
" Any problem maddam? Can I help ?" tanya Farhan langsung.
" Oh.. ini hanya Nyonya ini membayarkan barang - barangnya dengan kartu tanpa batas. Dan ditoko kami hanya toko kecil. Saya meminta nyonya untuk memakai kartu yang biasa saja. Tetapi nyonya tidak punya yang lainnya" jelas pemilik toko.
" Oh.. Baiklah nyonya. Ini bisa pakai punya saya saja. Nyonya ini adalah istri majikan saya. Beliau baru saja tiba di negara ini. Dan tuan saya memberikan kartunya. Mungkin nyonya akan berbelanja sangat banyak" terang Farhan.
" Maaf saya potong. So, nyonya berasal dari Indonesia juga?" tanya Rayina penasaran.
" Yes, of course nyonya. Perkenalkan saya Halimah" jawab Halimah dengan mengulurkan tangannya.
" Oh ya, saya Rayina" sambut Rayina hangat.
" Terima kasih nyonya sudah bersedia mampir di toko kami. Lain kali berkunjunglah. Dan ini nyonya kartu nama saya" ucap Halimah dengan menyodorkan kartu namanya.
" Oh.. okey. Terima kasih. Mari nyonya Halimah. Saya pamit. Assalamualaikum " pamit Rayina dan segera menerima kartu namanya.
Mereka segera melaju ke pasar grosir sayuran. Rayina seperti melihat emas bertumpukan. Dia sangat kalap melihat yang ada di matanya. Dia sangat rindu dengan suasana pasar.
" Ohhhh.... fantastis" ucap Rayina lirih.
" Bunda, can I help you?" tawar Ben.
" No sayang, you just waiting on the car with mbak and Abang Farhan. Okay?" perintah Rayina.
" Okay bunda. I hope you take care lah" pinta Ben.
" Oh .. thank you sayang " ucap Rayina dengan memberikan sebuah kecupan manisnya.
" Mbak Siti ayo, masuk!" perintah Rayina.
Rayina segera membeli kebutuhan dapurnya. Dia mengabsen setiap sayur dan bumbu dapur lain yang dibutuhkan untuk dapurnya agar selalu mengepul. Bahan makanan untuk menu Indonesia dan menu orang bule dia beli. Rayina merasa menemukan surganya.
Ya, benar. Dia akan terasa sangat bahagia jika melihat sayuran, pasar, tawar menawar dan harga murah. Dan tentunya dengan kualitas sayuran yang sangat bagus.
Lauk pauk yang tak luput dari sisirannya pun sudah dia dapatkan. Beberapa kantong belanja sudah terpenuhi. Dia kemudian segera keluar untuk melaju ke tujuan selanjutnya.
Saat ini dia menguras seluruh isi uang yang ada di ATM supirnya. Karena kartunya tidak digunakan saat ini. Kartu tanpa batas yang diberikan Ayden tidak ajaib baginya.
Dia kemudian akan meminta kepada suaminya untuk mengganti semuanya. Siti yang melihat nyonyanya sangat antusias pun tidak menyangka.
Seorang nyonya besar mau sampai seperti ini. Berbeda dengan nyonya lainnya yang berada di dalam komplek mewah yang mereka tempati. Nyonyanya begitu sederhana dan sangat humble. Bahkan beliau tidak membedakan status sosial.
__ADS_1
'Bos, sepertinya nyonya sangat berbeda. Berbeda dengan nyonya yang dulu. Nyonya yang sekarang sangat sederhana dan sangat mandiri. Bos salah memeberikan kartu tanpa batasnya. Karena nyonya bukan orang yang maruk' batin Farhan.
Farhan kemudian memfoto semua kegiatan nyonya dan bos² kecilnya selama pergi. Farhan ditugaskan untuk menjaga anak dan istrinya serta menjadi mata - mata untuk mereka.
Farhan melihat nyonyanya dan pujaan hatinya membawa barang belanjaan sangat banyak segera membantu mengangkatnya. Bagasi mobil sudah dipenuhi belanjaan. Sekarang Rayina meminta diantarkan untuk membeli nomor ponselnya.
" Farhan, sekarang kita beli nomor ponsel ya?" pinta Rayina.
" Maaf Bu, sepertinya Bapaj yang akan membelikan nomornya. Ibu tunggu saja" terang Farhan.
" Ah.. baiklah. Sekarang kita makan saja. Cari restoran yang sesuai lidah kita. Ini sudah waktunya jam makan siang" perintah Rayina.
" Baiklah nyonya, saya akan membawa nyonya ke suatu tempat yang akan mengingatkan kita kepada kampung halaman" jawab Farhan.
Mereka kemudian menuju restoran yang di maksud. Rayina segera merebahkan punggungnya ke jok mobil. Dia merasa sangat senang hari ini. Bisa leluasa belanja. Bahkan dia merasa sangat boros. Gaji suaminya pasti akan habis jika dia begini.
'Ah,, tak apa lah sekali - kali ' batin Rayina.
" Sudah sampai Bu, silahkan" ucap Farhan.
"Ohhh waow... sepertinya lidah kita cocok. Selera Nusantara Restaurant" ucap Rayina dengan membaca plang restoran tersebut.
" Ohh sayangku tidur, My Boy you sleep also?" tanya Rayina kepada Ben karena Ganesha terlelap.
" No Bunda. I'm hungry now Bunda" papar Ben.
" Okay handsome. Come on.. we lunch now" ucap Rayina.
" Yeayyy.. okay Bunda" jawab Ben.
Mereka semua keluar dan segera memesan tempat untuk keluarga. Rayina segera meminta waitress untuk membagi menunya. Segera dia melihat menj yang ada. Matanya terbelalak melihat menu di buku itu.
" Ohh waow... amazing. Mbak, saya pesan sayur asem 1, pecak gurame 1, sambel terasi 1, tempe tahu serta lalapan seporsi ya, nasinya untuk 6 orang bisa?" ucap Rayina dengan bahasa Indonesia karena dia melihat waitressnya seperti orang Indo.
" Ohh.. Nyonya orang Indonesia juga? Baiklah nyonya, silahkan tunggu pesananya. Kami akan mengantarkan secepatnya. Dan untuk minumnya nyonya?" tanya Waitress.
" Lemon tea" Rayina
" Es teh " Mbak Siti dan Mbak rum bebarengan.
" Es jeruk" Farhan.
__ADS_1
" Jus strawberry 2" ucap Ben.
" Okay tunggu ya pesanannya" ucap waitress.
" Thank you" jawab Rayina.
Mereka menunggu makanan dihidangkan. Farhan yang tiba - tiba mendapatkan sebuah telepon. Dia kemudian keluar untuk mengangkat telepon tersebut. Sebelumnya dia meminta izin nyonyanya untuk mengangkat panggilan tersebut.
" Ya Pak. Baik. Baik Pak. Nanti saya sampaikan" jawab Farhan dengan mengangguk.
Farhan kemudian masuk dan langsung menyampaikan pesannya.
" Maaf Bu, Bapak telepon. Bos besar nanti malam sampai di London. Mereka akan menginap di Rumah Ibu" ucap Farhan.
" Bos besar?" tanya Rayina dengan mengernyit.
'Aduh, aku lupa kalau nyonya tidak tahu mengenai bos dan bos besar sebenarnya siapa' batin Farhan.
"Emmbb maksud saya Bos besar itu tuan Irfan dan Nyonya besar" jawab Farhan gugup.
" Oh.. baiklah. Haaa??? Papa dan Mama? Ya sudah segera kita makan terus pulang. Takutnya semua belum siap. Farhan, nanti kamu yang jemput Mama dan Papa bukan?" tanya Rayina.
" Iya Bu" jawab Farhan.
Makanan sudah datang dan segera dihidangkan. Mereka segera melahap makanan yang sudah tersedia. Mereka semua terlihat menikmati makanan itu. Karena selera mereka sama. Masakan nusantara yang sangat khas. Lidah mereka sama. Lidah orang kampung.
" Alhamdulillah.. nikmatnya. Akhirnya di negara ini aku bisa menemukan restoran sesuai dengan lidahku" celetuk Rayina.
" Farhan, Terima kasih. Bapak tahu bukan tempat ini?" tanya Rayina.
" Sangat tahu Bu, soalnya tempat ini adalah... " jawab Farhan menggantung.
Siti yang tahu arah jawaban Farhan segera saja dia mengalihkan pembicaraan. Jawaban dari Farhan sangatlah berbahaya.
" Adalah apa Farhan?" tanya Rayina kembali.
" Itu Bu, embbb" Jawab Farhan.
" Bapak memang suka makanan Indonesia Bu, jadi bapak sering makan kesini juga" jawab Siti cepat.
" Ahhhhh" kelegaan dihati Farhan.
__ADS_1