Masih dalam keadaan yang seperti ini tetapi musuh menyerang, pikirnya.


" Tumben.. Kenapa sepi sekali..." Rayina tengak tengok di depan pagar rumahnya.


Merasa tidak ada siapapun yang dicurigai atau ada barang apapun yang dicurigai. Rayina beranjak akan kembali ke dalam rumah. Seketika, sebuah mobil dengan beberapa orang yang tidak dikenal. Mengenakan pakaian hitam dan penutup kepala dengan beberapa senjata baik pistol atau pisau.


Pistol tengah mengarah di perutnya. Sehingga Rayina tidak mampu berkutik. Padahal semestinya dia bisa melawan dengan bela diri yang dia punya.


Tetapi entah kenapa pikirannya sangat buruk. Dan dia tengah mengandung anaknya. Disamping itu dia masih menunggu kabar suaminya. Semua menjadi satu. Sehingga otaknya tidak mampu bekerja sama dengan tubuhnya.

__ADS_1


Alhasil, Rayina di culik oleh segerombolan orang tidak dikenalnya..


__ADS_2