Rahael

Rahael
BAB 116 . MASIH H PINANGAN


__ADS_3

Saudara kembar yang ku lirik masih terdiam dengan lamunannya


Twin Al kini juga diam , " Ray kenapa tanya eyang


" Balik yuk , kok gak semangat


Mendengar itu Rayhan langsung tersenyum


" Kok balik eyang tuh tinggal satu belokan


mbayangin saja cantiknya Naya nanti


Seketika Rahan menyentil dahi adeknya


" Jangan mikir yang enggak enggak jatuhnya


nanti pikiran jorok yang keluar


Eyang widia kini menoleh ke belakang


" Emang sudah siap Ray ?


" kalau sudah siap majuin saja nikahnya biar gak kebayang bayang terus ucap eyang widia


kini wajah Rayhan sudah merah menahan malu


Tak berapa lama mobil sudah berhenti pak Sentot sudah berdiri di depan untuk menyambut kami ada tetangga kanan dan kiri yang biasa aku sapa saat berpapasan ketika pulang dari rumah Naya


Sebelum masuk ibu sudah berdiri para eyang


di minta membawa hantaran pinangan dan kami di minta membawa kue kue hantaran


Mempersilakan kami masuk dengan senyum menghias wajah pak Sento


Rayhan yang sedari tadi diam kini bertambah kikuk , para orang tua setelah memberikan hantaran yang di susun di sisi ruang tamu


di persilakan duduk


Sedang kami para muda di geret ke ruang samping kecuali Rayhan di minta duduk di kursi yang di sediakan dan setelahnya memanggil Naya yang sudah di rias sederhana namun membuat Rayhan tak lepas menatapnya


Bapak dan eyang yang menjadi orang yang penting hari ini


Memulai pembicaraan dengan sopan dan intinya ingin meminang Naya


" Gimana nak Naya bersedia kah hari ini mas Rayhan memintamu


Seketika semua mata memandang dengan sedikit malu Naya mengangguk


" Dan sebagai tanda bahwa nak Naya menerima kami juga langsung melaksanakan lamaran sekalian dan menyerahkan semua hantaran lamaran ke pihak wanita


Bapak menyerahkan cincin yang di pegangnya ke eyang panji


Sesaat eyang menatap bapak dengan hormat bapak mempersilakan


Setelah penyerahan seserahan eyang panji mendekati Rayhan


" sekalian kami juga akan melakukan tukar cincin


untuk Rayhan dan Naya lalu eyang mendekat

__ADS_1


dan memanggil Rahael untuk menyematkan cincin di jari manis Naya dan kemudian memanggil tante Maya untuk menyematkan cincin di jari manis Rayhan


Setelah semua di laksanakan kini membahas kapan di laksanakan tanggal dan hari pernikahan di laksanakan


Akhirnya setelah kesepakatan yang di setujui acara akan di laksanakan enam bulan kedepan


Kini hanya percakapan percakapan ringan yang di lakukan mengenalkan sanak saudara dari masing masing pihak keluarga setelahnya mempersilahkan semua yang hadir untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan menjamu dengan sederhana namun komplit


Tak terasa sudah di puncak acara kami berpamitan satu dan yang lainnya


Pulang dengan perasaan lega Rayhan kini sudah kembali menjadi Rayhan yang dulu


" Kak....sembari menunjukkan cicin yang di pakainya


Kini kami pulang dengan mobil ayah , karena hantaran yang berjubel tadi


Bapak yang sedari tadi diam , " Jangan main main Ray kini kau sudah mengikat anak seseorang tunjukkan tanggung jawabmu dan kau bisa di percaya ucap bapak


Perjalanan pulang terasa lebih cepat setelah kehebohan yang di timbulkan dari kemarin


Memasuki halaman rumah melihat bi Nina sedang duduk di teras melihat kami datang seketika senyumnya melebar


" Ada apa bi tanyaku


" Gimana bu sukses tanya bi Nina


" Alhamdulillah bi semua lancar , bi dua hari lagi ikut ya ?


" Kemana tanyanya lagi


" Sudah ikut saja ucapku sembari mengambil beberapa kotak makanan yang di beri keluarga Naya


ucap ibu mereka


Anak anak yang bingung dengan sifat ibunya yang sedikit galak beberapa hari ini


" Pak...ibu kok jadi galak ya tanya twin Al kemudian


" Ya , sudah masuk gih capek kan biar bapak tegor nanti


Kemudian mereka masuk dan menuju kamar mereka masing masing


Berbeda dengan keluarga besar Galang dan Rahael di kediaman eyang panji kini dua eyang yang masih terlihat begitu sehat


Setelah memasuki rumah eyang panji langsung menghempaskan tubuhnya di kursi melihat itu bu widia langsung menghampiri


"Ada apa pa ....


" kini hanya matanya yang nampak merah berkaca kaca


Seketika bu widia memeluk suaminya dan mengusap punggungnya


Ya...eyang panji menangis dalam diamnya hanya air matanya yang turun


"Ma.....ucapnya seketika


" Aku merasa sangat bersalah dengan anak kita andaikan dulu kita bisa mengerti Mawan mungkin kini dia masih hidup


Kini bu widia melepas pelukannya dan menatap suaminya

__ADS_1


" Dulu aku juga berpikiran seperti papa , tapi


mama hanya berusaha mengikhlaskan pa


" Lagian Galang selalu membawa serta kita , merangkul kita dan selalu mengikut sertakan semua apapun itu tentang twin Ra


"Aku hanya bersyukur mereka begitu baik setelah semua kejadian ini


" Ingat Pa dua hari lagi kita ke kota S untuk meminang Ais dan itu juga sudah di putuskan


papa yang akan melaksanakan prosesi itu


seperti hari ini


" Dan keinginan mama satu jangan merasa terus kehilangan akan Mawan lihat cucu kita kalau mereka sudah menikah kita bakalan punya cicit ucap bu widia sembari tersenyum


" Ayo mandi setelah itu kita shalat dan istirahat , mama gak makan lagi pa kenyang


Melihat istrinya tersenyum pak panji hanya melihatnya dengan diam , karena dua cucunya akhirnya isteriku mempunyai semangat baru


"Ma....yang di mobil ucap pak panji


" Aduh.....


" Bi....tolong yang di mobil keluarin dan tolong di simpan di kulkas


" Oh , ya itu di makan bi , ucapnya dari balik pintu


" ih...mama kebiasaan kalau ngomong ucapnya sembari masuk kamar


Bu widia hanya menatap pak panji yang masuk kamar sebenarnya hatinya tak kalah sakit ketika mengingat Mawan dan semuanya


Namun kini hanya bisa berusaha menerima dan berdamai dengan keadaan semoga semuanya jadi lebih baik kedepannya sembari menutup pintu kamar


Melihat suaminya keluar dari kamar mandi


" Tunggu pa , mama mandi sebentar jamaah ya


" Hm....hanya itu yang terdengar


Tak berapa lama bu widia sudah memakai mukena menunggu suaminya dengan salam terakhirnya


Melihat kebelakang dan tersenyum


Memfokuskan diri membaca niat dengan khusuk pak panji memimpin sholat hingga selesai


Menghadap kebelang sebentar membiarkan istrinya salim


Lalu berbalik untuk menyelesaikan doa dan wiridnya begitu juga dengan bu widia


Kini pak panji kembali menitikkan air matanya hanya penyesalan yang dalam ingatannya hanya mementingkan kesibukannya dari pada mendidik anak semata wayangnya dengan benar


Dan benar juga yang di katakan istrinya semua sudah terjadi dan tak bisa di tarik kembali


Melihat istrinya sudah melipat sajadah pak panji hanya tersenyum


Tidak muda lagi tapi makin cantik ucap batinya


Mendekati ranjang dan menyusul istrinya yang lebih dulu membaringkan tubuhnya di ranjang

__ADS_1


" Ayo tidur mas , capek dan menarik selimutnya


__ADS_2