
Bab 80. Untuk Selamanya
Bergerak melambat mobil yang kami lajukan akhirnya sampai juga di rumah sakit.
Melewati beberapa lorong akhirnya sampai juga ruangan paviliun melihat banyaknya suster dan beberapa Dokter. Kami berjalan sedikit tergesa memasuki ruangan.
Begitu melihat kedatangan kami suster dan Dokter segera bergeser, memberi jalan.
Mlihat Dokter melepas selang di tubuh Mawan.
"Rahael!" panggil Bu Widia, "ada yang ingin Mawan katakan padamu Nak, berbaiklah sedikit karena kondisinya tak memungkinkan," ujar Bu Widia tercekat.
Menatap netra Mas Galang sejenak seakan ingin meminta perlindunga, Mas Galang tanpa bicara kemudian meraih tangan Rahael dan berjalan mendekat.
Mawan sejenak tersenyum, meskipun terlihat begiru kesakitan dan d paksakan lalu meraih tangan Rahael, melihat tangan Rahael yang gemetar Galang langsung ikut memegang tangan Rahael, sembari mengangguk.
"Ra-Ra-Rahael, maafkan aku, akhirnya hampir dua tahun aku baru bisa meminta maaf sembari menjabat tanganmu. Terima kasih telah menjaga Twin untukku," ucap Mawan sedikit tersedak. "Maaf atas semua yang telah aku lakukan dan atas kekurang ajaranku mungkin ini terbaik untukku, satu hal yang pasti sampai detik ini aku masih sangat- sangat mencintaimu," tutur Mawan sembari melihat Mas Galang. "Maaf dan terima kasih sudah menjaga Twin dan terima kasih untuk semuanya," ujar Mawan dengan suara makin lemah dan pelan. Rahael yang sedari tegang kini telah mrlembut saat melihat ketidak berdayaan Mawan.
"Wan! Aku sudah memaafkan sedari dulu," tutur Rahael. Rahael sedikit bingung saat merasakan jabatan tangan Mawan semakin erat dan sedikit tersenyum sembari sedikit tersengal beberapa kali. Hingga beberapa saat, Mas Galang menyadari ada yang tak beres dengan kondisi Mawan.
__ADS_1
"Dokter!" pekik Galang sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Mawan.
Mendengar teriakan Mas Galang, Dokter segera datang dan memeriksa Mawan, hingga beberapa kali Dokter memeriksa ulang dan kemudian berusaha melepas tangan Mawan, "maaf! Hanya itu yang di ucapkan Dokter dan kemudian menutup seluruh tubuh Mawan.
"Innalillahi wainnalillahi rojiun," tutur Galang tanpa sadar.
Pak panji dan Bu Widia di bantu suster memakai kursi roda datang mendekat dan seketika tangis mereka pecah memenuhi ruangan. Ibu segera memeluk Rahael erat, Rahael sedikit mundur untuk memberi ruang pada Dokter dan Suster.
Meskipun bagaimanpun Rahael juga merasakan sedih, hingga Rahael mendengar tangis di ruang sebelah, "Silvi!" panggil Rahael sembari memeluk Silvi erat. Tak urung tangis Rahael turun juga menangis bersama, menangisi keadaan ini.
Entalah berapa lama kami menangis hingga akhirnya Mas Galang mendekat, "sudah Silvi ini sudah jadi jalannya jangan menangis
Beberapa saat Rahael melihat Suster berbenah membersihkan semua tempat dan
"mbak. Sesuai permintaan Pak Panji dan Bu Widia, Mbak akan rawat jalan di rumah karena prosesi pemakaman pun akan segera di laksanakan. Jadi, saya akan membantu Mbak untuk bersiap-siap."
"Sil. Aku akan menunggumu di depan," tutur Rahael sembari mengikis air matanya. Tak menyangka jika Rahael akan menyaksikan
hal yang sangat menyedihkan. Saat ini Rahael tak dapat berpikir apapun, saat ini pukira Rahael hanya beralih pada Twin.
__ADS_1
"Mas! Twin," tutur Rahael gelisah.
Galang segera meraih ponselnya, begitu banyak panggilan yang terlewatkan dari Bapak. Galang langsung mengulir ponselnya untuk menghubungi Bapak.
"Bapak masih ingat rumah yang dulu,
waktu Bapak mengantar Rahael," tutur Rahael seketika, "tunggu di situ Pak setelah semua urusan selesai jenasahnya akan di bawa kerumah itu," tutur Rahael lagi.
Setelah beberapa urusan selesai di urus pengacara Pak Panji, akhirnya kami berangkat ke alamat yang di tuju.
Perjalanan terasa cepat karena memakai mobil ambulan untuk memecah jalan raya.
Begitu sampai ku lihat para tetangga sudah berkumpul, beberapa menit kemudian mobil Bapak sudah memasuki halaman.
Bapak, Ibu dan duo Bibi beserta Twin di gendongan masing-masing. Seketika tangis Twin kembali pecah saat melihat Galang dan Rahael. Seketika hati Rahael mendekap dua anaknya, anak yang merasa gelisah dan sedih saat Bapak biologisnya telah tiada.
Melihat Rahael berkaca-kaca menahan tangisnya, Galang langsung mendekat, "jangan di tahan, menangislah, tetapi janji ini untuk yang terakhir lali kau menangisi Mawan."
Seketika air mata Rahael luruh, Galang juga tak mengetahui apa yang ada di hati Rahael sekarang, tetapi Galang sadar Rahael hanya manusia biasa seperti Galang.
__ADS_1