
BAB 6. Rahael
Sudah dari subuh, Rahael tersadar dari pingsannya, sesaat di liriknya jam yabg tergantung di dinding, "masih pukul lima pagi" guman Rahael sembari mengerjapkan netranya.
Rahael mengerjapkan matanya dengan heran, pandangan Rahael kini tengah memindai seluruh ruangan yang tengah di tidurinya, ruangan besar hanya ada satu tempat tidur dan beberapa perabot mewah.
Rahael dengan perasaan bingung berusaha
menggerakkan tubuhnya. "Au!" pekik Rahael lirih saat merasakan semua tulangnya terasa rontok, perlahan Rahael membuka selimut yang tengah di gunakan, Rahael sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya dan ketakutannya kian menjadi, saat mendapati keadaannya sedang tak baik-baik saja. Saat netranya menatap tubuhnya dalam keadaan telanjang. Apa telah terjadi sesuatu pada dirinya?" tanya Rahael pada dirinta sendiri.
Rahael dengan cepat kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Seketika tangis Rahael luruh. Apa yang terjadi? Lalu, siapa yang tega melakukan ini. Apa salah Rahael?" tanya Rahael lagi pada dirinya sendiri.
Rahael hanya bisa menangis dan menangis dan hanya ini yang dapat Rahael lakukan. Setelah cukup lama Rahael menangis, kembali Rahael membuka selimut yang di pakainya. Memandangi tubuh yang begitu banyak noda merah di sekujur tubuhnya, lehernya, dadanya dan, "au!" pekik Rahael mendesis sakit, saat hendak beringsut turun dari ranjang karena bagian intinya terasa sakit dan mengeluarkan darah.
Rahael diam sejenak, langkahnya terhenti di sisi ranjang sembari meringis menahan sakit.
Kini hanya air mata Rahael yang turun dan Rahael kembali merapatkan selimut pada tubuhnya.
"Ibu ... panggil Rahael lirih sembari terisak dengan suara yang tertahan, hanya satu nama Ibu yang Rahael panggil dengan tangisnya yang kian lama kian menjadi.
Rahael menangis tergugu lama dengan penuh penyesalan. Setelah lama menangis Rahael tak tahu harus berbuat apa, Kembali Rahael beringsut turun dengan perlahan, berusaha mengambil baju yang sudah ter onggok di atas ranjang. Perlahan Rahael melangkah dan merasakan sakit di bagian intinya, tak terasa air mata Rahael kembali menitik.
Dengan berjalan tertatih Rahael berusaha meraih ponsel dan tasnya di meja sampingnya masih dengan menahan rasa sakit. "Sakit Bu! Rahael sakit, Bu ... isak Rahael tergugu sendiri di atas ranjang.
Jam sudah menujukkan pukul sembilan pagi Rahael yang merasa tubuhnya tidak separah tadi berusaha untuk mengambil tas dan ponselnya yang tergeletak di atas meja, pandangannya kini tertuju pada kertas di atas meja. Rahael sedikit mendekat dan meraih kertas yang di atas meja, membacanya sesaat. Kembali Rahael terisak, tangis Rahael luruh lagi. Sesekali Rahael menepuk-nepuk dadanya pelan karena rasa sesak dan sakit di hatinya.
"Hiks, hiks, hiks ... "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Rahael di tengah kebingungan . Hingga terdengar ketukan di pintu secara tiba-tiba.
__ADS_1
Masih dengan takutnya Rahael beringsut secara perlahan dan dengan tertatih Rahael membuka pintu kamar. "Pagi Mbak!" sapa pelayan hotel.
"Kami dari pihak hotel mendapatkan pesan dari seseorang, maaf kami tidak bisa menyebutkan namanya, beliau meminta tolong kepada kami untuk membantu Mbak Rahael."
Rahael masih menatap bingung saat menyadari bahwa dirinya berada di Hotel.
"Mbak!" panggil Rahael dengan senyum yang di paksakan, "tolong carikan saya taksi Mbak dan tolong papah saya untuk turun kebawah," ucap Rahael berdiri dengan lemas.
"Siap mbak," jawab pelayan cewek itu.
Dalam beberapa menit Taksi yang di pesannya sudah datang dengan cekatan pelayan itu membantu dengan diam tak ada percakapan yang terjadi hingga tiba di lobi Hotel.
"Silakan Mbak," ucap pelayan sambil tersenyum dan membuka pintu mobil.
"Terima kasih Mbak," jawab Rahael.
Karena merasa di panggil pelayan itu berbalik "Ya, Mbak ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan Hotel pelan. Rahael hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Terima kasih, boleh kita berkenalan? Aku Rahael," ucap Rahael sembari mengulurkan tangannya.
"Saya Maya," ucap pelayan Hotel sembari menjabat tangan Rahael. "Sekali lagi terima kasih Mbak," ucap Rahael dan setelahnya saling mengangguk.
"Pak, tolong antar ke alamat ini ya!" ucap Rahael sembari berusaha menutupi lehernya.
"Baik Mbak," jawab supir taxi.
Supir taksi yang sedari tadi diam kini melirik melalui kaca mobil, saat ini Rahel tak peduli dengan pandangan supir taksi, biarkan dia berpikir yang bukan-bukan saat ini yang di inginkan hanyalah pulang.
__ADS_1
Tiba di halaman rumah Rahael diam sesaat, rumah terlihat sepi, sepertinya pagi ini suasana rumah sangat mendukung rumah dalam keadaan sepi, Bi Jum seperti biasa di antar Mang Udin ke pasar.
Setelah turun dari taksi Rahael berusaha berjalan sebaik mungkin tak ingin membuat curiga Bi Jum bila sewaktu-waktu bertemu.
Dengan langkah perlahan Rahael menuju kamarnya, saat ini di dalam kamar, Rahael langsung menuju kamar mandi, Rahael langsung membuka shower dan langsung mengguyur tubuhnya, berusaha membersihkan tubuhnya berkali- kali, di bilas di sabunnya lagi dan lagi hingga merasa tubuhnya mengigil kedinginan.
Di jatuhkan tubuh Rahael di bawah shower menangis sepuasnya di bawah guyuran shower, "hancur sudah harapan Rahael, masa depan Rahael dan kini aku bukan Rahael yang dulu, aku kotor, ternoda dan apa yang aku jaga selama ini sia-sia," cicit Rahael di sela-sela isaknya yang kian lama kian menjadi. Hingga ketukan di pintu kamar mandi mengejutkan Rahael.
"Non ... "panggil Bi Jum sembari mengetuk pintu. Hingga Bi Jum mengetuk untuk yang ketiga kalinya.
"Ya, Bi. Rahael baru datang terus mandi. Bi, bisa minta tolong! Setelah mandi Rahael pingin makan di kamar dan setelah itu tidur Bi."
Mendengar ucapan Nonanya yang sedikit tergugu membuat Bi Jum sedikit curiga, namun semuanya Bi Jum tepis dengan menjawab permintaan Nona kecilnya.
"Ya, Non. Bibi siapkan."
Bi Jum bergegas turun dan kembali membawakan sarapan Nona kecilnya ke dalam kamar. Melihat Nona kecilnya sudah tertidur dengan rambut basah dan menggunakan selimut. "Non. Bibi taruh di meja!" ucap Bi Jum sembari melirik Nona kecilnya. "Ya Bi, taruh saja di meja," jawab Rahel sembari menutup tubuhnya dengan selimut lebih rapat.
Setelah Bi jum keluar dari kamar dengan bergegas Rahael menutup pintu kamar. Bi Jum yang masih berdiri di depan kamar hanya dapat menghela napasnya dengan kasar dan kembali turun.
Setelah makan Rahael merebahkan dirinya di ranjang, saat ini yang di inginkan Rahael hanyalah tidur dan menghilangkan rasa sakit di tubuhnya.
Sembari berbaring Rahael berusaha mengingat apa yang terjadi yang Rahael ingat hanyalah saat Rahael setelah minum jus dari Mawan. "Apa ... Rahael tak melanjutkan ucapannya kini hanya isaknya yang terdengar hingga tanpa sadar ia tertidur dengan tangisnya.
Sudah hampir magrib tapi Rahael tak kunjung keluar dari kamarnya.
Bi Jum yang sedari tadi merasa curiga, kembali naik ke atas dan mengetuk pintu beberapa kali, merasa tak ada sahutan dari dalam kamar Bi Jum segera membuka pintu kamar Nona kecilnya, melihat Nona kecilnya berbalut selimut, seketika Bi Jum memindai wajah Rahael. Tatapan Bi jum sedikit berubah dan seketika Bi Jum menyerngitkan dahi tanda curiga .
__ADS_1
Rasa khawatir Bi Jum kian menjadi, Bi Jum lebih terkejut saat melihat Nona kecilnya merintih dan menangis walau matanya terpejam.