
Bu Wati dan Pak Hendra duduk berdampingan. Sedangkan Rayina duduk bersebelahan dengan Rizky. Rayina segera mengambilkan nasi untuk Rizky, Pak Hendra dan Bu wati.
Mereka bertiga hanya saling memandang dan tersenyum. Entah apa senyum yang terukir diwajah ketiga orang tersebut. Rayina menyadari hal itu, tetapi dia hanya berfikir jika tamu adalah raja. Maka dia memberikan pelayanan terbaik saat menerima tamu.
Rayina : " Maaf Pak, Bu, Mas. Jika nasinya kurang silahkan bisa nambah lagi".
Rayina memberikan senyuman manisnya kepada tamunya dengan sikap ramahnya itu. Kemudian dia kembali menawarkan masakan yang ada. Mengambilkan apa yang diperlukan masing - masing tamunya.
Bu Wati :" Sudah nak, tak apa. Biarkan kami mengambil sendiri. Cucu gantengku juga sudah kepingin makan itu. Oh.. ya Mbak mana? Nak, Mbak suruh makan bareng kita saja".
Bu Wati memang tidak pernah membedakan status, derajat , ilmu, pangkat dan lain sebagainya kepada orang lain. Semuanya dimata beliau adalah sama- sama makhluk Tuhan.
Rayina :" Iya Bu, saya akan panggilkan. Mbak, sini . Makan sama - sama".
Mbak :" Iya Bu, terimakasih. Nanti saja. Silahkan dinikmati. Ganesha mau sama mbak?"
Ganesha : " Mbak, nyam nyam nini".
Rayina :" Tuh kan. Sudah Mbak, makan dulu. Pekerjaan nanti lagi".
Mbak :" Baik Bu, Ganesh sini sama Mbak"
Mbak seraya melambaikan tangan agar Ganesha mau mendekati dan duduk disampingnya. Mbak tahu takut mereka terganggu dengan tingkah Ganesha.
Bu Wati sudah banyak mendapat sejuta jawaban kenapa anak lelaki satu - satunya ngotot meminang Rayina. Wanita sholeha, lembut, keibuan, sopan, teduh. Benar - benar sosok idaman.
Tak lain dengan Pak Hendra yang sudah menaruh hati dengan sikap Rayina dan keramah tamahananya. Dia paham benar pilihan anak lelakinya itu.
Sedangkan Rizky sangat menyukai Rayina. Terlebih dengan sikapnya dan perhatiannya. Semakin Rizky menambah level kecintaannya kepada Rayina.
Sesekali mereka bersenda gurau di meja makan. Rizky menghujani banyak pertanyaan dan sebaliknya Rayina pun memberanikan diri bertanya apapun tentang Rizky.
Pak Hendra sudah yakin dengan pilihan anak lelakinya itu. Setelah mereka menikmati makan malam. Mereka kembali keruang tamu sejenak. Dan kemudian berpamitan untuk pulang kerumah. Karena hari sudah malam.
Ganesha juga sudah tampak mulai ngantuk. Dan selalu bergelayutan di gendongan Rayina. Melihat hal itu ingin rasanya Rizky segera membopong Ganesha untuk menidurkannya.
Apalah daya, Ganesha kalu mau tidur harus selalu menempel pada Bunda kesayangannya itu.
Rayina merasa lega dengab jawabannya. Rayina bisa menolak secara halus. Jika dia jodohnya maka akan didekatkan. Jika tidak pasti akan dijauhkan.
Mbak :" Bu, apakah jawaban Ibu sudah benar? Maaf saya lancang menanyakan ini kepada Ibu. Bagaimana dengan Pak Ayden?"
__ADS_1
Rayina :" InsyaAllah Mbak, saya menolak secara halus. Biarlah dia memahami saya. Dan jika jodoh pasti akan bertemu. Lagian saat ini Ayden kan masih melamar. Kita tidak tahu kedepannya bukan?"
Mbak :" Baiklah Bu. Jika itu yang terbaik buat Ibu".
Rayina :" Bagaimana menurut Mbak tentang Mas Rizky?"
Mbak :" Baik, ganteng, seperitnya lelaki sholeh Bu".
Rayina :" Menurut mbak, pilih yang mana?"
Mbak :" Pilih semua Bu, lah ganteng semua. Hehehe".
Rayina hanya menepuk jidatnya pelan dan tertawa terkekeh mendengar jawaban Mbaknya itu. Rayina berguman 'dasar gadis polos'.
Rayina segera membereskan dan membersihkan semuanya. Tak lupa setelah itu mereka berdua mengambil wudhly untuk melaksanakan sholat Isya'. Sedangkan Ganesha sudsh tertidur pulas setelah diberikan dot susu kesayangannya.
Sebenarnya hati Rayina sangat galau. Rayina kemudian mencerna semua yang dia alami. Dia terus mengaduh kepada Sang Pencipta. Segala kegundahan hatinya sedikit berkurang.
Rayina seorang hamba yang taat. Sholat sunnah yang selalu dijalankannya pun seakan tidak pernah putus. Rayina kembali mengaduh di sepertiga malamnya.
Tak henti - hentinya Rayina berdoa kepada Sang Khalik untuk memastikan hatinya. Segera mendekatkan jodohnya.
Rayina hanya mampu berkeluh kesah dengan bersujud kedapa Sang Pencipta. Setelah dia bisa berkeluh kesah, sedikit lega di hatinya terobati. Rayina segera pergi tidur memeluk anak semata wayangnya.
Pagi Hari di rumah Rayina.
Rayina dan Mbak sudah terbiasa bangun pukul 05.00 pagi. Semua segera beberes, masing - masjng dengan tugasnya. Rayina tidak pernah menuntut semua pekerjaan kepada Mbaknya. Dia sudah menganggap Mbaknya itu seperti saudara sendiri. Yang terpenting Mbaknya itu bisa menjaga Ganesha.
Rayina sangat beruntung bisa mempekerjakan Mbaknya itu Dia merasa cocok tidak ingin berganti dengan yang lainnya.
Tok
Tok
Tok
" Assalamualaikum "
Terdengar ketukan pintu dan ucapan salam dari balik pintunya. Rayina kaget dan terperanjat seraya menjawab salamnya. Sedangkan Mbak menjawab salam dan mendengarkan lebih dalam lagi.
Mbak :" Bu, apakah Ibu mempunyai janji? Atau itu tetangga kita? Atau siapa Bu?"
__ADS_1
Rayina :" Mbak, aku takut. Ayo Mbak temani keluar".
Mereka segera berpelukan berjalan beriringan untuk membukakan pintu. Sepagi ini ada orang mengetuk pintu. Siapakah dia ?
Rayina terus berjalan dan mengintip dari balik gorden jendela rumahnya. Seorang lelaki memunggungi pintu. Sehingga tidak nampak mukanya. Tetapi Rayina tidak asing dengan postur tubuh lelaki itu.
Rayina pelan - pelan membuka kunci pintu dan handelnya. Seketika tamu itu akan mengetuk pintu. Dengan tidak melihat bahwa pintu terbuka. Lelaki itu akan mengetuknya lagi. Dan terjadilah....
"Awwww" teriak Rayina.
Rizky :" Maaf Rayi, tak sengaja. Assalamualaikum Bundanya Ganesha".
Rayina :" Waalaikumsalam, Mas.. ngapain sepagi ini kesini? Apa ada yang tertinggal semalam?".
Rizky :" Ada, ini..."
Rizky seperti mengambil sesuatu dari sakunya dan melipatkan jarinya " saranghaeyo".
Rayina yang melihat kelakuan Rizky hanya bisa tersenyum. Dia kemudian menyuruh Rizky duduk di teras depan. Rayina takut akan omongan tetangga. Seorang janda yang didatangi ditengah pagi buta.
Rayina :" Mas, silahkan duduk. Saya bikinkan teh sebentar biar buat hangatin perut".
Rizky :" Ah.. baiklah. Rayi, segeralah ganti pakaianmu. Kita jalan pagi, ajak Ganesha dan Mbak juga ya".
Rayina :" Haa? Mas nggak salah? Ganesh belum bangun".
Rizky :" Benarkah? Sebentar lagi akan bangun" .
Mbak yang sudah tahu siapa yang datang segera bergegas membuatkan teh dan pisang goreng wijen kesukaan rayina.
Rayina segera masuk dan ternyata mbak sudah siap dengan semuanya.
Rayina :" Mbak setelah ini gantilah baju, ajak Ganesha juga kita jalan pagi. Tuh Pak kereta yang ajak".
Mbak :" Pak kereta? Baiklah Bu"
Rayina :" Mas Rizky, dia kan bekerja di Kereta Api".
Mbak :" Ah.. ibu.. hihihi. Ibu yang bawa minuman dan camilannya. Saya akan menyiapkan semuanya termasuk anak ganteng satu itu".
Rayina :" Okelah".
__ADS_1