
Bab 65. Masih Mawan Cs
Mendengar aku dan Bu Rahayu berucap bersamaan membuat Pak Panji tersenyum.
"Maksud saya bukan ingin menikahkan Mawan dan ibunya Twin. Bisa-bisa saya di gorok Galang," ujar Pak Panji berseloroh.
"Lagian bocah geblek itu juga sudah menikah. Perkenalkan ini, menantu saya Silvi," tutur Pak Panji.
Mendengar ucapan Pak Panji, Bu Rahayu langsung tersenyum, "beruntunglah jika sudah berumah tangga," ujar Bu Rahayu lega.
Bu Rahayu menatap sejenak ke arah Mawan,
"ternyata jodohnya juga enggak jauh-jauh loh Wan," tutur Bu Rahayu lagi.
"Kenapa masih berdiri silakan duduk dan silakan di cicipi cemilannya," ujar Bu Rahayu.
Suasana seketika hening untuk beberapa saat
hingga Pak Panji yang memulai percakapan.
"Maksud saya, biarkan saya bertanggung jawab atas biaya hidup Twin."
Mendengar ucapan Pak Panji, sekeyika Bu Rahayu mengkerutkan keningnya dan kemudian tersenyum.
"Maaf, bukannya saya menolak tetapi, saya dan menantu saya ini!" ujar Bu Rahayu sembari menepuk pundak Galang, " kami masih sanggup membiayai kebutuhan Twin," tutur Bu Rahayu.
Kembali suasana hening, hingga tak berapa lama terdengar Twin menangis. Bu Widia yang sedari tadi sudah terlihat gelisah akhirnya tersenyum, "maaf Bu, bolehkan saya menemui cucu saya?" tanya Bu Widia pelan.
Bu Rahayu sejenak diam dan menatap ke arah Galang, "boleh!" jawab Bu Rahayu sembari mengedarkan pandangannya dan kini tertuju ke arah Silvi.
Galang yang sedari tadi tanggap akam tatapan Ibu mertuanya, "Silvi, tidakkah kamu ingin berbincang dengan Rahael, masuklah temui Rahael dan temani Rahael selama Twin di sini," tutur Galang sembari berdiri.
"Ayo!" ajak Galang pada Silvi, tetapi langkah Galang terhenti saat melihat Mawan yang secara reflek ikut berdiri.
__ADS_1
"Eit. Eit, mau kemana wan? Aku cuma mengajak Silvi," tegur Galang.
"Tunggu disini saja, aku jemput Twin dulu."
Galang kembali melamjutkan langkahnya sementara Silvi hanya mengekor langkah Mawan hingga tiba di ruang tengah.
"Bi. kemana Ibu?" tanya Galang tak melihat Rahael.
"Ibu ada di dalam Pak, sama Twin, Twin agak rewel," jawab Bi Nina. "Oh. Ya sudah. Terima kasih Bi," ujar Galang sembari melangkah menuju kamar sementara Silvi memilih duduk menunggu.
Galang membuka pintu kamar, "Rahael, ada yang mau bertemu," ujar Galang sembari mendekat. "Siapa Mas? suruh masuk saja, asal jangan si Mawan," ujar Rahael jengkel.
Galang keluar dari kamar sejenak dan memanggil Silvi agar masuk dan Galang langsung menggendong Twin.
"Rahael bicaralah dengan santai, biar Twin dengan Mas," tutur Galang sembari mengecup kening Rahael.
"Ih! Mas mesti deh," ujar Rahael sembari membalikkan badannya. "Silvi !" teriak Rahael keras.
"Mas keluar dulu Rahael," ujar Galang sembari
Twin yang Galang gendong langsung tersenyum sembari sesekali mencium pipi Galang. Bi Narmi yang duduk di ruang tengah langsung berdiri saat melihat Galang dan beegegas memdekat. "Sini, Bibi bantu Pak!"
"Enggak usah Bi biar saya saja," tutur Galang sembari melangkah ke ruang tamu.
Hampir mendekati ruang tamu Galang menurunkan mereka berdua, melihat Twin ibu langsung memanggil, "Rahan, Rayhan sini!" panggil Ibu sembari mengayunkan tangannya untuk memanggil.
Rahan dan Rayhan langsung berlomba berjalan untuk mendekat, Bu Widia yang sedari tadi diam langsung berdiri di ikuti Pak Panji sementara Mawan langsung berlari menjemput Twin. Entalah, seperti mengetauhi ada ikatan darah yang kuat Twin langsung masuk dalam gendongan Mawan.
Melihat ini. Galang langsung beringsut mundur maduk ke kamarnya, Galang hanya ingin memberi kebebasan pada mereka untuk melepas rindu pada sang cucu dan anak.
Sedikit masuk ke ruang tengah Galang mendengar suara gelak tawa di ruang tamu.
Galang sedikit heran saat tak melihat ke dua orang tuanya. "Bi. Ibu dan Bapak ada di mana?" tanya Galang.
__ADS_1
"Di dalam kamar Pak," jawab Bi Narmi. "Oh. Ya sudah, terima kasih Bi."
Gakang bergegas ke kamar Twin. Namun, langkah Galang terhenti saat melewati kamar Twin. Galang samar-samar, mendengar Rahael terisak.
Karena rasa penasaran akhirnya Galang menguping pembicaraan mereka, Galang mengambil posisi duduk di sofa samping kamar.
" Kamu jahat Silvi," tutur Rahael denga di sisa tangisnya.
" Maaf Rahael. Aku juga enggak tahu kalau begini jadinya, terus terang aku senang melihat Rahael menampar Mawan tadi," ucap Silvi .
"Mungkin hanya itu silvi, untuk melampiaskan sakit hati dan dendam selama ini. Memang kamu enggak sakit hati suami mu aku tampar," tutur Rahael.
Seketika Silvi tertawa, "enggak marah, setidaknya hukuman itu pantas Rahael."
"Ngomong-ngomong, Rahael penasaran. kamu bisa jadi istrinya orang edan itu," ujar Rahael.
"Ceritanya panjang Rahael, intinya aku di jodohkan," tutur Silvi sembari menatap jauh ke depan.
Sesaat Rahael terdiam dan langsung tertawa "Enggak mungkin atau jangan-jangan kamu sudah naksir Mawan sejak SMA?" tanya Rahael pelan.
Silvi hanya diam saja saat mendengar ucapan Rahael.
"Ih.Malah diam berarti bener kan? Begitu aja malu Silvi," ujar Rahael lagi.
Silvi hanya tersenyum, kemudian menatap Rahael, "Rahael, terus kamu kenal suamimu di mana? Jangan-jangan dia yang kau sukai sejak masih SMP," ucap Silvi tiba-tiba.
"Hus! Jangan keras-keras nanti suamiku
mendengar," tutur Rahael sembari menutup mulut Silvi.
"Pantesan Mawan selalu kau tolak, memang lebih ganteng suamimu. Secara tinggi, kulitnya bersih, hidungnya mancung dan ..., belum selesai Silvi bicara, "dosa lho memuji suami orang Silvi," tutur Rahael malu.
"Bener kan dia orangnya?" tanya Silvi sekali lagi sembari tersenyum puas.
__ADS_1
"Ish! Kau itu, lama enggak ketemu, sekali ketemu omonganmu melantur, sudah kita ke ruang tengah saja! Tetapi ingat kau hutang penjelasan padaku, janji !"
Mendengar perdebatan di kamar tak urung Galang tersenyum dan bergegas berdiri. Namun, niat Galang urungkan saat melihat Silvi dan Rahael berdiri di depan pintu.