Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
23. Indonesia


__ADS_3

Papa Ayden hanya diam dan tidak menjawab lebih jauh tentang hal itu. Dia tahu itu semua sudah berlalu. Dan yang lebih penting lagi anak lelakinya sudah bisa move on.


Papanya hanya diam dan segera menghabiskan makan malamnya. Mereka tidak melanjutkan bahasan tersebut.


Flash Back On


" Cari dan lacak, berikan laporan lengkap mengenai hal itu". Perintah Irfan, Papa Ayden.


Seseorang kemudian mengirimkan sebuah email kepada Irfan. Notifikasi berbunyi, Irfan segera membukanya.


Dia mengamati dengan seksama. Kemudian melihat foto - foto yang dikirim kepadanya. Segera dia meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


"Cari tahu pria ini, laporkan sedetil mungkin". Perintah Irfan.


Irfan menatap jauh keluar jendela kantornya. Dia ingin memastikan semuanya. Apakah tepat pilihan anak lelakinya itu.


"Kamu adalah cerminanku. Aku tidak bisa mengatur hidupmu. Sama sepertiku dulu. Sebisa mungkin aku mengetahui sebelum kamu terjatuh dalam kubang kembali" gumam Irfan.


Irfan kemudian membayangkan pernikahan Ayden dulu dengan Dania. Pernikahan yang penuh tentangan dari kedua belah pihak. Dania anak Wijaya, rival bisnisnya. Wijaya yang selalu menghalalkan cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Ambisius tapi licik.


Irfan tidak menyukai watak dan sifat Wijaya itu. Dania sebenarnya anak yang baik. Sebaik - baiknya masih ada darahyang mengalir dari Wijaya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu pikiran Irfan saat itu.


Ayden tetap memaksa Irfan akan menikahi Dania. Apalah daya Irfan tidak bisa berbuat apapun. Saat itu Irfan tidak menghadiri pernikahan Ayden dan dia juga tidak menginginkan itu terjadi. Tetapi Irfan menyuruh orang untuk mengamati semua yang terjadi.


Hingga akhirnya Dania mengandung Ben. Ayden pergi jauh menghidupi keluarga kecilnya dengan menjadi pilot and flight engineer. Dan sampai sekarang profesi itu digeluti. Semua embel- embel orang tuanya ditinggalkan.


Disaat Dania akan melahirkan ketuban sudah pecah. Hingga setelah Ben lahir. Dania mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan kematiannya. Sebenarnya saat itu Dania belum waktunya melahirkan.


Tetapi karena Wijaya memberikan obat peluruh kandungan. Agar Dania bisa keguguran dan bisa mengeluarkan bayi itu. Karena Wijaya tida sudi mempunyai darah keturunan dari Irfan.


Dania akhirnya meninggal karena pendarahan hebat setelah melahirkan Ben. Ben alhamdulillah bisa selamat dan sehat sampai sekarang.


Flash Back Off


Pagi harinya Ayden menyapa anak semata wayangnya.


Ayden :" Good morning baby boy".


Ben :" Morning ayah. When you come?".

__ADS_1


Ayden :" Last night . How are you baby?".


Ben :" Fine Ayah. And you? Oh.. ya.. When we go to Indonesia? Meet with my bunda?"


Ayden :" Ohh.. I'm fine too.To night. You are ready?"


Ben :" Really? I'm ready ayah. Packing now yah?".


Ayden :" Okay".


Mereka kemudian berkemas untuk persiapan kepergiannya ke Indonesia. Ayden sudah tidak sabar bertemu dengan Rayina. Ben tak kalah antusias bertemu dengan Rayina. Bahkan Ayden sempat kaget dengan Ben yang menyebut Rayina dengan sebutan Bunda.


Ayden merasa Ben sudah bisa menerima kehadiran Rayina di kehidupannya. Ayden merasa sudah lega. Bagaimana dengan anak Rayina? Apakah akan menerima mereka juga.


Ayden saat ini sudah sangat tidak sabar. Beberapa pesan dan missed call dari Rayina sudah masuk ke ponselnya. Dia hanya membacanya dan tidak membalas pesan tersebut.


Di Indonesia, seorang wanita yang merasa bersalah masih merenung. Apakah hubungannya akan selesai sampai disini? Yang diperjuangkan ternyata mengacuhkannya.


Tak terasa buliran air jatuh di pipi nya yang putih dan halus. Rayina menyeka air matanya yang sudah tak terbendung tumpah begitu saja. Rayina selalu memikirkan kesalahannya. Terasa beban di hatinya. Terasa sesak yang sangat menusuk hatinya jika mengingat dia tidak segera membalas. Sampai detik ini oun tidak ada balasan sama sekali.


Ayden dan Ben sudah bersiap ke Bandara. Tiket sudah dia kantongi. Sebenarnya Irfan sudah memberikan fasilitas pesawat pribadinya untuk pergi ke Indonesia. Tetapi Ayden menolaknya.


Ayden segera memasuki pesawat yang segera akan terbang ke negara tujuannya itu. Dua lelaki yang sangat tampan berjalan beriringan dengan senyum wajah yang terpampang.


Ben yang sudah sangat antusias bertemu dengan Rayina terlihat sangat bahagia. Begitu juga dengan Ayden. Tiap kali dia selalu menceritakan Rayina saat video call.


Ayden : " You happy boy?"


Ben :" Yes Ayah... ".


Ayden :" Good boy. You love bunda?"


Ben :" Yes love her so much ".


Ayden merasa sangat senang. Dia sudah memastikan bahwa anaknya setuju dengan hubungannya itu. Mereka terus berbincang hingga tak terasa pesawat sudah akan sampai. Mereka segera bersiap.


Tujuan utama mereka adalah Rayina. Tetapi saat ini masih malam, jadi mereka memutuskan menginap di hotel. Mereka menginap di kamar VIP. Saat ini Ben bukan anaknya tetapi sebagai sahabatnya. Ayden menanamkan itu karena agar tidak ada jarak diantara mereka tetapi ada batasan antara anak dan ayah.


Ayden bersikap sangat bijak dalam menghadapi anak semata wayangnya. Dia bisa menempatkan sebagai teman, ayah, dan bahkan orang yang dia butuhkan.

__ADS_1


Ayden :" Boy, we stay here now ya ? okay?".


Ben :" Okay ayah ".


Ayden :" Okay.. tomorrow Ayah call her. How about you Ben?"


Ben :" Does Ayah not have the bunda's home address ?"


Ayden :" I have boy. But we can give a surprise to her. Okay?"


Ben :" Reply Bunda message lah Ayah".


Ayden :" Hmm good idea".


Ayden kemudian membalas pesan Rayina. .


Ayden :"Okay, I forgive you dear. Don't you do it again. Okay?".


Rayina yang saat itu belum bisa tertidur mendengar ponselnya berdering. Kemudian dia membuka ponselnya. Matanya berbinar melihat pesan itu. Dia merasa tidak percaya Ayden susah membalas pesannya. Setelah empat hari lamanya tidak ada kabar apapun.


Rayina :" Thank you Ay. 😭".


Ayden :" What your plans for tomorrow sayang?"


Rayina :" Nothing, Why Ay?".


Ayden :" How you back to work?"


Rayina :" At 12.00 AM".


Ayden :" Oh.. okay lah.. Go to sleep now Sayang. This night in Indonesia right? Don't sadness again ya?".


Rayina :" Okay Ay.. Good night. Nice dream ya".


Ayden :" Good night too.. I love you unconditional sayang".


Rayina tidak membalas lagi. Rayina sudah membacanya. Dia masih merasa malu membalas cinta Ayden. Padahal rasa cinta itu sudah tumbuh. Walaupun belum pernah bertemu sama sekali.


Ayden yang tersenyum - senyum sendiri mengundang banyak tanya kepada Ben. Ben yang menyadari hal itu sudah sangat wajar. Ben seorang anak kecil yang berpikiran lebih dewasa karena dia hidup dengan aturan Atuknya yang sangat keras. Sehingga terbentuk Ben yang mandiri seperti sekarang. Tetapi jika dia bersama Ayden dia berunah seperti anak kucing yang selalu menempel kepada induknya.

__ADS_1


__ADS_2