Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
162.


__ADS_3

" Hmm" jawab Rayina dengan tersenyum.


" Tapi sepertinya ini lebih besar ya bu?" tanya Mbak selanjutnya.


" Iya Mbak. Bagaimana tidak, dua baby disini" jawab Rayina dengan mengelus perutnya.


" Mbak, sepertinya kita akan kembali ke Indonesia" ucap Rayina kemudian.


Mbak hanya diam dan mencerna setiap ucapan nyonyanya. Sepertinya saat ini dia hanya bisa berangan - angan untuk ikut kembali ke tanah airnya. Karena semua sudah diatur oleh tuannya.


" Mbak...Mbak" panggil Rayina dengan sedikit mengguncangkan badannya.


" Eh... maaf bu" jawab Mbak.


" Kenapa? " tanya Rayina singkat.


" Tidak apa - apa Bu" jawab Mbak meyakinkan.


" Hmm, Mbak akan ikut ke tanah air" ucap Rayina santai.


" Ahh... benar begitu Bu?" tanya Mbak berbinar.


Rayina tahu, Mbak melamun karena sedikit sedih teringat akan tanah airnya. Ya, walau sebatang kara Mbak juga rindu dengan tanah kelahirannya.


" Tentu !! Kalau tidak ada Mbak, anak - anak aku percayakan kepada siapa? Walaupun nantinya akan ada pengasuh lainnya bukan? Tapi aku lebih percaya padamu Mbak" terang Rayina.


" Terima kasih Bu, atas kepercayaan yang diberikan" ucap Mbak dengan mantab.


" Ya sudah, cepat kita selesaikan ini. Aku sudah agak kedinginan Mbak" pinta Rayina yang terlihat sedikit memucat.


Mbak yang melihat wajah nyonyanya nampak sedikit khawatir, sebab bibirnya mulai sedikit membiru. Dengan cepat Mbak membersihkan dan membantu berpakaian. Tak lupa Mbak memberikan minyak kayu putih sebagai penghangat tubuh.


Selesai mandi Rayina kembali ke ranjangnya. Mbak kemudian memberikan meja yang sudah berisi berbagai macam makanan dan tak lupa susu hamil yang sudah disiapkan dokter Vero.

__ADS_1


Rayina segera menyantap sarapan paginya dengan tenang. Mbak kemudian mengeringkan dan menyisiri rambut nyonyanya. Ya, Rayina selalu keramas jika mandi. Karena rambutnya tertutup hijab seharian penuh.


" Bu, ini sudah rapi. Apakah mau memakai hijab instan atau pashmina saja?" tawar Mbak.


" Instan saja Mbak. Lebih mudah dan leluasa juga" jawabnya seraya mengunyah makanan.


" Baiklah saya ambilkan" jawab Mbak singkat.


Mbak segera menuju wardrobe Rayina dan segera mengambil hijab yang diminta.


" Mi, terimakasih sudah menyiapkan susunya" ucap Rayina memecah keheningan.


" Sama- sama baby" jawab Vero tulus.


" Bisa ceritakan semuanya sekarang?" pinta Rayina.


" Ah.. masih ingat saja kamu!" ucap Vero.


" Mami bekerja di Rumah sakit Rony, karena juga belas kasihannya dulu. Singkat cerita, Mami adalah korban perkosaan oleh seseorang yang tak dikenal. Mereka menghabisi nyawa kedua orang tua Mami. Ya, mereka merampok seluruh harta benda yang kami punya saat itu"


Cairan bening dipelupuk mata kini sudah nampak. Tak terasa air mata yang ditahannya kini tumpah. Rayina yang melihatnya menjadi tidak tega.


" Mi, cukup!! Jika membuat Mami merasakan sakit dihati. Mami tidak perlu menceritakannya kepadaku" ucap Rayina merasa bersalah.


" Maaf Mi" ucapnya lagi.


" Tak apa sayang, itu masa lalu Mami yang selalu Mami tutupi dari dunia. Mami tidak bisa membuka hati Mami karena insiden itu. Mami merasa belum bisa menerima dengan semua yang sudah terjadi"


" Setelah malam naas itu, rumah kami di bakar habis oleh mereka. Dan aku dibawa mereka dan dibuang ke tempat sampah. Dengan berbalut plastik sampah dan tanpa menggunakan sehelai kainpun"


" Saat itu aku sangat lemah tak berdaya. Karena tidak hanya satu orang yang menggagahiku. Ada lima orang dan aku tidak mengenalinya sama sekali. Karena mereka memaki tutup kepala".


" Yang aku ingat salah satu dari mereka mendapatkan telepon dari seorang lelaki yang bermama Mr. X"

__ADS_1


Seketika bola mata Rayina membulat dan berhenti mengunyah. Apa yang ada di pikirannya saat ini adalah orang yang dimaksudkan sama atau tidak.


" Bu.." panggil Mbak yang melihat Rayina mencacah makananya.


" Eh... Ya mbak?" jawabnya gugup.


" Kenapa baby? Ada masalah? Apakah kamu mengenal Mr. X?" tanya Vero.


" Mi, saat ini aku tidak tahu Mr. X yang mami maksud sama dengan pikiranku dan dugaanku atau tidak. Yang pasti orang itu menggunakan nama samaran. Dan keluarga kamipun mendapatkan musuh yang sama Mr. X" terang Rayina.


" Baiklah kita simpan dulu pikiranmu. Mami akan melanjutkannya. Karena Mami merasa nyaman saat diskusi denganmu" ucapnya.


" Saat di tempat sampah, aku sudah lemah tak berdaya. Ketika itu ada seseorang yang membuang sampah dan melemparkannya tepat di badanku. Seketika entah dari mana kekuatan itu muncul aku bisa mengeluh " Ah" dengan sedikit keras"


" Seketika orang itu berbalik dan mencari sumber suaraku. Dan dia terbelalak melihat kondisiku. Dia kemudian mendekatiku dan mengecek apakah aku masih hidup atau mati"


" Saat mengetahui aku hidup dia mengatakan akan memanggil tuannya sebentar meminta bantuan. Dan dia memanggil Rony untuk membantuku".


" Saat itu Rony masih muda belum menikah. Dan dia membantuku dengan tulus. Dia masi merintis bisnisnya. Belum sekaya saat ini. Dan dia merawatku, memberikan tumpangan hidup dan juga menawariku untuk melanjutkan studyku"


" Karena saat itu Mami masih semester awal kuliah di kedokteran. Dan Rony membatu biaya kuliahku hingga selesai. Dia bekerja siang dan malam untuk memenuhi hidup kami. Lambat laun seiring berjalannya waktu, keluarga meminta Rony menikah dengan wanita pilihan orang tuanya"


" Karena saat itu aku tidak mengetahui bahwa Rony menaruh hati kepadaku. Dan dia juga tidak mengungkapkannya kepadaku. Aku juga menganggap Rony sudah seperti abangku sendiri"


" Wait Mi !! Apa dari pemerkosaan itu, Mami tidak mengalami kehamilan? Maaf Mi jika pertanyaanku lancang" ucap Rayina.


" Untungnya saja tidak Baby. Karena saat itu aku dalam masa tidak subur. Setelah ditemukan Rony, dia paham dengan apa yang sudah terjadi padaku dan meminta dokter memberikan obat penghambat kehamilan. Dan juga menyuntikkan obat penghambat kehamilan. Diminum dan disuntikkan"


" Alhasil, tidak ada pembuahan yang berarti. Tetapi saat itu aku mengalami pendarahan yang hebat karena perbuatan itu. Dan itu membuatku trauma yang cukup lama. Dan Ronylah yang membantuku keluar dari traumaku"


" Rony saat itu pulang kembali ke Malaysia dan mengatakan semua keinginan orang tuanya kepadaku. Saat itu aku merasa biasa saja. Dan bahkan mendukung keputusan orang tuanya. Aku juga berkata bahwa Rony sudah aku anggap sebagai abangku sendiri"


" Mungkin dari jawaban itu dia tidak mengungkapkannya. Dan dia segera menikahi gadis itu. Gadis mungil berparas ayu, seperti Liona. Bedanya Riana sangan santun dan lembut. Bahkan saat itu kami bersahabat sangat dekat. Sampai saat aku mendapatkan gelar profesor dengan sangat cepat. Karena kecerdasanku"

__ADS_1


" Saat itu Riana tengah hamil, dan aku yang merawatnya. Hingga insiden itu terjadi. Riana terpleset dari tangga rumah. Dan ketika itu terjadi pendaraha yang mengharuskan dia menjalani operasi dan segera mengeluarkan Liona dengan segera" terang Veronica sedih.


__ADS_2