
Bab 67. Pamit
Setelah hampir seharian Mawan cs berada di rumah, jampir jsm lima soee mereka berpamitan. Saling mengucapkan kata maaf dan saat akan berlalu. "Insya Allah dua hari lagi, saya akan kemari," ucap Pak Panji.
"Dua hari ini. Saya akan tinggal di rumah kami di kota M," tutur Pak Panji dan Bu Widia langsung memeluk ibu dan kemudian mendekati Rahael. "Maaf kan Ibu dan terima kasih atas semuannya," ucap Bu Widia.
Rahael hanya terdiam dan mengatakan apapun hingga Silvi memeluk erat Rahael.
"Silvi, main lah kesini kapan-kapan," ujar Rahael seraya merangkul tubuh Silvi, "insya Allah Rahael, Silvi tak bisa berjanji, aku juga harus mengekor Mawan," ucap Silvi sambil tersenyum.
Mereka mencium Twin bergantian dengan wajah berbinar. Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka naiki sudah melaju dan menghilang di balik tikungan.
Kami masih menatap sejenak kepergian mereka, hingga terdengar suara Twin tertawa lepas. Langkah kami terhenti saat memasuki ruang tengah saat melihat Twin bergerak berputar-putar mengelilingi ruang tamu layaknya pesawat terbang, masih menatap sembari tersenyum Rahael akhirnya menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Bapak kemana Bi?" tanya Rahael sembari memindai seluruh ruangan.
Bi Narmi belum menjawab pertanyaan Rahael, tetapi fokus pada Twin sembari melepas baju mereka, "cakepnya Bibi ayo kita mandi dan main air!" bujuk Bi Narmi agar mereka mandi dan tak lama terlihat Bu Nina mengekor Bi Narmi menuju kamar mandi.
__ADS_1
Senyum Rahael seketika terkembang saat melihat suaminya, Galang yang menyadari bahwa Rahael tengah meperhatikan akhirnya datang mendekat dan merangkul tubuh Rahael erat. "Ish. Mas Galang, enggak usah macam-macam ada Ibu dan Bibi. Bagaimana jika tiba-tiba mereka datang!" cicit Rahael khawatir.
Mendengar ucapan isterinya Galang hanya tersenyum dan masih memeluk Rahael, "Biar saja Rahael," tutur Galang sembari berbisik.
Bi Narmi dan Bi Nina terlihat keluar dari kamar bersamaan dengan Mas Galang melepas pelukannya sembari tersenyum.
Twin kini sudah bersih dan mereka kini tengah bersama dengan Bi Nina dan Bi Narmi. Suara tawa Twin terus terdengar dan sesekali berbicara dengan bahasa mereka.
Rahael yang melihat ini semua krmbali tersenyum sembari mengedarkan netranya.
"Ibu mana Mas? Kok tiba-tiba menghilang?" tanya Rahael bersamaan dengan masuknya Bapak dan Ibu dari rumah belakang.
Setelah sholat magrib Mas Galang sudah di sibuk kan dengan laptopnya mengecek email yang di kirim oleh Rini, sembari mengkerutkan kening dan sesekali memajukan bibirnya dan sesekali mengetuk ngetukkan tangannya di meja.
Melihat kesibukan Mas Galang hingga menjelang isya, Rahael bergegas ke kamar Twin, Rahael tersenyum saat melihat Bi Narmi sedikit tertidur.
Raharl kbali menutup pintu kamar Twin dan pergi ke kamarnya sendiri, merebahkan tubuhnya begitu saja sembari menatap langit-langit kamar, cukup lama Rahael dalam posisi seperti itu, hingga Rahael mengubah posisi tidurnya. "Mas Galang!" seru Rahael terkejut.
__ADS_1
"Kenapa melamun?" tanya Mas Galang menelisik.
Rahael hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan suaminya. Melihat reaksi Rahael Mas Galang semakin mendekat, "masih kepikiran?" tanya Mas Galang lagi.
"Rahael!" panggil Mas Galang.
"Enggak ada apa-apa Mas! Cuma ... cuma ini kok belum ada tanda-tanda dedeknya Twin," cicit Rahael sembari mengusap perutnya.
Mas Galang langsung tersenyum lebar, "sudah jalani saja lagipula Twin juga masih kecil belum genap dua tahun," ujar Mad Galang sembari memeluk tubuh Rahael lebih erat.
"Begini saja, bagaimana kalau sekarang kita nyicil dulu bikin dedeknya Twin," ujar Mas Galang sembari tersenyum nakal dan menaikkan kedua alisnya naik turun.
"Argh. Rahael tadi sudah berusaha enggak menjawab, betul kan pasti ujung-ujungnya mesti itu," ujar Rahael geli.
Mas Galang hanya tersenyum dan mulai melakukan serangan menuju malam
bermandi peluh dan bertukar keringat sampai sankuriang nya kalah telak.
__ADS_1
Baru saja terlelap, di pertiga malam twin terbangun dan menangis, melihat ke Mas Galang yang sudah terlelap dalam alam mimpinya. Rahael segera beringsut turun dan menuju kamar Twin. Rahan masih tertidur dan Rayhan menangis sejak tadi. Berusaha menenangkan Rayhan agar Rahan tak ikut terbangun, tetapi Rahan mulai terusik san menggerak-gerakkan kakinya. Sejenak Rahael merasa kerepotan dan berusaha menenangkan Rahan dengan memberinya dot. Rasa kantuk yang sedari Rahael tahan akhirnya terbayar lunas saat membaringkan tubuhnya di tengah- tengah Twin. Sesaat Rahael tersenyum menatap dua jagoan kecilnya. Rahael begitu merinduksn pelukan si kecil, karena selama dua bulan ini Bi Narmi dan Bi Nina yang merawat Twin.