
Mobil terus melaju menyusuri gelapnya malam. Kota nampak sunyi dikarenakan gelapnya telah menyapa. Hiruk pikuk orang pun tak nampak adanya. Hanya segelintir orang dan kendaraan yang berlalu lalang mengikuti arus kehidupan.
Ayden dengan tergesa segera menancapkan pedal gasnya. Sesampainya di rumah sakit bukannya masuk melah putar balik.
" Mas... mas..." panggil Rayina dengan memegangi pergelangan tangan Ayden.
" Ya sayang..." jawab Ayden sembari menepikan mobilnya.
" Kenapa? Masih sakit? Yang mana? Ayo kita segera ke rumah sakit" pertanyaan beruntun Ayden.
" Tidak mas... Alhamdulillah sudah baikan. Dan sepertinya kita balik kerumah saja. Besok baru kita panggil dokter kerumah. Bolehkah?" pinta Rayina.
" Are you sure sayang? Are you okay hmm??" tanya Ayden memastikan.
" Yaa mas. Alhamdulillah sudah baikan" jawab Rayina dengan mengusap dahinya.
Diikuti tangan sang suami yang mengusap bulir keringat yang sudah keluar tak beraturan itu. Menyeka seusap demi seusap. Menampakkan wajah pucat yang sedari tadi membuat jantungnya berpacu cepat melebihi kecepatan mobilnya.
" Baiklah sayang, jika itu mau kamu. Tapi jika terasa tidak nyaman kita ke rumah sakit" ucap Ayden.
" Kenapa suamiku menjadi tidak pintar ya? Bagaimana aku akan menguras uangmu mas? Untuk apa semua uang yang kamu kumpulkan itu? Bukankah untuk anak istrimu? Jadi kenapa tidak memanggil dokter untuk kerumah saja mas? Bukankah setiap kali ada yang sakit, dokter yang harus ke rumah? Tidak seperti sekarang bukan?" ucap Rayina panjang lebar.
" Ahhh shiiittt kenapa mas jadi bodoh begini ya sayang, saking paniknya jadi tidak terpikir sampai sejauh itu" ucap Ayden dengan mengusap kepala wanitanya.
Di rengkuhnya kepala itu dan dikecupnya pucuk kepala itu.
" Maaf, sudah membuatmu seperti ini sayang" sesal Ayden.
" Mas... sudahlah. Semua kan tidak sengaja. Sebenarnya perutku tadi kram saja. Tapi itu juga membuatku menahan kesakitan. Besok panggil saja dokter kerumah. Jika memang diharuskan istrahat aku akan istirahat mas" terang Rayina.
" Maafkan mas ya sayang. Lain waktu mas akan lebih berhati - hati lagi saat bercanda. Dan mari kita pulang" ucap Ayden lembut dengan mengusap tangan lembut sang istri.
" Iya mas" jawab Rayina dengan seulas senyuman terikhlasnya.
Ayden segera memutar balik mobil yang mereka kendarai. Tidak menyadari ada yang mengikuti mobilnya, Ayden hanya terus mengendarai dengan tenang.
Tetapi sistem mobilnya segera merespon ada mobil lain yang dicurigai. Sistem mobil ini di rancang untuk sensitif terhadap musuh atau benda asing yang mengikuti. Dengan sensor radius terdekat.
__ADS_1
Tiiitt....
Tiiitt...
Alarm mulai berbunyi, sistem bekerja dengan baik .
" Mobil bagus, aku menyukaimu. Kerja yang bagus guys!!" gumam Ayden.
" Kenapa mas?" tanya Rayina.
" Are you okay sayang?" tanya Ayden balik.
" Ya. Of course. Kenapa mas? Apa yang terjadi?" tanya Rayina semakin penasaran.
" Bersiaplah sayang. Ada musuh yang mengintai" ucap Ayden menjelaskan dengan membenarkan spion mobil.
Rayina segera menengok mobil tersebut. Mobil dibelakangnya sangat tidak asing untuknya. Mobil dengan keluaran terbaru dan dengan sistem canggih. Tetapi mobil belum mendapatkan sentuhan modifikasi dalam berbagai hal.
" Sepertinya aku kenal dengan pemilik mobil itu mas" terang Rayina.
Ayden segera menancapkan gas dan memasang mode "on" pada tombol tertentu. Mobil melaju dengan kecepatan sangat kencang. Dan bisa menghindari mobil lain yang melintasi dengan cepat.
Kini jarak antara si penguntit sudah sangat jauh. Ayden segera memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah. Dia masuk ke garasi mobil yang di bawah. Dan segera meminta Farhan bersiap.
" Farhan bersiaplah !!! musuh mengintai. Semua dalam kondisi siap. Sayang tolong perintahkan seluruh anak buahmu untuk berjaga" pinta Ayden.
" Harus sekarang banget nih mas? Tidak bisakah aku minum jus dulu?" tanya Rayina meledek.
" Sayang... please" pinta Ayden memohon agar tidak bercanda.
" Mas, don't worry. Okay? Jangan terlalu serius mas. Santailah sejenak. Aku bisa menghadapinya. Okay??" ucap Rayina santai.
" Tapi dia pasti akan ke sini sayang. Jangan gegabah menggampangkan sesuatu. Ingat di perutmu ada dua nyawa yang bergantung dari dirimu" ucap Ayden yang nampak serius.
Rayina sedikit kesal dengan ucapan suaminya yang sedikit meninggi dari biasanya. Walaupun begitu pasti memang situasi akan lebih rumit. Bahkan banyak sekali nyawa yang ada di dalam rumah ini.
Rayina segera membuka ponsel pintarnya. Di tekan tombol " warning " maka semua akan menerima pesan tersebut untuk segera waspada dan bersiap.
__ADS_1
Rayina menerima pesan dari tiap kepala satuan keamanannya. Semua dalam keadaan waspada dan bersiap. Tidak ada satupun gerakan yang mencurigakan dari seluruh anak buahnya. Mereka bersembunyi sesuai dengan arahan Rayina.
" Benar juga dugaan mas" ucap Rayina.
Rayina tidak sengaja saat memeriksa seluruh anak buahnya dalam keadaan siap. Dan ada sebuah mobil yang memang dikenalnya. Karena pemiliknya akhir - akhir ini sangat mengusik hidupnya setiap hari.
" Ishhh, dia lagi dia lagi. Kenapa harus dia yang selalu mengusikku? Dan disaat tengah malam begini. Penguntit tak tahu waktu" gerutu Rayina.
"Penguntit memang tidak tahu waktu kisanak" jawab Ayden dari belakang.
" Issh mas... kita kerjain saja sekarang. Okay?" ide Rayina.
" Tenanglah dulu sayang. Lihat dulu apa yang akan dia lakukan. Jangan terburu- buru. Mas juga mau bermain sedikit lah" ucap Ayden.
" Mas, jangan munculkan eksistensi mas dong !! Aku kan belum mau mas muncul" gerutu Rayina.
" Hmmm... " jawab Ayden setengah berpikir.
" Benar juga istriku. Bagaimana dengan Anthony jika aku sudah menunjukkan siapa aku. Bahkan rencana yang sudah aku sususn akan berantakan. Dan, dia akan semakin senang merebut istriku.Ah, bodohnya aku tanpa berpikir panjang" gumam Ayden dalam hati.
" Baiklah sayang. Sesuai titah yang mulia ratu. Hamba akan melaksanakannya" celoteh Ayden bercanda.
Mereka mengamati cctv dari ponsel masing - masing. Rayina sudah memasangkan seluruh koneksi ke ponsel suaminya. Dan Ayden juga sudah bisa mengakses untuk setiap jengkal di rumahnya.
Penguntit mulai turun dari mobilnya dan menunjukkan eksistensinya. Dia kemudian mendekati satpam rumah yang sudah ditugaskan. Satpam rumah merasa sudah siap saat apapun yang terjadi. Tetapi terlihat santai menanggapi penguntit.
Dari pantauan cctv memang tidaklah terdengar apa yang mereka bicarakan. Tetapi sebelum mereka bercakap, satpam sudah menyalakan klip on yang terhubung ke ponsel Rayina. Sehingga mereka bisa mendengarkan percakapan tersebut.
" Selamat malam pak?" tanya penguntit.
" Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam.
" Maaf pak, saya mau tanya. Apakah pemikik rumah ini seorang wanita? Dia wanita karir, dan mempunyai sebuah perusahaan?" tanya penguntit.
" Bapak bagaimana, seluruh penghuni di komplek mansion ini semunya pengusaha pak. Dan yang saya tahu dari ujung sana sampai ujung sana semua mempunyai perusahaan" jawab satpam berkilah.
" Oh.. begitu. Apakah saya salah alamat" ucap penguntit.
__ADS_1