
Saudara kembar yang ku lirik masih terdiam dengan lamunannya
Twin Al kini juga diam , " Ray kenapa tanya eyang
" Balik yuk , kok gak semangat
Mendengar itu Rayhan langsung tersenyum
" Kok balik eyang tuh tinggal satu belokan
mbayangin saja cantiknya Naya nanti
Seketika Rahan menyentil dahi adeknya
" Jangan mikir yang enggak enggak jatuhnya
nanti pikiran jorok yang keluar
Eyang widia kini menoleh ke belakang
" Emang sudah siap Ray ?
" kalau sudah siap majuin saja nikahnya biar gak kebayang bayang terus ucap eyang widia
kini wajah Rayhan sudah merah menahan malu
Tak berapa lama mobil sudah berhenti pak Sentot sudah berdiri di depan untuk menyambut kami ada tetangga kanan dan kiri yang biasa aku sapa saat berpapasan ketika pulang dari rumah Naya
Sebelum masuk ibu sudah berdiri para eyang
di minta membawa hantaran pinangan dan kami di minta membawa kue kue hantaran
Mempersilakan kami masuk dengan senyum menghias wajah pak Sento
Rayhan yang sedari tadi diam kini bertambah kikuk , para orang tua setelah memberikan hantaran yang di susun di sisi ruang tamu
di persilakan duduk
Sedang kami para muda di geret ke ruang samping kecuali Rayhan di minta duduk di kursi yang di sediakan dan setelahnya memanggil Naya yang sudah di rias sederhana namun membuat Rayhan tak lepas menatapnya
Bapak dan eyang yang menjadi orang yang penting hari ini
Memulai pembicaraan dengan sopan dan intinya ingin meminang Naya
" Gimana nak Naya bersedia kah hari ini mas Rayhan memintamu
Seketika semua mata memandang dengan sedikit malu Naya mengangguk
" Dan sebagai tanda bahwa nak Naya menerima kami juga langsung melaksanakan lamaran sekalian dan menyerahkan semua hantaran lamaran ke pihak wanita
Bapak menyerahkan cincin yang di pegangnya ke eyang panji
Sesaat eyang menatap bapak dengan hormat bapak mempersilakan
Setelah penyerahan seserahan eyang panji mendekati Rayhan
" sekalian kami juga akan melakukan tukar cincin
untuk Rayhan dan Naya lalu eyang mendekat
__ADS_1
dan memanggil Rahael untuk menyematkan cincin di jari manis Naya dan kemudian memanggil tante Maya untuk menyematkan cincin di jari manis Rayhan
Setelah semua di laksanakan kini membahas kapan di laksanakan tanggal dan hari pernikahan di laksanakan
Akhirnya setelah kesepakatan yang di setujui acara akan di laksanakan enam bulan kedepan
Kini hanya percakapan percakapan ringan yang di lakukan mengenalkan sanak saudara dari masing masing pihak keluarga setelahnya mempersilahkan semua yang hadir untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan menjamu dengan sederhana namun komplit
Tak terasa sudah di puncak acara kami berpamitan satu dan yang lainnya
Pulang dengan perasaan lega Rayhan kini sudah kembali menjadi Rayhan yang dulu
" Kak....sembari menunjukkan cicin yang di pakainya
Kini kami pulang dengan mobil ayah , karena hantaran yang berjubel tadi
Bapak yang sedari tadi diam , " Jangan main main Ray kini kau sudah mengikat anak seseorang tunjukkan tanggung jawabmu dan kau bisa di percaya ucap bapak
Perjalanan pulang terasa lebih cepat setelah kehebohan yang di timbulkan dari kemarin
Memasuki halaman rumah melihat bi Nina sedang duduk di teras melihat kami datang seketika senyumnya melebar
" Ada apa bi tanyaku
" Gimana bu sukses tanya bi Nina
" Alhamdulillah bi semua lancar , bi dua hari lagi ikut ya ?
" Kemana tanyanya lagi
" Sudah ikut saja ucapku sembari mengambil beberapa kotak makanan yang di beri keluarga Naya
ucap ibu mereka
Anak anak yang bingung dengan sifat ibunya yang sedikit galak beberapa hari ini
" Pak...ibu kok jadi galak ya tanya twin Al kemudian
" Ya , sudah masuk gih capek kan biar bapak tegor nanti
Kemudian mereka masuk dan menuju kamar mereka masing masing
Berbeda dengan keluarga besar Galang dan Rahael di kediaman eyang panji kini dua eyang yang masih terlihat begitu sehat
Setelah memasuki rumah eyang panji langsung menghempaskan tubuhnya di kursi melihat itu bu widia langsung menghampiri
"Ada apa pa ....
" kini hanya matanya yang nampak merah berkaca kaca
Seketika bu widia memeluk suaminya dan mengusap punggungnya
Ya...eyang panji menangis dalam diamnya hanya air matanya yang turun
"Ma.....ucapnya seketika
" Aku merasa sangat bersalah dengan anak kita andaikan dulu kita bisa mengerti Mawan mungkin kini dia masih hidup
Kini bu widia melepas pelukannya dan menatap suaminya
__ADS_1
" Dulu aku juga berpikiran seperti papa , tapi
mama hanya berusaha mengikhlaskan pa
" Lagian Galang selalu membawa serta kita , merangkul kita dan selalu mengikut sertakan semua apapun itu tentang twin Ra
"Aku hanya bersyukur mereka begitu baik setelah semua kejadian ini
" Ingat Pa dua hari lagi kita ke kota S untuk meminang Ais dan itu juga sudah di putuskan
papa yang akan melaksanakan prosesi itu
seperti hari ini
" Dan keinginan mama satu jangan merasa terus kehilangan akan Mawan lihat cucu kita kalau mereka sudah menikah kita bakalan punya cicit ucap bu widia sembari tersenyum
" Ayo mandi setelah itu kita shalat dan istirahat , mama gak makan lagi pa kenyang
Melihat istrinya tersenyum pak panji hanya melihatnya dengan diam , karena dua cucunya akhirnya isteriku mempunyai semangat baru
"Ma....yang di mobil ucap pak panji
" Aduh.....
" Bi....tolong yang di mobil keluarin dan tolong di simpan di kulkas
" Oh , ya itu di makan bi , ucapnya dari balik pintu
" ih...mama kebiasaan kalau ngomong ucapnya sembari masuk kamar
Bu widia hanya menatap pak panji yang masuk kamar sebenarnya hatinya tak kalah sakit ketika mengingat Mawan dan semuanya
Namun kini hanya bisa berusaha menerima dan berdamai dengan keadaan semoga semuanya jadi lebih baik kedepannya sembari menutup pintu kamar
Melihat suaminya keluar dari kamar mandi
" Tunggu pa , mama mandi sebentar jamaah ya
" Hm....hanya itu yang terdengar
Tak berapa lama bu widia sudah memakai mukena menunggu suaminya dengan salam terakhirnya
Melihat kebelakang dan tersenyum
Memfokuskan diri membaca niat dengan khusuk pak panji memimpin sholat hingga selesai
Menghadap kebelang sebentar membiarkan istrinya salim
Lalu berbalik untuk menyelesaikan doa dan wiridnya begitu juga dengan bu widia
Kini pak panji kembali menitikkan air matanya hanya penyesalan yang dalam ingatannya hanya mementingkan kesibukannya dari pada mendidik anak semata wayangnya dengan benar
Dan benar juga yang di katakan istrinya semua sudah terjadi dan tak bisa di tarik kembali
Melihat istrinya sudah melipat sajadah pak panji hanya tersenyum
Tidak muda lagi tapi makin cantik ucap batinya
Mendekati ranjang dan menyusul istrinya yang lebih dulu membaringkan tubuhnya di ranjang
__ADS_1
" Ayo tidur mas , capek dan menarik selimutnya