
Bab 86. Tentang Rahan dan Rayhan.
Twin Ra begitu kami menyebutnya Rahan dan Rayhan dua anak laki laki yang mulai tumbuh semakin lama semakin menunjukkan kepribadiannya kini twin Ra ku sudah kelas dua SD dengan tingkahnya Rahan sedikit ambisius pemaksa dan keras sedangkan Rayhan bersikap kalem dan menyukai hal-hal yang berhubungan dengan smart phone dia akan betah seharian penuh sudah memegang barang ajaib itu.
Seperti hari ini Rahael melihat mereka bertengkar, Rahael yang berada di ruang tengah terkejut samar-samar Rahael mendengar Rayhan berteriak.
"Ray! ayo," ujar Rahan sembari menggoyang goyang badan Rayhan. Rayhan masih sibuk dengan smart phone hanya menjawab sekikas, "Ya," hanya ini yang terdengar dari bibir Rayhan.
"Sebentar tinggal sedikit tunggu!" jawab Rayhan dengan santainya.
Melihat Ray tak beranjak sedikit pun dari duduknya Rahan jadi marah mendorong Rayhan, sesaat kemudian terdengar benda jatuh dan, Ibu!" teriak Rayhan seketika.
Merasa di panggil Rahael segera datang menghampiri.
"Ada apa Twin? Jangan teriak-teriak, berisik! Kasian eyang istirahat," tutur Rahael.
Kini keduanya sudah menangis sembari berdiri berjajar, melihat smartphone sudah jatuh di bawah Rahael hanya melihat Twin Ra.
"Maaf," ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa bisa jadi begini Twin?" tanya Rahael lirih. Sejenak mereka menatap, "maaf Rahan yang salah tadi mengoyang-goyang adek hingga, ucapan Rahan terputus begitu saja.
"Bukan-bukan, bukan kakak, tetapi Ray yang salah pegangnya enggak kuat," ujar Rayhan.
Rahael mendekat dan memungut smartphone yang terjatuh dan mengeceknya sesaat ternyata tak apa-apa.
Rahael kemudian tersenyum, siapa yang mulai dulu?" tanya Rahael. Namun, mereka tak jujur tetap saling menutupi dalam menjawab.
" Jika tak menjawab, berarti Bapak nanti yang kasih hukuman," mendengar hal itu tiba-tiba Rahan mendekat, "maafkan Rahan Bu, bukan maksud Rahan melakukannya," tutur Rahan pelan.
"Sekarang Ibu minta, kakak minta maaf sama adik Ray, ingat enggak boleh di ulang dan ibu pesan enggak boleh memaksa ingat itu."
"Ayo, saling minta maaf dan pelukan."
Rahan dan Rayhan seperti melupakan kejadian barusan lalu bermain dengan Twin Al, keadaan seperti ini sering terjadi, kadang Aal dan Al yang menjadi penengah.
Rahan dan Rayhan layaknya seperti magnet kadang mereka saling tarik menarik dan kadang mereka seperti tolak menolak.
Rahael dan Mas Galang hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka satu kata, "unik!"
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa kedua Twin sudah remaja Twin Ra, sudah pra sma
dan Twin Al masuk pra smp semakin besar semakin menunjukkan sifat mereka.
Rahael dan Mas Galang hanya berusaha mengikuti dan mengarahkan, sementara para Eyang hanya tersenyum saat mendengar kehebohan mereka.
Melihat mereka tumbuh dengan baik sungguh membuat kami bangga, "Rahael," tiba-tiba Mas Galang memanggil dengan serius di suatu malam, "Mas jadi takut," ucap Mas Galang sembari menyandarkan tubuhnya di ranjang.
Rahael yang akan berbaring mengurungkan niatnya, kini Rahael ikut duduk di sisi suaminya.
Memandang lekat, "memang apa yang mas takutkan?" tanya Rahael lirih. "Entalah, melihat Ra tumbuh besar Mas, jadi mendadak takut kehilangan mereka," ucap Mas Galang tiba-tiba.
Tiba tiba mas Galang memeluk dengan erat "jangan pernah meminta mereka untuk marah pada Mas Rahael."
Seketika Rahael terkejut, "maksud, Mas Galang?" tanya Rahael bingung. "Mas takut mereka salah sangka dengan keadaan ini Rahael.
"Tentang kita, ayahnya dan eyang mereka."
Mendengar ucapan Mas Galang, Rahael jadi sedikit berpikir jernih. "Mas, jangan pernah takut kita akan menjelaskan nanti dan kita pertemukan semuanya yang bersangkutan hingga tak ada salah paham, semoga Twin Ra, nanti bisa mengerti dan memahaminya."
__ADS_1
"Tapi Rahael, itu sama saja membuka aib kita di depan anak-anak!"
"Mas jika itu demi kebaikan Rahael tak akan malu," tutur Rahael.