
Bab 125. Malam pertama
Pesta Rayhan sudah selesai pukul satu siang tadi dua pasangan yang sudah halal kini mereka tak sungkan-sungkan melakukan kemesraan di depan orang lain menarik Naya dari keramaian dan membawanya ke kamar dengan diam-diam, masih ada kerabat yang berkumpul namun tak menyurutkan niat Rayhan.
"Bang, masih siang saat Rayhan mulai mencium lembut bibir istrinya."
Pangutan yang menuntut membuat Naya kehabisan napas dan sedikit mendorong tubuh Rayhan. "Bang, sabar nanti malem ya," ucap Naya, kini Rayhan sudah menarik tubuh Naya.
"Ih ... Jangan begini Naya ...."
Terdengar ketukan di pintu sedikit keras membuat Rayhan melepaskan pelukannya
merapikan baju Naya yang sedikit berantakan dan membersihkan lipstik yang mulai memudar.
Kembali terdengar ketukan di pintu. "Ya, sabar," jawab Rayhan sembari membuka pintu.
"Enggak sopan, masih banyak tamu Rayhan," ucap Rahan tanpa di rem.
Naya langsung mencubit lengan suaminya, sementara Rayhan hanya tersenyum sembari berjalan ke luar mengandeng Naya.
Sanak saudara yang masih berkumpul tersenyum melihat kedatangan keduanya.
Satu persatu keluarga dari pihak Naya sudah mulai berpamitan.
"Pengantin baru, pelan-pelan buka kadonya," olok saudara Naya.
Mendengar olokan dari saudara Naya Rayhan hanya menggaruk kepalanya. "Sudah enggak tahan," ucap mereka serempak sebelum benar-benar pergi, kini yang ada tinggal keluarga inti
"Rahael dengan perutnya yang mulai membesar menghampiri Rayhan, "harus sabar Rayhan, ingat harus sesuai sunah. Ibu pulang dulu capek," ujar Rahael sembari mencium kedua anaknya, "mungkin Kakakmu dan adikkmu yang masih tinggal, bisa juga mereka menginap," ucap Ibu.
"Waduh ...."
"Kok aduh Rayhan, takut ganggu kamu," ucap Ibu.
Rayhan hanya tersenyum dan Naya tertunduk malu, toh tadi dia juga sudah merasakan serangan dadakan dari suaminya. "Ibu pulang dulu."
Keadaan benar-benar sepi dan hanya Kak Rahan dan Twin Al yang ada sedang kak Ais masih dalam pondok karena bulan depan kak Rahan juga menyusul. Melihat saudaranya saling berbisik timbul rasa curiga di hatinya,
"sudah sana masuk,"ucap Rahan, "ganti baju masak mau pake itu terus."
__ADS_1
Benar juga sedetik kemudian Ibu mertuannya memanggil, Rayhan ganti dulu baru duduk lagi. Rayhan berada di kamar. namun, Naya tak ada pihak mua sudah menunggu.
Saat keluar kamar Rayhan masih saja mencari istrinya, sedetik kemudian Naya muncul dengan berbagai jajanan, kapan kakak pulang tanya Rayhan, "ih. suka-suka aku Rayhan. Ya, kan Twin," ucap Rahan.
"Awas kalau kami kamu tinggal," ucap Rahan.
Masih ada tetangga satu dua yang datang
tak terasa waktu sudah isya. "Kak. ayo, shalat dulu," ajak Twin.
Mendengar itu kak Rahan langsung memberikan sesuatu dari sakunya, "nih titipan dari Ais, maaf katanya gak bisa datang."
"Hem, nanti di baca saja dan ini dari aku," ucap Rahan.
"Kak, ini dari Twin," ujar Twin sembari menyerahkan sebuah kotak besar entah apa isinya.
"Sudah kami sekalian pulang, Naya mana Tante," ucap Rahan.
Naya masuk ke dalam sebentar, tak lama kemudian kembali dengan sang Ibu, Tante kami pulang dulu," ujar Rahan sambil mencium tangannya, "kok, enggak menginap Twin, Rahan!"
"Maunya. Tante, tetapi kemantennya merasa terganggu," jawab Rahan.
"Ah. Rahan bisa saja," ujar Tante Maya.
Setelah Rahan pulang kini Rayhan masuk ke kamar, membuka kado dari Twin Al, "ada-ada saja mereka, dan kini membuka dari Kakak mereka sesuatu yang tipis dan kecil dengan tulisan, "pake ini, biar ibu lahiran dulu baru kamu yang punya baby," membaca itu mereka tertawa, "suka-suka aku," ucap Rayhan sembari mengecup dahi istrinya.
"Bang buka dari kak Ais," hanya tertulis usahakan sesuai sunah dan wajib di baca.
Rayhan dan Naya membaca dengan pelan
dan di akhir kata harus hapal doannya
Seketika Rayhan menatap Naya,
"Abang hafalin dulu Naya, mandi!"
Tak berapa lama, "sudah wudhu Naya?" tanya Rayhan. Naya hanya mengangguk dan itu yang Rayhan lihat, "abang mandi dulu Naya."
Tak berapa lama Rayhan sudah keluar memakai baju rapi dan sudah menggelar sajadah Naya yang sudah menunggu ikut menggelar sajadah di belakangnya,
__ADS_1
"Shalat sunnah Naya dua rakaat," ucap Rayhan, Naya megangguk lagi.
Melakukan shalat sunah dua rakaat saat salam Rayhan berhenti sejenak untuk membaca doa dan kemudian mengulurkan tangannya ke Naya dan kembali Rayhan berdoa lagi dan sesudahnya mereka melipat sajadah dan mukenanya
Rayhan yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang melihat istrinya masih menyisir rambut, "Nay mau berapa lama?"
Membaringkan tubuh di sisi suaminya, "kok jadi kaku ya Naya? Naya hanya diam saja,
"sini," ujar Rayhan sembari merengkuh tubuh istrinya, "bolehkan? Kita, sama-sama belajar ya?" tanya Rayhan.
Melihat Naya mengangguk Rayhan langsung merapatkan rangkulannya mengecup lembut dahi istrinya kedua matanya dan turun kehidung dan kini sudah mulai turun kebibirnya mengecup dengan lembut menyesapnya perlahan dan memberi sentuhan-sentuhan lembut di tubuh Naya.
Tiba-tiba Rayhan berhenti saat mengetauhi tubuh istrinya bergetar hebat, "Nay kita berhenti sebentar," ucap Rayhan karena kasihan. Mendengar itu Naya langsung menggeleng, Rayhan langsung tersenyum saat Naya menolak untuk berhenti, "mau di lanjut?" tanya Rayhan pelan.
Rayhan kembali mengulang dari awal tapi kini sesapan di bibir mereka bukan lagi lembut kini menuntut dan bernapsu.
"Naya, bolehkan." "Pelan ya, Bang takut sakit," jawab Naya. Serangan pertama belum berhasil hanya menyisakan sakit ngilu, hingga Rayhan mengulangi untuk yang kedua kalinya perlahan namun pasti akhinya Rayhan berhasil dengan teriakan dan cengkeraman Naya di punggung Rayhan.
Setelah sukses Rayhan memandang istrinya kok nangis Naya? kini Rayhan jadi bingung
"Sakit," ucap Naya lirih.
"Maaf, Naya," ucap Rayhan.
"Tapi aku suka Bang," jaeab Naya tanpa malu. "Nakal kamu Naya, Abang sudah takut Naya," ujar Rayhan. Sejenak mereka bertatapan, "terima kasih, Naya," ujar Rayhan kini sudah menyesap bibir istrinya dan berbagi selimut berdua tertidur hingga pagi menjelang.
Sudah pukul sepuluh pagi, tetapi kemanten ini belum juga bangun, hingga suara pintu di ketuk, "Rayhan," panggil suara di depan pintu sembari terus mengetuk.
Mendengar ada ketukan Rayhan segera bangun mencari bajunya dan merapikan baju Naya, berjalan sedikit sakit hingga di daun pintu. Saat pintu terbuka kini muncul wajah kakaknya, "Ih, menganggu saja," gerutu Rayhan.
"Dari ibu buat Naya, untuk berendam, tadi Kakak kasih ke Tante, katanya Kakak sendiri yang di suruh kesini," ujar Rahan menjelaskan.
"Terima kasih Kak, sana pulang jangan ganggu," ujar Rayhan sembari mendorong tubuh kakaknya.
Merasa di usir kakaknya pun pergi dan pulang di dalam kamar Rayhan membuka bungkusan itu dan tertulis siapkan air hangat
dan tuang ini kemudian Naya suruh berendam dalam masa berendam kamu jangan ganggu itu yang tertulis.
Begitu melihat Naya menggeliat Rayhan langsung mengunci pintu kamar menyiapkan air hangat dan menaburkan serbuk yang beraroma wangi dan menggoda.
__ADS_1
"Mandi Naya," ucap Rayhan. Naya sedikit beringsut namun beberapa detik kemudian, "ash," ucap Naya sambil meringis. Melihat Naya kesakitan, Rayhan langsung menggendong tubuh Naya dan memasukkan dalam bath tube, berendamlah dulu hingga rasa nyeri dan pegal di tubuhmu sedikit berkurang ucap Rayhan, "wangi Bang," ucap Naya, "dapat dari mana Bang?" tanya Naya lagi. "Ibu tadi, menyuruh Mas Rahan yang mengantar," ujar Rayhan.
"Abang mandi berendamlah dulu nikmati aromanya," ujar Naya.