
Bab 82. Akhirnya
Waktu begitu cepat berganti beberapa bulan sejak kepergian Mawan, Rahael sudah membuka toko oleh-oleh. Toko yang di katakan cukup ramai dengan berjalannya waktu tak terasa usia Twin sudah tiga tahun.
Ruko yang di jalankan Rini dan Nono juga semakin maju, akhirnya mereka pun meng halalkan hubungan mereka, seperti biasa dengan jadwal yang tidak tetap sebulan sekali Mawan mengunjungi Ruko di kota S.
Silvi kini ikut membantu di Ruko untuk mengisi kekosongannya dan sudah menganggap Twin anaknya sendiri.
Terkadang Galang juga melihat Rahael sedikit cemburu melihat kedekatanku dengan Silvi.
Wajah Twin semakin kesini semakin mirip Mawan dengan hidung sedikit mancung tapi manis, mata sedikit sipit ujungnya dan wajahnya yang manis saat tersenyum yang sangat mirip adalah Rahan karena rambut lurusnya, jadi plek ketiplek Mawan.
Sudah satu minggu Silvi tidak ke Ruko,
hari ini Silvi datang dengan senyum mengembang, menggandeng seorang cowok yang sudah menjadi tunangannya. Mendengar hal itu Rahael marah besar hingga mendiamkan Silvi selama satu minggu. Melihat hal itu, semua yang mendengar ceritaku ikut tertawa.
Seperti biasa Pak Panji dan Bu Widia meminta jatah akhir pekan untuk bertemu cucunya, mengingat semua apa yang terjadi membuat Galang bersyukur berlipat-lipat.
Kini Ibu mertua masih di sibukkan dengan kampusnya dan kedua orang tua Galang sesekali membantuku di Ruko meski hanya duduk-duduk saja.
Keadaan semakin hari semakin membaik
__ADS_1
hingga di suatu pagi mendapati Rahael pingsan saat bermain dengan Twin. Bibi yang mengetauhi itu langsung menelfon dengan langkah cepat Galang memasuki rumah saat Rahael sudah terbaring di tempat tidur di temani Ibu.
Melihat kedatanganku ibu tersenyum.
"Kenapa, Bu?" tanya Galang
"Seoertinya akan ada kabar baik Lang," tutur Ibu lirih. Seketika Galang merengutkan dahi tanda tak mengerti.
"Nanti kalau sudah siuman ajak kontrol ke Dokter, bawa ke Dokter Sumi saja," saran ibu sambil tersenyum.
Seketika Ibu tertawa, "jangan bingung Galang, enggak ada apa-apa," tutur Ibu sembari menepuk pundak Galang.
"Nanti sore kontrol yuk! Kita ke Dokter Sumi," ujar Galang dan Rahael hanya tersenyum kemudian memelukku sembari mengendus enduskan kepalannya ke ketiak Galang.
"Ketiak Mas Galang, wangi," ujar Rahael sembari terus mencium ketiak Galang.
"Eh. jangan begini, kamu aneh Rahael, Mas loh, sudah sehari belum mandi, ini mau mandi," tutur Galang sembari pergi menjauh.
Galang madih bingung drngan sikap Rahael meskipun sudah menjauh, Rahael masih saja mengejar dan mengendus ketiak Galang. Merasa jengah, akhirnya Galang memeluk Rahael. "Mandi, kita pergi sekarang Rahael. Enggak jadi menunggu nanti sore, Rahael cantik," tutur Galang sembari merayu, toh saat ini Rahael lebih duka bergelayut di lengannya.
"Males, Mas. Rahael masih pingin meluk Mas sama nyium ketiak Mas," ujar Rahael tanpa malu dan itu membuat Galang risih karena sehari ini belum mandi.
__ADS_1
Galang mencubit hidung Rahael, "sejak kapan isteri mas ini jadi jorok?" tanya Galang lagi. Rahael masih saja bergelayut dan tak ingin melepas tangan suaminya.
Tak tahan dengan tingkah isterinya, akhirnya Galang menggendong Rahael menuju kamar mandi.
"Mau di mandiin Mas!" tawar Galang dan langsung mendapat penolakan dari Rahael, "enggak mau," jawab Rahael sembari mendorong tubuh suaminya.
"Huff! Aneh," guman Galang heran.
Tak berapa lama Galang sudah melihat Rahael ke luar dari kamar mandi. Saat Galang melepas baju atasan yang di pakai, Rahael langsung mengambilnya, "kotor Rahael," ujar Galang heran saat melihat Rahael masih mencium baju kotor miliknya.
"Jangan di apa-apain, biar di situ sampai wanginya hilang," titah Rahael ketus, "tumben!" tutur Galang sembari masuk kamar mandi tetapi Galang mengurungkan niatnya memilih melihat Rahael.
Galang semakin bingung, saat melihat Rahael kemudian berganti baju dan sedikit berbedak dan menyisir rambutnya serta sedikit memakai lipstik tipis-tipis.
Saat Galang perhatikan pandangannya sedikit melotot, "kok melihat Rahael, ih. Mas bikin jengkel," ujar Rahael marah.
Galang sedikit heran dengan perubahan Rahael, setelah siuman atau, "jangan-jangan Rahael kesambet," guman Galang lirih.
Akhirnya untuk mengusir pikiran buruk, Galang memilih masuk kamar mandi dan mengguyur kepalanya supaya sedikit dingin.
Setelah mandi Galang, keluar dari kamar mandi, melihat Rahael masih saja mencium atasan Galang. Galang yang sudah berganti baju segera mendekat dan memberikan parfum ke baju yang bekas Galang. Rahael langsung berreaksi, "apa Mas enggak rela jika baju bekas kringetnya Rahael cium," tutur Rahael dengan wajah marah dan matanya berkaca-kaca menahan tangis.
__ADS_1