
Bab 58. Akhirnya
Setelah berbicara dengan Rahael pagi ini. Galang melihat Bapak dan Ibu sudah segar, luka lecetnya juga sudah mengering begitu juga dengan Bu Rahayu hanya tangannya masih di gendong, Rahael sedang sibuk dengan Twin dan Bi Narmi, Bi Nina seperti biasa ngepot berbenah di dapur.
"Pak, bagaimana kejadiannya kok sampek bisa seperti ini?" tanya Galang akhirnya tak tahan juga mulut Galang untuk tidak menanyakan kejadiannya.
Bapak hanya tersenyum. "Maklum wes embah dadi nek nyabrang enggak sabaran pingin ne cepet Lang."
( Maklum sudah kakek jadi menyebrangnya nggak hati-hati pingin cepat sampai )
"Lha itu tangannya Ibu, kenapa?"
Kini Ibu yang menjawab.
"Kok dadi isin Le."
( Kok jadi malu, Nak." )
"Wong dek kae, nyebrang gandeng renteng.
Eee, kok moro-moro, onok sepeda motor banter, bapak lan ibu bingung dadie yo koyo ngene."
( Waktu itu, menyeberang bergandengan
tiba-tiba ada sepeda motor melaju dengan kencang, Bapak dan Ibu bingung, malah jadinya seperti ini )
"Sepurane," ucap Ibu tertunduk, "kareppe pingin nylamet no besan. Eh tak surung malah tibo tangane natap trotoar."
( Maaf, maksudnya ingin menyelamatkan besan, saya dorong kok tambah jatuh, tangannya terbentur trotoar )
Bu Rahayu tersenyum. "Wes-wes podo klirue ra usah salah-salahan," timpal Bu Rahayu.
Rahael yang sedang sibuk dengan Twin langsung mendekat. "Terus pengendara sepedanya?"
"Ah, wes tak bebasno Nduk, bocahe yo apes nabrak ting listrik, sepeda e rusak bocahe yo kelaran."
( Ah, sudah di bebaskan Nak, anaknya juga sial menabrak tiang listrik, sepedanya rusak anaknya juga kesakitan )
"Mmm," hanya itu akhirnya yang terucap dari bibir Rahael.
__ADS_1
Hening beberapa saat. "Lang bagaimana jadi kan pulang ke sini?" tanya Bapak.
Galang menatap Rahael sejenak, kemudian kembali menatap ke arah Bapak.
"Kata Rahael mau Pak!"
"Alhamdulillah ... "jawab mereka serentak.
Melihat senyum ketiga orang tua yang sedang duduk di depan Galang ada perasaan lega tersendiri, kini dua masalah teratasi.
'Saat ini tinggal si tuyul tengil," batin Galang.
Berdiri dari meja makan melangkah ke teras belakang, beberapa kemudian notif wa berbunyi.
"Menghilang, jangan coba-coba.
Mas, Galang, ingat kan? janji laki-laki dewasa."
Membaca notif dari Mawan seketika tawa Galang tergelak sebelum mengangkat panggilan dari Mawan.
"Assalammualaikum wr, wb."
"Menghilang Mas! sulit di hubungi?"
"Ish, otakmu tetap saja yul. Aku bukan seperti dirimu, kenapa memang?"
"Nih! mau pamer istri Mawan."
"Hubunganya dengan aku, apa memang?"
"Ingat janji Mas."
"Masih kurang syaratmu itu, nanti syarat terakhir aku katakan."
"Sini coba lihat, cocok enggak nanti jadi Ibu sambung Twin, awas bukan hak paten yul,
hanya sebulan sekali ingat itu."
"Hiya Mas. Aku ingat."
__ADS_1
"Mana, yul. Lama sekali."
Galang melihat di ujung sana seorang cewek sedang tersenyum sembari melambaikan tangannya.
"Rahael," panggil Galang. Sini cepat, Rahael yang sedang menggendong Rayhan langsung datang dengan tergopoh.
"Ya, kan. Cewek ini lihat. Ini kan sahabat Rahael yang itu?"
Melihat ini Rahael langsung melambaikan tangannya, menyapa.
"Silvi ... "panggil Rahael.
Tak lama Mawan muncul. "Bagaimana Mas, lulus enggak?" tanya Mawan.
"Belum, masih ada test lagi, sah dan halal dulu, baru itu kau punya anak, baru bisa ketemu, kecuali kedua orang tuamu dan
itu pun ada syaratnya, minta maaf lah dulu.
Kaupun belum dapat sertifikat maaf dari Rahael dan ibunya," ucap Galang panjang lebar.
Mendengar ini, Rahael yang ada di samping Galang tersenyum puas.
Terlihat dari video Silvi dan Mawan hanya tersenyum kecut.
"Itu hukuman mu."
Telfon langsung Galang tutup seketika. Setelahnya Galang menatap Rahael.
"Bagaimana?"
"Sudah Mas, Rahael hanya ingin berdamai dengan masa lalu, lagian Rahael juga pingin lekas memberi Twin adik," jawab Rahael.
"Jangan kasih kode-kodean Rahael, ini masih pagi," ucap Galang.
"Enggak. Mas saja yang GR lagian nih dewi bulannya sedang berkunjung."
Galang seketika hanya menggaruk kepalanya.
"Jangan lupa kerjain Mawan dan Silvi sampai puas," ucap Rahael sembari berlalu.
__ADS_1