
Bab 111. Ketemu yang di mau
Setelah keluar kamar Rayhan, senyum Eyang Panji tak pernah surut hingga istrinya Buu Widia menatap heran.
"Kok senyum terus Pa?" tanya Bu Widia.
"Cucu kita udah dewasa, Rahan katanya di sana udah punya pacar dan lagi ada pondok sekarang."
"Wah, semoga saja sampai halal Pa, rasanya jadi enggak sabar menunggu kita jadi buyut" ucap Bu Widia.
"Perasaan baru kemarin mereka masih pakai seragam abu-abu, andaikan Mawan masih ada, betapa bahagiannya Mawan Pa, melihat anaknya tumbuh dengan cepat," ujar Bu Widia.
Mendengar ucapan isterinya Pak Panji hanya menghela napasnya.
"Sudah Ma, semua sudah takdir kita, sekarang sudah mendapat gantinya, kita di beri dua sekaligus," ujar Pak Panji lirih.
sekilas Pak Panji melihat jam," ayo, Ma, kita punya janji dengan Sentot nanti di tunggu, sekalian Rayhan di ajak," ujar Eyang panji.
Tak berapa lama mereka sudah bersiap
hanya membutuhkan waktu sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Sentot.
Setelah memarkir mobilnya di halaman Pak Panji segera menuju teras dan mengetuk pintu tak berapa lama nampak sosok keluar dari dalam rumah berperawakan tinggi dengan senyumnya, Rayhan yang melihat sosok itu dengan sedikit terkejut, "Om! sapa Rayhan.
Mendengar suara Rayhan, kedua Eyang langsung menoleh," Kalian sudah kenal?" tanya Eyang Panji heran.
"Om, Sentot seketika tertawa saat mengetauhi siapa Rayhan. " Rayhan ini cucu Anda?" tanya Om Sentot. "Pantas saja, saya seperti pernah milihat dan sekikas wajahnya mirip ..., Om, Panji menjeda ucapannya dan kemudian menjabat tangan kami bergantian.
"Ayo. Masuk, sebentar saya panggil Maya. Rayhan, Naya ada di teras belakang," ucap Om, Sentot.
"Sudah, Om di sini saja," ujar Rayhan sembari ikut duduk.
Begitu melihat istrinya Maya datang, "Ma, ternyata Rayhan ini cucunya Panji loh, pantesan Papa seperti pernah melihat wajah familiar ini."
"Ya, pasti bibit unggul," ucap Eyang Panji sedikit meninggi, "yang penting ganteng," ujar Eyang Panji.
"Mendengar kelakar Eyang Panji seketika mereka tertawa bersama. "Ma, panggil Naya, supaya menemani Rayhan.
Tak berapa lama nampak Naya dari teras belakang, "hai Rayhan, wah kebetulan ni
ayo ke teras belakang yuk," ajak Naya.
"Rayhan, main selonong saja, ayo. salim," dulu
ujar Bu Maya.
Berjalan ke teras belakang nampak asri dengan banyaknya bunga warna warni, "sedang apa di sini Naya?" tanya Rayhan.
"Biasa kalau enggak menanam bunga, Naya cuma duduk-duduk saja," jaeab Naya.
"Asal jangan pakai melamun Naya.'
Sesaat Naya menoleh ke arah Rayhan dan tersenyum, Naya, kira-kira, Rayhan ada enggak di lamunan Naya?"
"Ih, kamu ini bicara apa, Rayhan?"
Setelah mengatakan itu Naya seketika menunduk sambil tersenyum, "permisi Non ini minumnya suara Bibi mengejutkan kami.
"Ayo di minum Mas," ucap Naya berubah seketika cara memanggilnya.
Percakapan sederhana tapi mampu membuat kami sama-sama tertawa terkikik, serasa menemukan hal yang pas dan cocok hingga Tante Maya memanggil.
__ADS_1
"Naya, tunggu telfon Rayhan," pinta Rayhan saat beranjak pulang, sementara Naya hanya tersenyum sebagai jawaban.
Ternyata ikut dengan kakek, Rayhan sudah menemukan apa yang Rayhan mau, sesaat Rayhan tersenyum saat mengingat Naya.
"Terima kasih Aal," ujar Rayhan sembari tersenyum. Eyang yang sedari tadi diam kini akhirnya bicara juga, "coba lihat cucu kita, senyum-senyum sendiri dari tadi."
Seketika Eyang Widia menoleh dan tersenyum, sudah hampir sore sesuai janji Rsyhan pada Bapak, Rayhan segera berpamitan saat tiba di rumah Eyang, "Ray pulang Eyang terima kasih," ujar Rayhan sembari salim.
Tak berapa lama ojek online yang Rayhan pesan datang juga, melihat Eyang dari kejauhan tersenyum menatap kepulangan Rayhan.
Saat ini mungkin tiga dari saudaraku ada jauh di sana tapi sekarang Rayhan sudah menemukan teman baru, gadis yang sedikit banyak telah mencuri hati Rayhan.
Sesampainya di rumah dengan senyum sumringah, Eyang Jum dan Eyang Rahayu
hanya menatap dengan sedikit bingung saat Rayhan salim pada mereka.
Bapak dan ibu sekilas menatap dan bertanya,
"Bapak kira, Rayhan menginap," ujar Bapak.
"Enggak Pak, kasihan Ibu tambah kesepian nanti kalau Rayhan menginep."
Melangkahkan kaki kekamar sembari bersiul
"Tumben Rayhan seperti itu Pak," ucap Rahael.
Sesampainya di kamar Rayhan mengambil ponselnya , mencari nama Naya. Tak berapa terdengar nada sambung saat Rayhan lakukan panggilan.
"Assalammualaiku wr, wb. sahutan yang di ujung sana."
Sesaat Rayhan tersenyum sebelum menjawab ulang, membayangkan wajahnya.
"Halo!"
Rayhan yang melihat Naya senyum-senyum," lagi apa?"
"Duduk di teras belakang
" kok belum pindah menunjukkan sesuatu
" Hm....sampai jam segini , pasti belum shalat
" Dia hanya tersenyum malu
Menatap wajahnya dalam tiba tiba , " hayo....
ngapain
Ku lihat wajah tante Maya , " petang tante sapaku
Tante Maya hanya tersenyum melihatku dan berlalu pergi
Naya yang melihatku kikuk tertawa terkikik
" Hm....puas sekali Nay ngerjain aku
sudah shalat dulu , bay cup
Ku matikan panggilan karena terdengar adzan magrib
Setelah shalat magrib menuju ruang tengah kulihat hanya ada eyang uti
__ADS_1
" kok sendirian eyang mana bi Nina sembari ku rangkul
Mendapat perlakuan seperti itu eyang putri tersenyum sembari mengusap kepalaku
" Hm....putune eyang wes gedhe
( Hm.... cucunya eyang sudah besar )
Melakukan perbincangan perbincangan kecil hingga eyang menceritakan masa kecil bapak dengan seksama aku mendengarkan
Dan akhirnya dari ceritanya dapat ku simpulkan bahwa bapak dan ibu tumbuh besar bersama dan akhirnya menikah
satu kata so sweet dan sedikit banyak anganku melayang membayangkan Naya
sesaat aku tersenyum , edan.......
Eyang uti yang melihatku senyum senyum sendiri menepuk bahuku , " hayo ...kok mesam mesem ojok mikir seng aneh aneh
( Hayo kok senyum senyum jangan mikir yang aneh aneh )
Sesaat ku sadar bapak ibu sudah duduk di depanku tanpa bicara bapak hanya menyergitkan dahinya
" Sajake anakmu ki kesemsem cah wadon Lang ucap simbah
( Sepertinya anakmu ini sudah suka sama anak perempuan Lang )
Tak berapa lama eyang Rahayu juga keluar
" Ada berita apa eyang kok gak di beri tau sembari duduk di sisi ibu
" Ih....kok Ray merasa di sidang , lagi pula bapak ih... bu lihat bapak wajahnya
Seketika semua tertawa sembari melihatku
" Memang Ray suka sama cewek , kok jadi penasaran eyang ?
" Eh....kok itu lagi , pd kate eyang doakan saja Nay juga suka sama Ray
" Oh...Nay to namanya
" Nah...tuh kan Ray keceplosan lagi
Bapak yang sedari tadi diam kini berdiri
merangkulku , " sudah besar wes ngerti tresno tapi ingat pesan bapak seperti dengan mas Rahan juga , aku hanya mengangguk setelahnya , " matur nuhun pak sembari merangkulnya juga
Ibu melihatku drngan tatapan yang sedikit dalam
" Hm...ternyata anak anak sudah pada gede
gede ya mas ? bisa bisa kita ntar punya cucu serasa anak bontot ni
Seketika bapak melihat ke arah ibu , " hehehe
gak gak lagi cukup mereka saja ya mas ucap ibu sembari berlalu ke dapur
" Ra....teriak bapak
" Ih....bapak gak malu sama aku dan eyang sembari menyusul ibu kedapur
Mendengar itu eyang dan bapak tertawa lebar
__ADS_1
Meskipun tiga anak ada nun jauh di sana tapi Rayhan bisa menutup rasa sepi dengan mulut nya yang kadang kadang lemes