Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
156.


__ADS_3

" Hmm" jawab Rayina dengan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


" Mas, aku haus" ucap Rayina selanjutnya dengan suara seraknya.


" Ya, Mas ambilkan. Sebentar " jawab Ayden lembut.


Segelas air mineral diberikan untuk istrinya. Memandang wajah ayu yang kini pucat menjadi hatinya begitu sedih. Bahkan perutnya yang mulai membuncit sudah membuatnya kelelahan.


Tubuh mungil itu sekuat tenaga menopang dua janin yang ada di perutnya. Ayden mengusap dan mengelus perut itu dengan penuh kelembutan. Sesekali dia mencium perut itu.


" Hay boy, hay gadisnya Ayah.. Jangan buat Bunda kesakitan ya. Kalian harus kuat dan sehat ya. Ayah dan bunda sayang kalian" ucapnya lirih di perut sang istri.


Veronica melihat hal tersebut hanya tersenyum. Melihat kasih sayang dan perhatian yang Ayden curahkan untuk istrinya membuat hatinya sedikit tercubit.


" Sesayang itu?" tanya Veronica singkat.


" Of course !! Ini istri dan calon anak saya!" jawab Ayden ketus.


Ayden sedikit tidak suka dengan pertanyan singkat itu. Seolah - olah dia meragukan Ayden dengan semua ini untuk istrinya.


" Hanya bertanya. Saya tidak menghakimimu !!" ucapnya lagi.


" Jika tiga nyawa ini kamu cintai dan kamu sayangi. Jagalah mereka sebagai jiwamu. Karena tiga nyawa itu akan menjadi yang paling berharga untukmu" ucapnya lagi.


" Anak pertama nyonya?" tanya Veronica lembut.


" No dokter, anak kami sudah dua. Dan ini anak kami yang ke tiga dan empat" jawab Rayina yang mulai teratur walaupun lirih.


" Oh" jawab singkat dokter Veronica.


" Dokter... embb" ucap Rayina ragu.


" Ya, sayang. Bertanyalah sesukamu. Karena aku sudah di bayar mahal oleh tua bangka itu!!" ucap Veronica geram.


" Tua bangka??" tanya Ayden mengernyit.


" Rony. Siapa lagi kalau bukan dia!!" kesalnya.

__ADS_1


" Berkuasa si berkuasa. Main perintah begitu saja!! Kadang tidak ada pikirannya memang itu si tua bangka. Memberiku waktu dalam waktu singkat untuk tepat waktu !! Huhh" omelnya terus menerus.


Rayina yang sudah paham akan hal yang terjadi antara Om Ronu dan dokter Veronica hanya tersenyum simpul.


" Tua bangka yang mengagumkan bukan?" goda Rayina.


" Heh.. kamu nyonya kecil !! Jangan sok tau!!" ucapnya ketus dengan muka memerah semerah tomat.


" Sayang, tua bangka itu membuat mukanya memakai blush on seperti itu kah?" ledek Ayden kemudian.


" Kalian !! benar - benar pasangan yang pas !! cocok !!" ucapnya sebal.


" Hihi... Emm dokter. Apakah dokter seorang dokter kandungan?" tanya Rayina kemudian.


" Ya, tentu. Kenapa? Apa kamu mendaftar menjadi pasienku?" jawab veronica dengan percaya diri yang tinggi.


" Bolehkah?" tanya Rayina memelas.


" Akan aku pikirkan" jawab Veronica kemudian.


" Aasshhhh ckkk!! Tua bangka!!" gerutunya lirih yang didengar Ayden dengan Rayina.


Rayina dan Ayden hanya terkikik geli sembari saling menatap. Tak di sangka ada dua orang yang sudah menua berkelakuan bak anak muda.


" Sayang, kau akan menjadi pasiennya. Jadikan dia prioritas utamamu Vero !! Kalau tidak aku akan memecatmu. Dan ingat, kamu tidak akan diterima bekerja di manapun. Semua asetmu akan aku ambil alih dan aku bekukan dengan mudah !!" ancam Rony.


" Ckk... Beraninya mengancam saja kau tua bangka !!" hardik Veronica.


" Embb baiklah, karena kamu adalah pasien prioritas. Maka aku yang akan selalu berkunjug kemari saat pemeriksaan rutin tiba. Jadi kamu canti, tidak perlu antri di rumah sakit. Dan... kamu akan aku pantau setiap harinya. Karena hamil baby twin itu sangatlah berat. Okay?" ucap Veronica.


" Baik dokter" jawab Rayina singkat.


" Bagaimana keadaanmu sayang? Bagaimana dengan cucuku? " tanya Rony khawatir.


" Dia baik - baik saja Ron. Babynya kuat dan hebat seperti Bundanya yangs elalu berjuang bukan? So, dia akan menjadi anak yang hebat juga. Tapi sepertinya ada masalah dengan obat sebelumnya Ron!" ucapnya kemudian.


" Obat ??? Ayden??" ucap Rony kemudian melirik ke arah Ayden mencari jawaban.

__ADS_1


" Obat itu diberikan oleh dokter di rumah sakit A. Karena biasanya Rayina diperiksa oleh pacar Kevin Om. Dan pacar Kevin saat ini sedang melanjutkan studynya kembali. Jadi kita terpaksa antri dirumah sakit A" ucap Ayden menjelaskan.


" Hm.. apakah kau bertanya obat apa itu?" tanya Veronica.


" Ya!! tentu saja. Dia mengatakan kalau itu obat pereda keram perut dan juga beberapa vitamin untuk ibu hamil dan lagi dia memberikan resep itu juga. Masih aku simpan resep itu" terang Ayden kembali.


" Kamu tidak menaurh curiga boy?" selidik Rony.


" Awalnya begitu Om. Tapi setelah melihat Rayina sudah tidak merasa kram lagi aku rasa obatnya cukup manjur. Dan aku tidak berpikir yang tidak- tidak" jawab Ayden.


" Vero, bagaimana?" tanya Rony penasaran.


" Obat itu sudah benar, tapi dosis yang diberikan itu terlalu banyak. Jadi ada beberapa otot di dinding rahimnya tidak mampu menerima secara berlebih. Ditambah pikiran, lelah dan teriakan yang sudah tadi disampaikan. Itu pemicunya. Dan alhasil kram terjadi. Jangan berikan lagi obat itu. Rayina tidak butuh obat - obatan" ucap Veronica.


" Dia butuh istirahat yang lebih. Berencana membuat liburan ide yang cukup lumayan. Tapi, setelah dia sudah dalam keadaan yang stabil" ucap Veronica.


" Ya, ide yang bagus. Aku dengar juga dari Irfan jika mereka tidak pernah bulan madu. Bulan madu di pulau om saja sayang. Di sana cukup enak dan nanti akomodasi akan Om lengkapi. Sebagai balas terimakasih untuk singa kecil Om yang nakal" ucap Om Rony tulus.


" Embb... nanti akan kami diskusikan om. Dan, dimana kelinci kecilku itu?" tanya Rayina lembut.


" Kak.." sapa Liona liroh dengan derai air mata.


Ya, Liona dan Devran sudah sedari tadi berada di ambang pintu. Mereka mendengarkan percakapan orang - orang di dalam. Dan dia sangat sedih saat tahu yang sebenarnya terjadi. Terlebih ini semua karena kesalahn dan ulahnya.


" Hmmm... kemarilah" ucap Rayina lirih dengan merentangkan kedua tangannya.


" Kakak... maafin Liona. Liona salah.. Maaf kak... Hiksss" isak tangis Liona.


Rayina yang terbaring lemas hanya tersenyum sembari mengusap punggung gadis kecil itu. Hanya kesalah pahaman saja, dan ulah usil si gadis kecil ini yang menjadikan semua menjadi drama.


" Sstttt sudahlah... " jawab Rayina lirih.


" Kakak maafkan aku. Please.. Aku tidak mau kakak begini. Gara - gara aku kakak jadi begini. Dan terimakasih atas semua yang kakak berikan untukku.. Hiks" ucap Liona dalam sesenggukan.


" Hey... it's okay girl. See, kakak tidak apa - apa. Hanya lelah, nanti juga baikan jika sudah beristirahat. Sebaiknya kalian kebawah. Acara akan tetap berlangsung. Kakak akan melihat melalui monitor. Jangan khawatir. Akan langsung tersambung di bawah. Jadi kalian bisa melihat kakak di sini. Okay?" jawab Rayina lembut.


" Kakak sangat sayang denganmu Liona. Dan kakak sudah menjadikan kamu sebagai adik kakak sendiri. Jadi, tidak ada kata salah dan benar. Semua hanya salah paham. Mengerti??" terang Rayina.

__ADS_1


__ADS_2