Rahael

Rahael
Bab 59. Tiba-Tiba


__ADS_3

Bab 59. Tiba-Tiba


Sudah sebulan berada di kota M.


Mau tidak mau Galang harus kembali ke kota S. Mengurus pekerjaan yang ada di sana, Galang sengaja tak memberi tahu karyawan toko terutama Rini dan Nono.


Melakukan perjalanan seorang diri serasa perjalan semakin cepat, hanya delapan jam perjalanan yang Galang tempuh.


Jam dua siang saat Galang tiba, berada di depan toko dan mengamati sebentar.


Melihat toko masih ramai. Nampak Rini dan Nono, sedang sibuk melayani pembeli.


Melihat sepintas ada karyawan baru, Galang bergegas naik keatas dan karena kesibukan masing-masing mereka tak menyadari kedatangan Galang.


Menggeret sofa, Galang menghadapkan ke kaca pembatas, mengawasi kerja karyawan


dari atas dan untuk memastikan semuanya.


Setelah satu jam Galang mengawasi, Galang merebahkan tubuhnya di sofa menahan rasa kantuk yang sedari tadi di tahan. Melihat jam masih pukul tiga sore, Galang memutuskan untuk rebahan sejenak, Galang memasang alarm setengah jam, hingga nanti saat anak-anak pulang Galang baru bisa menemui mereka.


Mendengar suara berisik di bawah membuat


Galang terbangun dan mengerjapkan mata serta merenggangkan otot tubuhnya.


Sejenak duduk di tepi sofa menajamkan pendengaran. Karena hanya samar-samar yang Galang dengar akhirnya, Galang putuskan untuk turun.


Di ujung tangga Galang melihat Rini dan Nono sedang berdebat, melihat kedatangan Galang yang tiba-tiba membuat mereka terkejut dan seketika wajahnya memucat.


"Eh! Bapak, maaf saya tidak tahu jika Bapak datang."


"Kenapa? Ada sesuatu yang kalian sembunyikan atau .... "


Belum selesai Galang berbicara.


"Maaf, Pak! Yang kami debatkan itu, kok mobil Bapak tiba- tiba ada di depan," jelas mereka.


Aku hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Bagaimana Rini, Nono. Keadaan toko?"


"Semuanya baik Pak, sesuai dengan yang saya kirim ke Bapak."


"Oh, ya. Pak! Maaf saya dan mas Nono belum sempat memberitahukan kalau sudah menerima karyawan baru," ucap mereka sembari menunduk.


Galang berjalan ke meja di mana biasanya Galang duduk.


"Tolong laporannya sekalian," pinta Galang.


Rini dan Nono, langsung mengikuti di belakang sembari membawa laporan gudang dan keuangan yang Galang pinta.


"Tolong letakkan di meja saja," ucap Galang.


"Saya ingin tahu karyawan barunya Rin."


Sesaat kemudian. "Husain ... panggil Nono, "kemari!"


Tak lama terlihat anak laki-laki mungkin berusia kisaran dua puluh tahun, datang dengan segera.


"Kenalkan ini bos kita," ucap Noni, lagi."


"Perkenalkan saya Husain, lulusan SMA."


Belum selesai Husain mengenalkan diri.


Tiba-tiba Galang mendengar langkah kaki mendekat, kami serempak menoleh dari kegiatan kami. Rini dan Noni nampak menarik diri dan Husain hanya memandang kebingungan.


Galang tersenyum saat laki-laki itu maju mendekat. Sesaat kemudian.


"Kalian boleh pulang, besok kita bicara lagi," ucap Galang.


Setelah semuanya pulang kini tinggal Galang dan laki-laki ini.


"Bosan aku Wan, jika kau terus mengejarku."


"Kau seperti tak punya kesibukan saja!"

__ADS_1


yang Galang tanya hanya diam saja.


Sembari mengecek pembukuan yang di berikan Rini.


"Mas! Mama dan Papa ingin bertemu dengan Mas dan Rahael dulu untuk meminta maaf.


Dan kedua orang tua Mawan ingin semua ini tak berlarut larut Mas.


"Saat ini mereka ada di mobil menunggu serta Silvi juga," ucap Mawan.


Galang hanya diam dan langsung berdiri.


"Bawa mereka masuk Wan."


Melihat sudah mendekati maqrib, tak berapa


lama mereka sudah berada di ruangan. Melihat Galang tersenyum kedua orang tua Mawan seketika ikut tersenyum.


"Mari Pak ke atas biar Bapak dan Ibu bisa berbincang dengan santai kalau di bawah


terlalu banyak barang tak nyaman."


Galang melangkah lebih dulu, mereka pun bergegas mengikuti, sesaat Galang sadar saat melihat tatapan mereka, seakan tengah mencari sesuatu.


"Silakan duduk, maaf keadannya sedikit kotor," ucap Galang.


"Kemana anak-anak dan Rahael Mas? tak urung akhirnya pertanyaan itu muncul juga."


Galang hanya tersenyum. "Maaf anak-anak sama Rahael ada di kota M saat ini.


Galang melirik mereka sesaat, jelas dari raut wajah mereka nampak kecewa. "Nak Galang, mungkin ini agak sedikit terlambat, kami .... "


Belum selesai Pak Panji bicara, Galang sudah memutuskan pembicaraannya.


"Maaf, Pak! Saya di sini mungkin masih dua atau tiga hari, banyak hal yang akan saya urus di sini. Maaf, sebelumnya. Apa Bapak dan Ibu serta Mawan dan Sivli akan bersabar menunggu saya. Bisa saja saya menyuruh Bapak dan Ibu berangkat sekarang juga ke kota M, tetapi melihat Ibu mertua saya yang sedang tidak baik-baik saja, membuat saya sedikit khawatir. Saya juga minta maaf, jika kesannya saya mempersulit keadaan ini. Tetapi saya hanya menunggu kesiapan Rahael saja. Memang Rahael baru bisa menerima semuanya sekarang, saya juga berterima kasih atas kesabaran kalian menunggu."


Orang tua Mawan hanya terdiam dari sotot matanya nampak jelas kekecewaan yang sangat dalam. Mereka hanya diam menatap Galang.

__ADS_1


"Wan menginaplah di sini, ada empat kamar kosong di sini," ucap Galang.


__ADS_2