Rahael

Rahael
Bab 15. Semangat


__ADS_3

BAB 15. Semangat


Sudah dua hari setelah percakapan mereka, Mang Udin dan Bi Jum kembali bersikap


seperti tidak ada kejadian apa-apa, mereka melakukan tugasnya seperti biasa.


Pagi ini nona kecilnya muntah-muntah terus hingga sepanjang hari, Bi Jum yang sedari tadi mendengar akhirnya dengan tergopoh-gopoh menghampiri, "kenapa Non?" tanya Bi Jum sambil memijat tengkuk Rahael.


"Enggak tahu Bi," jawabnya sambil mengusap mulutnya.


"Sudah minum obatnya Non?" tanya Bi Jum dan Rahael hanya mengeleng sebagai jawaban. "Kenapa Non? Ayo! Sini, duduk dulu Bibi ambilkan obatnya !"


Rahael hanya menurut, Rahael kini duduk dengan badan yang terasa lemas, karena seharian Rahael muntah dan apa yang di makannya di keluarkan lagi. Melihat seperti itu Bibi segera mengelus perut nonanya .


"M ... kenapa cucu Bibi rewel, kasihan ibunya sayang," ujar Bi Jum sembari terus mengusap perut Rahael. Kini, Rahael memilih berbaring setelah minum obatnya, "sudah enakan Non? tanya Bi Jum pelan. "Ya Bi," jawab Rahael sambil tersenyum.


"Ibu mana Bi?" tanya Rahael. "Katanya ibu keluar sebentar Non," jawab Bi Jum pelan.


"Bi, maafin Rahael sudah enggak jujur sama bibi, selama ini Rahael jadi merasa bersalah dan kasihan Ibu, Bi."


Bi Jum hanya tersenyum sembari terus mengusap perut Nona kecilnya.


"Non harus semangat, enggak boleh menyerah dan harus sehat terus rajin minum obat dan vitaminya, katanya Non juga mau kuliah !"


Rahael langsung menatap Bi Jum dengan tatapan tak percaya, "memang bisa Bi?" tanya Rahael.


"Aduh Non, ya bisa saja! lha ibunya Non, meski sudah punya anak segede Non juga masih bisa kuliah, mangkanya Non harus semangat, kuat dan sehat."


"Tapi Bi, nanti kalau Rahael kuliah terus di tanya kok sudah hamil mana suaminya bagaimana Bi?"


Bi jum terdiam dan kemudian tersenyum, "yang penting sekarang Non harus tetap semangat."


Setelah percakapannya dengan nona kecilnya terdengar suara Mang Udin dari luar.


"Jum ... Jum, iki anak lanangmu wes bali, eleh ... eleh kok tambah ganteng le, goda Mang Udin."


( Jum ... Jum ini anak laki-lakimu sudah datang, aduh ... aduh tambah ganteng Nak, goda Mang Udin )


"Bapak niki sampun nganten malu Pak, isin biasa ke mawon."

__ADS_1


( Bapak sudah, jangan begitu malu Pak, biasa saja )


Mendengar perdebatan antara Bapak dan anak akhirnya Bi Jum turun juga.


"Eh .... cah bagus, kok cepet baline."


"La, pripun to Bu! sanjang ngipun di utus bali wonten ingkang di pun rembak."


( Bagaimana Bu, katanya di suruh pulang, ada yang mau di bicarakan)


"Uwes-uwes ra usa di terusne kono dang nang mburi," ucap ibu sembari menjinjing tas ranselnya.


"Rahael mana Bu, kok enggak kelihatan?" tanya anak Bi Jum. "Ada, di dalam," jawab Bi Jum lagi.


Tak berapa lama terdengar lagi suara Rahael muntah. Bergegas Bu Jum menaruh tas anaknya dan melangkah ke depan.


Begitu Bi Jum masuk dan mendekat dalam kamar, "Bi, sini! usap lagi perut Rahael," ucap Rahael dengan manja. "Jika Bibi yang mengusap terasa nyaman, Bi nanti malam tidur sama Rahael ya? usapin perut Rahael Bi."


"Iya ... Non, tapi setelah Bibi ketemu dan omong-omong sama anak Bibi dulu!"


"Mas Galang datang Bi?" tanya Rahael dan Bi Jum hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya.


"Sudah enggak apa-apa, nanti Bibi ajak kesini sekalian tak bawakan oleh-oleh dari mas Galang ya Non."


"Pasti getuk pisang, m ... air liur Rahael kok tiba-tiba turun Bi. "Kini tangan Rahael sudah mengusap mulutnya. "Hhhhhh ... tawa Bi Jum langsung terlepas begitu saja, "pasti cucu Bibi pingin getuk pisang," ujar Bi Jum meledek, Rahael hanya tersenyum mendapat ledekan dari Bibi nya.


Sore ini Bu Rahayu sudah pulang, Rahael yang ada di ruang tengah langsung menyambutnya dengan sepiring getuk pisang.


"Eh ... cantiknya Ibu tumben," sapa Bu Rahayu sembari mengelus ujung kepala Rahael.


"Bu. Mas Galang datang, Rahael dapat ini," ujar Rahael sembari memakan getuk pisang yang sudah di potong-potong sama Bi Jum di piring.


"Apa itu sayang?" tanya Bu Rahayu. "Getuk pisang Bu!" jawab Rahael dengan mulut penuh.


"Ibu juga mau," ucap Bu Rahayu dan langsung mencomot dan di makannya. Rahael yang melihat ibunya memakan getuk pisang, "loh ... kok di makan Bu, punya Rahael Bu," ujar Rahael dengan mata berkaca-kaca.


Melihat anaknya menangis Bu Rahayu jadi terkejut, "kok nangis? belum selesai Bu Rahayu bertanya. "Bi ... getuk Rahael di makan Ibu," ujar Rahael dengan isaknya.


Mendengar jawaban Rahael seketika Bu Rahayu tersenyum dan menggodanya lagi.

__ADS_1


"M .... ternyata cucu Ibu pelit enggak mau berbagi."


Bibi yang berada di dapur tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan sang majikan. "Ibu mandi dulu sayang," ucap Bu Rahayu sambil mengecup pipi Rahael.


Di dalam kamar Bu Rahayu tersenyum, setelah dua bulan akhirnya Rahael tersenyum kembali, "terima kasih YA ALLAH," ucapnya pelan sembari masuk dalam kamar mandi.


Hingga jam makan malam tiba Bu Rahayu masih dalam kamarnya, "Nyonya makan malam sudah siap," suara Bi Jum memanggil. "Ya Bi, sebentar," jawab Bu Rahayu.


Kali ini Rahael mau makan di meja makan, tapi dengan syarat Mas Galang ikut makan bersama di meja makan. Persyaratan aneh yang di ajukannya di turuti begitu saja dengan Galang.


Rahael tersenyum ketika Mas Galang ikut makan bersama, Bu Rahayu, Mang Udin, serta Bi Jum hanya tersenyum melihat tingkah Rahael.


Di tengah makan dengan mulut penuhnya "Bu ... nanti malam Rahael ajak Bibi tidur sama aku, boleh kan? Bu Rahayu menatap dengan heran, "jangan Rahael, kasihan Mang Udin," jawab Bu Rahayu.


"Tapi, Rahael pingin di elus perutnya, sama Bi Jum Bu! ucapnya sambil matanya berkaca kaca. Bu Rahayu masih bingung harus menjawab apa, "duh ... cucu Ibu ini, kok aneh-aneh, pamit Mang Udin dulu, boleh nggak Bi Jum tidur dengan Rahael."


Tanpa perlu di minta untuk kedua kalinya "Bolehkan mang?" tanya Rahael. Mang Udin hanya tersenyum dan mengangguk, "asik ... terima kasih Mang!"


Galang yang melihat adegan itu hanya tersenyum sembari sesekali menggeleng.


Setelah makan malam selesai, Rahael terus mengikuti Bi Jum kemanapun Bi Jum melangkah, "ayo Bi, cepetan beberesnya," pintanya tak sabar.


"Sabar, Non tinggal satu piring ini, nanggung."


Karena merasa bosan menunggu dan matanya juga sudah mulai mengantuk, "Bi, Rahael tunggu di kamar !" ucap Rahael sembari melangkah naik. Bi jum hanya mengangguk tanda setuju.


Sebelum ke kamar Rahael, Bi jum ke kamar Bu Rahayu dulu mengetuk pintu kamar Bu Rahayu sesaat, "ada apa, Bi? terdengar suara menyahut dari dalam.


"Masuk, Bi," kembali Bu Rahayu menjawab. Begitu masuk terlihat Bu Rahayu tengah termenung. "Maaf Bu, apa suami saya


sudah cerita?" tanya Bi jum


"Sudah Bi, tapi rasanya berat Bi, aku nggak mau egois kasian Galang aku tahu Galang itu baik tapi aku juga bingung Bi."


"Tapi Nyonya, bagaimana kalau laki-laki itu belum ketemu dan perut Non bertambah besar? Bi ... tiba-tiba Bu Rahayu menangis .


"Bi ... Maafkan saya, kenapa saya harus melibatkan Galang, Bibi dan Mamang, kalau memang ini yang terbaik untuk Rahael Bibi," suara Bu Rahayu terputus begitu saja dengan menyeka air matanya.


"Bi, besok aku pingin bicara sama Galang, Bibi, Mamang dan Rahael juga Bi. "Sekarang Bibi istirahat, sebelum Rahael mencari Bibi."

__ADS_1


Setelah percakapanya dengan Bi Jum, Bu Rahayu masih juga belum bisa memejamkan matanya, sudah pukul satu dini hari tapi mata bu Rahayu tak kunjung terpejam, pikirannya campur aduk, menerima atau menolak kemauan Mang Udin dengan menghembuskan napas kasarnya, "aku harus segera membereskan semuanya," ucap dalam hatinya.


__ADS_2