Rahael

Rahael
Bab 25. Keinginan Galang


__ADS_3

BAB 25. KEINGINAN GALANG


Sepulang dari Dokter Sumi, Rahael lebih tenang dan ceria. Perut Rahael kini terlihat lebih buncit, kadang-kadang Galang juga ingin mengusap perut Rahael tapi Galang urungkan.


Hubungan antara Rahael dan Galang pun bertambah intens sejak dari Dokter Sumi.


Begitu memasuki gerbang rumah, netra Galang masih memindai ke seberang jalan. Menelisik kemungkin apa yang Galang curigai masih di tempat yang sama. Galang merasa lega, karena saat mobil yang di curigai tak ada di seberang jalan.


Galang membuka pintu, "ayo, cantik turun," ujar Galang sembari mengulurkan tangan, "jangan bilang cantik Mas, malu sama Bapak, sama Ibu," cicit Rahael.


"Kalau begitu, Mas panggil istri kecilku mau?" tanya Galang sembari berbisik.


"Jangan gombal Mas," ujar Rahael malu.


Mendengar ucapan Rahael, seketika tawa Galang pecah.


"Mau duduk dulu atau ke kamar Rahael" tanya Galang.


"Duduk di sini saja Mas."

__ADS_1


"Bu ... "panggil Rahael begitu melihat dua sosok yang selalu menyayanginya sembari mencium kedua tangannya. Bergantian dua sosok ibu itu mencium kening Rahael, "hm ... cantiknya anak Ibu," ujar mereka serempak.


Duduk diruang tengah berkumpul dengan seluruh keluarga, serasa nyaman. Galang yang melihat Rahael berkali-kali menguap membuat Galang bertanya juga, " mau tidur Rahael?" tanya Galang pelan.


"Ya, Mas. Rahael sudah mengantuk, Rahael ke atas dulu Mas," ujar Rahael sembari berjalan sedikit tergesa.


Melihat Rahael berjalan sedikit tergesa tak urung Galang akhirnya menegur juga, "pelan- pelan Rahael, jangan menaiki tangga dengan tergesa," ujar Galang pelan.


Bu Rahayu langsung menoleh ke arah Rahael, kemudian menatap ke arah Bu Jum.


"Bu Jum, apa sebaiknya Rahael tidur di kamar bawah saja! Kasihan jika harus naik turun, lihat perutnya mulai membesar," ujar Galang meminta ijin pada dua Ibu yang duduk di depannya.


Mendengar ucapan Galang Bu Rahayu langsung tersenyum, "terserah Galang atur saja, bagaimana baiknya," ujar Bu Rahayu.


Bu Rahayu yang sedari radi menyimak percakapan kami akhirnya menatap aneh dan menyelidik.


"Benar, Galang! Jika Bapak perhatikan, mobil itu parkir di situ hingga jam sepuluh malam," jelas Mang Udin sembari mengingat.


"Bapak ingat plat nomer atau Bapak mencatatnya?" tanya Galang menyelidik.

__ADS_1


"Waduh! Bapak lupa Galang, tetapi seingat Bapak huruf depannya DK," jawab Bapak lagi.


Mendengar ucapan Mang Udin, Bu Rahayu seketika terkejut, "DK? Bukankah itu plat nomor untuk daerah Bali?" tanya Bu Rahayu lirih mencoba memastikan.


Seketika Bu Rahayu menatap ke lantai atas dan setelahnya Bu Rahayu lebih mendekat ke arah Galang. "Galang, jangan-jangan mobil itu milik temannya Rahael?" tanya Bu Rahayu.


Galang terdiam sesaat, "bu apa ini ada hubungannya dengan Rahael? Hingga menyebabkan Rahael pendarahan kemarin?" tanya Galang dan membuat mereka kembali terdiam.


Hingga beberapa saat kemudian, "Bu. Bagaimana jika Rahael ikut saya saja ke kota S Bu! Kebetulan di sana saya ngontrak rumah, meskipun tidak besar masih cukup jika untuk saya dan Rahael tinggal," ujar Galang pelan.


Bu Rahayu hanya diam untuk beberapa saat, "kenapa kau berpikiran seperti itu Galang? Apa kau tak kerepotan nantinya mengurus Rahael, kuliahmu dan usahamu?" tanya Bu Rahayu. "Enggak Bu," jawab Galang, "jika untuk Rahael, Galang tak keberatan," ujar Galang pelan. "Hm ... lalu kuliah Galang?" tanya Bu Rahayu ulang.


"Galang tak merasa keberatan toh, kuliah Galang juga tinggal menunggu wisuda saja."


"Bu. Semua ini juga demi kebaikan Rahael, Galang jadi teringat ajan pesan Bu Sumi. Galang masih ingat jika Rahael mengatakan ketakutannya.


Bu Rahayu menatap kedua orang tuaku "Bagaimana? Menurut Bu Jum dan Mang Udin. Menurut kalian!" ujar Bu Rahayu seperti meminta persetujuan.


kedua orang tua Galang hanya tersenyum, "jika itu untuk kebaikan Rahael enggak ada salahnya," jawab Bapak.

__ADS_1


"Ya, sudah jika ini keputusan kita bersama saya setuju, tetapi tolong Galang, sebelum Rahael melahirkan jangan kau apa-apain!"


Galang tersenyum mendengar ucapan mertuanya. "Oh. Ya, Pak. Bu, jika Rahael berada di kota S, tolong jangan beritahu teman atau sahabatnya," tutur Galang dan mereka mengangguk setuju.


__ADS_2