
Bab 122. Aneh
Melihat istrinya belum bangun juga akhirnya Galang mengganti baju isterinya. "Aneh, biasanya Rahael cepat bangunnya," guman Galang sembari memegang tubuh Rahael lagi, "masih panas," guman Galang sendiri.
Galang lantas mengambil ponsel dan mengulirnya sejenak, mencari Dokter praktek yang masih buka, sejenak Galang menilik jam, "sudah pukul sembilan malam," guman Galang lagi.
Begitu menemukan Dokter praktek yang masih buka Galang menghubungi Rahan dan Rayhan. Mereka dengan diam Bapak dan anak, membawa Rahael turun dengan tenang karena tak ingin membangunkan yang lainnya.
Rayhan yang sudah menunggu di mobil pun
juga sudah siap, melajukan mobilnya menuju Dokter praktek terdekat.
Dengan demam tinggi dan tak segera bangun
membuat Galang semakin bingung. Begitu Rayhan langsung menhentikan mobilnya. Rahsn dan Rayhan langsung mrmbsntu membawa Ibunya masuk dalam ruang praktek, "Dokter yan melihat Galang masuk langsung terkejut, "lho. Mas! Kenapa Mbaknya?"
Galang segera menceritakan aoa yang terjadi.
Setelah memeriksa beberaoa saat Dokter langsung tersenyum, "Isteri Anda, terserang demam, bisa mungkin terlalu kekelahan dan sedikit mengalami radang tenggorokan," ujar Dokter sembari menuliskan resep.
"Jangan lupa, resep di tebus, insyaallah, setelah minum obat, sebentar lagi dingin."
Sekilas Dokter menatap Rahan dan Rayhan, "Kalian, ini ksn baby yang rewel waktu itu?" tanya Dokter.
Galang langsung menatap Dokter yang di depannya, "maaf, Dokter! Saya tidak mengenali anda," jawab Galang malu.
"Rahan, Rayhan salim," ujar Galang, mereka berdua kemudian mendekat dan salim, Dokter hanya tersenyum setelahnya bersamaan Ibu yang terbangun.
Kemudian sang Dokter memeriksa lagi lebih teliti kemudian memandang kami bertiga dengan senyuman. Bapak langsung menghampiri Ibu, "pusing Mas," ujar Rahael sembari berusaha duduk.
"Apa perlu rawat inap Dokter?" tanya Bapak.
"Sebenarnya enggak perlu seperti itu, tetapi jika Mas menginginkan kami juga akan merawatnya."
"Bagaimana Rahael, mau, ya?"
Rahsn dsn Rayhsn hanya melihat Ibunya menggeleng saja, "kita pulang Mas, kasihan anak-anak," ucsp Rahael pelan.
Pak Dokter kembali tersenyum, "Rahan dan Rayhan tolong Ibu, Bapak mau menyelesaikan pembayaran," ujar Bapak.
Tak berapa lama mereka pun sudah berada dalam mobil, "Rayhan, sekalian mampir Apotik, Rayhan menghentikan mobilnya sejenak saat Rayhan melihat ada Apotik yang masih buka.
"Rayhan sini saja, biar Rahan yang beli obatnya," ujar Rahsn sembari keluar dan tak beberapa lama Rahan sudah kembali dengan satu kresek obat di dalamnya.
Bapak menyerngitkan keningnya saat mengetauhi obat yang di terimanya, "ayo, Rayhan," ujar Bapak agar Rayhan melajukan mobilnya.
Begitu sampai di halaman Ruko terlihat dua sosok wanita berdiri, begitu mrligat mobil berhenti mereka langsung berhambur mendekat, "dari mana Kak? Kok Twin enggak di ajak?" tanya Twin pelan.
Rahan berhenti sejenak, "ibu sakit, jangan ramai nanti yang lainnya bangun," ujar Rahan.
"Ayo, masuk!" ajak Rahan pada dua adiknya.
Twin langsung menghentikan langkahnya dan menatap Kakaknya.
"Terus besok siapa yang mengantar, Twin kak?" tanya Twin merajuk.
__ADS_1
"Ih, besok kak Rahan, Rayhan, Naya dan Eyang Panji, bagaimana? Mau kan bujuk Rahan."
Setelah mendengar ucapan Kakaknya Twin langsung tersenyum, "ayo, masuk!" ajak Rahan sembari menutup pintu Ruko.
Setibanya di atas keadaan sudah sepi Rahan langsung menuju kamar ibu, Rayhan masih di sana dan Bapak mengisyaratkan untuk diam.
"Kalian tidur, ibu sudah minum obat. Twin," panggil Galang pelan, "besok di antar Kakak!" ujar Galang sembari mengusap kepala dua anak gadisnya.
"Sudah tidur," ucap Bapaknya lagi.
Menutup pintu kamar dan naik ke ranjang merebahkan diri di sisi isterinya dan memegang dahi istrinya, "masih hangat," ucap
Galang lirih.
Galang ysng terlelap sesaat terbsngun saat mendengar suara benda jatuh, Galang melihat Rahael sudah terduduk di lantai, Galang dengan tergopoh segera menghampiri Rahael. "Kenapa, enggak membangunkan Mas, Rahael."
"Mas tidur, Rahael kasihan," jawab Rahael.
Kemudian Galang kembali memegang dahi Rahael, "masih hanget," guman Galang. "Mau kemana?" tanya Galang.
"Rahael mau ke kamar mandi, tetapi tiba-tiba pusing Mas," jawab Rahael.
"Nanti ke Dokter lagi!" ujar Galang. "Apa, enggak menghabiskan obat itu saja," ucap Rahael sembari ku bantu berdiri dan masuk ke kamar mandi.
"Mas keluar dulu, Rahael merasa enggak nyaman," ujar Rahael.
Galang segera keluar dan sengaja tak menutup pintu kamar mandi, melihat begitu selesai dengan hajatnya Rahael berdiri tapi belum sejengkal melangkah dia sudah oleng.
Galang dengan cepat meraih tubuh Rahael, "nanti kita ke Dokter lagi," ujar Galang sembari memapah Rahael.
"Ayo kedapur sekalian Mas temani," ujar Galang sembari memapah Rahael dan mendudukkan Rahael di meja makan.
"Duduk dulu, Mas buatkan teh hangat, juga sayurnya Mas hangatkan dulu," ujar Galang sembari menuju dapur. Setekah beberapa menit kemudian, "ayo, di makan," ucap Galang sembari mrndekatkan sayur dan sepiring nasi dan dua gelas teh hangat.
Melihat Rahael makan dengan lahap membuat Galang sedikit tenang, "habisini minum obat," ucap Galang.
"Sudah tuntun saja, Rahael sudah makan banyak juga," ujarnya sedikit beringsut.
Mendengar keributan di dapur membuat Eyang Jum terbangun, "ada apa Galang? Tumben sudah bangun?" tanya Eyang Jum heran.
Galang hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ibunya, "Rahaek, pingin makan dan minum teh hangat Bu," jawab Galang lirih.
Seketika ibu mendekat dan menyentuh dahi Rahael, "kok, badan Rahael hangat Galang?" tanya Ibu lagi.
Karena Galang masih diam akhirnya, Ibu mendekat dan membisikkan sesuatu, "enggak Bu, usia kami juga sudah hampir kepala empat," jawab Galang tak percaya.
"Bagaimana, Rahael masih bulanan kan?" tanya Ibu lagi.
Tiba tiba Rahael mengangguk dan terkejut
"Mas, bagaimana ini? Kenapa, Rahael kok, jadi takut?"
"Jangan aneh-aneh Rahael!"
"Ya, sudah. besok bawa ke Dokter lagi. Ayo, ajak istirahat saja isterimu," ujar Ibu sembari masuk dalam kamar.
__ADS_1
Begitu kami masuk kamar, Rahael langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Kenyang Mas, kok mendadak ingin makan
malam hari Mas?" tanya Rahael.
"Itu karena kamu habis sakit Rahael, masih pusing?" tanya Galang dan langsung di jawab dengan gelengan oleh Rahael.
"Ayo minum obat dan tidur," ucap Galang
sembari mengecup dahi Rahael.
Tak berapa lama terlihat Rahael tertidur
pikiran Galang kini beralih pada bisikan ibunya. "Ah! Andaikan itu benar, aduh ... malu sama anak-anak nanti," guman Galang sendiri dan akhirnya Galang tersenyum sendiri sebelum terlelap.
Pagi menjelang mendengar suara ribut di dapur, "Bi. Sayur yang kemarin mana," ujar Rahael sembari memegang teh hangatnya.
Anak-anak yang di meja makan saling pandang dengan heran. "Maaf, Bibi simpan di kulkas Bu, mau Bibi hangatkan?" tanya Bi Narmi.
"Hiya. Bi, cepat sedikit! Lapar Bi," ujar Rahael.
"Ibu tunggu di depan, biar nanti saya antar ke meja makan," ujar Bi Narmi lagi.
" Enggak Bi, , mau makan di sini saja
langsung mengambil piring dan mencentong nasi, sayurnya Bi," ucap Rahael enggak sabar.
"Melihat majikannya makan dengan lahap Bibi hanya terbengong, "ayo, Bi. Sarapan juga," ujar Rahael sembari menyuap kemulutnya.
Dengan penasaran Twin menuju dapur, "eh. cantiknya Ibu, ayo makan," ujar Rahael sembari menambah sayurnya.
Kini tatapan Twin mengarah ke dua Bibinya
mereka hanya menggunakan bahasa isyarat tanda tak mengerti.
Tak berapa lama sudah menyelesaikan makannya, "Bi, sayur ini jangan di buang dan jangan ada yang boleh makan termasuk Bibi," ujar Rahael sembari menyesap tehnya.
Twin dan dua Bibi hanya menatap, majikan dan Ibunya dengan heran karena tak biasanya Rahael bersikap demikian.
Bapak yang berdiri di ujung pintu hanya menggaruk kepalanya melihat istrinya berulah aneh, "Rahael," panggil suaminya, "sarapan Mas," ujar Rahael.
"Tumben makan di sini?" tanya Galang sembari mendekat, "sepertinya enak saja," jawab Rahael singkat.
"Twin mandi, habis ini ibu anter ke pondok kak Ais juga suruh siap-siap," ujar Rahael.
"Tanya para Eyang apa mau ikut, enggak!" ujar Rahael lagi.
"Rahael, habis sakit kok tambah cerewet," ucap Galang sembari mendekati dua Bibi.
"Maafkan ibu, tetapi tolong apa yang ibu pinta jangan di langgar ya?" ujar Galang lirih.
"Goreng apa Bi?" tanya Galang sembari melihat sebentar lalu mengambil tempe goreng.
"Bi, kalau ada sayur kemarin tanya ibu dulu masih mau apa, enggak," ujar Galang sambil berlalu.
__ADS_1