
Bab 121. Berkumpul itu menyenangkan
Menikmati hidangan dengan semangat sembari berbicara tentang hal-hal lainnya.
"Rahan dan Rayhan sebenarnya setelah kalian menikah nanti, Eyang ingin salah satu dari kalian tinggal di rumah Eyang," ujar Eyang tiba-tiba.
Seketika semua menoleh dan saling pandang
"Maaf, Eyang sekarang kami belum bisa memutuskan nanti kami bicarakan dengan
Bapak dan Ibu," ucap Rahan.
Eyang panji tersenyum, "semoga Ibu kalian menyetujui," ucap Eyang Panji.
Menyelesaikan makan dengan berbagai pertanyaan yang mengganjal, sesampainya di Ruko sudah hampir pukul tiga sore, masing- masing masuk membawa belanjaan di tangan mereka, Ibu dan Bapak yang melihatnya langsung melotot marah.
"Twin Al langsung tertunduk takut, Rahan dan Rayhan hanya terduduk di sofa.
Saat Eyang sudah ada di atas, "ada apa kok jadi patung semua?" tanya Eyang bingung.
"Galang, Rahael jangan marahi mereka! Eyang yang memaksa," ucap Eyang Panji.
"Hesh ... Jangan bersikap seperti itu, malu sama cucu mantu."
Eyang Rahayu dan Eyang Jum yang kebetulan keluar dari kamar hanya tersenyum, "jangan keras-keras dengan mereka, lagi pula eEyang Panji dan Eyang Widia adalah Eyang mereja juga," tutur Eyang Rahayu akhirnya.
Mendengar itu Galang langsung menggaruk kepalanya, "maksud saya bukan memarahi mereka saya cuma berpikir andaikan saya jadi cucunya Eyang Panji, pasti seluruh Mall bisa kita borong. Benar kan, Bu," ucap Galang sembari menyikut lengan Rahael.
Mendengar ucapan Bapak mereka seketika semua tertawa, hanya Twin Al saja yang masih cemberut, "Bapak, enggak lucu kalau ngeprank kami seperti itu," ucap Aal.
Berbeda dengan Al yang langsung mengeluarkan sesuatu dari tasnya, "coba lihat Bu kami dapat ini dari Eyang Panji," ujar Al yang membuat suasana ramai akhirnya terdiam dan penasaran.
"Twin Al, kalian ...." seru Rahael terkejut.
Al mendengar suara Ibunya langsung mundur, "bukan kami saja, dua Kakak kita juga dapat," jawab Al membela diri.
Sesaat Rahael hanya bisa menghela napasnya, "waduh! kalau tahu begini tadi kira ikut ya, Pak!" ujar Rahael untuk menyembunyikan kemarahannya.
Eyang Panji dan Eyang Widia, akhirnya tertawa dengan tergelak, "kalian makan dulu," ujar Ibu lagi.
Seketika, Rahan langsung menjawab, "maaf, ibuku yang cantik kami sudah makan sama Eyang Panji," ujar Rahan pelan.
Mendengar jawaban Rahan, Rahael langsung memandang dengan terkejut, "lho, Pak. kita ketinggalan lagi," ucap Rahael.
Kini Rahael sedikit penasaran saat melihat dua calon mantunya duduk diam dan menunduk, "Ais, Naya! Coba lihat, punya kalian seperti apa?" tanya Rahael penasaran.
Naya dan Ais langsung berjalan mendekat, menunjukkan perhiasan miliknya. Rahael seketika terdiam setelah melihat perhiasan milik calon mantunya, "hem, jadi ceritanya mereka di belikan kembaran Eyang?" tanya Rahael.
__ADS_1
"Eyang Panji hanya tersenyum, "buat siapa lagi Rahael, kalau bukan buat mereka," ucap Eyang Widia.
Sesaat semuanya terdiam, "maaf bukan maksud kami ... ucapan Eyang Widia terjeda sesaat.
Galang yang menyadari situasi ini langsung memberi kode pada Rahan dan Rayhan, mereka yang tanggap langsung memeluk Eyang Panji dan Twin Al dan dua cucu mantu langsung memeluk Eyang Widia.
"Ah, Kalian. Kenapa sejarang Eyang jadi gampang menangis," ujar Eyabg Panji dan Eyang Widia sembari mengikis air matanya.
Keadaan seperti ini tak berlangsung lama, hingga terdengar suara adzan magrib, "Ayo, yang belum mandi, lekas mandi dan ambil air wudhu, ayo kita shalat jamaah," ujar Eyang Rahayu yang sedari tadi memperhatikan dan tak urung ikut menitikkan air mata juga.
Mereka segera berhambur ke tempatnya masing-masing, sedikit menghela napas panjang, "maaf kami ke dalam dulu," ucap Eyang Panji dan Eyang Widia bersamaan.
Galang di bantu Rahael menggelar karpet
Tak berapa lama mereka sudah mengatur
posisi masing-masing dan Eyang Panji yang di daulat menjadi imam.
Setelah salat magrib mereka masih berkumpul, "Naya, nanti enam bulan ke depan pingin pernikahan yang seperti apa?" tanya Eyang Rahayu.
Sejenak Naya menunduk, "Bu. Eyang, kalau bisa Naya ingin pestannya di rumah saja sederhana namun khidmat Eyang," jawab Naya pelan.
"Ais. Kamu?" tanya Eyang Rahayu, seketika tersenyum, "sama Eyang Ais, ingin pernikahan sederhana mengumpulkan sanak saudara dan tetangga terdekat itu saja."
Eyang Rahayu seketika melihat ke arah Galang dan Rahael, Rahael dan Galang kau dengar keinginan calon mantu kalian?"
"Maaf, Pak Panji dan Bu Widia bagaimana menurut anda?" tanya Eyang Rahayu, sejenak Eyang Panji termenung.
"Bagaimana kalau, ngundu mantunya yang kita bareng saja," ucap Eyang Widia.
"Setuju!" ucap mereka serentak. "Ya, sudah kalau begitu sebulan lagi kita berkumpul untuk membahas ini."
"Bu, ini ibu yang pegang, kata Eyang boleh makainya kalo kita sudah menikah," ucap Twin Al.
Mendengar ucapan Twin Al, seketika Eyang Panji tertawa, "pakai saja Twin, nanti kalau menikah, Eyang belikan lagi, tetapi janji. Nanti! Eyang di kasih cucu yang cantik," goda Eyang Panji.
Mendengar ucapan Eyang Panji Al langsung melotot dan Eyang Widia langsung mencubit suaminya, "hish. Papa ...."
"Eyang! Aal masih kecil Eyang? Masih lama, tuh Kakak Rahan dan Rayhan saja yang Eyang mintai cucu, catat itu Kak!" gerutu Aal.
"Eyang Panji tersenyum geli, "ternyata Aal ini judes juga," ucap Eyang Panji.
Ada kesenganan sendiri bisa menggoda Twin Al, hingga suara adzan isya, kami menghentikan percakapan kami, "ayo, shalat isya dulu, nanti kita sambung lagi."
"Kak. Twin Al sudah bersiap untuk esok," ujar Twin pada Rahan, Rahan yang masih belum pahan hanya menaikkan alisnya.
"Antar ke pondok Kak, Rahan," ujar Aal akhirnya
__ADS_1
Rahan hanya mengangguk dan sedikit mundur ke belakang, "ih! Ais masih punya wudhu Kak," ujar Ais sembari beringsut ke belakang calon mertuanya.
Seketika semua menoleh, "Rahan jangan menganggu biar selesai shalat isya, dulu!" ucap Bapak mengingatkan.
Tiba tiba Rayhan mendekat, " kan Bu, kaj Rayhan ikut-ikutan juga," ujar Naya sembari menjauh.
Eyang Panji yang sedari tadi menunggu untuk memulsi shalat, akhirnya datang dan sudah menjewer kedua cucu laki-lakinya.
"Ampun, Eyang. Kita cuma mau lihat calon istri kita saat pakai mukena," jawab Rayhan.
Mendengar jawaban Rayhan, seketika Eyang Panji langsung memeluk mereka berdua dan setelahnya tertawa, "ayo, fokus shalat," ujar Eyang Panji pada akhirnya.
Saat selesai shalat isya dua Bibi memanggil
untuk makan malam, Bi makan malamnya lesehan saja di sini, enak," kata Rahan.
"Ya, sudah kalian beresin dulu sajadahnya dan ibu naruh ini dulu," ujar Rahael.
Eyang Jum mau duduk di atas," ujar Rahael saat keluar dari kamar.
"Enggak, Rahael. Ibu di sini saja."
"Duh. kalau begini Eyang jadi enggan balik," ujar Eyang Panji sembari duduk selonjoran di karpet.
Sementara para cewek sudah membawa satu persatu makanan dan di atur di bawah.
"Kak!" ujar Ais, ini seraya memberikan sambal teri.
Tangan Rahan langsung menerima mangkuk yang di berikan oleh Ais dan tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan
Ada getaran aneh yang menjalar di tubuh keduannya, "Bu. Kak Rahan," ucap Ais seketika. Eyang Panji hanya tersenyum melihat mereka berdua.
"Latihan Ais," ujar Rahan.
"Belum halal kak," ucap Ais.
"Ayo, halalin sekarang," ujar Rahan sembari menggoda Ais.
"Kak, jangan coba-coba melanggar perjanjian kita," ucap Ais sembari berlalu.
Hari ini adalah hari yang menyenangkan keluarga besar, makan bersama dengan tenang tak ada lagi canda. Setelah semua selesai dua Bibi yang juga ikut makan bersama mulai beraksi membersihkan sisa makanan dan membawanya kembali ke dapur. Setelah semua di rasa beres dan bersih mereka turun ke bawah beristirahat.
"Malam, Pak," sapa mereka saat melihat Galang masih di toko keadaan mulai sepi
Twin Al sejak tadi masuk kamar setelah selesai makan.
Masih mengecek barang-barang di toko setelah dua hari tak buka, Galang tersenyum sesaat kemudian kembali naik ke atas.
__ADS_1
Memasuki kamar di lihat isterinya tidur dengan gelisah dan berkeringat, Galang menyentuh kening Rahael, "demam," ucap batin Galang.
Menuju kotak obat namun obat yang di carinya tak di temukan, "Rahael, bangun! Ganti baju," ucap Galang. Karena melihat baju yang di pakai Rahael telah basah dengan keringat.